(Short Story) Change of Heart [2]

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Choi Siwon [Super Junior]

*) Lee Donghae [Super Junior]

*) Yoo Haewon [OC]

Genre : AU, Romance

a/n : ini ff paling pertama yg aku bikin, kekeke~~ tapi endingnya lama banget beres gara2 gak pinter bikin jalan ceita. Happy reading ^^

 

Change of Heart [2]


Lusa. Tak lama lagi dia pulang. Aku menutup mataku, membayangkan Siwon pulang dengan senyumannya. Tapi kembali sosok Donghae yang justru muncul. Donghae dengan senyuman yang membuat jantungku memacu darah dengan cepat saat pertama kali melihatnya juga saat ini, membayangkan senyumannya saja membuat jantungku bekerja tak normal. Aku memukul kepalaku dengan boneka kuda laut yang sedang kupegang.

“Haewon babo!” Ucapku marah pada diri sendiri.

Ponselku bergetar. Ada telepon masuk. Aku melihat ID si penelepon.

Lee Donghae

Aku langsung menjawab teleponnya. “Yoboseyo?” Tanyaku padanya.

Dia mengajakku berbincang beberapa saat. Aku tertawa mendengar beberapa ucapannya yang konyol. Dia membuatku melupakan semua hal yang sedang aku pusingkan beberapa saat yang lalu. Tak terasa, lima belas menit lebih kami berbincang.

“Ne. Annyeong Donghae-ssi.” Ucapku mengakhiri telepon kami.

Aku tersenyum senang. Aku berguling-guling di kasurku sesaat setelah Donghae menutup teleponnya. Aku mencium boneka kuda lautku. Tapi kemudian aku sadar begitu mencium bonekaku.

“Hya.. Kenapa aku ini? Kenapa aku jadi senang mendapat telepon darinya? Aish, sadarlah kau Haewon. Kau itu pacarnya Siwon. Anni, aku tak boleh seperti ini.” Aku memaki diriku sendiri karena kebodohanku. “Aish, aku menyesal bertemu dengannya. Donghae, sekarang kau mengacaukan hatiku.” Keluhku.

Aku mengambil ponselku yang tergeletak di kasur. Mengetikkan dua baris kata dan mengirimkannya pada Siwon. Tak lama ada balasan dari Siwon. Aku tersenyum membaca SMS darinya. Jempolku dengan cepat mengetikkan beberapa kata untuk membalas Siwon. Setelah itu kami saling mengirim pesan pendek. Aku lupa pada Donghae. Yah, memang begini seharusnya.

-o0o-

Besoknya…

Aku berangkat ke kampus dengan sedikit ngantuk. Semalaman aku berSMS ria bersama Siwon. Hari ini Bit Na ijin tak masuk. Pertandingan taekwondonya sebentar lagi digelar. Jadi dia mengikuti latihan tambahan. Sedang Boram mempunyai jadwal yang berbeda denganku. Hari ini aku merasa sepi. Biasanya walaupun Boram beda jadwal, walaupun Bit Na pergi latihan, akan selalu ada Siwon. Meski kami beda jurusan dan kami tak satu kelas, dia pasti selalu ada saat aku keluar kelas. Bahkan dia sering sengaja menemaniku di kelas. Aish, aku benar-benar kehilangan sosoknya. Tapi besok dia sudah pulang.

Ponselku bergetar. Donghae meneleponku.

“Yoboseyo? Donghae-ssi, waeyo?” Tanyaku. “Mwoya? Kau ada di lapangan? Sedang apa?” Aku membelalakan mata begitu mendengar ucapan Donghae. Setelah menutup telepon aku langsung berlari ke lapangan sepak bola. Ada beberapa mahasiswa disana. Tapi aku bisa menemukan Donghae dengan cepat. Dia sedang melepaskan ranselnya. Aku menghampirinya.

“Annyeong.” Sapaku padanya.

Donghae menoleh padaku. Dia tersenyum. Baik. Kuakui jantungku mulai memompa darah dengan cepat lagi. “Kupikir kau akan tiba lebih lama. Senang sekali bisa bertemu lagi denganmu. Aku sudah menunggunya sejak pertandingan waktu itu. Duduklah. Aku ingin memberimu sesuatu.” Ucapnya.

Aku menurut saja. Aku duduk di sampingnya. Dia menggeser duduknya menjadi menghadap ke arahku. Aku hanya memperhatikannya, menunggu apa yang ingin dia berikan padaku. Dia mengambil sapu tangan berwarna merah polos dari dalam ranselnya.

“Perhatikan!” Perintahnya.

Aku mengangguk. Sebenarnya aku ingin bertanya soal kedatangannya dari Incheon kemari. Tapi kuurungkan. Aku memperhatikannya dengan seksama. Sambil bertanya-tanya apa yang akan dilakukannya.

Dia menutup tangan kirinya dengan sapu tangan itu. Beberapa detik kemudian dia mengangkat sapu tangannya. Entah bagaimana caranya, sudah ada mawar merah di tangan kirinya itu.

Aku membelalakan mata, kagum melihat aksinya. Tanganku menutup mulutku yang ternganga lebar. “Whoa.. Hebat!” Ucapku begitu aku bisa berkata-kata.

Dia tersenyum puas lalu menyodorkan mawarnya padaku. Aku mengambilnya. Mencium wangi bunga tersebut. Dan tersenyum lagi.

“Gomawoyo..”

“Aku senang kalau kau menyukainya.” Ucapnya.

“Tentu saja aku suka. Tak ada yeoja yang tak suka diberi kejutan seperti ini.” Jawabku antusias.

Lalu mendadak Donghae memperlihatkan wajah serius. Aku sempat heran melihatnya.

“Yoo Haewon, mianhae. Aku tau aku mungkin lancang mengatakan hal ini. Aku tau kau sudah punya namjachingu. Beberapa kali aku mencoba untuk menahannya, tapi tak bisa. Yoo Haewon, mianhae. Saranghae.”

Aku membelalakan mata lagi. Kaget dengan apa yang baru saja aku dengar. Tak dapat kupungkiri, bagian dari hatiku merasa senang. Tapi aku juga ingat Siwon, aku mencintainya. Sangat mencintainya. Tak terasa aku meneteskan air mata.

-o0o-

Donghae PoV

Aku melihat Haewon agak aneh melihatku yang tiba-tiba berubah serius. Kukumpulkan semua keberanianku. Aku menarik nafas panjang, bersiap mengatakan kalimat yang sudah kuhafal di luar kepala. “Yoo Haewon, mianhae. Aku tau aku mungkin lancang mengatakan hal ini. Aku tau kau sudah punya namjachingu. Beberapa kali aku mencoba untuk menahannya, tapi tak bisa. Yoo Haewon, mianhae. Saranghae.”

Akhirnya aku mengatakannya. Mengatakan perasaan yang lebih dari seminggu ini aku pendam. Benar. Aku mencintai Haewon sejak pertama kali mataku menemukannya. Dia mungkin tak pernah sadar. Tapi waktu itu, saat di lapangan sepak bola, ketika aku sedang berlari mengitari sisi lapangan, aku melihatnya. Aku memang melihatnya duduk berdampingan dengan seorang namja yang mungkin namjachingu dia. Tapi entahlah. Aku hanya menyukainya. Selesai pertandingan aku mendapati dia duduk sendiri. Aku memberanikan diri menghampirinya, menyapanya. Dan ternyata benar, aku menyukainya. Hal itu menjadi tak tertahan karena komunikasi kami. Walaupun kini aku tahu namja yang ada di sampingnya adalah namjachingunya.

Haewon diam tak bereaksi mendengar ucapanku. Tapi kemudian bulir-bulir air mata keluar dan jatuh ke pipinya. Aku refleks memeluknya. Mulanya aku ingin mencabut pernyataanku tadi, tapi mulutku merefleksikan apa yang hati kecilku inginkan.

“Mianhae. Aku tau aku egois karena memberitahumu. Tapi aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu. Sejak kau duduk bersama teman-teman dan namjachingumu di bangku penonton. Sebelum pertandingan itu, dan aku makin menyukaimu setelah berkenalan denganmu. Berkali-kali aku meyakinkan diri kalau ini hanya perasaan sesaat. Tapi ternyata bukan. Aku benar-benar jatuh cinta padamu. Saranghae Haewon-ah.”

Haewon makin terisak mendengar ucapanku. Aku menyesal membuatnya makin bingung dengan perasaanku. Berkali-kali aku mengucapkan ‘mianhae’ padanya. Tapi dia tetap menangis. “Uljima, jebal.” Pintaku padanya.

Aku tak tahu berapa lama dia menangis dalam pelukanku. Satu hal yang pasti, dia tak pernah melepaskan pelukanku. Dia tetap membiarkanku memeluknya. Itu membuatku merasa sedikit senang tapi juga merasa bersalah pada Siwon.

“Mianhae Donghae-ssi. Kau tau aku sudah punya namjachingu. Aku tak mungkin menerima cintamu. Mianhae.” Ucap Haewon setelah tangisnya reda.

Aku mengangguk. Aku tak pernah berpikir akan mendapatkan jawaban positif darinya. Jadi tak masalah. Walaupun hatiku tetap saja sakit.

“Gwenchana. Aku juga tak bermaksud merusak hubungan kalian. Aku hanya ingin kau tau. Mianhae, karena pernyataanku tadi kau jadi bingung. Lupakanlah kalau itu jadi beban untukmu.”

Haewon menggeleng. Aku tak mengerti maksud gelengannya itu.

Beberapa lama kami berada dalam diam. Menunduk, berkutat dengan pikiran masing-masing. Aku tak berbicara karena tak ingin membuat kesalahan lagi. Aku tak ingin membuat pernyataan-pernyataan yang membuatnya bingung lagi.

“Aku mau pulang.” Ucap Haewon tiba-tiba.

Aku mendongak. Memandangnya sejenak. “Aku antar ya.” Tawarku. Aku yakin akan mendapatkan jawaban negatif darinya. Tapi tetap saja aku menawarkan diri. Jujur aku ingin mengantarnya, bersamanya lebih lama. Walau aku tak akan memaksa.

Dia mengangguk menanggapi tawaranku.

Aku terkejut dengan responnya yang berlawanan dengan dugaanku.

-o0o-

Haewon PoV

“Aku mau pulang.” Ucapku di tengah keheningan kami. Tak mungkin juga aku melanjutkan kelas dengan keadaan seperti ini. Aku butuh waktu untuk berpikir.

“Aku antar ya.” Donghae menawarkan diri untuk mengantarku.

Entah apa yang menggerakkan kepalaku, tapi sesaat setelah dia menawarkan diri aku mengangguk mengiyakan. Aku melihat dia kaget karena responku. Jangankan dia, aku juga kaget dengan diriku sendiri.

Tapi kemudian dia tersenyum, berdiri, dan menjulurkan tangannya. Aku menyambut tangannya yang berniat membantuku berdiri. Tapi mungkin karena pusing atau apa, aku agak limbung dan hampir jatuh. Donghae refleks menarik tanganku, tapi tubuhku masih limbung. Dia melingkarkan tangan bebasnya di pinggangku dan menarikku ke pelukannya. Semuanya berlalu begitu cepat.

Kini lagi-lagi aku ada di pelukannya. Lebih dekat dari yang tadi. Aku bisa merasakan denyut jantungnya dengan tubuhku. Sangat cepat, secepat pacuan jantungku. Mungkin dia menungguku melepaskan diri. Tapi tak aku lakukan. Aku diam di pelukannya. Bilang aku konyol juga menyebalkan, terserah. Aku menyukai pelukannya, menikmati detak jantung kami yang selaras yang bisa di dengar oleh telinga kami.

Kemudian dia melepaskan pelukannya. “Mianhae.” Ucapnya pelan.

Aku mengangguk. “Ne, gwenchana. Gomawo.” Jawabku tak kalah pelan.

Kami kemudian berjalan menuju parkiran tempat mobilnya disimpan. Aku hanya berbicara saat dia bertanya jalan mana yang harus diambilnya di perjalanan pulang.

Pesawat yang ditumpangi Siwon dan eommanya landing pukul empat sore. Aku tiba di bandara pukul empat lebih sepuluh. Aku menunggu mereka di terminal kedatangan C. Sekitar lima belas menit kemudian aku melihat Siwon dan eommanya melangkah mendekatiku. Aku tersenyum pada mereka. Seminggu penuh aku tak berjumpa dengan Siwon. Aku sangat merindukannya. Dia tahu, dia mengerti. Beberapa langkah sebelum dia sampai dia sudah merentangkan kedua tangannya. Aku menghampirinya, memeluknya. Melepaskan semua kerinduanku dengan memeluknya erat.

“Bogoshippo jagi.” Katanya. “Seminggu tak bertemu denganmu terasa begitu lama. Harusnya aku mengajakmu juga.” Lanjutnya.

“Nado jagi.”

Kemudian kami melepaskan pelukan kami karena merasa tak enak pada Siwon eomma yang sedari tadi tersenyum melihat tingkah kami.

“Disana menyenangkan ahjumma?” Tanyaku.

Dia mengangguk mengiyakan. “Sangat. Harusnya kau juga ikut bersama kami.” Ucapnya.

Kami lantas berbincang sambil berjalan lalu memanggil taksi. Siwon eomma sangat pengertian, dia tahu putranya dan aku saling merindukan. Dia langsung membuka pintu depan dan masuk. Jadi aku dan Siwon duduk berdua di belakang.

Aku memandang Siwon lekat-lekat. Aku mengagumi, menyayangi dan mencintai namja yang ada di sampingku ini. Aku sangat mencintainya. Dan hanya dia yang boleh mengisi ruang hatiku. Siwon tersenyum padaku, dia menarik jemariku dan meremasnya. Pandangan matanya selalu sama, penuh cinta. Aku menyenderkan kepalaku di bahunya. Siwon eomma ikut tersenyum melihat kami.

-o0o-

Seminggu berlalu sudah. Aku kembali ke kehidupan normalku. Sejak saat itu Donghae sesekali mengirim pesan singkat, tapi aku tak pernah menggubrisnya. Aku sudah menetapkan diri, cukup Siwon saja yang boleh mengisi hatiku. Dia sahabatku juga penyelamatku, dia namja yang paling mencintaiku. Walau begitu, kadang hatiku merasa sakit. Ketika aku mengingat senyuman Donghae, ketika itu pula aku merasa ada lubang dalam hatiku. Aku merindukannya. Hingga kini dia tak pernah absen mengirimku pesan singkat, hanya sekedar mengirim sebuah kata-kata mutiara atau bertanya kabar. Pesan-pesan yang tak pernah aku balas itu memiliki tempat tersendiri, aku membuat satu folder khusus untuknya. Saat aku sendiri, kadang aku suka membukanya, membacanya satu per satu. Sering ingatanku kembali ke waktu itu, ketika dia menyuguhkan sulap bunga, saat dia menyatakan cinta, dan pada saat dia memelukku.

Ada apa denganku? Apa aku juga mencintai seorang Donghae? Tapi aku mencintai Siwon. Aku juga selalu merindukan dia. Aku selalu menginginkan dia bersamaku. Aku bingung dengan perasaanku sendiri.

-o0o-

Siwon PoV

Aku merasa ada yang aneh dengan Haewon sejak aku pulang dari Paris. Aku sering mendapatinya melamun. Dia juga suka dengan tiba-tiba mengucapkan ‘saranghae’ padaku. Itu membuatku heran. Karena biasanya dia akan bicara seperti itu setelah aku mengatakannya duluan. Kadang ketika aku menghampirinya yang sedang sendiri, aku mendapatinya sedang memainkan ponselnya. Ada yang beda dengan raut wajahnya. Seperti ada kesedihan yang sedang melandanya. Setiap aku tanya, dia selalu menjawab ‘gwenchana jagi’. Dia lupa aku siapa. Dia lupa sudah berapa lama aku bersamanya. Dia lupa sudah berapa lama aku mencintai dan mengertinya. Aku yakin ada sesuatu, tapi apa?

Aku berjalan agak cepat. Membawa dua buah kaleng soda di tanganku. Haewon sedang mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Boram sedang ada kelas, Bit Na sedang mengikuti latihan taekwondo. Dia pasti tak sabar menungguku.

Aku mengedarkan pandanganku mencari Haewon di tempat baca. Rupanya dia tertidur di meja paling ujung dekat kaca. Aku menghampirinya, duduk di sebelahnya. Belakangan ini dia bilang sulit tidur, pantas sekarang dia terlihat tidur nyenyak. Aku mengelus rambutnya yang terurai. Memandang penuh cinta yeoja yang sudah mengisi hatiku enam tahun ini.

“Donghae..”

Aku terkejut mendengar igauan Haewon. Dia menyebut nama seseorang dalam tidurnya.

“Donghae, nugu?” Tanyaku pelan.

-to be continue-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s