(One Shot) “Galau” 2nd Episode

Standard

Cast :

– 2 member suju as their self. tapi kisah ini milik aku ^^’

* Kim Jongwoon as Yesung

* Kim Heechul as Kim Heechul.

– 1 member FT Island tapi gak ada hubungannya sama FTI. aku cuma pinjem nama dan wajah dia, jadi ceritanya dia bukan member FTI

* Song Seunghyun as Song Seunghyun

– saia as Kim Boram

note : ini bukan terusan dari ‘Galau’ 1st Episode, cuma emang author’a lagi galau karena seorang ‘Hanji’. kekekeke

>>>”Galau” 2nd Episode<<<

“Waeyo oppa?”

“Boram?”

“Jawab aku kenapa kau melakukan hal ini padaku?”

“Kau salah faham.”

“Kau tahu aku mencintaimu dan kau bilang kau juga mencintaiku, kenapa kau masih saja bermain dengan yeoja lain?”

***

Aku berjalan tak tentu arah. Yesung oppa berusaha menahan lenganku tapi aku selalu berusaha untuk melepaskan diri darinya.

“Sudah cukup oppa. Aku sudah tahu semuanya. Lebih baik kau temui Song Hanji tercintamu itu. Jangan pedulikan aku lagi.” Kataku histeris sambil berusaha melepaskan cengkraman di tanganku.

“Tapi dia bukan siapa-siapa. Dia tak ada hubungan denganku.” Jelasnya.

Aku tersenyum sinis pada Yesung oppa. Aku mengusap air mata yang membasahi pipiku. “Jangan bercanda oppa. Kalau kau tak punya hubungan apa-apa dengannya, untuk apa kau mencium dia  hah?”

Yesung oppa berusaha untuk meraih lenganku lagi, tapi aku kembali mengibaskan tangannya. “Kau salah faham.”

“Tapi mataku tidak salah lihat.”

Aku kembali pergi dengan air mata yang mengalir tanpa bisa aku cegah.

Waeyo oppa? Kenapa kau menyakiti hatiku dengan sangat? Mengapa Hanji?

“Boram-ah, dengarkan penjelasanku dulu.”

Yesung oppa terus menahan lenganku.

Buuugghhh….

Sebuah pukulan mendarat dengan sempurna di pipi Yesung oppa.

“Seunghyun-yah.” Aku memanggil pelaku pemukulan itu. Mataku kemudian beralih pada Yesung oppa yang sudah tersungkur di jalanan.

“ Kau sudah menyakiti Boram noona hyung. Kau tinggalkan dia atau aku akan membuat luka yang lebih dari itu.” Ancam Seunghyun sambil mengacungkan telunjuknya ke wajah Yesung oppa. Setelah itu dia menarik lenganku. Membawaku menjauhi Yesung oppa yang masih meringis karena pukulan Seunghyun.

Aku tak menolak karena aku memang ingin segera pergi dari Yesung oppa secepatnya. Seunghyun membawaku ke sebuah tempat bermain anak-anak. Dia mendorong tubuhku agar duduk di tempat duduk berbentuk patung kangguru. Seunghyun lantas mengambil ponselnya.

“Yoboseyo hyung. Boram bersamaku. Aku akan menjaga dia hyung tak usah khawatir.” Kata Seunghyun pada seseorang yang aku yakin itu pasti Heechul oppa, oppa tiiriku. Seunghyun lantas menutup teleponnya.

“Sebaiknya noona tidur di rumahku malam ini. Aku yakin Yesung hyung akan ke apartemen noona.” Kata Seunghyun padaku begitu dia duduk di sampingku. Dia lalu mengambil sebuah sapu tangan dari sakunya dan mengusap air mataku dengan sapu tangannya itu. “Uljima noona. Kau tahu aku sangat tidak suka melihat yeoja yang sedang menangis.” Ucapnya sambil terus mengusap air mataku.

Perlakuan Seunghyun padaku bukannya membuat aku berhenti menangis, tapi justru membuatku semakin histeris. Aku langsung memeluk Seunghyun, membenamkan kepalaku di pundaknya.

“Waeyo? Kenapa mereka tega berbuat hal seperti itu padaku?” Tanyaku.

Seunghyun tidak menjawab pertanyaanku, hanya menepuk-nepuk punggungku. “Gwenchana noona. Aku tahu noona bukan yeoja yang lemah. Noona pasti bisa melewati ini semua.” Hiburnya.

“Tapi kenapa Song Hanji? Kenapa harus sahabatku sendiri yang menghianatiku? Kenapa harus sahabatku sendiri yang menorehkan luka ini? Terlalu menyakitkan Seunghyun-yah.” Aku masih saja histeris

Seunghyun tetap seperti sebelumnya, menepuk punggungku sambil berusaha menenangkanku. Jelas dia tak tahu jawabannya sama sepertiku.

Entah sudah berapa lama aku menangis, entah berapa lama aku meminjam pundak Seunghyun. Tapi kemudian aku sudah bisa mengendalikan emosiku. Aku sudah bisa menghentikan tangisku.

“Apa aku harus mengakhiri ini semua Seunghyun-yah? Aku merasa sulit. Aku tak sanggup kalau harus berpisah dengan Yesung oppa. Kau tahu aku sangat mencintainya.”

“Aku tak bisa memberikan jawaban noona. Hanya noona yang bisa menjawabnya, aku menghormati semua keputusan yang noona ambil. Satu hal, apapun keputusan noona nanti, pasti akan ada hati yang tersakiti. Kalau aku boleh egois, aku tak  ingin hati noona yang merasakan sakit itu.”

“Gomapta Seunghyun-yah.”

“Ne. Itu gunanya saudara noona.”

***

Sudah tiga hari sejak pertemuan terakhirku dengan Yesung oppa. Sudah tiga hari pula aku tinggal di rumah Seunghyun, sepupuku. Aku menangis setiap mengingat kejadian yang aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri. Melihat Hanji berciuman dengan Yesung oppa. Aku ingat bagaimana sakitnya saat itu, karena sakitnya masih terasa sampai sekarang. Bahkan selalu menjadi lebih sakit.

Aku sakit, aku kecewa, aku terluka, tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Aku merindukan Yesung oppa. Sangat merindukan dia. Hatiku sakit karena aku sudah disakiti olehnya. Tapi rasa sakit yang menjalar ketika aku merindukan dia terasa lebih menyakitkan.

Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku putuskan?

***

“Seunghyun-yah. Aku pulang hari ini.”  Kataku pada Seunghyun saat kami sarapan.

“Noona gwenchana? Apa aku harus menemanimu di apartemen?”

Aku mengangguk mantap dan tersenyum pada Seunghyun, meyakinkan dia kalau aku sudah kembali baik. “Kau tidak usah repot-repot. Aku tak ingin mengganggu konsentrasimu. Hee oppa akan menjemputku nanti. Kau fokus saja pada ujian nanti ya. Noona harap kamu bisa lulus dengan nilai yang baik.”

Seunghyun terlihat malu dengan ucapanku. “Jangan berharap terlalu  banyak noona. Kemampuanku sangat terbatas.” Katanya sambil menyuap nasi di hadapannya.

Heechul oppa menjemputku sekitar pukul sebelas siang. Jujur aku khawatir dengan keadaan Yesung oppa. Heechul oppa dan Yesung oppa berada dalam satu manajemen dan satu grup. Pasti mereka selalu bertemu. Entah apa yang dilakukan Heechul oppa pada Yesung oppa. Tiga hari ini aku benar-benar menutup akses informasi tentang Yesung oppa. Bahkan tadi pagi adalah kali pertama aku menghubungi Heechul oppa. Tiga hari sebelumnya aku hanya mendengar kabar oppaku itu dari Seunghyun.

“Boram gwenchana?” Tanya Heechul oppa saat aku memasang safety belt.

Aku mengangguk mantap. “Aku sangat baik oppa. aku malah khawatir dengan rekan oppa itu.”

“Yah. Sesuai janjiku, aku tidak menyakiti dia secara fisik. Bagaimanapun Seunghyun sudah membuat dia dimarahi oleh manajer Kim karena lukanya sangat mencolok. Aku harus berterima kasih pada sepupumu itu. Dia sudah mewakiliku untuk memberi pelajaran fisik padanya.” Jawab Heechul oppa santai. “Dan satu hal lagi. Kalian bicara lah baik-baik. Aku kenal Yesung sudah sangat lama. Agak aneh dia melakukan hal seperti ini. Apalagi dia tahu kau bukan yeoja sembarangan. Neo naui dongsaeng.”

“Gomawo oppa.” Kataku dengan perasaan lega. Setidaknya Yesung oppa pasti baik-baik  saja sekarang, secara fisik.

Heechul oppa lalu melajukan mobilnya menuju apartemenku.

***

“Oppa langsung kembali saja ke dorm. Biar aku kembali ke apartemen sendiri.” Kataku ketika Heechul oppa menghentikan mobilnya di depan gedung apartemenku.

“Kau yakin?” Tanya Heechul oppa sedikit ragu.

“Gwenchana oppa. Aku bukan anak kecil yang harus selalu kau jaga. Lagipula oppa masih banyak kegiatan, aku tak ingin merepotkan lebih dari ini.

Pletakk…

Heechul oppa melesakkan sebuah jitakan ke ubun-ubun kepalaku. “Aku tidak suka kalau kau mulai merasa sungkan seperti itu.” Katanya dengan nada super tinggi.

Aku lupa dia sangat tidak suka dengan ucapan yang baru saja meluncur dari mulutku. Makanya aku tidak protes saat aku mendapatkan satu jitakan itu.

“Ya sudah, kau pergilah. Hati-hati.” Kata Heechul oppa ketika aku melepaskan safety belt yang melingkar di tubuhku.

“Gomawo oppa.” Kataku lewat jendela mobil yang terbuka.

“Cheon.” Balas Heechul oppa kemudian menghilang bersama mobilnya.

Aku langsung berjalan menuju lift, menekan angka 7 begitu masuk ke dalam lift tersebut. Perasaanku sudah sangat jauh lebih baik darik sebelumnya. Jadi aku merasa sangat tenang.

“ Boram…”

Seseorang memanggilku begitu aku berjalan keluar dari dalam lift. Tak harus melihatnya untuk tahu siapa yang memanggilku. aku hafal suaranya dengan sangat jelas. Aku mundur, masuk kembali ke dalam lift. Yesung oppa langsung berlari mengejarku, dia masuk ke dalam lift tepat sesaat sebelum pintu lift tertutup.

“Mau apa?” Tanyaku sinis dan sedikit takut  sampai merapat ke pojok.

“Aku hanya ingin kamu mendengarkan penjelasanku. Setelah kau mendengarnya, aku menerima semua keputusan yang kamu buat.” Jawab Yesung oppa dengan wajah memelas.

Aku bingung antara ‘ya’ dan ‘tidak’. Tapi kemudian aku mengangguk pelan.

Kami berada dalam diam sampai lift mengantarkan kami ke lantai 7 lagi. Aku kemudian membuka kunci pintu apartemenku dan mempersilakan Yesung oppa untuk masuk.

“Hanji menyukaiku.” Kata Yesung oppa begitu dia masuk ke dalam apartemenku.

Aku langsung berbalik arah dan menatap Yesung oppa, meminta penjelasan atas ucapannya barusan.

“Dia yang bilang sendiri kalau dia menyukaiku. Tapi jujur aku tak pernah menyukainya dengan perasaan khusus, aku menganggapnya teman karena dia sahabatmu.” Lanjut Yesung oppa. dia berjalan menghampiriku.

“Jadi sekarang oppa mau mengkambinghitamkan Hanji?”

“Aku bukan mengkambinghitamkan Hanji. Tapi kenyataannya memang seperti itu. Aku tak pernah mencintai Hanji karena yang aku cintai itu hanya kau Boram.” Yesung oppa terus mendekatiku.

“Lalu oppa bisa jelaskan soal ciuman  itu?”

Yesung oppa diam sejenak. “Hanji bilang dia kelilipan, aku membantunya meniup matanya. Tapi kemudian dia menarik kepalaku dan menciumku. Aku berusaha melepaskan diri tapi lengannya melingkar kuat di leherku. Saat aku sudah membebaskan diri dan siap meminta penjelasan, kau sudah ada disana dan melihat sebagian dari kejadian yang sebenarnya. Aku tahu kau mempercayai apa yang kau lihat. Ini memang salahku, tapi jujur aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk menghianatimu. Tiga hari ini aku terus mencarimu. Heechul tak pernah mau bicara padaku bahkan dia selalu menghindar setiap ada di dekatku. Aku berusaha mencari Seunghyun tapi aku gagal. Makanya aku selalu menunggu di depan apartemenmu, berharap kau segera pulang.”

Aku diam. Tetap diam saat Yesung oppa sudah berada tepat di hadapanku.

“Saranghae Boram-ah. Saranghae yeongwonhi.” Katanya kemudian mengecup keningku sekilas. Dia lalu mundur. “Aku menunggu keputusanmu. Berpikirlah yang masak, jangan memutuskan semua karena ucapanku semata. Kau harus mendengar juga penjelasan Hanji walaupun aku tak tahu dia akan jujur atau tidak. Kau bisa membedakan mana yang jujur dan tidak. Aku menunggu.”

Setelah mengatakan hal itu, Yesung oppa menghilang di balik pintu.

Apa Hanji benar-benar mencintai Yesung oppa? apa Yesung oppa jujur dengan semua ucapannya? Apa Yesung oppa bena-benar melihat Hanji hanya sebagai sahabatku? Lalu aku harus bagaimana?

-end-

aku bikin end’a agak complicated. jujur aku yakin sama percaya’a ama bang yes, Hanji mianhae…

apa boram bakal terus berlanjut sama bang yes? Aku gak tauuu.. pengennya si iya! Hahaha, boram gak bisa tanpa bang yes, *digiling yg baca*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s