(Short Story) Change of Heart [4]

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Choi Siwon [Super Junior]

*) Lee Donghae [Super Junior]

*) Yoo Haewon [OC]

Other Cast :

*) Kim Boram [OC]

*) Kim Bitna [OC]

Genre : AU, Romance

a/n : ini ff paling pertama yg aku bikin, kekeke~~ tapi endingnya lama banget beres gara2 gak pinter bikin jalan ceita. Happy reading ^^

 

Change of Heart [4]


Author PoV

Tak lama setelah Siwon keluar. Haewon keluar juga. Dia sedikit berlari. Setelah dia mengucapkan semua isi hatinya, dia pergi meninggalkan Donghae. Rasa bersalahnya pada Siwon membuatnya tak bisa terus bersama dengan Donghae. Donghae mengejar Haewon.

“Chakkaman Haewon-ah..” Panggil Donghae.

Haewon tak mempedulikan panggilan Donghae, dia tetap pergi.

Donghae menarik tangan Haewon dan membenamkannya ke pelukan dia. “Mianhae. Aku membuatmu seperti ini. Dan aku malah memintamu untuk melupakan semuanya. Saranghae Haewon-ah. Jeongmal saranghae.”

Haewon tak pernah bisa memberontak dalam pelukan Donghae. Seberapa keraspun otaknya memerintahkan dia untuk memberontak, tapi tubuhnya selalu bereaksi lain. Tangannya melingkar di pinggang Donghae. “Na do, Donghae-ssi. Na do saranghae.” Ucapnya dalam isaknya.

Keduanya saling berpelukan. Saling mencurahkan isi hati. Mereka tak pernah menyadari ada sepasang mata yang menyaksikan adegan itu. Menyaksikan dengan airmata terurai.

-o0o-

Atmosfer setelah kejadian di Chels cafe itu menjadi berubah. Haewon dan Siwon masih belum berbicara jujur satu sama lain. Keduanya saling menutupi beban masing-masing. Boram yang polos dan Bit Na yang cuek tak tahu ada masalah di antara keduanya.

Tapi memang pada dasarnya Boram dan Bit Na adalah sahabat Haewon. Mereka mulai merasakan ada yang beda di antara Haewon dan Siwon. Setelah didesak cukup sering, Haewon akhirnya bercerita tentang semua apa yang dirasakan olehnya ketika mereka berada di kamar Haewon. Kedua sahabat itu terkejut bukan main.

“Ya. Kau ini tega sekali. Kenapa segampang itu kau menghianati cinta Siwon?” Tanya Bit Na setengah membentak.

Boram diam beberapa lama. “Haewon-ah, apa kau benar-benar mencintai Donghae?” Tanyanya kemudian.

Haewon hanya mengangguk pelan. “Tapi aku juga masih mencintai Siwon. Aku bingung harus bagaimana. Aku sudah berusaha untuk menghentikan perasaanku pada Donghae, tapi nyatanya tak bisa. Aku sering merasakan rindu padanya. Dan ketika aku mencoba untuk memilih Donghae, hati kecilku tak ingin melepaskan Siwon. Dia sangat berharga untukku.” Terang Haewon.

Bit Na lebih terlihat kesal daripada simpati. Dia tak pernah berpikir kalau sifat Haewon jaman SMA bisa kembali muncul. “Sebenarnya apa sih kurangnya Siwon? Aku melihat dia sebagai namja yang sempurna. Tapi kenapa kau bisa suka pada namja lain?”

Haewon hanya diam. Bukan dia tak bisa menjawab pertanyaan itu, tapi pertanyaan itu terlalu menohok dirinya.

“Bit Na, cinta itu hal yang abstrak. Dan kita tak bisa mengatur hati kita untuk suka dan tidak suka pada seseorang. Aku juga tak setuju pada Haewon, tapi jika memang dia suka pada Donghae kita mau bagaimana lagi.” Boram mencoba mengemukakan pendapatnya. Lalu dia berpaling pada Haewon yang masih diam. “Satu hal yang paling penting saat ini, kau harus segera menentukan sikap. Kau harus memilih salah satu dari mereka, kau tak bisa terus-terusan menggantung keduanya.” Ucapnya pada Haewon.

Bit Na menghampiri Haewon. “Aku setuju. Kau harus segera mengambil keputusan. Walaupun jelas aku condong ke Siwon karena aku sudah mengenalnya begitu lama, tapi apapun keputusan yang kau ambil aku akan mendukungnya.”

Haewon memeluk kedua sahabatnya itu. Beberapa hari sebelumnya dia begitu tersiksa karena harus menanggung bebannya sendiri. Tapi kini dia bisa sedikit bernapas. Ada sahabatnya yang membantunya menanggung bebannya.

Bit Na kembali bicara. “Kau harus segera memilih Haewon. Siwon mungkin hanya akan merasa aneh dengan sikapmu karena dia tak tau. Tapi Donghae..”

“Aku tau.”

Ketiga pasang mata yang berada di dalam kamar langsung menoleh ke arah sumber suara yang berada di depan pintu. Tak ada yang sadar Siwon sudah berada di sana. Wajah ketiga yeoja itu membelalak kaget.

“S.. Siwon..” Ucap ketiganya bersamaan.

Siwon memperlihatkan senyum yang dipaksakan. Dia kemudian masuk ke dalam kamar Haewon. Ketiga yeoja itu salah tingkah. “Bisa kalian memberi aku waktu berdua dengan Haewon?” Tanya Siwon pada Bit Na dan Boram.

Keduanya lalu berdiri dari tempat duduk mereka lalu melangkah keluar. “Kami tunggu di bawah.” Ucap Bit Na sebelum menutup pintu.

Siwon menyender pada pintu sambil menatap Haewon yang menunduk. Haewon sibuk dengan pikirannya sendiri. Bertanya bagaimana bisa Siwon tahu semua itu.

“Jagiya..” Siwon memanggil Haewon yang tetap saja tertunduk malu. “Mianhae.”

Haewon yang langsung mendongak mendengar maaf dari Siwon. Dia melihat kesedihan terpancar di wajah namjachingunya itu. Hatinya semakin sakit. Rasa bersalah itu semakin besar. “Aku yang salah, bukan kamu. Harusnya aku yang meminta maaf padamu.” Akhirnya dia bersuara.

Siwon menghampiri Haewon yang sedang duduk di kasurnya. Dia duduk di samping Haewon. “Aku sudah tau semua. Sejak kau bertemu dengan Donghae minggu lalu.” Ujarnya.

Haewon membelalakan matanya. ‘Bagaimana bisa?’ Tanyanya dalam hati. Dia lalu menunduk lagi.

“Aku benci pada diriku yang tak percaya padamu, makanya waktu itu aku mengikutimu.” Jelas Siwon. Lagi-lagi Haewon memperlihatkan keterkejutannya. “Mulanya aku tak tau harus seperti apa. Perasaanku campur aduk. Tapi kemudian aku berpikir. Mungkin ini bukan salahmu. Kau berubah karena aku tak bisa menjaga hatimu. Aku tau kau bukanlah Haewon yang dulu, yang suka bermain dengan hati namja lain. Aku tau kali ini kau memang mencintai Donghae. Aku takut kau memilih Donghae, makanya aku pura-pura tak tau. Tapi makin hari aku makin tersiksa karena aku sudah tau yang sebenarnya. Haewon, mianhae. Aku menyayangimu tapi aku malah menyiksamu dalam kebingungan ini. Mianhae.”

-o0o-

Haewon PoV

Yeoja macam apa aku ini? Mencintai namja lain padahal di sampingku sudah ada namja yang tulus menyayangiku.

Aku mulai terisak. Aku marah pada diriku sendiri, aku marah pada cinta yang kumiliki pada namja lain. Aku marah karena tak mampu menjaga kepercayaan Siwon.  Hatiku sakit.

Siwon memelukku. Dalam sedihnya dia tetap menghiburku. Berusaha menghentikan airmataku. Tapi bukannya lega, aku makin terisak karena perlakuannya. Aku makin merasa bersalah.

Aku tak mungkin melepaskan namja sebaik Siwon. Dalam hati aku memutuskan. Aku harus bisa melupakan Donghae dan hanya mencintai Siwon.

-o0o-

Author PoV

 

Haewon memang tak secara gamblang memberitahu keputusannya. Tapi Siwon ataupun Donghae mengerti. Dia akhirnya mengambil keputusan. Haewon berusaha memperbaiki hubungannya dengan Siwon, dan kembali menjaga jarak dengan Donghae. Dia sudah memutuskan, dia memilih Siwonnie.

Sebulan sudah berlalu, Haewon kembali mesra dengan Siwon seperti biasa. Dia yakin dia sudah melupakan Donghae sampai akhirnya Donghae muncul lagi di hadapan Haewon.

“Aku akan pulang ke Mokpo. Aku kemari karena ingin pamit padamu. Aku ingin melihat wajahmu mungkin untuk yang terakhir kali. Mianhae Haewon, selama ini aku mengganggu hubungan kalian. Semoga kalian bisa bahagia selalu. Doakan aku juga, semoga aku bisa mencintai yeoja lain. Walaupun aku rasa itu sulit. Haha.. Lusa aku berangkat. Pesawatnya take off pukul satu siang. Aku berharap bisa melihat wajahmu untuk terakhir kalinya.” Setelah berkata seperti itu, Donghae pergi dari hadapan Haewon. Tapi sebelum pergi, dia menyelipkan sebuah amplop kecil berwarna biru di tas Haewon.

Haewon tak pernah menyadarinya. Dia baru tahu ketika sudah sampai di rumah.

 

Aku namja yang jahat, mungkin. Sampai saat ini tak pernah bisa melupakanmu. Hatiku justru makin mencintaimu. Mianhae Haewon-ah. Aku jahat karena terus mencintaimu padahal kau sudah menentukan pilihan. Setan kecil di hatiku mendesakku untuk tetap menunggumu. Aku menunggumu menghentikan kepergianku. Aku menunggumu menahanku. Karena aku mungkin tak akan kembali. Mianhae, saranghae.-

 

Haewon menangis. Hatinya sakit. Dia sadar, cinta untuk Donghae tak sepenuhnya hilang. Malah makin besar. Hanya saja dia sudah mengambil keputusan. Dia sudah memilih Siwon. Tak mungkin dia menghentikan Donghae. Tapi mengingat Donghae tak bisa dia jangkau, setan kecil di hatinya terus berontak. Dia tak ingin kehilangan Donghae.

“Ottohke? Aku benci pada diriku yang seperti ini.”

Boram dan Bit Na menghela nafas panjang.

“Kupikir kau sudah benar-benar melupakan dia. Tapi ternyata kau tetap mencintainya. Aku tak mengerti dengan cinta. Rumit sekali.” Komentar Bit Na.

Boram menepuk pundak Haewon yang bergetar menahan tangis. “Tanyakan pada hatimu. Kau lupakan dulu perasaan Siwon maupun Donghae. Kau tanyakan pada hatimu siapa yang benar-benar ingin kau miliki. Kau harus memutuskan sesuai hatimu. Jangan karena kau memihak pada salah satu dari keduanya. Siwon akan lebih terluka jika kau bersamanya hanya karena rasa bersalah. Putuskanlah dengan baik. Semua jawabannya ada di dalam hatimu sendiri.” Boram memberikan saran pada Haewon.

Bit Na semakin heran. Cinta membuat kedua sahabatnya jadi aneh. Boram yang polos bisa mengatakan hal seperti itu. Boram yang dulu tak mungkin bisa mengatakan hal seperti itu. Sejak mengenal Yesung, sejak mengenal cinta, perlahan Boram berubah.

Haewon kembali dihadapkan dengan dilema. Tapi memang benar kata Boram, dia harus memilih tanpa memandang keduanya. Hatinya yang paling tahu dengan siapa dia ingin bersama.

-o0o-

“Jagiya..” Siwon memanggil Haewon yang terus saja melamun.

Haewon tak merespon panggilan Siwon. Pikirannya tetap sibuk. Besok keberangkatan Donghae. Dan semalaman dia sudah berpikir keras. Memang hatinya lebih condong kepada Donghae, tapi dia bingung bagaimana mengatakannya pada Siwon.

“Jagi, waeyo?” Tanya Siwon lagi. Siwon meminggirkan mobilnya. Dia menepuk pundak Haewon. Orang yang ditepuk kemudian sadar. “Waeyo? Kau sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Apa kita batalkan saja nonton kita?” Tanya Siwon lagi.

Haewon menggeleng. “Kita lanjutkan saja. Sebentar lagi sampai ke bioskop.”

“Ada apa sebenarnya Haewon? Kau melamun terus dari tadi.”

Haewon kembali menggelengkan kepala. Siwon mendesah pelan. Dia lalu menyalakan kembali mobilnya dan melajukannya menuju pengisian bensin terdekat karena Haewon ingin ke toilet.

Siwon menunggu di mobil sementara Haewon ke toilet. Dia melihat sebuah amplop biru terjatuh dari tas Haewon. Dia mengambilnya. Penasaran, dia buka amplop itu. Dia membaca kertas di dalamnya. Dan semua pertanyaan tentang keanehan Haewon terjawab sudah.

Haewon masuk ke mobil dan mendapati Siwon masih terpaku dengan surat yang dipegangnya. Mata Haewon membelalak kaget begitu sadar surat apa yang dipegang Siwon.

“Jagi itu..” Haewon tak bisa meneruskan ucapannya.

“Kau masih mencintainya?” Tanya Siwon tanpa menoleh ke arah Haewon. Dia meremas surat di tangannya. Dia marah. Pada Haewon, juga pada dirinya sendiri.

“N.. Nan..” Haewon gugup. Tak bisa menjawab pertanyaan Siwon.

“JAWAB AKU!!! Kau masih mencintainya?” Siwon membentak Haewon.

Haewon terlonjak kaget. Dia tak pernah menyangka Siwon akan membentaknya seperti itu. Tapi dia juga tahu. Dia memang salah.

“M.. Mianhae.” Hanya kata itu yang sanggup Haewon ucapkan.

Siwon mengepalkan tangan yang memegang surat itu, dia memukul stir di hadapannya. “Kita pulang sekarang.” Ucapnya.

Siwon langsung melajukan mobilnya dengan cepat. Kakinya hampir tak pernah lepas dari pedal gas.

Haewon hanya bisa menunduk sambil takut. Siwon tak pernah sekalap ini sebelumnya.

“Turunlah.” Pinta Siwon lirih begitu mobilnya sudah terparkir di depan pagar rumah Haewon.

Haewon menurut saja. Tak ada yang bisa dia lakukan.

-o0o-

Siwon PoV

Aku membanting pintu mobilku. Berjalan terburu-buru ke kamar. Bahkan aku hiraukan sapaan eomma ketika berpapasan di ruang tengah. Aku langsung menuju kamarku. Melempar tubuhku ke sofa. Kusandarkan kepalaku lalu menutup mata. Tubuhku benar-benar hilang kekuatannya.

Sudah hampir dua bulan sejak pengakuan cinta Haewon pada Donghae. Sudah sebulan Haewon memutuskan untuk memilihku.

Kupikir semuanya sudah baik. Aku memaklumi sikap Haewon yang masih agak canggung karena pernah mencintai orang lain saat bersamaku. Aku tak pernah mempermasalahkannya. Karena aku percaya dia benar-benar memilihku.

Dan hari ini. Aku masih bisa menahan diri ketika menemukan surat itu. Aku masih bisa menahan diri saat bertanya pada Haewon. Tapi saat dia tak menjawab pertanyaanku, emosiku membuncah. Aku marah. Aku merasa dikhianati sampai aku mampu membentaknya. Satu hal yang tak pernah aku lakukan seumur hidupku.

Mengapa ‘mianhae’ yang keluar dari mulutnya? Hatiku disayat-sayat oleh satu kata itu.

-o0o-

Haewon PoV

Aku duduk di ranjangku, berpikir. Masih terbayang jelas bagaimana Siwon membentakku tadi. Masih terbayang jelas bagaimana ekspresi wajah Siwon. Kecewa, marah, sedih..

Aku membaringkan tubuhku. Menutup kedua mataku dengan kedua tanganku. Mataku panas tapi tak berair.

“Mianhae jagiya..”

Berkali-kali mulutku mengucapkan kata-kata itu. Tapi tak pernah bisa membuat perasaanku lega. Bayangannya di dalam mobil tadi terus saja menghantuiku. Menciptakan perasaan bersalah yang semakin besar. Harus bagaimana aku? Dua kali aku melukai Siwon karena menyukai namja yang sama. Dia pasti lebih terluka kini. Dulu dengan mudah dia bisa memaafkanku. Tapi kini? Aku merasa aku tak pantas mendapatkan maafnya.

Aku tak mungkin mengulangi kesalahan itu lagi. Hatiku sudah terang kini. Pengisi hatiku saat ini adalah namja yang besok akan pergi meninggalkanku. Pergi tanpa harapan akan kembali.

Mataku kembali berair begitu memikirkan kepergian Donghae. Aku tak menginginkannya. Tapi aku tak mungkin juga memilih Donghae. Aku tak bisa tanpa ijin dari Siwon. Dan aku tak mungkin meminta ijinnya setelah banyak luka yang aku torehkan di hatinya.

-o0o-

Pagi-pagi buta aku sudah bangun. Tapi tak ada yang mau aku lakukan. Tubuhku lemas. Aku tak ikut sarapan dengan eomma dan appa. Setelah mandi aku hanya terbaring di ranjangku.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh ketika aku menerima telepon dari Siwon. Tanpa basa-basi, dia bilang dia menungguku sekarang di taman. Aku buru-buru menemuinya. Entah apa yang ingin dia bicarakan, tapi dia menekankan kata ‘sekarang’ dan ‘penting’ di akhir teleponnya.

Setibanya di taman aku menemukan sosoknya sedang berdiri sambil menghadap ke arah jam taman yang di hadapannya, memunggungiku. “Siwon..” Aku memanggil namanya tanpa panggilan sayang.

Dia membalikkan tubuhnya. Memaksakan diri untuk tersenyum.

Kami cukup lama berada dalam diam sampai akhirnya Siwon membuka pembicaraan. “Apa kau sudah memutuskan?” Tanyanya padaku.

“Aku tak mengerti maksudmu.”

Lagi-lagi dia memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku sudah berpikir semalam. Aku juga sudah tau Donghae akan pergi jika kau tak mencegahnya hari ini. Semua keputusan ada di tanganmu Haewon. Pilihlah.” Ucap Siwon lagi.

Aku mulai menangis mendengarnya. “Mianhae Siwonnie.”

-o0o-

Siwon PoV

Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Dan benar saja, dia menangis lagi. Hatiku sakit begitu melihat bulir airmata meluncur turun ke pipinya. Semarah apapun aku padanya, dia adalah orang yang sangat kucintai.

Hatiku sakit begitu mendengar jawaban Haewon. “Mianhae Siwonnie.”

-to be continue-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s