[One shot] Never Say I love U..

Standard

By SeoRin

Sebanyak apapun aku mencoba memasukkan oksigen dalam paru-paruku.. Dada ini tetap saja terasa sesak dan semakin sesak..

Apa.. apa yang seharusnya kulakukan..

@@@

“Mungkin sebaiknya kita memang berpisah,” aku mengulang kata-kata yang begitu berat untuk keluar dari mulutku itu sekali lagi. Pedih.. Menyakitkan.. Tapi tetap harus kukatakan..

Pria yang ada di depanku itu bergeming. Dia diam seribu bahasa. Hanya satu kata yang terdengar dari mulutnya.”Baiklah.”

Baiklah??? Hanya itukah yang bisa kau katakan Kim Heechul??? Hanya itukah?? Tak adakah kata-kata lain?? Aku sudah berusaha menahan semua kepedihan yang begitu meluap dalam dadaku dan hanya itu yang bisa kudapatkan darimu?

Aku menatap Heechul-oppa, berusaha berakting seakan semuanya baik-baik saja. Kutahan air mataku supaya tidak keluar sebelum waktunya.

“Ah.. Kure..” ucapku lirih. ”annyeong hi kyeseyo oppa..” Aku tersenyum, meski dengan terpaksa dan berbalik dari hadapannya. Hanya satu harapanku saat ini.. Ia mengejarku dan menahanku untuk pergi. Tapi, tak ada yang terjadi.. bahkan setelah air mata ini tidak bisa berhenti mengalir dari mataku.. Setelah aku berjalan begitu jauh dengan rasa sakit ini..

Kenapa.. Kenapa bahkan di saat seperti ini pun kau tidak bisa mengerti perasaanku Kim Heechul??

@@@

Enam tahun.. itu waktu yang coba kami jalani selama membina hubungan yang telah retak ini. Selama itu, tak satu kata cintapun pernah keluar dari mulutnya. Akulah yang selalu mengatakan hal itu padanya. Bahkan, aku juga yang memberanikan diriku untuk memintanya jadi namjachinguku saat SMA dulu..

Aku tidak pernah tahu apa yang ada di dalam hatinya..

Kupikir, aku bisa tahan dengan sifatnya yang dingin itu, tapi.. hati ini sesak tiap kali melihat pasangan lain yang ada di sekitar kami..

Mereka bisa bercanda, tertawa bersama, menghadapi masalah mereka berdua, sedangkan aku.. Ia hanya tersenyum padaku, tak pernah lebih dari itu..

Semuanya bertambah menyakitkan saat 3 tahun berlalu sejak hubungan kami, saat dia sudah menjadi fotografer professional seperti keinginannya.. Kami menyembunyikan status kami.. Ia semakin jarang menemuiku.. jarang menelponku.. membuatku selalu bertanya-tanya.. masihkah ia mencintaiku? Masihkah?? Atau.. mungkinkah memang sejak awal dia tak pernah mencintaiku??

Rasanya sakit.. sakit sekali saat memikirkan semua itu.. Aku tidak tahan dengan rasa sakit dan keraguan yang terus menderaku itu.. Karena itulah akhirnya kuputuskan untuk mengajukan kata itu.. berpisah..

Aku yang memulai dan aku yang berniat mengakhiri semuanya.. tapi.. kenapa hati ini malah semakin sakit..

@@@

“Sudahlah Eun Mi, lupakan dia,” ucap Ha Rin saat ia membuka pintu restoran kecil tempat kami biasa bertemu dan menyuruhku masuk duluan. Kami memilih duduk di meja dekat pintu.

“Kau ini bicara apa sih. Aku tidak mengerti,” elakku cepat.

“Ya! Jangan pura-pura lagi, kau masih belum bisa melupakan orang itu, kan? Kim Heechul?”

Hatiku teriris saat nama itu disebut. Sudah 3 bulan sejak kami putus, tetapi mendengar namanya saja aku masih belum bisa. Aku hanya diam dan menatap meja yang ada di depanku dengan lesu.

“Oh ya, kau mau pesan apa?” tanya Ha Rin.

“Emm.. Aku tidak makan..” jawabku ringan yang langsung disambut pelototan mata besar Ha Rin.

“Kau harus makan! Aku membawamu ke sini bukan cuma buat jadi pengawal saja tahu.”

“Tapi..”

“Karena itulah aku bilang kau harus melupakan orang itu sekarang juga. Kau tidak bisa makan karena ingat dia terus kan? Kau juga masih sering terus menangis hingga tengah malam dan tidak bisa tidur lalu matamu bengkak karena dia, kan?”

“Aku..”

“Kau harus lanjutkan hidupmu Eun Mi! Kau sudah cukup kurus karena kurang makan selama 3 bulan ini dan aku tidak ingin melihat sahabatku masuk rumah sakit hanya gara-gara kurang gizi. Kau harus makan. Titik!”

Aku tidak bisa membantah ucapan Ha Rin kali ini. Semua yang dikatakannya benar, termasuk perasaanku pada orang itu. Ha Rin memang selalu mengatakan semuanya dengan blak-blakan dan terus terang, berbeda denganku.. Aku selalu memilih untuk diam dan menunggu.. walaupun pada akhirnya jawaban itu tak muncul-muncul juga..

“Arasso..” jawabku pada akhirnya.

“Bagus! Kalau begitu aku akan pesankan makanan yang sama denganku!” Ia sibuk memilih makanannya dengan ceria lalu segera memberikannya pada pelayan.

Aku selalu iri tiap kali melihat senyum lebar sahabatku satu ini.. Seandainya saja aku memiliki sedikit saja sifat cerianya saat ini..rasa sesak di dadaku ini pasti akan berkurang.

“Mungkin kau perlu memulai cinta yang baru.” Kata Ha Rin.

“Anni.. Kurasa tidak perlu kok..,” jawabku.”Aku.. hanya butuh waktu sedikit lagi..”

“Tapi tidak ada salahnya mencoba, kan? Aku akan mengenalkanmu pada seseorang.”

“Sudah kubilang tidak perlu, kan?”

@@@

Aku sedang membereskan buku-buku lama ketika selembar foto yang terselip di salah satu bukuku itu melayang dan jatuh ke lantai. Aku memungutnya. Fotoku dan Heechul saat SMA, saat kelulusan kami. Aku tersenyum lebar sambil mengacungkan tanda peace sementara dia seperti biasanya, menatap kamera dengan wajah tanpa ekspresinya.

Kalau dipikir-pikir.. Sejak dulu.. kami ini memang pasangan yang sangat berlawanan yah.. Dia jarang sekali menunjukkan ekspresinya padaku sementara aku selalu berusaha tersenyum dan bersikap ceria saat ada di dekatnya. Dialah salah satu sumber kebahagiaanku, itu yang pernah kuyakini dulu.. Tapi, kenapa sekarang semuanya jadi berakhir seperti ini..

Dia seperti gunung es yang menjulang tinggi dan aku hanyalah sebuah lilin kecil yang sendirian dan berusaha keras mempertahankan nyalaku. Tapi, sebesar apapun nyalaku, gunung es itu tidak akan pernah bisa kulelehkan.. Akulah yang akhirnya akan mati karena kehabisan nyala..

Kim Heechul.. Pernahkah kau mencintaiku..

@@@

“Bagaimana makanannya?”

“Eh, oh? N..ne, enak kok..” aku gelagapan menjawab pertanyaan Sung Min, orang yang dikenalkan Ha Rin padaku. Ia mengajakku makan siang ini.

“Oh ya Sung Min-ssi..”

“Jangan terlalu formal padaku. Panggil saja aku Sung Min. Lagipula kita seumuran kan?”

“Ah, ne.. mianhe..”

“Gwenchana..” Sung Min tersenyum ramah. Ah, ingin sekali aku bisa melihat senyum seperti itu di wajah Heechul.

“Jadi kau mau tanya apa?” Tanya Sung Min.

“Ah, anni.. hanya mau minta maaf. Kau pasti repot karena dipaksa Ha Rin menemaniku. Mian..”

“Gwenchana. Aku melakukan ini tidak terpaksa kok, soalnya aku memang ingin mengenal Eun Mi sejak dulu.”

Aku terdiam. Ingin mengenalku sejak dulu.. Apa itu artinya..

“Hwaaa!! Kim Heechul!!!>,<!!” suara teriakan gadis-gadis SMA yang ada di belakangku nyaris membuat jantungku berhenti berdegup. Nama itu.. Lagi-lagi nama itu membuka luka yang berusaha kututup di hatiku.

“Waaah, hasil jepretannya benar-benar bagus ya?”

“Hum! Benar-benar kereenn!”

“Orangnya juga tampan kan? Aaah~ ingin deh jadi modelnya!”

“Tapi dengar-dengar dia sudah punya pacar ya?”

“Ah, benar. Kudengar belakangan ini dia sering jalan berdua dengan seorang gadis cantik.”

“Aissshh, aku jadi patah hati..”

Obrolan mereka masih saja berlanjut, tapi cuma satu kalimat yang begitu mengena buatku. Heechul.. sudah punya pacar lagi.. Ia sudah melupakanku.. Selama 3 bulan ini ia terus saja hinggap di otakku dan tidak mau pergi apapun yang kulakukan, tapi ternyata dia bahkan sudah dapat penggantiku..

“Bagaimana Eun Mi ah~?” Tanya Sung Min, menyadarkanku dari lamunan barusan.

“Eh, a.. apa?”

“Ah, sudah kuduga kau melamun. Besok aku mau ke pameran, kau mau menemaniku tidak?”

Aku tertegun, lalu kata-kata itu muncul lagi. “Kudengar ia sudah punya pacar?”. Aku menghirup nafas dalam-dalam, tapi tetap saja tidak ada cukup oksigen untuk membuatku lebih segar.

“Kurasa aku bisa..” ucapku.

Mungkin.. aku harus kabur sejenak untuk melupakan semua ini..

@@@

Galeri pameran foto-foto Heechul. Aku tidak menyangka Sung Min akan membawaku ke sini. Sepertinya aku kabur ke tempat yang salah..

“Bagaimana? Kau suka?” Tanya Sung Min.

“Mmm..”Hanya itu yang bisa kukatakan.

Semua hal yang ada di sini mengingatkanku pada masa laluku. Saat aku bersama Heechul, saat kami sering memotret bersama, saat ia memamerkan karya awalnya yang mendapat penghargaan dengan senyumnya yang benar-benar membuatku tersentuh. Senyum pertama di wajah dinginnya..

Aku harus bilang apa selain aku suka? Haruskah aku bilang.. aku benci karena semuanya mengingatkanku pada Heechul? Aku tidak bisa.. Aku menyukai foto-foto Heechul sama seperti aku menyukainya.. Ya, bahkan sampai saat ini.. meski aku terus berusaha menyangkalnya..

“Waaaahh! Yang ini bagus sekali!” Sung Min menatap foto di depannya dengan mata berbinar. Foto setangkai bunga matahari dengan background langit biru yang sangat indah. Indah sekali.. sampai membuatku ingin menangis. Mengingatkanku pada kejadian 2 tahun yang lalu..

“Oppa, lain kali buatkan aku foto bunga matahari ya!” ucapku seraya memeluk Heechul yang sedang menyeleksi foto-fotonya.

“Untuk apa?” Lagi-lagi hanya jawaban dingin seperti ini yang kudapat.

“Hhe..Itu pesan rahasia untuk oppa. Oppa sendiri yang harus memecahkannya.”

“Mwo?”

“Aku selalu melihatmu…” ucap Sung Min.

Eh? Aku menatap Sung Min kaget.

“Itu, kan arti bunga matahari?”

Ya, kau benar Sung Min.. Itulah pesan rahasiaku untuk Heechul. Tapi dia sama sekali tak pernah menyadarinya. Dia terus saja menunjukkan sifat dinginnya. Aku ingin sekali dia juga melihat dan menatapku dengan hangat meski hanya sekali saja.. Melihat ke dalam lubuk hatiku.. Mengerti apa yang kurasakan..

“Tapi, bunga matahari juga bisa berarti cinta yang tak berbalas,kan?” bantahku asal-asalan.

“Mwo?”

“Bunga matahari memang selalu melihat dan mengikuti kemanapun matahari pergi, tapi.. pernahkah matahari melihatnya? Mungkin matahari menganggapnya tak lebih dari bunga-bunga lainnya.. Sama.. tidak ada bedanya.. Karena itulah ia membiarkannya layu di malam hari..”

“Tapi ia kembali saat pagi hari, kan?”sangkal Sung Min.”Kurasa matahari juga ingin melihat bunga matahari mekar dengan indah, makanya dia selalu datang lagi setiap pagi.”

Argumenku terhenti sampai di sini. Aku tak bisa membalas kata-kata Sung Min. Seandainya saja semua yang dikatakannya benar. Seandainya saja Heechul memang melihatku dengan cara seperti itu..

“Heechul-ah,aiyyo nonton film bersamaku malam ini! Mau ya!” suara yang terdengar manja di belakangku itu membuatku berbalik seketika.

Sakit. Lagi-lagi rasa itu menyerangku. Heechul sedang berjalan ke arah kami dengan seorang gadis manis yang bergelayut erat di lengannya. Tapi, bukan itu yang membuat lukaku makin terasa perih. Dia tertawa.. Heechul tertawa.. bukan hanya senyum dingin seperti yang selalu ia berikan padaku.. Ia tertawa bahkan saat menjawab pertanyaan gadis itu.

“Ya, Seo Rin-ah, kau itu masih harus sekolah besok. Jangan kebanyakan main!” ucapnya seraya menyentil dahi gadis di sampingnya itu.

“Tapi, Heechul-ah~” Gadis itu semakin manja saja dan tubuhku makin tidak kuat menahan emosi yang bercampur aduk. Dia bisa melakukan hal itu untuk gadis lain, tapi kenapa tidak untukku?? Apakah aku memang orang yang salah baginya..

Butiran bening bernama air mata itu mengalir di pipiku. Aku menangis.. Tapi untuk apa? Untuk seseorang yang bukan milikku lagi? Untuk orang itukah? Untuk orang yang selama ini masih saja terus kucintai..

Deg! Aku terdiam ketika tatapanku dan Heechul bertemu. Ia melihatku saat ini.. Apa yang harus kulakukan..

“Eun Mi-ah, kau menangis?” tanya Sung Min.”Gwenchana yo?”

“Ne.. Gwenchana..”ucapku.”Mianhe.. aku harus pergi sekarang juga.”

“Wae yo?”

“Mian!” Aku membungkuk dan berlari begitu saja dari hadapan Sung Min. Maaf Sung Min,tapi aku benar-benar belum bisa melupakan Heechul dan melihatnya saat ini dengan gadis itu membuatku makin menyadari perasaanku. Aku tidak bisa melihatnya dalam keadaan seperti ini.. Aku butuh waktu lebih lama lagi..

“Eun Mi-ah! Tunggu!” suara panggilan itu masih terdengar meski aku sudah keluar gedung dan berjalan cepat menyusuri trotoar.

“Kumohon! Tunggu!”

Sret. Cengkeraman yang kuat di pergelangan tanganku itu menghentikanku dari pelarian.

“Jangan hentikan aku Sung..”

Aku bisa merasakan mulutku membisu tiba-tiba. Itu bukan Sung Min. Bukan Sung Min yang menghentikanku, tapi orang lain. Orang yang begitu kurindukan meski tidak bisa kuungkapkan. Orang itu.. Kim Heechul..

“O.. oppa..” ucapku lirih.

“Jangan pergi!” sahutnya seraya menarikku ke dalam pelukannya. Pelukan hangat yang kuharapkan sejak dulu.. Tapi tidak! Aku tidak boleh melakukan ini! Dia sudah bukan milikku lagi.. Dia milik  gadis yang ada di pameran itu sekarang.. Aku tidak boleh membuat hati lain terluka..

“Lepaskan aku oppa..” Aku buru-buru menepis dekapan tangannya.

“Wae yo?”

“Kita sudah putus, ingat? Kau juga sudah punya gadis itu.. tidak seharusnya kau melakukan ini padaku. Kembalilah padanya..”

“Dia bukan seperti yang kau pikirkan Eun Mi-ah..”

“Jangan bohong! Kau tertawa saat bersamanya. Kalian saling mencintai kan, karena itu..”

“Mana mungkin aku mencintai gadis lain kalau hanya kau yang ada di otakku!!”

Deg! Barusan.. dia bilang apa..

“Saranghae..”

“Mwo..”

“Cheongmal saranghae.. Eun Mi-ah..”

Aku tidak mampu berkata-kata. Berat.. Mataku pedih bahkan oleh air mataku sendiri. Aku tidak bisa mencerna kata-katanya dengan baik. Aku memejamkan mataku dan memaksa udara memasuki paru-paruku begitu saja.

“Sebenarnya apa yang kau inginkan Kim Heechul.. “ucapku bergetar kemudian.”Mengatakan hal seperti ini setelah enam tahun berlalu.. setelah akhirnya hubungan kita berakhir 3 bulan yang lalu.. Permainan macam apa lagi yang kau inginkan ha??”

“Aku sama sekali tidak main-main Eun Mi-ah..”

“Lalu apa?? dulu kau selalu bersikap dingin padaku. Kau selalu bersikap dingin dan tidak sekalipun memperlihatkan perasaanmu padaku. Lalu.. tiba-tiba saja kau mengatakan kalau kau mencintaiku.. Apa.. apa yang bisa kupercaya darimu???”

“Aku memang pabo.. cheongmal pabo..” ucap Heechul lemah. Ia menatapku dalam-dalam.”Aku mencintai seseorang, tapi tidak tahu bagaimana caranya harus bersikap pada orang itu.. Setiap hari aku melihat tawanya, tapi aku bahkan tidak tahu bagaimana caranya membalas tawa orang itu.. Aku tahu dia sering menangis di belakangku karena sikap dinginku, tapi aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk bisa menghapus air matanya itu.. Aku bisa melakukan apapun untuk orang lain, tapi aku hanya bisa membeku saat berada di sampingnya.. Aku tidak ingin menyakitinya, tapi tanpa sadar.. mungkin itulah yang telah kulakukan..”

Heechul menarik napas dalam-dalam sebelum meneruskan ucapannya kembali.

“Aku berbeda dengan orang lain yang bisa mengatakan perasaannya dengan mudah pada orang yang kucintai.. Karena itulah saat orang itu mengatakan ia ingin berpisah denganku,aku melepaskannya begitu saja.. Aku ingin menahannya, tapi.. aku tidak ingin lagi melihat air mata mengalir lagi di pipinya hanya gara-gara aku.. Jika memang dengan berpisah denganku bisa membuatku bahagia.. aku tidak perduli pada diriku.. meski aku harus merasakan sakit dalam dadaku.. Rasa sakit yang mungkin tidak akan terlihat di mata orang lain, tapi begitu menyiksaku.. Aku nyaris gila karena tidak bisa menghapusmu dari ingatanku Eun Mi-ah..”

Aku masih membeku di tempatku. Sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin segera pergi dari sini , tapi telingaku tidak mau berhenti mendengar tiap kata yang keluar dari mulutnya, mataku tidak bisa berhenti menatapnya dan jantungku juga masih belum cukup kuat untuk berhenti berdebar saat ia ada di dekatku.. Kim Heechul.. tahukah kau kalau aku juga hampir gila karenamu..

“Pameran ini.. sengaja kuadakan untukmu..” ucap Heechul.

“He..” aku mendongakkan kepalaku untuk menatapnya.

“Bunga matahari yang kau bicarakan.. Aku sudah tahu arti dari permintaanmu saat itu Eun Mi-ah..” ucapnya lembut dan saat itu juga, buliran air mata kembali mengalir dari mataku. Aku menangis.. untuk kesekian kalinya aku menangis gara-gara manusia di depanku ini..

Heechul mengelap pipiku dengan kedua tangannya.

“Mungkin matahari memang egois karena tidak sedikitpun ia menunjukkan rasa cintanya pada bunga matahari.. Tapi, apa kau tahu kalau matahari selalu menunggu esok hari untuk bertemu lagi dengan bunga matahari? Apa kau tahu kalau dia selalu menghilang di malam hari dengan perasaan khawatir.. takut kalau bunga matahari beralih pada bulan.. takut kalau esok hari dia tidak akan bisa menemuinya lagi..”

“Oppa..” ucapku lirih.

“Aku benar-benar mencintaimu Eun Mi-ah.. Aku sama sekali tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan.. Aku tahu aku tidak bisa memaksamu untuk kembali padaku.. Tapi.. aku hanya ingin kau tahu perasaanku saat ini.. Perasaan yang tidak pernah berubah bahkan saat kita pertama kali bertemu..” Ia memegang kedua bahuku dengan lembut, membuatku menatap masuk ke dalam kedua bola matanya, menelusuri arti kata-katanya barusan.

“A.. Aku..” Aku segera mengalihkan pandanganku ke atas trotoar. Tidak ada satu katapun terlontar dari mulutku ataupun Heechul selama beberapa saat. Hanya suara kendaraan yang terus berlalu-lalang di sekitar kami yang menjadi musik pengiring kekosongan saat itu. Lidahku kelu.. Terlalu kelu untuk mengatakan apapun saat ini..

Heechul masih terus mengarahkan tatapannya padaku sebelum akhirnya mendesah pelan dan melepaskan tangannya dari bahuku dengan perlahan. Ia memaksakan tawa pahit keluar dari bibirnya.

“Haha.. sepertinya memang sudah terlambat ya.. ” ucapnya getir.

Ia menatap langit sesaat, seakan mencoba untuk menahan air mata keluar dari matanya yang mulai diselimuti selaput bening. Ia segera berdiri membelakangiku, berbalik ke arah gedung pameran. ”Mungkin memang bukan saat ini, tapi aku pasti akan menunggumu Eun Mi-ah.. Menunggu sampai hatimu terbuka kembali untukku.. Terus menunggu dan..”

“Siapa yang menyuruhmu menunggu pabo!” teriakku keras-keras sebelum ia sempat melangkah pergi dari hadapanku. Heechul memutar tubuhnya ke arahku dalam kekagetannya.

“Eun Mi..”

“Pabo ya!” teriakku keras-keras.”Pabo pabo pabo!!>.<” Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kau pikir sudah berapa lama aku menunggu ha?? Kau pikir kenapa selama ini aku memilih tetap sendiri dan tidak pernah bersama namja lain ha?? Aku masih mencintaimu Heechul pabo!! Aku tetap mencintaimu meski terus mencoba membencimu, pabo!” Aku melepaskan semua emosiku saat itu juga. Semua yang selama ini kupendam. Semua yang membuatku ingin meledak tiap melihatnya. Semua hingga aku kehabisan napas dan tidak punya kata-kata lagi untuk kuteriakkan padanya.

Ia mengelus kepalaku dengan lembut saat aku mulai terisak pelan dan menunduk lagi.

“Apa itu berarti kau menerima pernyataan cintaku kali ini?” tanya Heechul. Aku hanya bisa mengangguk lemah.

“Gomawo Eun Mi-ah..”

“Heechul pabo..” ucapku lagi.

“Tapi kau mencintai manusia pabo ini,kan?” ucapnya seraya tersenyum tipis.

“Nde.. cheongmal cheongmal saranghae..” ucapku seraya membalas senyumannya. Ia masih terus tersenyum sementara aku kembali terisak pelan. Kali ini isakan bahagia.. Aku senang karena akhirnya gunung es ini akhirnya bisa mencair juga sedikit demi sedikit.. Karena akhirnya aku tahu apa yang ada di pikirannya saat ini.. Karena ia tidak ragu lagi untuk mengatakan apa yang dia rasakan padaku.. Senang sekali..

“Lalu.. bagaimana dengan gadis itu..” ucapku kemudian.

“Siapa? Maksudmu Seo Rin?”

“Mana aku tahu namanya pabo!”

Heechul mengacak-acak rambutku.

“Ya! Tenang saja, dia itu kan keponakanku, tidak mungkin aku punya hubungan khusus dengannya.”

” K.. keponakan??” ucapku  kaget. “T.. tapi dia memanggilmu..”

“Aisshh, anak satu itu kan memang tidak sopan sama sekali. Dia itu tidak pernah hormat sedikitpun padaku tahu. Padahal sudah jelas-jelas aku ini adik dari ibunya, tapi dia tetap saja memanggilku sesukanya saja. Cheongmal..” maki Heechul bersungut-sungut. Aku hanya bisa tersenyum melihat ekspresinya saat itu. Ia melirik ke arahku.“Kau sendiri.. bukannya datang ke tempat ini bersama seorang namja?”

“Eh, ah,d.. dia hanya temanku kok..” jawabku buru-buru.

“Oh.. teman ya..” tanyanya seraya mempertajam pandangannya.

“YA! Apa kau tidak percaya padaku?” Aku membalas tatapan matanya secara langsung.

“Siapa bilang? Aku percaya kok!” ucapnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“Bohong. Tatap mataku kalau begitu.”

“Buat apa?” Ia melangkahkan kakinya dan beranjak pergi dari hadapanku begitu saja.

“Ya! Oppa~!” Aku berlari menggejar Heechul yang terus saja berjalan tanpa menengok ke belakang sedikitpun.

“Oppa marah ya?” tanyaku saat ada di sampingnya.

“Kenapa aku harus marah?”

“Padahal aku senang sekali lho..” ucapku kemudian.

“Mwo?”

“Aku senang kalau oppa cemburu saat aku bersama namja lain..” ucapku seraya tersenyum dan menggandeng tangannya. Aku bisa melihat ekspresi Heechul oppa berubah dengan cepat saat itu. Mukanya langsung memerah dan ia tidak berani menatapku sama sekali. Benar-benar lucu.

“A..Apaan sih?” ucapnya salting.

Apa kau tahu.. bukan hanya bunga matahari yang tidak bisa melepas pandangannya dari matahari.. tapi.. matahari juga tidak bisa sedetikpun berhenti berharap untuk bisa menghangatkan bunga matahari.. Ia  memang selalu datang di pagi hari dan harus pergi setiap malam tiba, tapi ia tidak pernah melupakan bunga matahari..selalu menunggu saat untuk bisa bertemu lagi..

Mereka memang tidak punya kesempatan untuk bicara karena jarak yang memisahkan mereka.. tapi mereka punya cara sendiri-sendiri untuk menyatakan rasa cinta mereka..

_the end___

sebenernya ini pernah publish di blogku sendiri, hhe.. tapi berhubung kata umma boleh publish yang udah pernah kupublish yaaaa…*innosen mode on,, =P

13 responses »

  1. dongdong.. seorin itu anak adeknya bang ichul, bukan anak kakaknya bang ichul..
    sejak kapan umma jadi kakaknya si abang? haha..
    baca ini sebelum sekarang kapan yaa?
    hoho..
    seorin emang gak sopan, pecinta ahjusshi….

  2. kekekeke~~ pan bikinnya sebelum kenal umma~~
    hha… diedit aja umma,,ganti biar silsilah’a bener, =P

    pan umma seendiri yang bilang,,umur 2 tahun ga mau lepas dari ichul ahjussi, 5 tahun mau nikah ma dia/plakkk

Leave a Reply to eun.zen Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s