(One Shot) An Autumn Man

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Kim Kibum [Super Junior]

*) Lee Sungmin [Super Junior]

*) Lee Hyena [Tizna/OC]

Genre : AU, OOC, Sad Romance

An Autumn Man

Musim gugur.. Musim dingin.. Musim semi.. Musim panas.. Musim gugur.. Musim dingin.. Musim semi.. Musim panas.. Musim gugur.. Musim dingin.. Musim semi.. Musim panas.. Musim gugur..
Aku menghitung berapa lama waktu memisahkan raga kita. Ternyata sudah sangat lama. Tiga musim dingin, tiga musim semi, tiga musim panas, empat musim gugur. Berarti sudah tiga tahun lebih kita tak saling bertatap muka.
Kau ‘namja musim gugur’, aku menyebutmu begitu. Aku bertemu denganmu di musim gugur. Aku kemudian tahu kau lahir di musim gugur. Dan pada akhirnya kau pergi di musim gugur. Aku menyukai musim gugur karena kamu.
Sekarang musim gugur. Kau tahu apa yang paling aku tunggu? Kedatanganmu. Menanti ‘namja musim gugur’ kembali di musim gugur. Apalagi ulangtahunmu tinggal beberapa saat lagi. Aku ingin sekali merayakan ulangtahun itu bersamamu setelah tiga kali aku melewatinya sendiri.Tapi sepertinya itu mustahil. Kau terlalu sibuk dengan duniamu yang baru. Kau mungkin sudah melupakanku.
Setahun setelah kepergianmu kita masih saling bertukar kabar. Tapi setelahnya, tepat di musim gugur, kau menghilang. Bahkan di negeri tempatmu berada, aku tak bisa menemukan jejakmu.
Aku menyerah untuk mencarimu, tapi tak pernah menyerah untuk menunggumu. Karena bagiku, menunggumu adalah takdirku.

***

Yeoja itu membaca setiap kata yang telah ditulisnya. Menghela nafas panjang, melipat kertasnya dan menyimpannya di kotak khusus. Kotak yang berisi ratusan kertas pesan untuk orang yang sama, ‘namja musim gugur’. Dia memandang keluar lewat jendela kamar di hadapannya. Pikirannya melayang ke ‘namja musim gugur’nya.

“Bogoshippo..” Ucapnya lirih.

Yeoja itu lalu beranjak dari tempat duduknya. Pergi ke dapur mengambil kue di lemari pendingin yang sudah dibuatnya tadi sore. Menancapkan beberapa lilin kecil di atas kue itu dan membawanya ke kamar. Yeoja itu memandang ke arah jam digital di dinding.

11:59 PM

Yeoja itu menyalakan pematik yang tadi dibawanya bersama kue. Membagi apinya ke sumbu-sumbu lilin di atas kue.

Trek..

Pukul dua belas tepat.

“Saengil chukkahamnida.. Saengil chukkahamnida.. Saranghaneun Kim Kibum.. Saengil chukkahamnida..”

Yeoja itu bernyanyi sambil bertepuk tangan pelan. Kemudian menutup matanya. “Semoga kita bisa bertemu lagi. Dan semoga kau selalu sehat dimanapun kau berada oppa.” Doanya. Dia lalu membuka matanya dan meniup api di sumbu lilin-lilin itu.

Yeoja itu tersenyum setelah meniup lilin-lilinnya. Mencabut lilin-lilin itu, meletakkan di samping kue, mengambil pisau kue lalu memotong kuenya. Dia memandang lekat potongan kue yang sudah di letakkan di sebuah piring kecil.

“Sebenarnya aku ingin sekali memberikan potongan pertama ini padamu. Tapi sepertinya masih belum mungkin ya oppa.” Ucapnya sendiri.

Lagi-lagi yeoja itu tersenyum. Memotong kuenya dengan sendok lalu memakannya, hingga potongan itu habis.

Setelahnya dia mengembalikan sisa kue yang masih banyak ke dapur. Menyimpannya di lemari pendingin.

Yeoja itu lantas beranjak ke tempat tidurnya dan terlelap.

***

Pagi hari menjelang. Yeoja itu bangun lalu membereskan tempat tidurnya, setelah itu dia membersihkan diri. Kemudian dia pergi ke dapur, membantu eommanya memasak. Setelah sarapan bersama keluarganya, dia kembali ke dapur. Mencuci seluruh peralatan dapur yang kotor.

“Apa yang akan kau lakukan hari ini?” Tanya namja yang merupakan oppa dari yeoja itu.

Yeoja itu menoleh sebentar pada oppanya lalu kembali mencuci. “Seperti biasa oppa.” Jawabnya.

“Mau kutemani?” Tawar namja itu.

Yeoja itu menggeleng pelan. “Tak usah. Lagipula oppa harus pergi kerja, aku tak ingin oppa bolos kerja hanya karena menemaniku.” Tolaknya sopan.

Si namja hanya mengangguk dan tersenyum. “Baiklah. Semoga harimu menyenangkan.” Ucapnya.

“Gomawo oppa.” Jawab yeoja itu.

“Cheonmanaeyo.” Balas namja itu.

Selesai mencuci, yeoja itu pergi ke rumah kaca di belakang rumahnya. Dia tersenyum melihat mawar-mawar yang ditanamnya mekar tepat waktu. Mawar mekar di musim gugur? Tak masalah bagi seorang florist sepertinya.

Yeoja itu kemudian mengambil gunting dan ember kecil yang diletakkan di sudut rumah kaca tersebut. Dia mengisi sepertiga ember tersebut dengan air, lalu melangkah menuju pohon mawarnya.

Dengan cekatan yeoja itu memotong tangkai bunga mawar putih yang sudah mekar lalu meletakkannya di ember yang tadi dibawanya. Sambil menghitung jumlah mawar yang dipotongnya.

1.. 2.. 3.. 4..

20.. 21.. 22.. 23..

Dia berhenti memotong mawar setelah mawar di embernya mencapai 23 tangkai.

Yeoja itu membawa ember yang berisi mawar-mawar itu ke sebuah ruangan di samping rumah kaca. Dia lalu mengambil plastik dan dengan hati-hati membungkus satu per satu ke-23 tangkai bunga mawar putih itu.

Senyum terkembang di bibir yeoja itu begitu melihat pekerjaannya selesai. Dia lalu membawa bunganya ke kamar, meletakkan di vas yang sudah disiapkannya. Kemudian dia membuka lemari, mencari baju yang cocok untuknya pergi nanti sore.

***

Lee Sungmin PoV

Sudah pukul lima. Berarti sudah waktunya pulang. Aku membereskan semua berkas-berkas di mejaku. Sebagian aku masukkan ke laci, sebagian lagi kubawa pulang.

Aku tak melajukan mobilku langsung ke rumah, tapi ke sebuah taman. Aku yakin aku akan menemukan dia, yeoja yang membawa mawar putih di keranjang.

Dan benar saja. Ketika aku menemukan sosoknya, dia sedang menenteng keranjang berisi mawar putih. Mawar di musim gugur. Aku memperhatikan tak jauh darinya. Dia sedang memberikan setangkai mawar pada seorang anak kecil yang meminta mawar tersebut. Dengan senyuman yang sangat ramah, diserahkannya setangkai mawar itu. Aku yang melihatnya ikut tersenyum.

Dia tak akan pergi sebelum mawar putih di keranjangnya itu habis. Tapi dia juga tak pernah menawarkan mawar itu. Dia memberikannya pada siapa saja yang meminta. Namun kebanyakan orang merasa canggung untuk meminta mawar miliknya itu.

Sudah hampir pukul delapan malam. Dan mawar di keranjangnya tersisa tiga. Lalu sepasang kakek-nenek menghampirinya dan meminta bunga mawar miliknya. Aku buru-buru melangkah menghampirinya begitu melihat sisa mawar di keranjangnya. Tak ingin kehilangan kesempatan untuk mendapatkan mawar terakhir.

“Agasshi, boleh aku meminta mawar putihmu itu?” Tanyaku padanya yang sedang duduk di salah satu bangku.

“Tentu saja.” Jawabnya tanpa melihatku. Dia mengambil sisa mawarnya dan berdiri untuk memberikannya padaku. “Oppa..” Panggilnya begitu sadar siapa aku.

Aku tersenyum. “Sisa mawar itu untuk oppa ya.” Pintaku.

Dia terkekeh. “Oppa bisa memetiknya sebanyak yang oppa mau di rumah kaca.” Jawabnya.

Aku merengut. “Tapi ini mawar spesial yang hanya ada sehari dalam setahun. Lagipula kau tau aku tak bisa membungkus mawarnya secantik yang kau lakukan.” Kilahku sambil memujinya.

Dia tertawa. “Arasso. Jangan memuji seperti itu oppa. Ini..” Dia menyerahkan mawar di tangannya padaku.

Aku menerimanya dengan senang hati. “Gomawo.” Ucapku. “Sekarang mawarmu sudah habis. Ayo pulang. Kau masih ada satu tugas lagi kan?” Dia mengerutkan kening tak mengerti. “Kue ulangtahunnya belum habis.” Jelasku.

“Aah.. Jinjja. Ne, kajja.”

Dia menarik lenganku menuju parkiran tempat mobilku diparkir.

End of Lee Sungmin PoV

***

Sesekali Sungmin memandang yeoja yang duduk di sampingnya. Dia mendesah pelan setiap mengingat Kim Kibum. Namja yang membuat yeoja di sampingnya seperti sekarang. Yeoja itu terlihat tegar, bahagia, tapi Sungmin tahu bahwa yeoja itu rapuh. Dia menanggung kesedihannya sendiri. Memendam rasa rindu yang tak bisa dilampiaskan selama tiga tahun lebih.

“Gwenchana oppa. Kau tau aku ini yeoja yang kuat.” Ucap yeoja itu begitu menyadari Sungmin terus memandangnya dengan rasa khawatir.

Sungmin mengangguk. Dia kembali berkonsentrasi melihat jalanan di depannya.

Sesampainya di depan sebuah rumah, Sungmin memarkirkan mobilnya di parkiran rumah itu. Dia buru-buru membuka pintu mobilnya dan berlari menuju pintu yang lain.

“Kau baik sekali oppa.” Komentar yeoja itu begitu keluar dari pintu mobil yang dibuka oleh Sungmin.

“Kau meledekku? Aku baik setiap saat.” Kata Sungmin dengan nada sedikit protes.

Yeoja itu tersenyum lalu melingkarkan tangannya di lengan Sungmin. “Jangan marah oppa. Kau jelek kalau marah seperti itu. Kalau oppaku orang baik, dia pasti tak akan marah.” Rayu yeoja itu.

Sungmin kemudian mengacak rambut yeoja di sampingnya. “Aku selalu kalah olehmu, kau memang yeodongsaeng oppa yang paling pintar merayu.” Ucapnya.

Keduanya lalu masuk ke dalam rumah sambil tertawa-tawa.

“Annyeong..” Sapa seorang namja begitu keduanya membuka pintu.

Sungmin dan yeoja itu tak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka begitu melihat siapa yang menyapa mereka. Setelah sadar dari keterkejutannya, Sungmin langsung menghampiri namja itu dan menyarangkan bogem mentah di wajah namja itu.

Buugghhh…

Satu pukulan Sungmin membuat namja itu tersungkur ke lantai. Si yeoja bersiap protes dengan apa yang dilakukan Sungmin tapi kemudian dia terdiam begitu melihat Sungmin mengulurkan tangannya untuk membantu namja itu bangun.

“Hadiah yang sangat istimewa kan Kibum?” Tanya Sungmin.

Namja yang bernama Kibum itu menyambut uluran tangan Sungmin dan meringis. “Sangat hyung. Ini sangat istimewa dan menyakitkan.” Jawabnya begitu dia sudah berdiri.

Bulir-bulir airmata mulai keluar dari pelupuk mata yeoja yang berada di belakang Sungmin. Rasa rindu yang selama ini ditahannya menyeruak keluar bersamaan dengan airmatanya. Dia lalu menubruk Kibum. Melingkarkan kedua tangannya di pinggang Kibum.

Tak ada kata, hanya isakan yang mewakili semuanya. Betapa yeoja itu menderita selama lebih dari tiga tahun. Betapa yeoja itu merindukan namja yang sedang dipeluknya.

Kibum mengerti. Dia juga merasakan hal yang sama dengan yeoja itu. Dia juga memendam derita selama berpisah dengan yeoja yang memeluknya. Dia juga sangat merindukan yeoja itu. Kibum membalas pelukan yeoja itu. Matanya berkaca-kaca, dia mengigit bibir bawahnya untuk menahan emosinya.

Sungmin tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. Itulah yang selalu didoakan Sungmin setiap malam. Yeodongsaengnya bisa bertemu dengan namjachingunya.

“Aku ke kamar duluan.” Ucap Sungmin sambil melangkah ke kamarnya. Dia ingin memberikan waktu untuk pasangan yang saling memendam rindu itu. Tapi keduanya terlalu larut dengan romansa mereka sehingga tak menanggapi ucapan Sungmin juga tak menyadari kepergian Sungmin.

“Gwenchana?” Tanya yeoja itu setelah melepaskan pelukannya.

Kibum mengangguk. Mereka kemudian duduk di kursi panjang dan saling berhadapan.

“Aku tidak terlambat kan?” Tanya Kibum.

“Maksud oppa?” Tanya yeoja itu tak mengerti.

“Tiga tahun lebih aku pergi. Dua tahun tanpa kabar. Bukan waktu yang pendek. Pasti banyak hal terjadi selama itu.” Terang Kibum. “Aku tidak terlambat pulang kan?” Tanyanya.

Yeoja itu menggeleng. “Anni. Aku masih setia menunggumu oppa. Tiga tahun memang waktu yang panjang. Tapi aku sanggup menunggumu walau sepuluh tahun.” Jawab yeoja itu mantap.

Kibum tersenyum. “Gomawoyo..” Ucapnya tulus. “Mianhae, banyak yang terjadi padaku. Alasan mengapa aku tak menghubungimu, mengapa..”

Yeoja itu langsung menutup mulut Kibum dengan dua jarinya. Dia menggeleng. “Kau bisa bercerita soal itu nanti. Sekarang ada yang lebih penting.” Ucapnya.

“Mwo?” Tanya Kibum.

“Saengil chukkahamnida jagiya..” Seru yeoja itu semangat. “Aku punya banyak hadiah untukmu. Chakkaman.”

Yeoja itu kemudian pergi. Dia pergi menuju kamarnya. Mengambil kotak berisi pesan-pesan yang selalu ditulisnya setiap merindukan Kibum, yang artinya hampir setiap hari dia menulis pesan. Lalu dia mengambil satu kotak lagi, kali ini lebih besar. Isinya empat kotak lain yang merupakan hadiah untuk Kibum setiap tahunnya. Kotak berisi pesan-pesan dia tumpuk ke atas kotak hadiah.

Kemudian yeoja itu pergi ke dapur. Mengambil sisa kue ulangtahun di lemari pendingin. Dia membawa semuanya dengan sedikit repot, tapi dia ingin semuanya dilakukan dalam satu waktu.

Kibum melihat yeojachingunya kerepotan dengan segala yang ada di tangannya. Dia mengambil kue yang sudah tak utuh itu dan meletakkannya di meja.

“Gomawo..” Ucap si yeoja.

Kibum hanya tersenyum.

Yeoja itu kemudian meletakkan kotak pesannya di meja, membuka kotak besar di pangkuannya.

“Ini hadiah untuk tahun 2007.” Yeoja itu menyerahkan kotak dengan kertas kado yang didominasi warna putih pada Kibum. “Ini untuk tahun 2008.” Lanjutnya. Dia menyerahkan kotak dengan kertas kado yang didominasi warna merah. “Ini untuk tahun 2009.” Dia menyerahkan kotak dengan kertas kado yang didominasi warna hijau daun. “Dan ini untuk hari ini.” Dia menyerahkan kado terakhir. Kado dengan dominasi warna biru.

Kibum memandangi kado-kado yang ada di pangkuannya.

“Masih ada.” Kata yeoja itu. Dia menyerahkan kotak berisi pesan-pesan rindunya pada Kibum. “Mungkin butuh tiga tahun untuk membacanya jika oppa membaca satu setiap hari.” Komentarnya sambil terkekeh.

“Kebiasaanmu menulis setiap merindukanku masih ada ternyata. Rupanya kamu serindu ini padaku.” Goda Kibum sambil mengangkat kotak yang diserahkan yeoja itu. “Lalu, mengapa kau membawa kue sisa?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah kue yang tergeletak di tengah meja.

“Setiap tahun dia membuat kue ulangtahun untukmu. Tapi pada akhirnya dia memakan kue itu sendiri. Aku juga kadang membantunya menghabiskannya. Kekeke..” Terang Sungmin yang muncul dari belakang.

“Oppa..” Kata yeoja itu malu-malu.

Sungmin menghampiri keduanya. Dia duduk di kursi kosong di depan mereka. “Aku tak ingin ketinggalan acara makan kue.” Katanya. “Oh iya. Kau tau? Sudah dua tahun yeodongsaengku ini selalu membagikan mawar putih di taman tempat pertama kalian bertemu. Dia bilang karena tak bisa memberikan bunga mawar putih yang ditanamnya sendiri itu langsung padamu, makanya dia memberikan pada siapa saja yang memintanya. Tapi kebanyakan orang memandang heran padanya. Aigoo.. Harusnya kau cepat pulang jadi kau bisa mendapatkan mawar miliknya. Aku tadi mendapatkan mawar terakhirnya.” Cerita Sungmin dengan sedikit bangga.

“Aku sudah menanam bibit mawar di hatinya hyung. Dan sekarang sudah mekar.” Ucap Kibum.

Yeoja yang duduk di samping Kibum langsung menunduk sambil memukul pelan paha Kibum. Wajahnya sudah sangat merah. Kibum dan Sungmin tertawa melihatnya.

Kemudian ketiganya menikmati kue ulangtahun Kibum yang sudah tak utuh itu. Sambil bercerita tentang masa lalu.

***

Ternyata kau pulang tepat di hari ulangtahunmu. Aku masih tak percaya doaku terkabul. Dan kau memang ‘namja musim gugur’. Kau pergi saat musim gugur, kau menghilang di musim gugur, dan kau kembali pada musim gugur.
Tapi sepertinya kau tak menyukai musim gugur. Kau melamarku di musim dingin 🙂
Apa kau bosan karena aku menjulukimu ‘namja musim gugur’? Padahal kau sangat pantas mendapatkan julukan itu.
Tapi tak apa. Aku juga tak ingin menunggu lebih lama untuk menjadi milikmu seutuhnya. Walaupun kau sebenarnya tak usah khawatir, aku sudah menghentikan waktu perkembangan mawar di hatiku. Mawar yang kau tanam itu akan tetap mekar sampai kapanpun.
Sekarang, aku tak perlu menulis setiap aku merindukanmu. Karena aku bisa mengatakannya langsung padamu sampai mulutku berbusa dan telingamu sakit.
Ini istimewa, karena aku bukan sedang merindukanmu. Tapi sedang sangat bahagia. Aku ingin berterima kasih padamu. Atas cinta yang kau berikan padaku selama ini. Yang selalu menjadi kekuatan untukku. Alasanku untuk tetap tersenyum.
Aku ingin berterima kasih padamu untuk hari istimewa ini, hari dimana aku resmi menjadi bagian seutuhnya dan seorang Kim Kibum.

Saranghae Kim Kibum. Saranghae yeongwonhi..
Your wife now and forever

Lee Hyena..

***

Kibum tersenyum membaca surat yang sedang dipegangnya. Dia kemudian memandang ke arah yeoja yang sedang terlelap tidur di hadapannya. Dia melipat surat itu, lantas menyimpannya di kotak yang ada di meja kecil di samping ranjang.

Kibum naik ke atas ranjang, memperhatikan yeoja yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Dia mengecup penuh cinta kening istrinya. Ciumannya turun ke hidung, kemudian ke bibir.

Hyena terbangun saat bibir Kibum masih berada di bibirnya. Dia tersenyum kemudian menyambut bibir suami tercintanya..

-End-

This fanfic special for my omet… She said ‘fanficnya lebay banget. Tapi aku suka… Hyena yang asli selingkuh dulu tuh sama bang kuda

He J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s