(Ficlet) 2AM, I Got Insomnia

Standard

cast :

– 2 member suju tapi gak ada hubungannya sama suju. aku cuma pinjem nama dan wajah mereka.

* Kim Jongwoon as Yesung,

* Kim Heechul a Kim Heechul

– saia as Kim Boram

 

>>>2AM, I Got Insomnia<<<

Jam menunjukkan pukul dua pagi. Aku yakin sebagian banyak orang sedang terlelap tidur, tapi mataku tetap tak bisa terpejam. Meski sudah berusaha menutup mata, tak lama mata ini pasti terbuka lagi. Insomniaku kumat. Tapi bukan hanya insomnia yang kumat, penyakit babo yang kadang menghinggapiku juga ikut kumat.

Aku mengambil ponselku. Mengetikkan dua baris kata lalu mengirimkannya.

“Ahh.. Boram babo!!!” Aku merutuki diri sendiri yang kadang suka bertindak sebelum berpikir. Mengirim SMS jam dua pagi, tidak sopan sekali. Laporan SMS terkirim. “Aish, nan ottohke? Ottohke?” Sekarang aku kebingungan sendiri di tengah keheningan malam karena isi SMS itu bisa membuatku malu.

Ponselku bergetar sejenak. Ada SMS masuk. Orang yang tadi kukirimi SMS membalas dengan dua baris kata juga. Blush.. Aku merasa pipiku panas ketika membaca SMS itu.

Tak lama ponselku berdering. Orang itu meneleponku.

Aku memasang headsetku lalu menjawab panggilannya. “Yoboseyo..” Aku bicara sepelan mungkin. Meski kamar terdekat, kamar oppa tiriku, bisa dibilang cukup jauh, aku tak mau mengambil resiko mengganggu tidurnya dan mendapat amukannya. “Oppa belum tidur?” Aku bertanya pada orang di seberang telepon.

Aku tak bisa tidur. Entahlah, aku sudah berusaha untuk menutup mata tapi sulit.” Jawab orang itu.

Apa karena kita sangat berjodoh, hingga insomnia pun bisa berbarengan seperti ini?

Aku memukul kepalaku karena punya pikiran aneh seperti itu. “Nado. Oppa, sedang apa kau sekarang?” Aku mencoba membuka pembicaraan.

Tak ada. Hanya tiduran di kasur.” Jawabnya singkat. Aku ingin bicara lagi, tapi bingung bicara apa. Tingkat kecerdasanku untuk menemukan topik pembicaraan tak secerdas sahabatku, Haewon. “Kau sendiri?” Dia balik bertanya.

“Sama oppa. Hanya tiduran di kasur.” Jawabku.

Hening.

Boram, ayo kita keluar.” Ajaknya.

“Mwo? Jam segini oppa? Aku bisa dimarahi orang tuaku, apalagi Heechul oppa. Aku tak bisa.” Jawabku sedikit panik.

Maksudku, daripada kita diam di kasur padahal jelas kita tak bisa tidur, lebih baik kita keluar. Sekedar memandang langit.” Ucapnya cepat.

“Ooh.. Hehe.” Kalau dia disini, dia pasti melihat ada tulisan ‘Boram babo’ di jidatku. Aku sering mengambil kesimpulan yang salah dari ucapan orang lain. Aku sudah turun dari tempat tidurku saat aku mendengar rintik hujan mulai turun di luar sana. “Hujan oppa, pasti tak ada bintang.”

Orang di seberang telepon tak menjawab. Aku bertanya-tanya sendiri. “Ah, iya. Rupanya hujan. Ya sudah, kita naik ke tempat tidur lagi saja.” Ajaknya. Aku ini tipe penurut, apalagi untuk orang itu. Aku kembali ke tempat tidurku. “Boram..” Dia memanggilku.

“Ne oppa?”

Saranghae..” Dia berkata pelan.

Blush.. Lagi-lagi aku merasa pipiku panas. Lebih panas dari saat membaca SMS dia tadi.

“Na.. Nado oppa.” Jawabku gugup.

Aish, untung dia tak ada disini. Aku pasti akan sangat malu jika dia melihatku yang sedang salah tingkah sendiri karena satu kata darinya. Tapi percuma juga, dia sering menjahiliku dengan mengucapkan kata sakti itu untuk menggodaku. Aku paling tak tahan jika dia berkata seperti itu. Lama-lama, mukaku bisa jadi kepiting rebus karena dia.

Aku belum pernah mendengar kau mengucapkan saranghae padaku Boram. Apa kau tidak mencintaiku? Jangankan langsung, di teleponpun tak pernah. Kau hanya mengucapkannya lewat SMS, seperti tadi.” Ada nada kecewa di suaranya.

Wajahku memerah lagi. “Kau tau, aku malu mengucapkannya oppa.”

Kalau kau memang mencintaiku, kau harus mengatakannya. Baik, tidak sekarang.” Ucapnya tegas. “Nanti siang di kampus. Aku tagih yaa.. Hanya satu kata. Arachi?? Aku tak menerima jawaban tidak.”

Glekk.. Aku menelan ludahku. Harus ya?

Kami ngobrol sepanjang malam. Apa saja yang terlintas di pikiran, itu dijadikan tema obrolan. Sampai ketika tak ada lagi bahan obrolan, kami bermain rangkai kata. Entah bagaimana mulanya.

“..Kucing.”

“Bukan, yang ada di kemeja.”

Kancing. Aish, menangkap ikan.”

“Itu mancing oppa. Bahasa sundanya diam.”

Oh, cicing *orang korea tau gitu??*. Tajam.”

“Runcing..”

Kami terus saja bermain rangkai kata. Kadang kami tertawa jika menemukan kata aneh. Bahkan aku lupa dengan berbicara pelan demi kenyamanan orang sekitar.

Hingga tak terasa matahari sudah mulai menampakkan diri. Cahayanya sudah menyeruak ke dalam kamar, menaikkan suhu di dalam kamar.

Kreett…

Pintu kamar yang memang tak aku kunci terbuka. Aku menoleh ke arah pintu. Heechul oppa berdiri di sana sambil bertolak pinggang.

“Kau ini, pagi-pagi sudah mengganggu orang lain. Sedang apa kau?” Dia memicingkan kedua matanya.

Aku gugup melihatnya seperti itu. “Ah, oppa..” Hanya itu yang keluar dari bibirku.

Tanpa seijinku, dia mengambil ponsel yang aku pegang. Melepaskan headset yang terpasang di ponsel itu. Lalu melihat siapa yang sedang berbicara denganku di telepon.

“Ya. Yesung!! Kau menelepon dongsaengku pagi-pagi buta. Tak bisa menunggu sampai setelah sarapan hah?” Dia sedikit marah pada Yesung oppa.

Aku merampas ponselku kembali. “Oppa, aku kena insomnia. Dan dia menemaniku. Kau tidak berhak marah padanya.” Aku memasang muka cemberut pada oppa tiriku itu.

“Oh.. Ya sudah. Cepat kau mandi sana. Jangan telepon-teleponan terus.” Setelah berbicara begitu dia melengos pergi dari kamarku.

“Cih.. Dasar oppa aneh.” Ucapku. Aku teringat pada Yesung oppa. “Yoboseyo? Oppa kau masih disana?” Tanyaku.

Ah, ne. Pagi-pagi kau sudah kena semprot Boram. Mianhae..

“Anni oppa, gomawo kau sudah menemaniku semalaman. Aku harus mandi dulu, oppa juga. Oh iya, sampai mana tadi? Bubur..”

Kabur..” Dia menjawab.

“Subur..” Aku membalas.

Kubur.. Sudah, kau pergi mandi sana! Nanti aku jemput. Kita ke kampus bareng. Jangan tidur lagi ya..” Perintahnya.

“Ne, oppa juga mandi gih. Nanti aku bawa makan siang untuk kita. Oke?”

Siip..” Jawabnya. Aku siap menutup teleponku. “Chakkaman..

“Ne?”

Saranghae..” Ucapnya mesra.

Blush..

Aish, pacarku ini. Benar-benar deh. “Nado oppa.” Jawabku pelan.

Aku tunggu satu kata itu di kampus.” Ucapnya kemudian memutus sambungan telepon.

“Mwo???” Kenapa ingatannya kuat sekali? Aku saja lupa. “Aish, ottohke?”

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s