(Twoshot) Love Story -2nd Story- Part 1

Standard

Cast :

– 2 member FT Island tapi gak ada hubungannya sama FTI. Aku cuma pinjem nama dan wajah mereka

  • Song Seunghyun as Song Seunghyun
  • Choi MinHwan as Choi MinHwan

– 1 member Super Junior (idem)

  • Choi Siwon as Choi Siwon

– Son Yejin as Son Yejin

– Choi MinJoo

>>>Love Story -2nd Story-<<<


Sekarang aku memang sudah memiliki TaeRi di sampingku, tapi sosok MinJoo tak bisa menghilang begitu saja. Kadang aku merindukan sosoknya, seperti yang sedang aku rasakan saat ini. Aku sangat merindukannya. Sudah hampir dua tahun dia pergi, tapi aku masih mengingat dengan jelas semua tentangnya. Senyumannya, tawanya, dia saat merajuk, dia saat marah, dia saat sedih. Masa lalu ada untuk dikenang, untuk dijadikan pelajaran untuk masa depan. Ya, seperti janjiku, aku akan selalu mengenang dia sebagai seorang yang sangat penting yang pernah menjadikan hariku sangat cerah sekaligus sangat suram.

***

Flashback

Autumn, two months our relationship…

“Annyeong.” Aku memajukan wajahku ke samping wajah MinJoo yang sedang asik membawa novelnya. Dia akan melupakan apapun jika dia sudah konsentrasi pada apa yang dibacanya, seperti saat ini.

MinJoo agak kaget mendapati aku yang memang sengaja mengagetkannya, dan tanpa aku duga novel hardcover dengan lebih dari enam ratus halaman yang dipegang oleh MinJoo mendarat dengan mulus ke kepalaku.

Suaranya sangat keras, dan aku langsung mengaduh. Aku merasa kepala tempat novel itu mendarat berdenyut dengan cepat.

“Mianhae..” MinJoo langsung menyimpan bukunya di sampingnya dan mengelus kepalaku. “Hyaa.. Aku pasti memukulmu sangat keras.” Katanya panik setelah memegang kepalaku yang sedikit yah benjol karena ulahnya.

MinJoo langsung bangkit dari tempat duduknya dan menempelkan kedua tangannya di depan dadanya. “Mianhae. Jeongmal mianhae..” Ucapnya berkali-kali. Matanya sudah berkaca-kaca karena merasa bersalah. Begitu lah MinJoo, sulit untuk tidak memaafkannya.

“Ahahaha….” Aku tertawa. Ekspresi MinJoo berubah jadi bingung. “Bukan salahmu. Tadi kan aku yang mengagetkanmu, jadi semuanya tidak masalah.” Kataku. “Tapi ini agak sakit.” Lanjutku cepat begitu MinJoo mengambil novelnya dan mengangkat tangan yang memegang novel. Aku tebak dia akan melakukan hal yang sama untuk yang kedua kalinya.

MinJoo lalu menurunkan tangannya. “Duduk lah. Aku lihat dulu kepalamu.” Perintahnya.

Aku menurut saja. Karena jujur, kepalaku itu benar-benar sakit. Pukulan novel setelah enam ratus halaman memang sangat mantap.

MinJoo mengelus kepalaku tepat di bagian benjolan itu berada, kadang dia memijitnya. “Ini agar benjolannya cepat mengecil.” Katanya begitu aku bertanya mengapa dia memijit-pijit kepalaku.

Denyutan di benjolannya masih terasa, tapi sepertinya benjolannya memang sudah mengecil. “Kau belajar darimana?” Tanyaku.

“MinHwan sering sekali memukul kepalaku waktu kecil, eomma selalu mengelus dan memijitnya agar benjolnya cepat hilang.” Jawabnya.

“Jadi saudara kembarmu itu begitu jahat waktu kecil. Aneh sekali kalian bisa akrab sekarang.” Kataku lagi.

MinJoo mengambil lagi novelnya yang tadi dia simpan di bangku saat dia memijit kepalaku. “Dia pernah sakit waktu kelas satu SD. Saat itu appa dan eomma sedang pergi untuk urusan bisnis appa. Ahjumma yang menjaga kami kebetulan dihubungi keluarganya, katanya anaknya kecelakaan. Waktu itu hanya ada aku, MinHwan juga sakitnya mendadak. Semalaman aku menjaganya, merawatnya, mengganti kompresannya setiap kompresannya sudah tidak dingin. Sejak setelah itu MinHwan jadi baik padaku dan seperti yang kau lihat sekarang.” Cerita MinJoo.

“Wah, aku ingin menjadi seperti MinHwan. Dirawat olehmu semalaman.” Ucapku bersemangat.

MinJoo langsung mengangkat kembali novelnya. Refleks aku langsung menutup kedua mataku sambil menunduk dan kedua tanganku berusaha melindungi kepalaku.

“Hahaha.. Apa yang kau lakukan?” Tanya MinJoo.

Aku membuka mata, kulihat MinJoo sudah berjalan meninggalkanku. “Kau mau kemana?” Tanyaku sambil berlari mengejarnya.

“Beli es krim.” Jawabnya sambil menunjuk sebuah mobil es krim yang berada tak jauh dari kami.

“Dasar maniak es krim.”

“Kau mau novelku mendarat lagi di kepalamu?” Tanyanya dengan nada mengancam.

Aku menggeleng cepat. “Kau jahat sekali. Mana ada yeoja yang memukul namjachingunya dengan novel tebal sampai benjol?” Tanyaku.

“Ada. Dia ada di depanmu.” Jawabnya sambil tersenyum tanpa rasa bersalah.

Aku langsung melingkarkan tanganku di pundaknya lalu mengecup pipinya sekilas. “Hukuman karena sudah memukulku.” Kataku kemudian berlari menghindari amukannya.

“SEUNGHYUN-A… KAU BERANI MENCIUMKU.” Teriaknya sambil mengejarku.

Aku tertawa, berlari mundur karena aku suka melihat wajahnya yang memerah campuran malu dan marah.

“Seunghyun-a, awas! Ada nenek-nenek di belakangmu.” Kata MinJoo.

Refleks aku berhenti dan menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Aku dibodohi. “Kau boh..”

“Tertangkap kau.” MinJoo langsung menahan lenganku. “Kau pikir kau siapa berani menciumku hah?” Katanya dengan tampang galak. “Kau terima ini.”

MinJoo mengangkat novel tebalnya tinggi, bersiap memukulku dengan novelnya itu. Aku sudah pernah merasakannya kurang dari satu jam yang lalu, dan rasanya sangat sakit. Aku memberontak, mencoba melepaskan lenganku yang dipegang oleh MinJoo. “MinJoo-ya, jebal. Jangan pukul aku.” Pintaku sambil terus berusaha untuk melepaskan diri.

“Anni.” Katanya. Senyuman licik terbentuk dari bibirnya.

Aku tak ingin pasrah. Aku tak ingin terkena novel tebal itu. Tangan bebasku langsung menarik tangan MinJoo yang memegang novelnya. Kali ini situasi berbanding terbalik, MinJoo berusaha melepaskan tangannya dari cengkramanku. “Seunghyun-a, lepaskan.” Pintanya sambil berusaha melepaskan tangannya yang memegang novel.

“Kau juga tidak melepaskan tanganmu. Dan kau lihat kan akibat pukulan novelmu itu, kepalaku benjol. Aku tidak mau seperti itu lagi.” Kataku.

“Kau kira aku akan melakukan hal seperti itu dengan sengaja hah. Kau kira aku yeoja yang sejahat itu?” Tanya MinJoo dengan muka merah.

Aku yakin dia sedang marah sekarang. Marah karena aku berpikiran picik tentangnya. Yah, aku memang salah.

“Mianhae.” Kataku penuh rasa bersalah.

MinJoo kemudian melepaskan tangannya dari lenganku. “Kekeke.. Aku tidak marah kok. Aktingku bagus kan?” Tanyanya dengan wajah ceria. Sangat berbeda dengan yang tadi. Tapi kemudian wajahnya kembali memerah. “Tapi aku tidak suka kau menciumku seperti tadi, aku malu.” Katanya dengan suara pelan.

“Mianhae. Habisnya pipinya terus memanggil bibirku sih.” Kataku setengah bercanda. Aku menyangka MinJoo akan marah mendengar ucapanku. Tapi dia malah diam, wajahnya semakin merah.

“Seunghyun-a, coba lihat ke langit sana.” Pinta MinJoo.

Aku menatap langit yang terik, mataku menyipit karena tidak tahan dengan sinar matahari.

Chu…

Satu ciuman mendarat di pipiku. Aku langsung menatap MinJoo yang wajahnya lebih merah dari sebelumnya. “Saengil chukkae.” Katanya sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna merah.

***

Aku menatap sebuah gelang perak dengan ukiran ‘SH’ di atas gelang itu. Hadiah pertama dari MinJoo. Tapi yang lebih menyenangkan saat mengingat bagaimana wajahnya saat itu. Sangat merah, sangat manis.

***

End of Summer, two years our relationship…

“Seunghyun-a, happy anniversary…” MinJoo tersenyum sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna merah.

“Happy anniversary jagi.” Balasku sambil mengambil kotak yang dipegang MinJoo kemudian memberikannya kotak yang besarnya hampir sama dengan milik MinJoo tapi aku membungkusnya dengan kertas berwarna biru. Kami sedang berada di bukit yang cukup jauh  dari pemukiman. MinJoo menemukan tanah lapang namun terlihat jarang ada orang yang datang ini, mungkin karena tempatnya agak tertutup pohon-pohon tinggi d sekitarnya. Tempat ini kami jadikan tempat rahasia kami berdua, ah salah,  kami bertiga. MinHwan juga tahu tempat ini, biasanya kami kemari bertiga. Tapi hari ini hari spesial, jadi kami pergi berdua.

“Akhirnya kita bertemu dengan tahun kedua. Semoga kita bisa terus bersama sampai bertunangan, terus menikah, terus punya anak, punya cucu….” Aku terus mengoceh sambil menerawang ke angkasa tanpa melihat MinJoo.

“Hiks….”

Aku menoleh ke arah MinJoo yang terlihat sedang menangis. “Waeyo jagi?” Tanyaku.

MinJoo menggeleng. “Aku bahagia kita bisa bersama sampai sekarang. Walaupun kita masih dianggap anak-anak, tapi aku yakin aku benar-benar mencintaimu. Aku ingin segera dewasa agar orang lain tidak menganggap cinta kita cinta monyet.” Katanya.

Aku tertawa kemudian duduk di samping MinJoo dan merangkul pundaknya. Tanganku yang melingkar di pundaknya menarik kepalanya agar bersender ke pundakku. “Na do. Tapi kita tak harus memaksakan diri untuk segera dewasa, toh nanti kita juga akan dewasa.” Kataku sambil mengelus rambut panjangnya yang tergerai.

“Aku harap aku bisa bertemu dengan saat itu.” Kata MinJoo.

“Jagi, ayo kita buka kadonya.” Ajakku sambil mengambil kotak yang tadi aku simpan di tikar. MinJoo mengangguk lalu menarik kepalanya dari pundakku.

Kami sibuk membuka hadiah kami. Kotak milikku berisi sepasang boneka yang wajahnya mirip dengan wajahku dan wajah MinJoo. MinJoo pasti membuatnya dengan penuh cinta. Aku menoleh ke arah MinJoo yang sedang asik memperhatikan wajah boneka namja dan yeoja dari kalung yang aku berikan padanya.

“Jadi kau memberiku couple doll dan aku memberikanmu couple neckagle. Ah, kita memang sudah satu hati.” Ujarku.

MinJoo tidak menanggapiku, dia masih sibuk memperhatikan kalung yang dipegangnya. Aku mengambil satu kalung dari tangannya. Mata MinJoo langsung menatapku. Aku memasangkan kalung itu di lehernya. “Ini seharusnya seperti ini, bukan hanya dilihat.” Kataku sambil tersenyum.

MinJoo menatapku dan air matanya kembali merebak. “Waeyo? Hari ini kau cengeng sekali.” Tanyaku.

MinJoo langsung mengusap air matanya. “Molla, air mataku ini tak bisa aku kendalikan.” Jawabnya. MinJoo lalu mengambil kedua boneka milikku, dia juga mengambil ponselku. “Aku membuatnya sepasang, dan semuanya untukmu. Aku tak ingin seperti orang lain yang memiliki masing-masing satu boneka, biarkan kedua boneka ini terus bersama.” Katanya sambil memasangkan boneka itu di ponselku.

Aku mengambil satu kalung yang disimpan MinJoo di samping kotak. “Kalau begitu, kalung ini juga kau pakai. Agar mereka tidak terpisahkan.”  Kataku sambil memegang gantungan kalung boneka kepala yeoja.

“Anni. Aku ingin kau yang memakainya.” Kata  MinJoo sambil menggeleng. Dia mengambil kalung di tanganku dan memasangkan kalung itu di leherku. “Kau tampan dengan kalung ini.” Katanya setelah selesai memasangkan kalungnya.

“Kau curang.”

“Kekeke…. Tapi kau memang cocok memakai kalung itu. Lagipula kan kau sudah berniat memakai kalungnya.” Kilah MinJoo.

Aku bangkit dari dudukku, tapi entah bagaimana awalnya aku malah terjatuh dan menimpa MinJoo. Tubuhku tepat berada di atas MinJoo dan wajah kami tepat sejajar. Posisi yang menimbulkan kontroversi kalau orang lain melihatnya. Kami diam sedang mata kami saling bertatapan. Entahlah, aku merasa tubuhku tiba-tiba membeku.

“Saranghae Seunghyun-a, neomu jeongmal saranghae yeongwonhi..” Kata MinJoo kemudian.

Aku mendekatkan wajah ke wajah MinJoo. Dan perlahan bibirku mulai mendarat di bibir MinJoo. MinJoo tersenyum kemudian menyambut bibirku. Tangan kiriku berusaha menopang tubuhku dan tangan kananku meremas rambut MinJoo.  Kedua tangan MinJoo melingkar di leherku. Kami menikmati ciuman kami sampai salah satu dari kami kehabisan udara untuk bernafas.

Aku berguling dan berbaring di samping MinJoo, kami menatap langit yang biru. Matahari terlihat malu di balik awan. Tak lama mataku terasa berat.

“Tidur lah. Aku juga ingin tidur.” Kata MinJoo begitu menoleh ke arahku.

Aku menarik tubuh MinJoo. Menyenderkan kepalanya ke dadaku. “Saranghae MinJoo-ya, neomu jeongmal saranghae yeongwonhi.” Kataku menirukan yang tadi MinJoo katakan.

MinJoo terkekeh, “na do.” Katanya.

Kemudian kami berdua tertidur.

Aku bangun dari tidurku. Entah berapa lama aku tertidur, yang pasti posisi matahari sudah semakin condong ke timur. Aku menoleh ke sampingku, MinJoo tak ada. Aku langsung bangkit, melihat ke sekeliling, tapi tetap tidak menemukan sosok MinJoo.

“MINJOO-YA…. JAGIYA….” Teriakku.

Tak ada yang  menyahut kecuali suara angin dan burung. Aku langsung memakai sepatuku, berkeliling di sekitarku. Dan aku menemukan MinJoo sedang asik bersenandung sambil membaca novelnya di balik pohon. Telinganya disumpal oleh headset. “Pantas kau tidak mendengarku yang setengah panik karena kau menghilang.” Kataku dalam hati.

Aku langsung duduk di samping MinJoo tanpa permisi.

“Sudah bangun?” Tanya MinJoo sambil menoleh ke arahku dan melepaskan sumpelan di telinganya.

“Kau tak tah….”

“MINJOO-YA!! NEO EODIGA???”

Aku dan MinJoo langsung berdiri dan menghampiri seseorang yang berteriak mencari MinJoo yang ternyata kembaran  MinJoo. MinHwan terlihat ngos-ngosan begitu kami menghampiri dia.

“Waeyo?” Tanya MinJoo sambil menyodorkan air mineral pada MinHwan yang sepertinya kehilangan banyak cairan.

“Anni. Aku hanya ingin mengganggu kalian saja. Hahaha…” Jawab MinHwan dengan wajah jail.

MinJoo langsung memukul lengan MinHwan dengan novel yang dipegangnya. “Kau ini, kupikir ada apa. Jangan membuat orang lain kaget seperti ini.” Protes MinJoo.

“Kalian melakukan apa di balik pohon sana?” Tanya MinHwan dengan mata yang menyelidik.

Aku menggeleng. “Belum melakukan apa-apa karena kau keburu datang.” Jawabku.

MinHwan terlihat penasaran. “Memang kau akan melakukan apa pada kakakku yang lebih tua lima belas menit dariku itu?” Tanyanya setengah berbisik sambil menyampirkan tangannya di pundakku.

“Kegiatan yang dilakukan orang yang sedang pacaran. Kau cepat punya pacar sana, biar tahu.” Jawabku.

“Sial.” MinHwan langsung menonjok pelan perutku. “Jadi ceritanya kau mau pamer hah?” Tanyanya sambil mengejarku. Aku melihat MinJoo yang menggeleng pelan lalu duduk di tikar dan meneruskan membaca novelnya. MinHwan memang pengganggu yang menyebalkan.

***

Gantungan boneka namja-yeoja yang MinJoo berikan masih menggantung di ponselku sampai saat ini, begitu juga kalung yang aku berikan. Aku tak tahu dimana kalung MinJoo saat ini. Tapi kalung yang ada padaku masih berada di tempat yang sama seperti dua tahun yang lalu. Benda-benda darinya, kenangan tentangnya, hanya itu yang aku punya untuk tetap mengingat kalau dia pernah ada.

***

End of autumn, on 1st grade high school…

“Seunghyun-a, MinHwan-a, MinJoo jatuh dari tangga.”  Kata seseorang yang merupakan teman sekelas kami. Aku dan MinHwan yang sedang menunggu giliran untuk ujian lompat tinggi langsung berlari menuju ruang kesehatan.

Kami melihat MinJoo sedang dipakaikan perban oleh salah satu dokter sekolah kami.

“Gwenchana?” Tanyaku dan MinHwan  berbarengan.

MinJoo terlihat meringis ketika tangan sang dokter tidak sengaja menyentuh luka MinJoo saat akan menggunting plester. “Ne, gwenchana. Tadi aku tidak memperhatikan ada genangan air di tangga saat mau menyusul ke lapangan.” Jawab MinJoo.

“Sebaiknya kau membawa saudaramu ke rumah sakit setelah ini. Aku takut ada apa-apa dengan kepalanya karena tadi dia mengeluh sangat pusing dan mual. Aku akan memberikan surat ijin padamu agar bisa membawa MinJoo periksa ke rumah sakit. Kalian berdua ikut ujian susulan saja.” Kata dokter pada MinHwan.

MinHwan mengangguk mengerti. “Ne seongsaenim. Algeishimika.” Katanya.

Aku langsung menuju rumah keluarga Choi begitu sekolah bubar. Jujur aku tak bisa mengendalikan diriku untuk tidak khawatir pada MinJoo meski MinHwan sudah mengirimkan pesan kalau MinJoo baik-baik saja.

“Kau ini. Sudah kubilang tak perlu cemas. Nih…” MinHwan menyodorkan sebuah kertas padaku. “Dia baik-baik saja. Besok juga dia bisa langsung sekolah. Hanya saja dokter menyuruhnya untuk istirahat malam ini. Dia sekarang tidur karena pengaruh obat.” Terangnya.

Aku membaca kertas di tanganku yang merupakan hasil rekam medik milik MinJoo. Hasilnya memang memuaskan, tak ada masalah pada MinJoo. Yah, mungkin aku memang kelewat cemas. Setelah itu aku dan MinHwan berbincang sejenak soal tugas-tugas sekolah sebelum aku pamit pulang.

“Besok pagi aku datang untuk menjemput MinJoo.” Kataku.

MinHwan menepuk pundakku. “Kau tak perlu melakukannya. Rumahmu dengan rumah kami kan berlawanan arah, kau tahu MinJoo pasti tidak suka kau berlebihan seperti ini. Lagipula, apa gunanya aku kalau begitu? Aku juga ingin menjadi adik yang berguna. Kau tunggu saja besok di sekolah.”

Aku ingin protes, tapi memang apa yang dikatakan MinHwan itu ada benarnya. “Ya sudah. Besok aku tunggu saja di sekolah. Sampaikan salamku pada orang tua kalian.” Pesanku.

MinHwan mengangguk. Aku pun melangkahkan kakiku untuk pulang ke rumahku.

Aku melihat MinHwan mengayuh sepeda dengan MinJoo menumpang di belakangnya. Tangan kiri MinJoo melingkar di pinggang MinHwan dan tangan kanannya melambai ke arahku begitu mata kami bertemu. Akhirnya mereka tiba juga, sudah lima belas menit aku menunggu mereka di gerbang sekolah.

“Sudah menunggu lama?” Tanya MinJoo setelah turun dari sepeda begitu berada di depanku.

“Tak ada kata lama untuk seorang pasien sepertimu.” Jawabku.

MinJoo terlihat mengerutkan keningnya, aku yakin dia tidak suka dengan kata ‘pasien’ yang aku ucapkan tadi.

“Kalau begitu aku masuk duluan saja. Tugasku merawat pasien ini aku serahkan padamu.” Kata MinHwan sambil mendorong MinJoo ke arahku.

“Aku bukan pasien!!!!” Protes MinJoo.

Aku tertawa saat melihat MinHwan menirukan MinJoo yang menggembungkan pipinya. MinJoo terlihat semakin kesal karena MinHwan mengikuti gayanya.

“MinHwan, neo…” MinJoo bersiap memukul MinHwan yang mengayuh sepedanya.

Aku menahan lengan MinJoo yang akan berlari mengejar saudara kembarnya itu. “Sudah lah. Biarkan saja dia. Kepalamu sudah baikan?” Tanyaku.

MinJoo menyentuh kepalanya yang masih dibalut perban. “Ne. Dokter bilang aku sudah bisa membuka perbannya lusa, karena lukanya cukup besar.” Jawab MinJoo. “Kau tak usah cemas. Tidak ada masalah kecuali luka luar.” Lanjutnya begitu melihatku yang terlihat cemas.

***

Aku masih ingat dengan jelas senyumannya waktu itu. Saat dia dengan santainya mengatakan tidak merasakan apa-apa. Memang MinJoo baik-baik saja setelah kecelakaan itu, tapi itu semua adalah sebuah permulaan dari kenangan yang menyedihkan kemudian.

-to be continue-

Aahh.. aku asalnya mau bikin oneshot aja. Cuma gara2 terlalu esmosi akhirnya jadi panjang, twoshot deh…

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s