(Two Shot) 17 Days I Fall in Love [End]

Standard

cast :
– 2 member suju tapi tak ada hubungannya dengan suju, hanya pinjam wajah dan nama mereka.

* Kim Jong Woon as Kim Jong Woon/Yesung,

* Choi Siwon as Choi Siwon.

– saia as Kim Boram

– 2 member DoraCom

* Rahayu as Yoo Haewon

* Yesi as Kim Bit Na

>>> 17 Days I Fall In Love <<<

“Mianhae Boram. Aku tak seharusnya seperti tadi. Sebenarnya aku tak bermaksud begitu. Aku hanya..” dia menghentikan ucapannya dan menarik nafas panjang. “Ah.. Aku gemas melihat kalian.”

“Maksudnya?” Tanyaku benar-benar tak mengerti. Mungkin benar aku ini babo.

Dia meneguk orange juice miliknya sebelum dia menjawabnya. “Aku tau kamu memang tak punya pengalaman soal cinta. Aku juga mengerti mungkin kamu belum mencintai Yesung oppa. Tapi aku benar-benar gemas melihat kalian berdua. Sudah pacaran 2 minggu tapi pegangan tangan saja belum pernah. Haahhh..” Dia meneguk minumannya lagi. “Aku sebenarnya maklum tak ada perkembangan padamu. Tapi aku tak menyangka Yesung oppa tak memperlakukanmu selayaknya pacar.”

Aku memikirkan ucapannya. Berpikir dan berpikir. Aah, aku terlalu banyak berpikir. “Aku jadi ragu apa dia benar-benar suka padamu Boram. Aku takut dia hanya mempermainkan kamu, aku tak ingin kau disakiti.”

Ucapan terakhir Haewon terus terngiang di telingaku.

Begitukah? Apa orang pacaran harus seperti itu? Tak bisakah kami seperti ini saja? Aah, aku benar-benar bingung.

Aku takut dia hanya mempermainkan kamu.” kalimat itu sangat menggangguku semalaman. Hingga aku tak mampu memejamkan mataku.

Besok sorenya aku melihat Yesung oppa di taman. Aku berdiri tak jauh darinya. Dia sedang asik mendengarkan musik. Aku lihat kadang dia ikut menyanyi kadang hanya mendengarkan sambil menghayati. Lama aku mematung di tempat. Memperhatikannya. “Aku takut dia hanya mempermainkan kamu.” Lagi-lagi ucapan Haewon melintas di pikiranku.

Benarkah begitu? Benarkah dia hanya mempermainkan aku?” Tanyaku pada diri sendiri. Meski semalaman aku berpikir, tapi aku tak berhasil menemukan jawabannya. Aku merasakan sebuah tekanan di dadaku. Sakit sekali. Kenapa sakit sekali?

Apa harus aku tanyakan langsung padanya? Ah.. Meski aku babo, tapi aku tak sebabbo itu. Tak mungkin aku bertanya hal seperti itu padanya.

“Ram.. Boram..” Seseorang memanggil namaku.

Aku tersadar dari lamunanku. Beginilah aku jika berpikir terlalu keras, lupa dengan keadaan sekitar.

“Ah.. Yesung oppa.” Sahutku. Rupanya dia yang memanggilku. Dia ada di hadapanku kini.

Dia terlihat sedang menyelidiki. “Kamu kenapa? Aku dari tadi memanggilmu tapi kau sama sekali tak menyahut.” Tanyanya.

“Mian oppa. Ada yang sedang aku pikiran.”

“Apa?”

Aku menghindari pembicaraan seperti ini. “Anni oppa. Tadi di kelas ada sedikit masalah, tapi bukan sesuatu yg besar kok.” Jawabku. “Oh iya, oppa haus? Tadi aku pergi ke mesin minuman sebelum kemari.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.

Dia mengambil minuman kaleng yang ku sodorkan. “Ja. Ayo kita duduk.” Ajaknya. Aku mengikutinya.

Sepertinya sore-sore sebelumnya, di tempat duduk yang sama aku menghabiskan sore dengannya. Kemarin-kemarin aku sering bertanya tentang dirinya, berceloteh tentang apa saja. Tapi sore ini lidahku kelu. Aku banyak diam. Mendengar samar-samar apa yang dia katakan.

“Boram. Ada apa? Hari ini kamu terlihat beda. Apa kamu tidak mau bercerita padaku?” Tanyanya.

Aku melihat segurat kecemasan di wajahnya.

“Anni oppa.. Mian, aku sepertinya harus pulang sekarang. Jeongmal mianhae.” Jawabku. Aku langsung beranjak dari bangku hendak pergi.

Baru selangkah, Yesung oppa menahanku. Dia memegang siku tanganku. Jika diingat-ingat, memang ini pertama kalinya dia menyentuhku setelah 2 minggu kami pacaran. Darahku mengalir deras. Panas.

“Kamu yakin tak ada apa-apa?” Tanyanya lagi.

“Gwenchana oppa. Aku hanya butuh berpikir sejenak.” Jawabku.

Dia berdiri sambil tangannya tetap memegang erat sikuku, “aku akan mengantarmu.”

Aku menggeleng, menolak tawarannya. “Tak usah. Aku pulang sendiri saja. Mian oppa..” Setelah berkata begitu, aku melepaskan tangannya lalu pergi meninggalkannya yang terpaku karena bingung.

Beberapa saat berjalan aku sudah merasa tak enak pada Yesung oppa. Aku lalu mengambil ponselku.

– sekali lagi mianhae oppa, aku tak bermaksud meninggalkan oppa. tapi aku butuh waktu untuk berpikir. jangan marah yaa (-.-) –

Aku mengirimkan SMS itu padanya. Tak seharusnya aku melakukan hal itu pada Yesung oppa. Dia tak tahu apa-apa meski hatiku gundah karenanya. Tapi aku berpikir tak baik bersikap seperti itu.

Ponselku melantunkan sepenggal lagu Preciousnya Yuna Ito. SMS masuk,

– tak apa. kamu hati2 d’jalan, hubungi aku jika prasaanmu membaik. hwaiting \(^o^)/ –

Dua hari berlalu sejak saat itu tapi aku belum menghubungi Yesung oppa. Aku masih belum siap untuk merasakan tekanan seperti waktu di taman itu. Dia juga tak pernah menghubungiku. Mungkin dia berpikir aku masih butuh waktu sendiri.

Sepi..

Aku merasa seperti ada yang kurang. Jujur aku merindukan suara Yesung oppa, aku merindukan senyumannya. Aku merindukan dia.
***

“Haahhhh…” Aku menghela nafas panjang.

“Ada apa denganmu Boram? Tak bersemangat sekali.” Tanya Bit Na yang menghampiriku sambil membawa nampan makan siangnya.

“Aku bingung Bit Na. Perasaanku tak karuan. Ah, mana Haewon? Aku butuh saran dia.” Jawabku lemas. Aku terkulai di meja. Memandang Bit Na yang tetap santai menyantap makanannya meski melihat temannya kebingungan.
Dia menatapku. “Pasti soal si Yesung itu.”

Aku bangun, “Panggil dia oppa. Dia kan lebih tua dari kita. Sopanlah sedikit saja.” Kataku.

“Kau ini. Pada oppa-ku yang 5 tahun lebih tua saja aku panggil namanya. Yesung kan hanya setahun lebih tua.” Kilahnya. “Oh iya, Haewon sebentar lagi sampai. Tadi dia janjian dulu sama Siwon.” Lanjutnya. Lalu dia melahap makanannya lagi.

Dan aku lagi-lagi menghela nafas.

“Boram, si Yesung tak berbuat sesuatu padamu kan? Aku sudah latihan boxing untuk jaga-jaga.”

Aish! Temanku ini selalu seperti itu. Mentang-mentang lebih jantan daripada pria kebanyakan, dia anggap pria2 akan takut padanya. Aku tak mau Yesung oppa mendapatkan bogem mentah darinya. Tak dapat kubayangkan!

Aku menggeleng. “Anni.. Aku hanya bingung tentang diriku. Dia tak pernah menyakiti aku. Bahkan dia selalu baik padaku.”

Deg.. Degg.. Akh, dadaku sakit sekali. Mengingatnya, membuatku tersiksa.
Haewon lalu datang bersama Siwon. Aah, mereka selalu saja mesra. Tak peduli dimanapun dan kapanpun. “Kenapa kau Boram? Lesu sekali.” Tanyanya setelah bergabung bersama aku dan Bit Na.

“Hiha hilah hucuh halah hihcafuh..” Kata Bit Na sambil mengunyah makanan yang masih penuh di mulutnya.

“Habiskan dulu makananmu baru bicara.” Kata Siwon. Dia mengambil kentang goreng yang ada di nampan Bit Na. Lagi-lagi Bit Na berkata dengan makanan penuh di mulutnya, dia ingin protes pada Siwon. “Sudah kubilang, habiskan dulu makanan yang ada di mulutmu itu. Lagipula aku hanya mengambil satu, perhitungan sekali. Ckckckck..”

Ah, pertengkaran yang sering terjadi. Aku mengalihkan perhatianku pada Haewon. “Haewon, kata-katamu waktu itu benar-benar mengganggu pikiranku. Karenanya aku tak bisa menemui Yesung oppa..” Kataku selemas ketika bicara pada Bit Na.

“Kata yang mana?” Tanya Haewon bingung.

Haah, orang yang membuatku pusing karena ucapannya ini malah lupa pada ucapannya sendiri. “Waktu itu kau bilang begini, aku ragu apa dia benar-benar suka padamu. Aku takut dia hanya mempermainkan kamu.”

Haewon berpikir sejenak. “Oh, itu..”

“Ya.” Sela Bit Na. “Kenapa kau bilang begitu? Memangnya apa yang dilakukan Yesung sampai kau berpikiran seperti itu?”

Haewon menggeleng, “Bukan begitu maksudku.” Katanya. “Aku berpikir adalah hal yg wajar kalau pacaran itu minimal pegangan tangan. Mereka sudah pacaran dua minggu tapi Yesung oppa tak pernah menyentuh Boram. Jadi aku..”

“MWO????” Kata Bit Na dan Siwon berbarengan. Kompak sekali mereka.

“Aku tak mengerti kenapa bisa begitu. Jangan-jangan dia bukan laki-laki normal.” Kata Siwon. “Tak mungkin laki-laki normal akan mendiamkan pacarnya selama itu. Benar-benar aneh.”

“Atau jangan-jangan Haewon benar. Dia memang tidak serius padamu dan hanya ingin mempermainkan kamu Boram. Ah, aku memang harus memberinya pelajaran.” Timpal Bit Na. Dia beranjak dari kursi.

“YA!!” Teriakku pada Bit Na. “Dia itu pacarku. Kamu tak punya hak melakukan apa-apa pada oppa. Lagipula kita kan tak tau alasan dia apa. Aku.. Aku tidak mau kau memukulnya!” Aku berusaha menahan Bit Na. Jujur aku kesal padanya yang mudah naik darah, meski itu bukti dia menyayangiku. Aku tak ingin sesuatu terjadi pada Yesung oppa.

“Tapi pacarmu itu tidak memperlakukan kamu selayaknya pacar. Jika kau yang melakukannya itu wajar! Karena memang dia yang bilang suka duluan, dia yang mengajak kamu pacaran. Dia mana tahu sekarang kau kebingungan karena sikapnya itu..” Bit Na bersungut-bersungut mengeluarkan argumennya.

“Tapi sekarang aku tahu..”

Seseorang bicara dari kejauhan. Suaranya aku kenal baik. Spontan kami mencari sumber suara itu. “Oppa..” Kataku pelan.

Yesung oppa menghampiri kami dan tanpa basa-basi dia menarik aku berdiri dari kursiku dan mencium pipiku di hadapan banyak orang.

Pssyyuuu… Tubuhku lemas. Meski hanya sebuah kecupan sesaat. Tapi mampu melelehkan aku. Dia merangkul pundakku, menahan tubuhku yang hampir ambruk karena perasaan tak menentu. Jantungku berdetak terlalu kencang. Darahku panas.

“Mianhae aku telah membuat kalian salah paham. Tapi aku benar-benar menyukai Boram.” Kata-katanya begitu tegas dan jelas. Spontan aku langsung memandang wajahnya.

Wajah teman-temanku terlihat kaget, begitupun hampir semua orang yang menonton kami. Tapi ada segurat senyum di wajah Haewon.

“Aku pinjam dia sebentar.” Katanya kemudian sambil menarikku menjauhi orang-orang yang ternyata telah berkerumun di sekitar kami.

“Y.. Ya.. Tunggu..” Teriak Bit Na. Aku hanya bisa mendengar suaranya. Aku tak memandang ke belakang. Tapi sepertinya Haewon menghentikan niat Bit Na yang ingin mengejar kami.

Selain itu, tangan Yesung oppa terus menarik pergelangan tanganku. Langkahnya begitu cepat hingga aku harus sedikit lari untuk mengimbangi kecepatannya. “T.. Tunggu oppa. Aw, tanganku sakit. Oppa..” Kataku.

Tapi orang di depanku itu tak menggubrisnya. Dia tetap saja berjalan. Tak peduli, tak mau melihat ke belakang. “Oppa..” Kataku sekali lagi.

Tak lama kami tiba di atap gedung kampus. Dia kemudian melepaskan pegangannya. Tapi dia tak juga menoleh, tetap memunggungiku.

“Oppa..” Panggilku. Tangan kiriku memegang pergelangan tangan yang lain yang sedikit merah karena tarikan tadi. Aku menghampiri Yesung oppa. Dan bisa aku lihat dengan jelas mukanya yang sangat merah.

Dari ekspresinya jelas dia sangat marah. Apakah aku sudah keterlaluan? Karena sikapku, aku telah mempermalukan dia di depan banyak orang. Pantas jika dia marah padaku.

“Oppa.. Mianhae.” Kataku gugup. Tapi dia tetap mematung dan bisu. Aku meringis sesekali karena pergelanganku masih saja sakit. “Jeongmal Mianhae.. Karena aku kau mendapatkan malu. Harusnya aku tak bilang pada mereka.. Mianhae oppa.”

Bulir-bulir airmataku keluar seiring tekanan di dadaku. Sesak. Lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Dan lebih menyakitkan dari sakit di pergelangan tanganku.

Yesung oppa menatapku, tatapan penuh amarah. “Benar! Kau salah, sangat salah!” Bentaknya. Sesak di dadaku semakin menjadi. “Kau salah karena memendam semua sendiri! Kau salah karena kau kebingungan karena aku sementara aku juga kebingungan karena tak tau kamu kenapa.” Lanjutnya.
Sekarang airmataku mengalir deras.

“Mianhae oppa.. Jeongmal mianhae..” Aku tak bisa mengucapkan kata-kata lain.

“Anni..” Bantahnya. “Aku yang salah. Aku yang kurang mengerti. Aku yang tidak peka. Mungkin keputusanku menembakmu bukan keputusan yang benar. Aku malah membuat masalah dalam hidup kamu. Seharusnya aku tak harus masuk ke dalam kehidupan kamu. Seharusnya..” Dia terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.

Bbrruuggghhh..

Aku ambruk. Tenaga sisa yang ku kumpulkan lenyap sudah. Aku tak sanggup menahannya lagi. Dada aku sakit sekali. Dan aku tak bisa menghentikan air mataku. Dia mengalir sangat deras, bahkan terlalu deras. Aku ambruk di hadapannya. Di hadapan Kim Jong Woon yang baru saja menyesali apa yang dilakukannya selama ini padaku.

“Boram..” Panggilnya.

Aku tak menyahut. Aku sibuk berusaha menahan sakit di dadaku.

“Boram, mianhae..” Ulangnya. Kedua tangannya memegang bahuku. Matanya lekat menatapku, aku tahu meski aku hanya sanggup menunduk.

Aku berusaha sebisaku untuk menahan sakit ini. “Oppa.. Salah siapa aku begini? Salahmu oppa!” Kataku sambil tetap menunduk. Suaraku benar-benar lemah. “Setelah kau buat aku jatuh hati padamu, kau bilang kau menyesal? Kau berharap ini semua tak terjadi? Tega sekali kau oppa. Kau tau sekarang dadaku ini sakit sekali mendengar setiap penyesalanmu? Harusnya kau akhiri saja sejak awal, saat aku masih tak punya rasa padamu. Harusnya kau tak usah mempermainkan aku seperti ini jika memang kau tak menyukaiku. Sekarang kau mau lepas begitu saja setelah kau buat aku kesakitan? Sungguh tidak bertanggung jawab! Aku menyesal telah berusaha menyukai orang sepertimu.” Kataku parau. Selanjutnya aku hanya melanjutkan tangisku tanpa mampu berkata-kata lagi.

Dia memelukku kepalaku. Aku bisa merasakan detak jantungnya cepat dengan kepalaku. “Mianhae.. Aku sudah membuatmu seperti ini. Aku tak bermaksud melakukan itu.”

Aku tak menyahut. Tenagaku benar-benar terkuras, aku tak sanggup lagi bicara.

“Saranghae..” Yesung oppa membisikkan kata itu di telingaku. “Saranghae..” Ulangnya.

Aku tetap berkutat dalam diam. Sakit yang kurasakan tadi kini berkurang dan mungkin benar-benar hilang. Satu kata yang bermakna itu telah menghancurkan tembok keraguan dalam hatiku.

Saat dia menembakku dia hanya bilang suka. Selama dua minggu dia tak pernah menyentuhku.

17 hari, aku hanya butuh 17 hari mengenal cinta. Dalam 17 hari aku mengenalnya, aku sudah mencintainya. Laki-laki yang sedang memeluk kepalaku, orang yang mengenalkanku pada cinta. Meski aku tak benar-benar mengerti, tapi aku yakin aku mencintainya. Akhir semester tiga di tahun ke-2 ku di kampus aku menemukan cinta pertamaku dari sosok seorang Kim Jong Woon..

-End-

finally,
my first fanfic had published…
aku udah pernah ngepost ini di fb, dulu banget! hahahaha…
dan, dari sinilah kisah cinta Boram-Yesung bermula 🙂

Advertisements

10 responses »

  1. maka’a
    suka itu sama yg singel.. ckckck,
    ini suka sama boji sendiri, haha..
    jadi’a susah kan ngresmiin hubungan’a
    cepcep.. jgn nangis, tar koma dsimpen drumah kamu deh

  2. tetep semangat…..dpetin hati moni biar mau dimadu…. ckckckckck…. g dapt adeknya ma jong jin g p2lah….. tapi aku lom nyerah…. masih syg+cinta ma boji….. hahahah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s