(Short Story) Change of Heart [3]

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Choi Siwon [Super Junior]

*) Lee Donghae [Super Junior]

*) Yoo Haewon [OC]

Genre : AU, Romance

a/n : ini ff paling pertama yg aku bikin, kekeke~~ tapi endingnya lama banget beres gara2 gak pinter bikin jalan ceita. Happy reading ^^

Change of Heart [3]


Siwon PoV

Aku merasa ada yang aneh dengan Haewon sejak aku pulang dari Paris. Aku sering mendapatinya melamun. Dia juga suka dengan tiba-tiba mengucapkan ‘saranghae’ padaku. Itu membuatku heran. Karena biasanya dia akan bicara seperti itu setelah aku mengatakannya duluan. Kadang ketika aku menghampirinya yang sedang sendiri, aku mendapatinya sedang memainkan ponselnya. Ada yang beda dengan raut wajahnya. Seperti ada kesedihan yang sedang melandanya. Setiap aku tanya, dia selalu menjawab ‘gwenchana jagi’. Dia lupa aku siapa. Dia lupa sudah berapa lama aku bersamanya. Dia lupa sudah berapa lama aku mencintai dan mengertinya. Aku yakin ada sesuatu, tapi apa?

Aku berjalan agak cepat. Membawa dua buah kaleng soda di tanganku. Haewon sedang mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Boram sedang ada kelas, Bit Na sedang mengikuti latihan taekwondo. Dia pasti tak sabar menungguku.

Aku mengedarkan pandanganku mencari Haewon di tempat baca. Rupanya dia tertidur di meja paling ujung dekat kaca. Aku menghampirinya, duduk di sebelahnya. Belakangan ini dia bilang sulit tidur, pantas sekarang dia terlihat tidur nyenyak. Aku mengelus rambutnya yang terurai. Memandang penuh cinta yeoja yang sudah mengisi hatiku enam tahun ini.

“Donghae..”

Aku terkejut mendengar igauan Haewon. Dia menyebut nama seseorang dalam tidurnya.

“Donghae, nugu?” Tanyaku pelan.

Aku belum pernah mendengar nama namja yang diucapkan Haewon. Tapi aku menepis pikiran-pikiran negatif di otakku. Mungkin itu nama selebritis atau siapa. Tapi kemudian aku melihat bulir air mata keluar dari pelupuk matanya yang masih terpejam.

‘Wae? Aku yakin Donghae itu seseorang yang penting. Tapi siapa? Kenapa Haewon menangis. Kenapa dia tak pernah mau jujur padaku?’ Pertanyaan-pertanyaan itu hanya mampu keluar dalam hatiku.

“Jagi, bangun.” Aku menggoyang tubuh Haewon pelan.

Dia tersentak. Memandangku dengan kesadaran yang belum sepenuhnya berkumpul. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali.

Aku mengusap sisa air mata yang ada di pipinya dengan jempol tanganku. “Kau bermimpi apa jagi? Sampai menangis seperti ini.” Tanyaku.

Dia sedikit heran dengan pertanyaanku tapi kemudian mengerti begitu melihat jempolku basah karena air matanya. Aku tak bisa menebak apa yang ada di dalam hatinya. Satu hal yang pasti, dia memang sedang menyembunyikan sesuatu dariku.

“Anniyo. Gwenchana jagi.” Jawabnya.

Aku mendesah pelan. Aku tak bisa memaksanya untuk bercerita padaku, meski aku begitu penasaran.

-o0o-

Haewon PoV

Ottohke? Seminggu lebih aku mengacuhkan Donghae. Kupikir dengan mengacuhkannya aku bisa menghilangkan perasaan yang mengganggu itu. Tapi malah makin menggangguku. Aku merindukannya.

Ya Tuhan. Ada apa dengan hatiku?

Aku tahu Siwon tak percaya setiap aku bilang padanya kalau aku baik-baik saja. Siwon adalah orang yang paling mengerti aku. Dia pasti tahu ada sesuatu yang aku sembunyikan darinya.

Tapi aku juga tak tahu harus bagaimana. Aku mencintai Siwon, ya. Tapi Donghae juga perlahan mengisi ruang hatiku yang lain. Walaupun Donghae memintaku untuk melupakan semua pernyataan dia, tapi pernyataannya itu selalu terbayang. Bahkan terbawa mimpi.

-o0o-

Donghae-ssi, aku ingin bicara denganmu. Bisa kita bertemu? Waktunya kau saja yang menentukan. Kita bertemu di Chels Cafe yang dekat rumahku

Aku menekan ‘send’. Itu SMS pertamaku setelah lebih dari satu minggu aku mendiamkannya. Beberapa saat kemudian ada balasan dari Donghae. Besok jam empat sore dia menungguku disana. Aku menyetujuinya.

Sebenarnya aku tak tahu harus bicara apa padanya. Yang ada di pikiranku saat ini, aku harus bertemu dengannya secepatnya.

Aku merebah diri di kasur. Baru pukul 9 malam. Tapi aku ingin segera besok. Jadi aku tidur lebih awal.

 

Besoknya…

“Jagi, mian. Eomma mendadak minta aku antar dia ke salon. Jadi aku pulang duluan ya. Kau masih ada kelas kan? Aku pulang naik bis saja.”

Aku terpaksa berbohong pada Siwon. Kalau diingat, ini kebohongan pertama yang aku lakukan pada Siwon. Aku merasa dia agak curiga, tapi kemudian dia mengangguk. Menemaniku ke halte bis.

‘Mianhae jagiya..’ Ucapku dalam hati.

Aku langsung menuju cafe tempat janjian dengan Donghae. Aku terlambat beberapa menit.

Dia disana. Memunggungiku. Aku hafal meski terlihat dari belakang.

Degg..

Aku merasa jantungku mulai berdetak tak karuan. Sama seperti terakhir aku bertemu dengannya.

“Annyeong Donghae-ssi.” Sapaku pada namja yang duduk di salah satu kursi.

Namja yang kusapa menoleh. Senyum manis terkembang di bibirnya. “Lama tak jumpa Haewon-ah.” Ucapnya sambil berdiri. Dia berjalan ke kursi di depannya, menggesernya lalu mempersilakan aku untuk duduk di sana. “Gomapta.” Ucapku sambil duduk.

Dia tersenyum lagi. Senyum yang sangat aku sukai. “Gwenchana.”

Kami memesan cake dan minuman pada pelayan. Sepanjang perjalanan kemari aku berpikir harus memulai dari mana, tapi ideku buntu. Entah harus memulai seperti apa. Kami lama dalam diam. Sampai pelayan yang tadi melayani pesanan kami datang dan meletakkan cake dan minuman kami, belum ada satu katapun keluar dari mulut kami berdua setelah aku duduk.

“Bagaimana kabarmu?” Tanya Donghae menghentikan keheningan kami sambil minum minuman kami.

Aku tersenyum lirih. “Gwenchana. Kau?” Aku bertanya balik.

“Na do. Senang mendapatimu baik-baik saja.” Dia berkomentar tanpa lupa untuk tersenyum.

Aish, jantungku jadi benar-benar tak sehat melihat senyumnya setiap saat.

“Nan..”

“Bagaimana Siwon?” Potongnya.

Degg.. Mendengar nama Siwon hatiku sakit. Aku ingat aku sedang bertemu dengan seorang namja yang menyukaiku, dan aku suka tanpa sepengetahuan dia.

“G.. Gwenchana.” Jawabku gugup. “Donghae-ssi. Aku tak tau bagaimana memulainya. Tapi..”

“Mianhae.” Lagi-lagi Donghae memotong ucapanku. Aku mengerutkan dahi tak mengerti. “Karena pernyataanku waktu itu kau merasa tak enak kan? Dan lagi, aku tetap saja mengganggumu dengan terus mengirimimu SMS. Kau pasti merasa sangat terganggu. Aku hanya ingin kita bisa menjadi teman. Aku tak pernah berpikir ingin mendapatkan balasan darimu.” Terang Donghae.

“Apa maksudmu??” Tanyaku. Bulir-bulir mataku mulai menggenang di pipiku. Sakit rasanya mendengar ucapannya. Seolah dia bilang aku harus melupakan pernyataan dia padaku. Seperti pernyataan cintanya itu hanyalah sebuah mimpi. Padahal karena pernyataannya itulah aku berada di antara dua pilihan sulit.

“Waeyo?” Tanyanya.

-o0o-

Donghae PoV

“Mianhae.” Ucapku cepat memotong ucapan Haewon. Sejak dia mengirim SMS semalam, aku yakin dia ingin memintaku menghentikan semuanya. Aku tahu dia merasa terbebani karena rasa cintaku ini. Aku tak ingin menyiksanya meski tau aku akan tetap mencintainya. “Karena pernyataanku waktu itu kau merasa tak enak kan? Dan lagi, aku tetap saja mengganggumu dengan terus mengirimimu SMS. Kau pasti merasa sangat terganggu. Aku hanya ingin kita bisa menjadi teman. Aku tak pernah berpikir ingin mendapatkan balasan darimu.” Aku menjelaskan semuanya.

“Apa maksudmu??” Tanyanya.

Aku bingung dengan pertanyaannya. Makin bingung ketika dia mulai menangis. “Waeyo?” Tanyaku.

Aku beringsut dari tempat dudukku, pindah ke kursi yang ada di sampingnya.

“Mianhae.” Ucapku.

Dia tetap menangis. Hatiku sakit melihat setiap bulir airmata jatuh dari matanya. Aku mengusap pipinya yang basah.

“Kau salah. Kau sepenuhnya salah.” Ucapnya sambil tetap terisak. “Aku juga mencintaimu. Entah sejak kapan. Tapi aku yakin aku juga mencintaimu. Kau tau, pernyataanmu waktu itu tak pernah bisa aku lupa. Aku bingung Donghae-ssi. Sangat bingung. Aku mencintaimu tapi juga mencintai Siwon. Dan aku tak mungkin melukai Siwon. Aku tak ingin melukainya.”

Aku tak pernah menyangka Haewon aku berkata seperti itu. Tak pernah menyangka dia juga memiliki perasaan yang sama sepertiku.

-o0o-

Siwon PoV

 

Bukannya aku tak mempercayai Haewon. Tapi aku hanya ingin meyakinkan diri kalau semua pikiran negatif yang menghinggapiku selama ini benar-benar hanya sebuah pikiran negatif. Aku tahu Haewon seperti apa. Tapi tetap saja hatiku galau. Dan aku sangat tak suka dengan keadaan ini. Aku tak suka aku mencurigai Haewon.

Setelah Haewon naik bis, aku buru-buru pergi ke parkiran. Menyusulnya dengan mobilku. Kulajukan mobilku menuju arah rumahnya. Aku bernapas lega begitu melihatnya turun di halte tempat arah rumahnya.

“Kau hanya terlalu khawatir Siwon. Sudahlah.” Ucapku pada diri sendiri.

Tapi aku melihat raut wajah Haewon yang tak baik. Aku merasa aneh padanya. Aku sudah bersiap turun begitu melihat dia berbelok arah. Dia tak berjalan ke arah rumahnya, tapi ke arah cafe yang tak jauh dari sana. Aku langsung mencari tempat parkir di cafe itu. Setelahnya aku mengikuti Haewon. Aku tak bisa melihat raut wajahnya kali ini karena aku berjalan di belakangnya.

Di luar cafe aku memperhatikan dia menghampiri seorang namja yang belum pernah aku lihat. Penasaran, aku ikut masuk ke cafe tanpa sepengetahuan dia. Aku duduk di kursi yang arahnya berlawanan dengannya. Kami duduk dengan saling memunggungi. Posisi kami berdekatan tapi dia sama sekali tak menyadari kehadiranku. Aku tak tahu apa yang mereka lakukan. Aku menunggungi keduanya. Jadi yang bisa aku lakukan hanya mendengar.

Donghae. Jadi namja yang sedang bersama Haewon itu ‘Donghae? Namja yang namanya disebut dalam mimpi Haewon di perpustakaan kemarin. Jadi apa arti tangis Haewon di mimpinya waktu itu?’

Tubuhku bergetar begitu mendengar apa yang diucapkan Haewon. ‘Dia mencintai Donghae? Sejak kapan? Siapa itu Donghae?’

Pertanyaan-pertanyaan lain menyeruak di kepalaku. Aku berusaha menahan diri agar tak menangis, aku berusaha menahan diri untuk tak menampakkan diri. Meski hatiku sangat sakit.

Perlahan aku menoleh. Donghae sedang berusaha menenangkan Haewon yang sedang menangis, tangannya merangkul pundak Haewon. Aku tak tahan melihat mereka. Tapi aku juga tak mau kalau harus meledak di hadapan keduanya. Aku pergi lewat pintu yang lain. Meninggalkan mereka dengan luka yang menganga dalam hati.

Aku menghampiri mobilku. Duduk di dalamnya dan mulai menangis.

“Waeyo? Kenapa bisa seperti ini?” Tanyaku sambil memukul stir.

Pikiranku melayang ke masa-masa indah kami. Sejak masa SMA, ketika masih hanya aku yang  mencintainya. Kemudian dia sadar dia juga mencintaiku. Setelah itu kami selalu bersama. Sudah lebih dari tiga tahun kami bersama. Dan kini.. Kini ada sosok namja lain yang mengisi hatinya.

Padahal aku sangat percaya diri kalau Haewon sangat mencintaiku. Aku percaya diri kalau hanya aku yang sanggup mengisi hatinya. Hanya aku yang mengerti dia dan pantas berada di sampingnya. Aku percaya diri kalau dia tak pernah mungkin mencintai namja lain selain aku karena aku sudah memberikan seluruh cintaku.

Ya Tuhan.. Aku tak pernah berpikir aku akan mengalami sakit hati seperti ini. Aku selalu berpikir masa depan dia adalah bersamaku. Selamanya.

Tapi kini.. Semuanya bisa berubah. Aku takut. Aku takut kehilangan Haewon. Aku takut dia benar-benar mencintai Donghae. Aku takut membayangkan masa depan tanpa Haewon.

Aku menggigit kepalan tanganku, berusaha menghentikan airmata yang terus keluar. Tak lama kemudian aku melihat Donghae mengejar Haewon dan memeluknya. Hatiku makin sakit melihat adegan itu.

-o0o-

Author PoV

Tak lama setelah Siwon keluar. Haewon keluar juga. Dia sedikit berlari. Setelah dia mengucapkan semua isi hatinya, dia pergi meninggalkan Donghae. Rasa bersalahnya pada Siwon membuatnya tak bisa terus bersama dengan Donghae. Donghae mengejar Haewon.

“Chakkaman Haewon-ah..” Panggil Donghae.

Haewon tak mempedulikan panggilan Donghae, dia tetap pergi.

Donghae menarik tangan Haewon dan membenamkannya ke pelukan dia. “Mianhae. Aku membuatmu seperti ini. Dan aku malah memintamu untuk melupakan semuanya. Saranghae Haewon-ah. Jeongmal saranghae.”

-to be continue-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s