(Short Story) Change of Heart [End]

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Choi Siwon [Super Junior]

*) Lee Donghae [Super Junior]

*) Yoo Haewon [OC]

Other Cast :

*) Kim Boram [OC]

*) Kim Bitna [OC]

*) Yesung/Kim Jongwoon [Super Junior]

Genre : AU, Romance

a/n : ini ff paling pertama yg aku bikin, kekeke~~ tapi endingnya lama banget beres gara2 gak pinter bikin jalan ceita. Happy reading ^^

Change of Heart [End]


Siwon PoV

Aku sudah mengatakan apa yang ingin aku katakan. Dan benar saja, dia menangis lagi. Hatiku sakit begitu melihat bulir airmata meluncur turun ke pipinya. Semarah apapun aku padanya, dia adalah orang yang sangat kucintai.

Hatiku sakit begitu mendengar jawaban Haewon. “Mianhae Siwonnie.”

Memang dari awal aku sudah berusaha menyiapkan diri untuk hal ini. Tapi tetap saja menyakitkan.

“Kau tau Haewon, sebanyak apa cinta yang aku punya untukmu? Tak terbatas. Cintaku seperti lembah tanpa dasar. Kau tak akan pernah bisa menemukan ujungnya. Tapi..” Aku tak melanjutkan ucapanku, berusaha menahan menahan diri untuk tak cengeng. “Tapi semuanya akan menjadi percuma saat kau tak lagi mencintaiku. Itu jadi perasaan yang berbeda, tak akan pernah sama seperti dulu. Aku tak akan mencegahmu jika kau pikir kau bisa bahagia dengannya. Karena aku mencintaimu untuk membuatmu bahagia.”

Akhirnya aku bisa menyelesaikan ucapanku.

Air mata Haewon tak bisa terbendung lagi. Dia menangis sedih. Aku tahu hatinya pun sakit harus memilih seperti ini. Posisinya begitu sulit. Aku sudah memutuskan, aku tak ingin memintanya untuk memilih antara aku dan Donghae, karena itu pasti akan sangat berat untuknya.

“Jangan bohongi hati kamu. Aku siap menerima semuanya. Aku siap jika harus melepasmu. Karena aku mau kamu bahagia.” Aku tak tahan melihat gadis yang sangat aku cintai menangis seperti itu. Aku memeluknya. “Jangan ragu. Aku tak ingin menjadi batu penghalang antara kau dan Donghae.”

Pertahananku roboh sudah. Air mataku membasahi rambut panjangnya. Dan aku merasa air hangat meresap ke dalam kemejaku, menyentuh kulitku.

“Mianhae.. Mianhae.. Jeongmal mianhae..” Haewon hanya mengucapkan dua kata itu.

Tapi kata itu sudah sangat jelas bagiku. Seperti kemarin. Tak perlu penjabaran yang lebih panjang. Aku tahu, aku mengerti. Meski sulit, dia telah memilih. Dia memilih Donghae.

Aku melepaskan pelukanku, memandang haru wajah cantiknya. Kupegang pipinya dengan kedua tanganku dan mengusap air matanya. “Gwenchana Haewon. Tersenyumlah. Aku tak akan melepaskanmu jika kamu menangis. Aku hanya akan melepasmu jika kamu tersenyum.”

Dia berusaha menahan tangisannya lalu menyunggingkan senyum meski terlihat terpaksa. “Gomapta.”

Sekarang giliran dia yang memelukku. “Kamu orang yang paling baik yang diciptakan Tuhan untukku. Kamu lebih dari seorang pacar, keluarga ataupun sahabat. Aku janji, tak akan ada yang mengusik posisi kamu di hati aku. Meski aku tak bisa menemanimu mewujudkan mimpi kita. Mianhae..”

Aku membalas pelukannya. “Arasso. Tapi berjanjilah, kau harus bahagia dengannya. Karena aku merelakanmu hanya untuk melihatmu bahagia.”

Dia mengangguk kecil di pelukanku. Lalu melepaskan diri. “Kau juga janji, kau harus menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Yang bisa memberimu cinta seperti yang kau beri padaku.” Dia tersenyum. Lagi-lagi memaksakan diri.

Aku menggenggam kedua tangannya. “Aku akan berusaha, jag..” Kuhentikan ucapanku. Aku harus sadar, dia bukan milikku lagi. “Mianhae.”

Dia menggeleng. “Gwenchana.”

Aku melihat jam taman di hadapanku. “Kau pergilah. Jangan biarkan kau kehilangan dia, nanti kamu menyesal. Ppali..”

Dia mengangguk. Perlahan meninggalkanku. Kulihat punggungnya yang semakin lama menjauh dariku. Dan kemudian menghilang di balik  pintu taksi yang dia tumpangi.

“Aku merelakanmu jagiya..”

-o0o-

Haewon PoV

Aku tak sanggup untuk melihatnya bahkan sesaat sebelum aku meninggalkannya. Aku takut perasaan bersalahku padanya akan semakin besar. Jadi kuputuskan untuk tetap memunggunginya.

Siwon, aku sangat tak layak untukmu. Padahal jelas begitu besar cinta yang kau berikan padaku. Tapi aku tetap saja memilih orang lain. Aku bukan gadis yang baik untukmu. Mianhae..

Kuminta supir untuk mempercepat laju mobil. Aku tak ingin terlambat. Benar kata Siwon, jangan sampai aku menyesal karena kehilangan orang yang kucintai. Aku sudah melepaskan Siwon untuk meraih Donghae. Jadi tak akan kubiarkan Donghae pergi meninggalkanku. Aku sempat teringat pada masa lalu. Saat aku akan kehilangan Siwon dan menyadari perasaanku padanya. Saat itu aku harus menunggu selama tiga bulan. Tapi kini, jika aku kehilangan dia, aku akan kehilangan untuk selamanya. Karena dia sudah bilang, dia tak akan kembali kecuali jika aku mencegahnya pergi.

Lagi, seperti saat aku mencari Siwon di bandara, aku berlari mencari Donghae. Di sana. Jelas. Dia bersandar pada tembok sambil sesekali melihat jam tangannya dengan tiket berada dalam genggamannya. Aku berlari padanya.

Dengan nafas tersengal aku melarangnya pergi. “Aku tak ijinkan kamu pergi. Karena aku butuh kamu untuk menemaniku. Saranghae..” Dia memandangku, tersenyum lalu memelukku. Aku memandangnya, ada luka memar seperti bekas pukulan di pipinya. Luka itu masih baru, dan belum ada kemarin lusa. “Gwenchanayo?” Tanyaku cemas.

Dia tersenyum padaku. “Ne, gwenchana. Ini bayaran karena sudah mengambil hatimu.” Jawabnya. Aku mengerutkan kening tak mengerti. “Satu lagi. Aku sudah pesankan tiket untukmu dan perlengkapanmu sudah ada di koper punyamu.”

Aku makin heran karenanya. Donghae mengerlingkan matanya ke arah kanan. Disana sudah ada Boram, Yesung dan Bit Na. Mereka tersenyum lalu menghampiriku.

“Ayo kita ke Mokpo bersama. Aku tetap akan pergi. Tapi ganti rencana, jadi liburan.” Kata Donghae.

Tak lama Siwon menyusul teman-temanku untuk bergabung denganku dan Donghae. Aku makin dibuat bingung dengan semuanya.

Boram menggenggam kedua tanganku. “Bersenang-senanglah di sana.”

Bit Na memegang pundakku. “Jangan lupa oleh-olehnya.”

“Jangan lupa makan.” Kata Yesung.

Aku tak bisa menahan tawa mendengar pesannya. “Pesanmu itu untuk Boram bukan untukku.”

Yesung menggaruk kepalanya yang tak gatal. Pandanganku lalu beralih pada Siwon.

Dia tersenyum. “Pergilah. Aku juga akan berlibur nanti. Aku benar-benar ikhlas melepasmu.”

Aku mengangguk.

“Aku titip dia Donghae. Jangan sampai dia lecet atau menangis. Karena kalau itu terjadi, berarti saat itu hari terakhir kau hidup.” Siwon memberi pesan sekaligus ancaman pada Donghae.

“Ya, ijinkan aku memberikan pukulan padanya satu kali saja jika itu terjadi.” Kata Bit Na menimpali.

Donghae mundur sedikit lalu merangkul pundakku. “Tenang. Ini juga sudah cukup bagiku.” Jawabnya sambil mengelus pipinya yang lebam. “Aku akan menjaga dia dengan mempertaruhkan nyawaku. Lagipula kami hanya berkunjung ke rumah orang tuaku. Dan hanya seminggu. Jadi kalian tenang saja.” Donghae mencoba meyakinkan teman-temanku. “Aish, kami harus segera pergi. Kajja..” Dia mengajakku.

“Chakkaman, kau memukul Donghae?” Tanyaku pada Siwon.

“Bayaran karena sudah merebutmu.” Jawabnya santai. “Sudahlah. Sebentar lagi pesawat kalian take off. Pergilah.” Lanjutnya.

Aku ingin protes dan bertanya lebih jauh. Tapi tak bisa. Aku memeluk Boram lalu Bit Na, menjabat tangan Yesung lalu memeluk erat Siwonnie. “Aku akan bertanya nanti dan aku pasti merindukanmu.” Ucapku.

“Nado” Balasnya.

Lalu aku bersama Donghae pergi menuju pesawat yang akan mengantarkan kami ke Mokpo. Tanah kelahiran orang yang kucintai, Donghae.

Ponselku bergetar ketika kami sedang menyerahkan tiket pada petugas.

Dari Siwon.

buka e-mail sebelum kau masuk pesawat

Aku langsung membuka inbox e-mailku.

From : My Future Hubby

Subject : no subject

 

Haewon, kau orang yang sangat kucintai. Dari dulu, kini dan selanjutnya. Tak akan ada yang bisa membuatku mencintai lebih dari saat aku mencintaimu. Tapi di sanalah kau akan menemukan cintamu. Merasakan cinta yang aku rasakan padamu, dan kau akan mengerti tentang hati ini. Bahagialah Haewon, karena kebahagiaan terbesarku adalah saat kau merasa bahagia. Aku yakin Donghae mampu untuk mencintaimu. Aku yakin dia tak akan pernah menyakitimu.

Donghae, aku titip Haewon. Dia orang yang paling berharga untukku, lebih dari diriku sendiri. Jaga dia dan cintai dia sepenuh hatimu.

 

Salam,

sahabat kalian

 

Siwon.

Aku dan Donghae tersenyum selesai membaca e-mail dari Siwon. Donghae meremas tanganku yang dia genggam.

Siwonnie, gomawo..’ Ucapku dalam hati.

“Jagiya, kapan Siwon memukulmu?” Tanyaku ketika kami sudah ada di pesawat.

Donghae tersenyum. “Semalam. Dia mengajakku bertemu, kami berbicara dan aku mendapatkan hadiah ini.” Jawabnya santai. “Dia yang merencanakan ini semua. Liburan kita ke Mokpo itu adalah idenya. Dia benar-benar mengerti kamu, aku cemburu padanya. Tapi aku pasti bisa mencintaimu lebih darinya. Akan kubuktikan itu.”

Donghae menatapku. Mengecup puncak kepalaku dan menggenggam erat tanganku sampai kami sampai ke Mokpo.

end-

Akhirnya, walopun ending’a pendek tapi ini fanfic terpanjang yang sukses aku bikin. Sebenernya aku pengen bikin part pas wonwon mukul donge, tapi gak jadi cz gak dapet feel’a (sebener’a dapet, tapi pas dibikin tkesan sadis, jadi’a di cut)

Plinplan banget aku! Tengs all ^^’

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s