(Ficlet) A Secret of Love

Standard

Cast :

– 2 member Suju, tapi gak ada hubungannya sama Suju. Aku cuma pinjem nama dan wajah mereka,

* Kim Heechul as Kim Heechul

* Lee Sungmin as Lee Sungmin

– 2 member DoraCom

* Yesi as Kim Bit Na

* Rahayu as Yoo Haewon

– saia as Boram

 

>>>A Secret of Love<<<

Aku Kim Bit Na, gadis berusia 19 tahun. Tapi aku tidak benar-benar seorang gadis, maksudnya kepribadianku sama sekali tidak memperlihatkanku sebagai seorang gadis. Benar! Aku gadis yang sangat tomboy. Malah lebih jantan dari namja kebanyakan.

Hobiku main basket, boxing dan nonton sepakbola. Musik favoritku bukan musik yang mendayu seperti yang biasa disukai para remaja. Aku menjabat sebagai wakil ketua Taekwondo di kampusku meski aku baru tingkat dua.
Aku tidak suka pada namja yang kurang jantan dariku.Makanya, sejak dulu aku berprinsip aku tak mau berpacaran dengan namja yang tidak lebih laki-laki dariku.

Tapi aku punya rahasia. Ada satu namja yang bisa menggugah hatiku meski dia justru lebih cantik dariku dan memiliki sifat selembut perempuan.
Semua cerita terjadi menjelang akhir semester dua, setengah tahun yang lalu.

***

Waktu itu aku sedang berseteru dengan seorang perempuan bernama Jang Hee Na. Dia orang yang sangat menyebalkan. Pacarnya Hee Na, Lee Sungmin rupanya suka padaku. Berkali-kali menolak si playboy itu, tapi dia tetap mengejarku. Hee Na terus saja menyalahkanku karenanya. Padahal jelas sekali kalau pacarnya yang gatal.

“Hei Bit Na, berhenti membuat pacarku mengejarmu! Apasih yang kau lakukan padanya? Tak mungkin dia mengejarmu jika kau tak melakukan sesuatu.” Kata Hee Na untuk ke sekian kali.

Berkali-kali kubiarkan dia mengoceh semau dia. Karena dia selalu begitu setiap kami bertemu, dimanapun.

“Kau itu babo ya? Jelas sekali pacarmu itu tak setia padamu. Dia mengejar perempuan lain di hadapanmu. Tapi kau malah menyalahkan orang yang dikejarnya.” Haewon mewakiliku membalas celaan Hee Na ketika dia mencelaku lagi di kantin.

“Biarkan saja dia Haewon, orang seperti dia tak pantas kau layani.” Kataku pada sahabatku itu.

Perseteruan itu berlangsung hingga sebulan. Sungmin tak juga menyerah mengejarku, Hee Na juga terus saja mencelaku.

“Kau pikir kau hebat karena kau kuat? Heh.. Lihat saja nanti. Kau akan menyesal karena telah membuat Jang Hee Na marah.” Katanya pada suatu hari.

Sejak awal aku sama sekali tak peduli dengan semua ucapan gadis babo itu. Tapi rupanya dia tidak main-main dengan ucapannya. Pulang latihan taekwondo hari itu, aku dicegat 3 orang preman kiriman Hee Na. Tapi aku berhasil menghajar mereka.

Bit Na dilawan!

Tiga hari setelah kejadian itu Hee Na tidak pernah muncul dihadapanku.
“Mungkin dia sudah sadar.” Kata Boram.

“Orang seperti dia bisa sadar? Ajaib.” Balas Haewon.

“Ah, biarkan saja. Yang penting hidupku tenang.” Jawabku. “Tinggal si Sungmin saja tuh. Jelas aku tak suka pada cowok banci seperti dia.”

“Nanti juga dia nyerah seperti pacarnya yang babo itu.” Kata Haewon. Aku dan Boram mengamini. “Oh iya, aku dan Boram mau ke toko buku. Kau mau ikut?” Tawarnya.

Aku menggeleng. “Ada tugas. Aku harus ke perpustakaan hari ini.” Jawabku.
“Oh, baiklah.” Kata Boram.

Selesai kuliah aku langsung pergi ke perpustakaan. Ada pertandingan Manchester United nanti malam, dan aku tak mau ketinggalan itu.

Waktu menunjukkan pukul sepuluh lebih saat aku keluar dari perpustakaan. “Aish! Aku harus cepat pulang.” Kupercepat langkahku. Pokoknya aku harus tiba di rumah sebelum jam setengah sebelas.

Saat melewati jalanan sepi, aku dicegat preman. Ah, sial.

“Ya! Kau yang bernama Kim Bit Na?” Tanya salah seorang dari 7 preman yang mencegatku.

“Ne. Siapa kalian?”

“Hah.. Kau kenal Lee Sungmin?” Tanyanya lagi.

Aku mendelik. “Ah, si playboy yang tak tau diri itu. Kenapa dengannya? Dia sudah berhenti mengejarku kah?”

Salah seorang dari mereka yang mengenakan baju merah menarik kerah bajuku. “Heh gadis sial! Kau salah telah menolak dia. Sekarang dia benar-benar marah, dan kau akan tau akibatnya karena telah menolak dia.” Katanya sangar.

Aku melepaskan tangannya dari kerahku. “Oh, jadi laki-laki banci itu mengirim cecunguk-cecunguk seperti kalian? Rupanya dia bukan hanya banci, tapi juga pecundang.” Kataku tanpa rasa takut sedikitpun.

Tak pelak ucapanku menghina mereka. Dua di antara mereka langsung mencoba menyerangku tapi berhasil ku tangkis dan ku robohkan.

‘Sial! Kenapa harus sekarang? Aku mau melihat tim idolaku main.’
Aku kewalahan melawan 7 orang sekaligus. Satu dari mereka berhasil memukul wajahku. Bibirku berdarah! Tenagaku makin lama makin berkurang. Makin sering aku terkena pukulan. Sakit sekali. Aku bisa bebas dari mereka jika kabur, tapi tak ada istilah kabur di kamus hidupku.

Tin.. Tinn.. Tiiinnnn….

Sebuah mobil berhenti tepat di depan kami. Menghentikan aksi pengeroyokan terhadapku. Dan pengendara mobil itu turun. Aku tak bisa melihatnya karena lampu depan mobil itu terlalu silau.

“Berhenti berkelahi, atau aku telepon polisi sekarang juga.” Gertak orang itu. Aku merasa mengenal suaranya.

Gertakan itu rupanya menciutkan nyali para preman itu. Merekapun pergi tunggang langgang.

“Ya, kau Bit Na kan? Boram chingu kan? Aish, kenapa kau berkelahi dengan mereka?”

Ah, rupanya Heechul, oppa tiri Boram.

“Gwenchana. Aku akan pulang sekarang” Kataku padanya sambil mengambil tas yang tergeletak di tanah bekas pengeroyokan tadi.

Heechul menghampiriku, “kau gila? Mau pulang dengan keadaan seperti ini? Oppa obati kamu sebelum pulang. Nanti oppa antar kau dan bantu menjelaskan.” Tawarnya.

Aku menolak. “Tak perlu, orang tuaku akan mengerti. Tidak jarang aku dihajar orang.”

Dia menarik tanganku. “Ya! Kau ini perempuan! Mana boleh cuek saja seperti ini!!” Teriaknya.

Aku mematung. Bukan karena aku kaget karena tiba-tiba dia berteriak, tapi ucapannya menusukku. Aku lupa kapan terakhir kali aku dianggap perempuan. Aku ingin menolak, tapi dia keburu menarikku dan memasukkanku kedalam mobilnya.

Kami diam selama perjalanan. Entah aku mau dibawa kemana olehnya, akupun tak berani bertanya. Luka di bibirku membuatku sulit untuk berkata. Mobilnya berhenti di sebuah apotik. Dia keluar dan masuk mobil tak lama setelah itu. Lalu dia membawaku ke dekat jembatan.

Kami turun di sana, dekat penerangan jalan.

“Oppa bersihkan dulu lukamu, baru kau kuantar pulang.” Katanya lembut.
Aish, orang ini sok akrab sekali. Memanggil dirinya sendiri oppa. Dia tak tahu, aku bahkan tak pernah menggunakan satu kata itu. Pada Kangin sekalipun, walaupun dia kakakku.’ Ucapku dalam hati. Aku masih agak sulit untuk bicara.

Dengan telaten Heechul membersihkan lukaku, sesekali aku meringis karena sakit. Setelah luka di wajahku cukup bersih, dia mengoleskan obat dan memasang plester.

Ah, kenapa jantungku jadi berdegup kencang begini? Aneh.

Aku memperhatikannya ketika dia mulai mengobati tanganku.Wajahnya mulus, lebih mulus dariku yang seorang perempuan. Baru kali ini aku melihatnya begitu dekat. Dia tersenyum. Manis. Benar-benar seperti perempuan.

Boram bilang kalu oppa-nya itu tampan, tapi bagiku dia cantik. Dia itu perempuan apa laki-laki?

Aku pukul kepalaku. Kenapa pikiranku jadi aneh? Jantungku juga aneh.

“Yak, selesai. Kau harus kompres lebam-lebam itu setibanya di rumah.” Pesannya. “Ayo, oppa antar kau pulang sekarang.” Dia membimbingku masuk ke mobil. Begitu baik. Aku benar-benar diperlakukan sebagai seorang perempuan.

“Gomawo…” Kataku lirih.

Dia menyunggingkan senyum. Lalu meluncurkan mobilnya menuju rumahku.

***

Sejak saat itu, aku mulai memperhatikannya. Rajin sekali aku main ke rumah Boram, sengaja untuk melihat sosoknya. Untungnya aku pandai menyembunyikan perasaanku. Kedua sahabatku pun tak pernah tahu perasaanku. Hingga saat ini. Tapi makin lama aku sadar, perasaan ini bukan sesuatu bernama cinta. Hanya kagum, hanya hormat. Karena dia orang yang mengingatkanku bahwa aku ini perempuan. Padahal aku sendiri kadang melupakan hal itu.

“Apa Boram ada di kamarnya, hyung?” Tanyaku ketika aku berkunjung ke rumahnya.

Heechul melotot padaku. “Sudah ku bilang, panggil aku oppa. Kau ini perempuan.” Katanya.

Justru karena aku perempuan, aku memanggilmu hyung.Karena kata itu membuat kau selalu mengingatkanku kalau aku ini perempuan.‘ Kataku dalam hati.

-End-

Cerita Trio member DoraCom bakal terus berlanjut sampe semua member dapet laki, LOL

hmm.. kalo drabble kepanjangan, one shot kependekan. ini ficlet kali yaa 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s