(One Shot) I Still Love You Even You’re ‘Babo’

Standard

I Still Love You Even You’re ‘Babo’

Author : Asuchi

Cast :

*) Eunhyuk/Lee Hyukjae [Super Junior]

*) Han Yoori [Jewelie/OC]

Other Cast :

*) Yesung/Kim Jongwoon [Super Junior]

*) Lee Sungmin [Super Junior]

*) Choi Siwon [Super Junior]

*) Kim Ryeowook [Super Junior]

*) Leeteuk/ParkJungsoo [Super Junior]

Genre : AU, Romance, Humor Nanggung

a/n : Ini fanfic humor pertama yg aku bikin pas aku lagi camp dan nemu monyet lagi gelantungan, lalu kepikiran si hyuk /plakk… happy reading

 

 

Dasar monyet bodoh! Sudah seminggu sejak kejadian itu, tapi aku sama sekali tak bisa melupakanmu. Apa kau tahu aku tersiksa disini karena kau? Apa kau tahu aku hanya bisa menangis disini?

-o0o-

“Ayo putus.” Lee HyukJae, orang yang sudah menjadi pacarku selama dua tahun mendadak mengajakku putus.

“Mwo? Aish, apa-apaan kau ini. Bercandamu sudah keterlaluan. Aku sudah bilang kalau aku tak suka kalau kau bercanda seperti ini.” Kataku dengan santai sambil meminum milkshake di tanganku.

Dia memang kadang bercanda seperti ini. Dia tahu aku sangat tak menyukainya. Tapi dasar HyukJae, ada masanya rasa pengertiannya itu mati.

“Aku serius.” Ucapnya lagi.

Wajah seriusnya itu justru membuatku makin tak percaya padanya. Dia sering mengerjaiku dengan tampang serius yang malah terlihat aneh bagiku.

“Ya! Lee HyukJae, apa kau yakin mau putus denganku? Yakin bisa melepaskan aku?” Aku pura-pura menanggapi ucapannya.

“Yoori-ah. Mianhae. Tapi aku benar-benar serius kali ini. Kita putus.”

Setelah dia mengatakan hal itu, dia pergi dari hadapanku. Aku melongo menyadari aku sudah ditinggalkan sendiri. Entah apa yang ada di otakku waktu itu. Yang pasti saat itu jelas-jelas aku masih menganggap dia bercanda. Tapi nyatanya dia benar-benar meninggalkanku. Sendirian. Tanpa alasan jelas mengapa dia memutuskanku.

-o0o-

Aku ingin membenci si monyet bodoh itu. Tapi aku tak bisa. Padahal jelas sekali dia mempermainkan aku. Sekarang sudah seminggu dia tak pernah menghubungiku, menemuiku, mendengar kabar tentangnya pun aku tak pernah. Dia benar soal permintaan putusnya. Begitu banyak alasan di otakku yang bisa membuatku membencinya, tapi bayangan HyukJae terus menari di pikiranku. Aish, aku terlalu menyayangi si monyet manis itu.

“Lee HyukJae babooo…” Aku berteriak keras sambil mengacak rambutku saat melihat cengiran manisnya yang masih setia terpampang di wallpaper ponselku.

Ku ambil ponselku, berniat mengganti wallpapernya. Tapi tak bisa. Aku suka. Dan aku masih belum bisa menerima permintaan putusnya itu.

“Yoboseyo.. Ya, EunJa. Kau sudah menemukan tambahan teman untuk lusa belum?” Aku menelepon teman kampusku, EunJa. Tiga hari yang lalu dia mengajakku untuk pergi kencan buta bersama anak Fakultas Seni. Dia bilang kurang satu orang, dan mengajakku karena katanya obat patah hati yang paling mujarab adalah menemukan pasangan baru. Tapi waktu itu aku menolaknya, karena aku masih yakin aku belum putus dengan Hyuk. “Ne, aku mau ikut. Aish, aku sudah bosan mengingat si monyet itu. Semoga aku dapat pacar nanti.. Sudahlah, aku tak mau mengingat dia lagi. Aku sudah yakin kami benar-benar putus kali ini.” Curhatku pada EunJa. “Ara, jam empat di cafe seberang kampus. Aku janji tak akan telat. Gomawo.. Annyeong.”

Aku menutup teleponku. “Lihat saja Hyuk. Aku pasti bisa mendapatkan orang yang bisa menyingkirkan kau dari otakku.” Aku seperti orang gila bicara pada wallpaper ponselku.

-o0o-

Baik. Aku harus tampil sempurna hari ini. Aku harus bisa mendapatkan namja yang lebih baik dari mantan pacarku yang tak tahu diuntung itu.

Aku memakai gaun selutut berwarna coklat muda dengan tali spageti senada dengan sepatu dan antingku. Aku mengenakan bolero tangan pendek warna putih susu seperti tas yang akan aku bawa. Setelah itu, aku mengikat rambut atasanku sedikit di belakang. Aku memakai make-up yang minimalis, tak perlu menor untuk tampil cantik bukan?

Oke, aku memandang diriku dari atasan hingga bawahan. “Perfect!” Pujiku pada sosok di cermin.

Lihat saja Lee HyukJae, saat kau bertemu denganku nanti, kau pasti akan menyesal karena sudah mencampakkan seorang Han Yoori. Kau akan kaget karena aku akan mendapatkan namja yang lebih segalanya darimu.

Aku melihat jam. Sudah pukul setengah empat lebih sedikit. Jarak rumahku ke cafe itu sekitar dua puluh menit. “Lebih baik aku pergi sekarang.” Kataku. Lalu aku pamit pada Siwon appa. Eomma sedang pergi arisan di rumah temannya.

“Wow.. Mau kemana kau Yoori? Cantik sekali.” Aku berpapasan dengan Yesung oppa di pintu. Dia mau pergi ke rumah pacarnya, Boram.

“Kencan.” Jawabku singkat.

“Mwo? Kau tak jadi putus dengan Eunhyuk?” Tanyanya.

Aku mendengus kesal. “Jangan sebut nama makhluk tak berperasaan itu. Aku menyesal pernah pacaran dengannya.” Aku berkata seperti itu, tapi hatiku tidak begitu. Aku tak pernah menyesal. Aku sangat menyukai Lee HyukJae. Hingga kini, meski sudah jelas-jelas aku dicampakkan tanpa alasan.

“Lantas kau kencan dengan siapa?”

Aish, oppaku ini sepertinya mahasiswa salah jurusan. Sudah kuduga dia lebih pantas masuk jurusan jurnalistik dan jadi wartawan daripada masuk jurusan manajemen. Hobinya selalu ingin tahu urusan orang lain. “Namja yang lebih segalanya dari Hyuk.” Jawabku asal. Aku langsung pergi meninggalkan oppa sebelum diberondongi banyak pertanyaan yang lain yang bisa menyita waktuku.

Aku telat sepuluh menit karena interogasi oppaku tadi. Aku langsung menuju ke meja tempat EunJa dan yang lain berada. Mudah menemukan mereka karena EunJa bilang meja mereka dekat kolam ikan kecil, tempat yang jadi favorit aku dan teman-teman.

“Mian telat. Tadi ada sedikit gangguan.” Kataku. Aku langsung duduk di kursi di samping EunJa.

“Gwenchana. Teman kami satu lagi juga belum datang.” Jawab seorang namja yang duduk di depan EunJa. Ah, benar. Kursi di depanku kosong. “Annyeong, Han Yoori imnida.” Sapaku pada mereka. Aku menyunggingkan senyum termanisku. Kesan pertamaku tak terlalu bagus karena telat, jadi kesan keduaku harus menarik.

Kemudian masing-masing namja menyebutkan namanya, dimulai dari yang ada di hadapan EunJa.

“Kim Ryeowook imnida.”

“Lee Sungmin imnida.”

“Park JungSoo imnida.”

Hmm.. Aku suka pada Sungmin. Dia imut. “Ya, ada yang suka Sungmin?” Aku berbisik pada EunJa.

Dia menggeleng. “Aku tak tau. Yang pasti namja yang aku incar itu Ryeowook. Lagipula, satu teman mereka belum datang. Semoga lebih cakep. Tapi katanya dia bukan anak Seni.” Jawab EunJa dengan berbisik juga.

Aku tak peduli dengan yang seorang lagi. Pokoknya aku sudah mengincar Sungmin. Meski tak tahu apa SooJin dan GeumJa juga mengincar Sungmin atau tidak.

Kau lihat Hyukie-ah, aku bisa menemukan namja yang lebih baik darimu. Mungkin. Anni, aku yakin dia lebih baik darimu. Sungmin lebih cakep darimu. Dia juga terlihat ramah.

“Yoori-ssi, kau mau minum apa?” Tanya Sungmin.

Aish, apa ku bilang. Dia tidak hanya terlihat ramah. Tapi dia benar-benar ramah.

Aku berpikir sejenak “Mmm.. Jus jeruk saja Sungmin-ssi. Gomawo.”

Dia mengangguk lalu memanggil pelayan dan memesan minuman untukku. “Boleh aku duduk di depanmu?” Tanyanya kemudian.

Kyaa.. Sepertinya dia juga suka padaku. Kau lihat Hyuk! Aku bisa mendapatkan orang lain yang lebih segalanya darimu. Kau benar-benar akan menyesal nanti. Aku mengangguk mengiyakan permintaan Sungmin. Dia lantas duduk di kursi kosong di depanku. Dilihat dari dekat, dia memang sangat manis.

“Mianhae aku telat. Tadi ada promosi di toko coklat depan halte, jadi aku kesana dulu.”

Seseorang di belakangku bicara cukup keras. Suaranya sangat aku kenal. Aku menoleh.

“KAMU!!!!” Aku dan namja telat yang ternyata Lee HyukJae berteriak bersamaan. Aku berdiri dari kursiku dan menghampirinya.

“Ya. Monyet bodoh! Sedang apa kau disini?” Aku bertanya ketus padanya.

“Kau sendiri?” Dia balik bertanya dengan tampang bodohnya. Sangat tak punya rasa bersalah. Ingin sekali aku menguburnya hidup-hidup.

“Suka-suka aku dong. Aku pikir kau putus denganku karena sudah punya pacar yang lain, tapi ternyata kau malah ikut kencan buta untuk mencari penggantiku.”

“Kau ngaca dulu. Memang apa yang sekarang kau lakukan? Kau juga melakukan hal yang sama.”

“…” Aku ingin menjawab. Tapi tak ada kata yang keluar dari mulutku.

“Tunggu. Apa kalian pacaran?” Sungmin bertanya di belakangku.

“Tidak.” Jawab kami bersamaan. Aku memandang kesal pada Hyuk, diapun demikian.

Setelah itu, aku dan HyukJae bergabung dengan teman yang lain. Dia duduk di kursi tempat tadi Sungmin duduk. Aku melihatnya mencoba mendekati SooJin. Tapi entah karena canggung padaku atau apa, SooJin kurang merespon HyukJae. Aku sendiri mencoba untuk akrab dengan Sungmin. Kadang aku melihat HyukJae melirik ke arahku.

“Yoori-ssi, boleh aku tau no ponselmu?” Tanya Sungmin.

Dengan senang hati aku memberikan no ponselku. Kulihat Hyuk agak dongkol. Haha, rasakan monyet bodoh! Kau akan benar-benar menyesal sudah mencampakkanku.

Sepanjang sore, aku asik berbincang dengan Sungmin. EunJa sepertinya mendapat respon dari Ryeowook. GeumJa lebih banyak diam, katanya dia tidak merasa cocok dengan siapapun. HyukJae menyerah soal SooJin karena SooJin lebih banyak ngobrol dengan JungSoo. Walaupun sebenarnya JungSoo bukan tipe dia.

-o0o-

Besoknya aku mendapati HyukJae ada di rumahku. Dia mungkin datang sebelum aku bangun dari tidur. Karena ketika aku turun dari kamarku untuk sarapan dia sudah duduk manis di depan meja makan sambil menyantap sandwich, yang aku yakin itu buatan eomma, yang tinggal setengah.

Dia menyambutku dengan cengiran khasnya. “Annyeong Yoori-ah.” Katanya.

Sontak aku kaget. Bukan hanya karena dia yang mendadak sok akrab setelah semua yang terjadi di antara kami, tapi juga karena kedatangannya yang tak diduga.

“Mau apa kau datang kemari?” Tanyaku ketus.

“Ya.. Jangan begitu. Sudah lama dia tak main ke rumah kita. Lagipula katanya dia ingin minta maaf padamu.” Kata Yesung oppa yang duduk di samping HyukJae. Dia kemudian menyeruput teh manis miliknya.

Aku memandang lagi pada HyukJae. Tapi tak menemukan mimik rasa bersalah di wajahnya. “Maaf untuk apa?” Aku tetap mempertahankan nada ketusku.

HyukJae meninggalkan makanannya. Dia menghampiriku. “Bisa kita bicara di halaman saja? Aku malu kalau kita bicara di sini.” Ajaknya. Dia melirik pada appa yang sedang membaca koran dan eomma yang masih menyiapkan sarapan.

Dua tahun kami pacaran, dia memang sudah berhasil mengambil hati seluruh anggota keluargaku. Kehadirannya di rumahku sudah dianggap biasa oleh mereka.

“Aish, kau mau bicara apa Hyuk? Sampai malu didengar ahjusshi.” Tanya Siwon appa.

Hyuk tak menjawab, hanya memperlihatkan cengirannya. Dan tanpa seijinku dia menarik tanganku membawaku ke halaman belakang.

“Mau apa kau?” Aku menaikkan satu oktaf nada suaraku dari yang tadi.

Tak disangka, dia berlutut di hadapanku dan memegang kedua tanganku sambil menunduk. “Mianhae Yoori-ah. Jeongmal mianhae. Aku benar-benar bersalah padamu, aku memutuskanmu lalu meninggalkanmu begitu saja. Aku tau kau pasti marah padaku.” Dia berkata dengan sangat memelas.

“Kenapa baru sekarang?”

Dia mendongak lalu bangkit. “Nan..” Lidahnya kelu. Aku bersiap meninggalkannya tapi tangannya yang masih memegang tanganku menahannya. “Yoori-ah. Dengarkan penjelasanku. Jebaall..” Dia memohon.

“Terus kenapa kau tiba-tiba minta putus? Kau tau, aku seperti orang bodoh saat kau meninggalkanku waktu itu.” Aku menaikkan lagi nada suaraku. Menegaskan kalau aku sedang dalam keadaan marah. Marah yang kutahan lebih dari seminggu.

“Aku minta putus denganmu karena aku merasa ada yang salah denganku. Selama kita pacaran aku tak pernah merasa cemburu padamu. Padahal teman-temanku selalu bercerita tentang kecemburuan mereka pada pasangannya. Mereka bilang cemburu itu merupakan bumbu cinta. Dan mereka bilang mungkin karena kau terlalu setia dan tak pernah melirik namja yang lain makanya aku tak pernah merasa cemburu. Jadi aku minta putus denganmu. Aku pikir, jika statusmu bukan sebagai pacarku kau akan jalan dengan namja yang lain dan aku bisa merasakan apa itu cemburu. Dan benar. Aku cemburu melihatmu bersama Sungmin kemarin. Rasanya sangat tidak menyenangkan.” Hyuk menjelaskan panjang lebar padaku.

Mworago? Jadi itu alasannya? Aku hanya bisa melongo mendengar setiap kata yang keluar dari bibirnya. Ya Tuhan. Mengapa aku bisa mencintai makhluk yang otaknya entah terbuat dari apa ini? Aku sama sekali tak mengerti jalan pikirannya. Minta putus hanya karena ingin merasakan cemburu. Omoo..

“Ya. HyukJae. Sebenarnya apa yang kau pikirkan hah?” Nadaku suaraku menurun sedikit kali ini karena syok.

Dia menggeleng. “Aku memang babo Yoori-ah. Jeongmal babo. Hanya karena hal tak masuk diakal itu tanpa aku sadari aku malah menyakitimu. Dan malah meninggalkanmu. Aku sangat merasa kehilangan kamu Yoori. Mianhae..”

“K.. Kau..” Aku tak sanggup berkata-kata lagi. Sungguh ingin sekali aku mencuci otaknya, menggantinya dengan prosesor pentium core2duo agar otaknya itu jalan sebagaimana mestinya.

“Yoori-ah. Saranghae. Aku janji aku tak akan berbuat hal seperti itu lagi.” Dia terus-terusan memohon padaku.

Sejujurnya memang aku tak pernah bisa benar-benar marah padanya. Bagaimanapun dia memang manusia yang paling aku sayangi saat ini. Tapi sikapnya memang sudah sangat keterlaluan. Aish, apa yang harus aku lakukan? Aku menangkap kesungguhan dari sikapnya kali ini. Tapi tetap saja aku merasa dongkol dengan pernyataannya barusan. Alasannya itu loh. Ukh..

“Baiklah. Aku memaafkanmu.” Ucapku kemudian.

Dia tersenyum bahagia. “Gomawo Yoori-ah.”

“Sudah kan? Apa lagi?” Aku memancingnya.

Dia memandangku. “Yoori-ah, kau mau tidak jadi pacarku lagi?” Tanyanya.

Nah, untuk yang satu ini. Aku tak perlu berpikir lagi. Aku sudah mendapat jawabannya sejak tadi.

“Kau harus bekerja keras untuk hal yang satu ini. Jujur aku masih kesal padamu. Dan karena kejadian waktu itu, cintaku mulai luntur padamu(bohong). Jadi kau harus buktikan kesungguhanmu padaku. Kau harus buktikan cintamu dan berusaha agar aku bisa menerimamu kembali. Kalau kau mampu, tak ada alasan aku untuk menolak.” Aku menjawabnya dengan tegas. Setelahnya, aku melepaskan tangannya yang masih memegang erat kedua tanganku. Kemudian aku pergi menuju kamarku meninggalkan dia yang masih berusaha mencerna ucapanku.

Beberapa detik setelah aku pergi, aku mendengar dia berteriak memanggilku. “Tunggu aku Yoori-ah. Saranghae..”

“Nado saranghae Hyukie-ah.” Jawab Yesung oppa dengan berteriak juga dari dapur.

Aku mendengar suara tawa tiga manusia dari arah dapur. Hyuk, kau buat aku malu pagi-pagi. Awas kau..

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s