(Two Shot) A Story About Kidnapper [1]

Standard

Cast :

– 5 member suju tapi gak ada hubungannya sama suju, aku cuma pinjem nama dan wajah mereka

* Lee Hyukjae as Eunhyuk

* Lee Donghae as Lee Donghae

* Kim  JongWoon as Yesung

* Park Jungsoo as Park Jungsoo

* Kim YoungWoon as Kim Kangin

– 1  member Jewelie

* Ma’ippo as Kim Seorin

– saia as Kim Boram

>>>A Story About Kidnapper<<<

07 : 28 PM -KST-

Dua orang namja membekap mulut dengan sapu tangan seorang yeoja yang tengah berjalan sendiri di jalanan yang agak sepi. Yeoja itu terus memberontak. Tapi dia kemudian melemas karena kloroform dari sapu tangan yang membekapnya banyak terhisap olehnya. Yeoja itu tak sadarkan diri. Salah seorang namja itu kemudian membopong tubuh yeoja itu. Yang satu lagi membuka pintu belakang mobil. Setelah keduanya masuk, namja yang tadi membuka pintu langsung menuju kursi kemudi dan melajukan mobilnya. Sedangkan namja yang tadi membopong tubuh si yeoja mengambil tali yang tergeletak di kursi penumpang depan dan mulai mengikat tangan dan kaki yeoja itu. Senyum puas terpancar dari wajah kedua namja tersebut.

“Good job. Mission completed.” Kata namja yang berada di kursi kemudi sambil mengacungkan jempol kirinya pada rekannya yang duduk di kursi belakang.

*              *              *

Someone’s House…

Seorin PoV

Aku mengerjapkan kedua mataku beberapa kali. Kepalaku terasa pusing sekali. Otakku masih dalam proses mengingat kejadian yang menimpaku sebelumnya.

“HYAA.. SIAPA KALIAN? APA YANG KALIAN LAKUKAN PADAKU?” Teriakku begitu ingat apa yang terjadi padaku sebelumnya. Aku melihat dua namja yang sedang tertidur di sofa di hadapanku. Aku mencoba beranjak dari tempatku, tapi tubuhku terikat pada sebuah kursi kayu jati.

Kedua namja di hadapanku langsung membuka mata begitu mendengar teriakanku.

“Ya. Kau sudah sadar rupanya.” Ucap salah seorang dari mereka.

“Apa mau kalian? Kenapa menculikku? Ka.. Kalian mau menjualku ya? Atau kalian ingin memperkosa aku, atau.. Atau kalian mau membunuhku.” Tanyaku sambil membayangkan apa yang akan mereka lakukan padaku. Aku bergidik ngeri. “Hyaa.. Tolong lepaskan aku. Eommaaa… Appaaa… Ddangkomaaa…” Aku menggoyangkan tubuhku. Berusaha melepaskan ikatan di tubuhku tapi sia-sia. Tubuhku malah terjungkal ke belakang.

Namja yang tadi bicara beranjak dari tempat duduknya lalu mengangkat kursi yang menopangku. Aku tetap memberontak. “Kau ini. Bisa diam tidak? Kau itu tak cukup mahal untuk dijual, tak cukup cantik untuk diperkosa, dan kami bukan pembunuh.” Terangnya.

“La.. Lalu kalian mau apa hah? Eomma dan appaku pasti cemas karena aku belum pulang. Aku.. Aku punya ahjusshi yang seorang polisi. Cepat lepaskan aku, kalau tidak dia pasti akan menangkap kalian dan menjebloskan kalian ke dalam penjara.” Aku berusaha mengancam mereka.

Namja yang satu lagi ikut menghampiriku. “Kau ini cerewet sekali. Kau tenang saja, kami akan memperlakukanmu dengan baik kalau kau bersikap manis.” Katanya begitu tubuhku kembali tegak.

End of Seorin PoV

*              *              *

Bukannya diam, Seorin malah mulai menangis kencang sambil memanggil eomma dan appanya. Kedua namja itu pun langsung panik. Takut kalau-kalau ada yang mendengar suara tangisan Seorin yang bisa dikatakan ‘out loud’ itu.

“Aish, bagaimana ini Donghae?” Tanya namja yang tadi membetulkan posisi kursi Seorin.

Namja yang bernama Donghae itu menggeleng. “Molla. Kita sumpel saja mulutnya.” Sarannya.

“Huwaa.. Huwaa..” Seorin menangis makin kencang. “Kakiku..”

Donghae dan temannya saling berpandangan. “Kaki?” Tanya mereka bersamaan. Mereka lantas melihat ke bawah, ke arah kaki Seorin.

Kaki Donghae tanpa permisi menginjak kaki Seorin sejak tadi. Donghae langsung mundur, memindahkan kakinya.

“Mi.. Mianhae.” Katanya.

Seorin tetap menangis. “Appa.. Eomma.. Ddangkoma.. Kakiku sakit sekali. Huhuhu..” Tangisnya dramatis. Donghae berusaha menghampiri Seorin, tapi dia ditolak mentah-mentah. “Pergi! Jangan dekat-dekat! Aku tak mau diinjak lagi. Huhuhu, sakit..”

Akhirnya teman Donghae yang menghampiri Seorin, tak ada penolakan. “Mana coba kulihat.” Katanya lembut. Dia lantas membuka sepatu kets dan kaus kaki yang dikenakan Seorin. “Pantas saja tangisanmu kencang sekali. Sampai memar seperti ini.” Ujarnya setelah melihat kaki Seorin yang sedikit membiru.

Donghae makin terlihat merasa bersalah. “Mianhae. Aku benar-benar tak sengaja.” Ucapnya tulus.

Seorin tak peduli. Dia masih saja menangis.

“Sudah. Jangan menangis. Aku akan mengompres kakimu.” Kata namja yang memeriksa kaki Seorin. Dia berjalan ke arah pintu, menghilang sejenak dan tak lama dia kembali sambil membawa beberapa es batu yang dibungkus handuk kecil. Dia lalu menghampiri Seorin dan mengompres kaki Seorin dengan handuk kecil itu.

“Huhuhu..”

Donghae mendengus kesal karena Seorin tak juga berhenti menangis. “YA. Aku sudah minta maaf padamu. Dan lagi kakimu itu sudah dikompres. Aku yakin itu sudah tak sakit. Kenapa kau masih menangis?” Tanyanya kesal.

Seorin menjawab di tengah isaknya. “A.. Aku lapar. Harusnya sekarang aku sudah makan. Perutku kosong. Huhuhu..”

“Mworago? Aish, kau ini..” Donghae menghampiri Seorin, bersiap untuk menjitak kepalanya karena kesal.

Namun temannya langsung menghalangi. “Sudahlah Hae, dia tak salah. Ini memang sudah lewat waktu makan malam.” Katanya sambil berusaha menurunkan tangan Donghae yang sudah bersiap meluncur ke kepala Seorin.

“Dia.. Yeoja ini benar-benar menyebalkan Eunhyukie.” Protes Donghae.

Namja yang dipanggil Eunhyukie itu langsung menepuk pundak Donghae, menenangkannya. “Ingat pesan Kangin hyung. Kita tak boleh menyakitinya.” Bisiknya. Dia tak ingin Seorin mendengar nama ‘Kangin’.

Donghae menghela nafas pasrah. Sebenarnya dia masih kesal. Tapi dia tak berkutik begitu mendengar nama otak dibalik semuanya itu disebut.

“Aku lapaaarrrr….” Teriak Seorin menghentikan obrolan dua namja itu. “Kalau kalian tidak menculikku aku pasti sudah kenyang karena sushi buatan eomma. Aku mau makan sushi.” Rengeknya. Dia benar-benar manja. Tak sadar sedang dalam tawanan penculik.

“Kau sadar tidak kalau kau ini sedang diculik? Jangan minta macam-macam!” Donghae mulai kesal lagi.

Seorin terlihat tak peduli pada Donghae. “Hyukie oppa, jebal. Aku lapar.” Katanya sok akrab sambil memelas.

“Jangan sok akrab pada Eunhyuk!” Kata Donghae lagi.

Tapi Seorin tetap tak peduli pada Donghae. Dia tetap memperlihatkan wajah memelasnya pada namja yang bernama Eunhyuk.

“Kami hanya punya kimbab, kau makan itu saja. Kami tak punya cukup uang untuk membeli sushi.” Kata Eunhyuk.

“Aku ada uang di tasku. Oppa bisa membelinya dengan uangku. Sebenarnya itu uang untuk membeli beberapa buku untuk kuliahku, tapi tak apa. Appa pasti tak akan marah. Aku sangat ingin makan sushi.” Ucap Seorin.

Donghae tak tahan. Dia menjitak kepala Seorin tanpa bisa dicegah. “Kami ini bukan pembantu! Kalau kau tak mau makan kimbabnya, kau tak usah makan.” Ucapnya dengan wajah super kesal. Dia kemudian pergi dari ruangan itu. “Aku mau cari angin. Darahku bisa cepat naik berada di sini terus.” Katanya sebelum menghilang di balik pintu.

Seorin memandang kepergian Donghae sambil meringis karena kepalanya masih sakit. Tapi kemudian tampangnya kembali memelas. “Arasso, aku makan kimbab saja oppa. Kasihan perutku.” Katanya pada Eunhyuk.

Eunyuk pergi mengambil kimbab yang tergolek di meja, tak jauh dari kursi tempat Seorin diikat. Dia lalu menyodorkan sekotak kimbab pada Seorin.

“Oppa, aku tak bisa makan sendiri. Kau lihat kedua tanganku ini diikat.” Kata Seorin sedikit merengut.

Eunhyuk menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Benar juga. Kalau begitu kau akan aku suapi.”

Seorin tersenyum senang. Dia tak pernah sadar kalau dia sekarang sedang disekap oleh namja yang tak jelas apa maunya. Dia tak pernah sadar kalau appa dan eommanya tengah panik di rumah.

*              *              *

Kim Family’s House…

Boram PoV

“Ottohke oppa? Kau sudah menemukan dia?” Tanyaku pada suamiku, Yesung oppa. Dia baru saja pulang bersama sepupunya, Park JungSoo. Mereka baru saja berkeliling mencari Seorin.

Sekarang sudah pukul dua pagi. Tapi putri kami, Seorin, masih belum pulang juga. Aku sangat khawatir padanya. Dia tak pernah pulang lebih dari jam sepuluh malam, itu juga jika sangat mendesak dan pasti akan menghubungi rumah terlebih dahulu.

Sekarang, seharusnya Seorin pulang pukul delapan tadi. Dia bilang ingin makan sushi malam ini, tak mungkin dia melewatkan makan malamnya itu. Ponselnya juga tak bisa dihubungi. Semua temannya tak ada yang tahu keberadaannya. Aku tak bisa menghentikan pikiran-pikiran buruk di kepalaku. Aku takut terjadi apa-apa padanya.

Yesung oppa menggeleng. Aku menghela nafas berat.

“Tadi aku sudah minta tolong pada temanku yang ada di bagian orang hilang untuk segera mencari Seorin. Kau tenanglah.” Kata JungSoo oppa, dia seorang polisi tapi di bagian investigasi.

“Bagaimana bisa aku tenang oppa? Seorin memang sudah dewasa, tapi dia itu anak yang polos. Selama ini dia tak pernah melanggar aturan rumah, pasti terjadi sesuatu padanya. Aku takut sekali.”

Aku tak bisa menahan air mataku. Aku benar-benar takut.

Yesung oppa merangkulku, berusaha menenangkanku. “Dia akan baik-baik saja. Percayalah.” Hiburnya.

End of Boram PoV

*              *              *

Someone’s House…

Eunhyuk membuka tali yang melilit tubuh Seorin tanpa membuka ikatan di tangan dan kakinya. Dia lalu memindahkan tubuh Seorin ke ranjang yang ada di kamar tak jauh dari ruangan sebelumnya setelah Seorin tertidur di kursinya. Dia memandang wajah Seorin yang tidur dengan nyenyak walaupun kedua tangan dan kakinya diikat. Dia menggelengkan kepalanya melihat Seorin.

“Heran. Kenapa dia bisa tidur pulas seperti ini? Dia langsung tertidur setelah perutnya kenyang. Lucu..” Ucap Eunhyuk sambil tersenyum.

Donghae kemudian masuk ke dalam kamar, bergabung dengan Eunhyuk. “Dia sudah tidur? Baguslah. Lelah aku mendengar tangisan dia yang tak ada remnya itu.” Katanya.

Eunhyuk tak menggubris perkataan Donghae, dia asik memandangi wajah polos Seorin yang kadang tersenyum dalam tidurnya. Masih sempat bermimpi indah dalam keadaan seperti itu.

“Ya. Kenapa kau?” Tanya Donghae, kali ini dibarengi tepukan di pundak Eunhyuk. Membuat Eunhyuk terlonjak kaget.

“Ah kau Hae, sudah selesai cari anginnya?”

Donghae hanya memandang kesal pada temannya itu. Dia meminum minuman kaleng yang dia ambil dari lemari pendingin sebelum masuk dan meneguknya. Setelahnya dia menghampiri sofa yang ada di sana, merebah diri dan tidur.

Eunhyuk kembali memandang Seorin. Dia terpikat wajah lucu Seorin. Dia mengambil kursi yang ada di dekatnya. Meletakkan di samping ranjang Seorin. Kembali memandangi wajah yeoja yang ditawannya itu sampai ikut tertidur.

Pukul sepuluh pagi kedua namja penculik itu bangun. Semalam mereka tidur larut, lelah juga harus menghadapi Seorin yang cengeng. Donghae langsung pergi menuju wastafel yang ada di kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya. Sedang Eunhyuk kembali asik memandangi Seorin yang masih terlelap.

“Dia masih belum bangun juga?” Tanya Donghae begitu kembali dari kamar mandi.

Eunhyuk menggeleng tanpa menoleh ke arah Donghae. “Sudah biarkan saja dia. Kau bilang dia berisik kalau bangun. Lagipula, dia manis kalau sedang tidur seperti ini.” Komentarnya.

Donghae menghampiri Eunhyuk. “Ya Hyuk. Aku ingatkan takut kau lupa. Dia itu pacar Kangin hyung. Jadi jangan sampai kau suka padanya.” Katanya.

Eunhyuk menepuk pipinya pelan. “Aish, jinjja. Aku lupa.” Ucapnya. “Tapi aku heran kenapa Kangin hyung bisa pacaran dengan yeoja seperti dia. Yeoja ini terlalu polos untuk seorang Kangin hyung.” Lanjutnya.

Donghae mengangkat kedua bahunya. “Mollasso. Yah, cinta kan tak memakai logika. Mungkin selera Kangin hyung memang yeoja polos, cengeng dan berisik seperti dia.” Jawabnya. “Sudah. Kau cuci muka sana. Gosok gigi juga. Mulutmu itu bau.”

Eunhyuk nyengir memperlihatkan ‘gummy smile’nya pada Donghae. “Sebentar lagi.” Katanya.

“Dasar jorok. Aku pergi beli makanan dulu.” Kata Donghae kemudian pergi menuju pintu luar dan menghilang.

Beberapa lama kemudian ponsel di saku celana Eunhyuk bergetar, ada telepon masuk.

-Kangin hyung-

Buru-buru Eunhyuk menjawab telepon itu. “Yoboseyo hyung?” Sapanya. Dia mendengar apa yang diucapkan Kangin di telinganya. Matanya yang sipit membulat, wajahnya terlihat kaget. “MWO? Kami salah culik? Jinjja?” Tanyanya pada Kangin.

-to be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s