(Two Shot) 17 Days I Fall In Love [1]

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Yesung/Kim Jongwoon [Super Junior]

*) Kim Boram [OC]

Other Cast :

*) Kim Heechul [Super Junior]

*) Choi Siwon [Super Junior]

*) Yoo Haewon [OC]

*) Kim Bitna [OC]

Genre : AU, OOC, Romance, Friendship

17 Days I Fall In Love

“Oppa, aku sekarang punya pacar”

“Jinjja? Sejak kapan?”

“Hum.. Kemaren namja paling tampan di kampus nembak aku. Namanya Jongwoon, tapi dia dipanggil Yesung karena suaranya yang bagus. . Dia 1 tingkat di atasku. Ini pertama kalinya ada yang menyatakan cinta padaku, langsung aja aku terima. Kata teman-teman aku beruntung ditembak namja setampan dia..”

Lalu aku terus berceloteh pada oppa ku, Heechul oppa. Dia sebenarnya bukan oppa kandungku. Appa-nya menikahi umma-ku tahun lalu. Tapi setahun kami bersama, aku sudah begitu dekat dengannya.

Oh iya, namaku Song Boram setahun yang lalu. Kini margaku berubah jadi Kim karena appa baruku, Kim Do Jin.

Kata teman-teman aku orang yang kelewat polos sampe sering dipanggil babo. Otakku terlalu banyak diisi sama kisah-kisah fantasi dari komik dan novel. Ingatanku sangat kuat untuk mengingat setiap kata yang diucapkan oleh tokoh-tokoh komik juga novel tapi sangat payah untuk mengingat apa yang dikatakan oleh orang lain. Tapi aku tidak termasuk otaku (istilah jepang untuk orang yang gila akan sesuatu). Itu pendapatku.

“Boram, kau tahu apa itu cinta?” Tanya oppa sesaat setelah aku menyelesaikan celotehanku.

“Mwo? Hmm.. Cinta ya? Ennngggg.. Katanya cinta itu sesuatu yang bisa bikin kita berdebar gak karuan saat berjumpa sama orang yang kita cinta. Ada perasaan senang tiap kita berjumpa dengannya. Aish! Aku tak mengerti oppa.”

Heechul oppa hanya bisa tersenyum kecil. “Kamu memang kelewat babo! Kuliah sudah tingkat dua tapi tak mengerti apa itu cinta. Lantas, apa kamu merasakan yang kamu bilang tadi pas ketemu pacarmu itu?” Lanjutnya.

Aku berpikir keras. “Anni oppa. Sebenarnya aku tak terlalu kenal dia juga. Yang aku tau dia orangnya tampan, suaranya bagus, dia baik juga idola perempuan di kampus. Tapi aku tidak benar-benar mengenalnya.” jawaban yang sangat polos.

Kini oppa menggelengkan kepalanya. “Lantas kenapa kamu pacaran dengan orang yang tidak kau suka?”

“Aku kan sudah bilang, ini pertama kali ada namja bilang suka padaku, tampan pula. Jadi aku tak boleh melewatkan kesempatan ini.” Picik sekali pikiranku ini. “Oppa.. aku takut mengecewakan pacarku. Oppa bisa gak ajari aku?”

“Mwo?”

“Ajari aku caranya pacaran.”

“Anni.. Oppa tidak mau.”

Oppa menolak membantuku, tapi aku terus mendesaknya. Setahuku dia termasuk namja tampan yang digilai para wanita. Bahkan banyak wanita di tempat kerjanya banyak yang menembak dia. Tapi tak ada satupun yang berhasil mendapatkan cintanya. Saat ku tanya, “oppa-mu ini malas sekali pacaran. Ribet.” Alasan yang aneh untuk dia yang sudah semakin tua. Haha..
Meski banyak cara aku kerahkan, dia tetap menolak membantuku.

“Arasso.. Aku tak akan minta bantuan oppa. Aku masih punya Haewon dan Bit Na yang pasti mau membantuku.”

Aku keluar kamar oppa lalu menutup pintu sekeras mungkin agar dia tau aku kesal padanya.

***

“Haewon, Bit Na .. aku bingung harus gimana. Pacaran itu apa harus seperti di komik-komik?” Tak ada lagi yang bisa aku andalkan selain 2 sahabat normalku ini. Kebanyakan temanku yang lain sehobi denganku, dan sama-sama tak pernah jatuh cinta kecuali pada tokoh fantasi.

“Aish! Kenapa aku punya teman kayak anak SMP saja? Pacaranpun tak pernah.” Keluh Haewon.

“Ya! Haewon! Kau meledekku juga. Aku juga belum pernah pacaran. Tapi aku memang tak sebabo teman kita ini.” Kata Bit Na. Ah, dia memang tak seperti aku yang tak pernah pacaran karena tak pernah ditembak cowo. Sebenarnya banyak namja yang ngantri untuk jadi pacar Bit Na. Tapi selalu dia tolak. “Mereka kurang cowo daripada aku. Payah!” Kilahnya. Dasar tomboy.

“Sudah-sudah, aku bertanya kepada kalian untuk mendapatkan solusi. Bukannya malah memojokkan aku.”

Mereka mulai berpikir. “Boram, kau kan baru pertama kali pacaran, dan belum tau banyak tentang dia. Jadi mending sekarang kau cari tau lebih banyak dulu tentang dia.” Kata Haewon.

“Benar. Kami tak mau nanti kau kecewa. Tapi kalau dia memang menyakitimu, aku siap untuk menyarangkan bogem mentah di mukanya.” Tambah Bit Na.

Aduh, teman-temankuku ini. “Arasso.. Aku akan mencoba mencari tahu banyak tentang dia meski aku tak yakin bisa.”

Aku dan Yesung oppa memang pacaran. Tapi aku tak banyak tahu tentang dia. Jika aku bertanya pada teman sejenisku, mereka pasti bilang, ‘dia bagai pangeran yang dikirim Tuhan untuk mencerahkan dunia.

Jika aku bertanya pada yang lain, mereka pasti mencelaku tanpa ampun. ‘Ya! Kau pakai guna-guna apa? Tak mungkin Yesung oppa bisa suka pada perempuan seperti kau!

***

Seminggu berlalu, hanya sedikit yang aku tahu tentang Yesung oppa. Dia baik, humoris, pintar, sayang binatang, sedikit cerewet, dan tampan pastinya. Ternyata bukan hanya fisiknya saja yang nyaris sempurna, kebaikan hatinya pun demikian. Kata Haewon dia belum pernah pacaran sejak dia kuliah, sudah 3 tahun berarti. Padahal seperti oppa-ku, banyak sekali wanita yang mengajaknya pacaran. Apakah orang-orang tampan seperti mereka sangat pemilih? Entahlah.

“Oppa, boleh aku tanya sesuatu?” kataku ketika kami sedang duduk di taman pada suatu sore.

“Boleh.” Katanya.

“Anuu.. Oppa itu idola di kampus. Teman seangkatan, junior bahkan senior banyak yang suka padamu. Tapi kenapa oppa pilih aku?” Aku memelankan suaraku. Sebenarnya aku sangat malu untuk bertanya, tapi aku benar-benar penasaran.

Dia tersenyum, sangat tampan. “Tak ada alasan spesial. Aku sebenarnya sering memperhatikanmu sejak pertama kali kita ketemu, kau masih ingat pertama kali kita ketemu?” Baik, suara khasnya membuatku sedikit terkesan padanya.

Tapi ukh, penyakit pikun akutku ini sudah tak bisa disembuhkan. Berkali-kali aku mencoba untuk mengingatnya, tapi sama sekali tak ingat. “An.. Anni, mianhae.. Aku memang payah, aku lupa.” Jawabku sambil menunduk, memukul-mukul pahaku. Baru sekarang aku ingin marah pada diriku yang babo ini.

“Haha.. Sudah ku duga. Tak apa. Waktu itu pertengahan semester 2. Kau sedang marah2 sendiri di taman. Waktu itu kalau tidak salah kau sedang membaca novel asing, aku lupa judulnya.”

Kuputar ingatanku. “Pertengahan semester 2? Oh. waktu itu aku sedang membaca The Host. Aku kesal karena Wanda terlalu baik pada Melanie. Padahal dia bisa bahagia jika dia sedikit saja lebih egois. “Aku mulai berceloteh, tapi untung aku sadar. “Ah, mianhae oppa. Aku malah bercerita tak jelas.” Payah!! Untuk novel-novel aku mampu mengingatnya dengan jelas, tapi aku tak bisa mengingat pertemuan pertama kami.

Yesung oppa tersenyum lagi. Aku sangat menyukai senyumannya.

“Tak apa.. Aku suka.”

“Mwo?”

“Aku suka saat kamu bercerita, aku suka kamu mungkin karena itu. Waktu itu aku menghampirimu dan bertanya kenapa. Dan jawabanmu persis sama seperti yang barusan kamu katakan.”

Aku merasa pipiku panas.

“Wajahmu saat kamu bercerita terlihat sangat ekspresif. Seperti kamu yang mengalaminya sendiri. Tapi jujur, aku jatuh cinta pada kamu yang apa adanya.”

Pipiku benar-benar panas, sepertinya pipiku ini mampu membuat matang telur dadar.

Kata-kata yang dia ucapkan terus terngiang di telingaku. Membuat aku tak bisa konsentrasi membaca. Ucapannya muncul di mimpiku.

Ah dia benar-benar buat aku penasaran, aku sungguh ingin tahu tentang dirinya. Tapi karena aku tak punya informan, aku bertanya langsung padanya. Aku mendengarkan setiap kata yang dia ucapkan. Aku mencernanya, berusaha memasukkannya ke otakku agar tidak lupa. Dia seorang pencerita yang baik.

“Oppa.. Aku mau cerita.” Kataku pada Heechul oppa ketika aku menghampirinya yang sedang sibuk mengerjakan laporan di kamarnya.

“Paling tentang pacarmu itu lagi.” Katanya tanpa menoleh.
Aku mengangguk. Aku duduk di kasurnya.

“Ada apa? Sudah hampir 2 minggu kalian pacaran, hebat bisa bertahan selama itu. Oppa pikir 3 hari saja kalian sudah putus.”

Kata2 oppa-ku ini keterlaluan sekali. “Oppa tega! Kenapa bilang begitu? Mengharapkan hal itu ya?” Kataku galak.

Oppa yang dari tadi terus memandang Laptopnya langsung melihatku. “Ah, anni. Oppa bercanda. Serius sekali kamu Boram. Jadi bagaimana? Sudah berkembang belum?”

“Oppa, apa aku tidak berlebihan? Setiap ada hal yang buat aku penasaran, aku langsung bertanya padanya. Aku sepertinya terlalu ingin tau. Aku takut rasa ingin tau aku ini buat dia merasa tak nyaman.”

“Kamu ini memang terlalu banyak berpikir hal yg tidak penting! Wajar kalau pacar itu ingin tahu banyak tentang pacarnya. Itu bukan hal yang aneh.”
Aku mengangguk. Memang benar, tapi aku masih belum bisa tenang. Masih ada yang mengganjal di pikiranku.

“Terus, kenapa dia jarang sekali bertanya apa-apa tentang aku oppa? Apa dia tidak benar-benar suka padaku? Selalu aku yang ingin tahu tentang dia. Padahal sekarang aku sudah bisa mengingat banyak hal tentang dia.”
Oppa mendelik padaku. “Boram-ah, ternyata sekarang kamu mulai suka padanya. Ah, adikku yang babo ini kini suka pada seorang namja. Rupanya kamu normal.” Dia mencubit pipiku.

Panas. Aku merasa seperti kepiting rebus. “An.. Anni oppa. Bukan seperti itu.. Aku..”

“Sudahlah. oppa-mu ini mengerti. Seorang Boram yang isi otaknya diisi oleh kisah fantasi kini mampu mengingat banyak hal tentang Kim Jong Woon. Arasso..” Oppa memotong bantahanku. Yasudahlah, toh aku memang tak pandai berbohong. “Laki-laki biasanya mencari tau tentang perempuan yang dia sukai tapi tak harus kepada orangnya langsung. Dia cari tau dengan kemampuan dia sendiri. Itu terkesan lebih jantan.”

“Ne, arasseo..”

***

“Boram, dua minggu kalian pacaran. Sudah ngapain saja kalian?” Introgasi Haewon ketika kami di kantin kampus.

2 hari dia pergi ke pantai bersama pacarnya, Choi Siwon. Ah, mereka selalu begitu. Jika ingin jalan-jalan, pasti pergi. Tak peduli dengan kuliah mereka.

“Banyak mungkin. Aku sekarang tau banyak tentang dia. Bahwa dia sangat sayang pada kura-kura yang dia punya. Warna favoritnya itu merah, dan dia sangat suka musim gugur. Appa-nya orang yang sangat menyukai lukisan dan punya galeri sendiri. Lalu um..”

“Ya!” Teriak Haewon yang menghentikan ceritaku. Aku merasa banyak pasang mata melirik kami.

“Boram, bukan itu yang aku maksud. Ah, kau ini memang babo.” Lanjutnya. Temanku ini jahat sekali. Sedikit-sedikit babo, sedikit-sedikit babo. Dia pikir aku tak bisa sakit hati apa? “Kalian ngapain aja dua minggu ini?”

“Mwo? Aku tak mengerti maksudmu.” Tanyaku tak mengerti.

“Jangan bilang kalian hanya ketemu di taman, ngobrol, lalu dia mengantarmu pulang hanya sampai depan rumahmu.” Dia mengatakannya dengan tatapan menusuk.

Aku mengangguk. “Ne..” Jawabku.

“Aish! Kau memang payah! Kau ternyata lebih payah dari yang aku duga.” Katanya penuh kecewa. “Kau ini sering baca buku-buku percintaan, tapi kenapa kau hanya ngobrol dengannya? Jangan-jangan dia belum pernah memegang tanganmu atau yang lainnya.” Selidiknya.

Aku mengangguk.

Haewon menggebrak meja. Pelan. Tapi sanggup membuat banyak pasang mata melirik kami lagi.

Lama kami dalam diam. Aku hanya menunduk, tak berani melihat mata Haewon. Apa dia kecewa padaku? Entahlah. Tapi inilah aku.

“Mianhae..” Katanya kemudian.

“Mwo?”

“Mianhae Boram. Aku tak seharusnya seperti tadi. Sebenarnya aku tak bermaksud begitu. Aku hanya..” dia menghentikan ucapannya dan menarik nafas panjang. “Ah.. Aku gemas melihat kalian.”

“Maksudnya?” Tanyaku benar-benar tak mengerti. Mungkin benar aku ini babo.

Dia meneguk orange juice miliknya sebelum dia menjawabnya. “Aku tau kamu memang tak punya pengalaman soal cinta. Aku juga mengerti mungkin kamu belum mencintai Yesung oppa. Tapi aku benar-benar gemas melihat kalian berdua. Sudah pacaran 2 minggu tapi pegangan tangan saja belum pernah. Haahhh..” Dia meneguk minumannya lagi. “Aku sebenarnya maklum tak ada perkembangan padamu. Tapi aku tak menyangka Yesung oppa tak memperlakukanmu selayaknya pacar.”

Aku memikirkan ucapannya. Berpikir dan berpikir. Aah, aku terlalu banyak berpikir. “Aku jadi ragu apa dia benar-benar suka padamu Boram. Aku takut dia hanya mempermainkan kamu, aku tak ingin kau disakiti.”

Ucapan terakhir Haewon terus terngiang di telingaku.

Begitukah? Apa orang pacaran harus seperti itu? Tak bisakah kami seperti ini saja? Aah, aku benar-benar bingung.

“Aku takut dia hanya mempermainkan kamu.” kalimat itu sangat menggangguku semalaman. Hingga aku tak mampu memejamkan mataku.

—- to be continued —

ini fanfic pertama yang aku bikin.. udah lama banget, bahasanya juga aneh.

gak tau ada yang bakal ngomen ato gak *sigh*

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s