(Twoshot) Love Story -2nd Story- End

Standard

Cast :

–          2 member FT Island tapi gak ada hubungannya sama FTI. Aku cuma pinjem nama dan wajah mereka

  • Song Seunghyun as Song Seunghyun
  • Choi MinHwan as Choi MinHwan

–          1 member Super Junior (idem)

  • Choi Siwon as Choi Siwon

–          Son Yejin as Son Yejin

–          Choi MinJoo




Aku masih ingat dengan jelas senyumannya waktu itu. Saat dia dengan santainya mengatakan tidak merasakan apa-apa. Memang MinJoo baik-baik saja setelah kecelakaan itu, tapi itu semua adalah sebuah permulaan dari kenangan yang menyedihkan kemudian.

***

Spring, 2nd grade high school…

Takdir, aku percaya dengan kata itu. Takdir yang mempertemukan aku dengan MinJoo empat tahun yang lalu. Takdir pula yang selalu membuatku berada satu kelas dengan MinJoo selama empat tahun berturut-turut, dan takdir selalu meyatukan kami dalam satu bangku. Ya, selama empat tahun, pembagian tempat duduk selalu dilakukan dengan cara diundi dan kami selalu duduk berdampingan. Takdir yang indah kan?

Tapi rupanya takdir sudah bosan dengan semua itu. Aku dan MinJoo memang satu kelas lagi, tapi MinJoo duduk di bangku kedua dari belakang dekat pintu sedangkan aku duduk paling depan dekat jendela luar.

“Ah, sayang sekali aku beda kelas dengan kalian. Aku jadi tidak bisa melihat wajah menderita Seunghyun karena harus berpisah tempat duduk dengan MinJoo.” Komentar MinHwan ketika kami makan siang bersama di kantin. MinHwan mengajak yeoja bernama HeeNa yang merupakan yeojachingu dia dua minggu terakhir.

“Bukan aku yang menderita, tapi MinJoo. Dia kan tidak pernah mau jauh-jauh dariku. Kau lihat sendiri saudaramu itu terus diam dari tadi.” Komentarku.

Mata kami bertiga langsung menatap MinJoo yang tetap saja diam meski dipojokkan. Padahal dia paling tidak senang kalau dipojokkan seperti itu.

“Wae? Kalau memang itu kenyataan, aku tak usah mengelak kan?” Tanyanya sambil berbalik menatap kami.

Aku hampir tersedak mendengar pernyataannya barusan. MinJoo memang suka blak-blakan soal perasaannya padaku, tapi tidak di tempat umum seperti ini.

“Aku pergi ke toilet dulu.” Katanya kemudian sambil beranjak dari tempat duduknya dan menghilang.

“Aku tidak menyangka MinJoo akan berkata seperti itu.” Kata HeeNa.

“Aku juga syok.” Tambahku.

Ddrrtt…. Ddrrrttt…

Ponsel salah satu dari kami bergetar dan ternyata itu milik MinHwan. Dia membaca dengan serius pesan yang masuk ke ponselnya itu. “Aku harus pergi. JaeJin hyung memintaku datang ke ruang musik.” Kata MinHwan begitu selesai membaca pesannya.

Aku mengangguk mengerti. MinHwan memang salah satu anggota band sekolah kami, dan JaeJin hyung juga salah satu anggotanya.

“Mau aku antar?” Tanya HeeNa.

MinHwan menggeleng. “Kau teruskan saja makannya. Kalau sampai istirahat selesai aku tak kembali, tolong bilang aku sedang berada di ruang kesehatan.”

HeeNa menghela nafas panjang. “Sejak dia aktif di band, dia jadi sering menghilang.” Cerita HeeNa padaku tanpa aku minta.

Kami kemudian melanjutkan makan siang kami.

 

Sampai bel pulang berbunyi aku terus berusaha menghubungi MinJoo dan hasilnya nihil. Sejak MinJoo meminta ijin pergi ke toilet tadi siang, dia tak pernah muncul lagi. Ponselnya mendadak mati. Aku bertanya pada MinHwan tapi dia tidak tahu apa-apa. MinHwan malah langsung menutup teleponku karena dia bilang dia sedang latihan untuk festival nanti. Aku tak berani menelepon rumah keluarga Choi karena takut malah menimbulkan masalah. Guru-guru yang mengajar pun hanya menganggap MinJoo bolos.

“MinJoo-ya, eodiga?” Tanyaku cemas.

Aku langsung menuju kediaman keluarga Choi, memastikan kalau MinJoo sudah pulang. Tapi aku mendapati rumah mereka tanpa penghuni. Siwon ahjusshi memang sedang berada di Busan sekarang, tapi Yejin ahjumma entah pergi kemana.

Dua setengah tahun aku dan MinJoo berpacaran, aku tidak pernah merasa secemas ini.

Ddrrrttt…. Ddrrrttt….

Aku langsungmengambil ponsel dari sakuku, satu pesan masuk

From : NauiLadyMin

Aku baik2 saja, tadi aku ada urusan mendadak. Jangan khawatir. >,<

Pesan dari membuatku sedikit merasa lebih baik. Tapi tetap saja pertanyaan mengenai keberadaan MinJoo masih berputar di telingaku. Ponselku bergetar lagi

From : NauiLadyMin

Jangan dulu meneleponku. Nanti malam atau besok kita bicara. Aku sedang sangat sibuk.

Aku melangkahkan kakiku menuju halte bis. Percuma aku mencoba menelepon lagi MinJoo, aku yakin dia pasti tidak akan menjawab teleponku.

To : NauiLadyMin

Ara, tapi kau harus langsung menghubungiku begitu urusanmu selesai.

Ddrrttt…. Dddrrtt…

From : NauiLadyMin

Neeee….. *chu*

***

Entahlah. MinJoo memang seorang pemain peran yang sangat pandai. Mengingatnya saat itu aku tak bisa untuk tidak mengutuk diriku sendiri. Dengan mudah MinJoo dan saudaranya, MinHwan, membohongiku. Mereka sangat pandai menyembunyikan kenyataan. Terlalu pandai sampai aku tak bisa menebak dan mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Entah mereka yang terlalu pandai atau aku yang terlalu bodoh. Tapi aku sangat menyesal terlambat mengetahui yang sebenarnya.

Andai saja aku lebih sensitif sedikit saja, aku pasti akan tahu. Sikap aneh MinJoo maupun MinHwan sudah merupakan sebuah petunjuk bagiku. Sayang aku tak sanggup menebak petunjuk itu.

***

End of Spring…

“Kau putus dengan HeeNa? Wae?” Tanyaku heran.

“Aku merasa tidak cocok dengannya. Sudahlah, tidak usah membahas kisah cintaku yang suram ini. Aku tidak menyesal berpisah dengannya.” Jawab MinHwan. MinHwan bilang dia putus dengan HeeNa sejak tiga hari yang lalu. Aku baru tahu sekarang karena tiga hari ini aku tidak pernah bertemu dengan  MinHwan yang katanya sibuk dengan bandnya.

“…hae.” MinJoo yang dari sebelumnya diam terdengar mengatakan sesuatu  tapi aku mendengarnya samar.

MinHwan langsung mengelus kepala kembarannya itu. “Sudah kubilang bukan salahmu, aku yang sudah memutuskan. Kau tak usah merasa bersalah.” Hibur MinHwan pada MinJoo yang wajahnya terlihat sedih.

“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Aku benar-benar tidak mengerti. Memang kau putus dengan HeeNa ada hubungannya dengan MinJoo?” Tanyaku yang bingung dengan semuanya.

“Anni.” Jawab MinHwan. Dia kemudian terus berusaha menghibur MinJoo.

‘Apa yang mereka sembunyikan dariku’ Tanyaku dalam hati.

 

Two weeks later…

“MinHwan, kenapa kau tidak bilang padaku kalau MinJoo sakit hah?”

Aku menarik kerah seragam MinHwan. Emosiku memuncak. Seminggu lebih MinJoo tidak masuk sekolah dan MinHwan mengatakan kalau MinJoo sedang mengunjungi sepupunya di Wonju. Kalau saja aku tidak kebetulan mendengar obrolan MinHwan dan Park seongsaenim, wali kelasku, aku pasti tak akan pernah tahu.

Aku langsung menyeret MinHwan ke belakang sekolah begitu dia keluar dari ruang guru. MinHwan tetap menutup mulutnya walaupun satu tinjuku sudah membekas di pipinya.

“KATAKAN PADAKU KENAPA KAU MEMBOHONGIKU??!!!!!” Teriakku.

“MINJOO TAK INGIN KAU TAHU. MINJOO TAK INGIN KAU SEDIH DAN MELIHATNYA TERBARING TIDAK BERDAYA! KAU PUAS????” MinHwan balik meneriakiku.

“Memang dia sakit apa sampai kau harus berbohong seperti ini?” Tanyaku melemah.

“Kanker stadium akhir. Dia mungkin tak akan bertemu dengan musim panas tahun ini.”

Aku tak bisa berpikir setelah mendengar apa yang MinHwan katakan. Aku sangat tidak percaya bagaimana bisa MinJoo yang terlihat sangat sehat sesaat sebelum dia libur sekolah bisa mengidap sakit separah itu.

“Kau bohong….” Kataku sambil tersenyum. “Kau bohong kan? BILANG KALAU KAU BOHONG MINHWAN SIAL!!!!” Teriakku sambil kembali menarik kerah bajunya.

MinHwan diam. Dia diam meski menit berikutnya aku kembali meninjunya.

 

“MinHwan kau lam…a….” MinJoo menggantungkan ucapannya begitu sadar aku yang membuka pintu, bukan dia. “Kenapa kau ada disini?” Tanyanya heran.

“Justru aku yang harusnya bertanya, kenapa kau membohongiku?” Tanyaku sambil menghampiri tempat tidurnya.

MinJoo membalikkan kepalanya. “Pergilah. Kau sebaiknya tidak ada disini.” Katanya tanpa mau melihatku.

“Siapa aku bagimu? Siapa kamu bagiku? Kamu yang paling tahu semuanya kan? Kenapa kamu harus menyembunyikan semuanya dariku? Kenapa aku harus tahu dari orang lain? Kenapa kamu tak ingin membagi bebanmu denganku?” Tanyaku bertubi-tubi.

Aku mendengar MinJoo terisak. Tapi dia tetap memalingkan wajahnya. “Jebal, tinggalkan aku sendiri. Jangan pernah menemuiku lagi. Berhenti mencintaiku.”

“Andwae.”

***

MinJoo menolakku. Ya, sejak perkenalan kami, itu kali pertama MinJoo menolak kehadiranku. Senyum renyahnya memang sudah menghilang dari ponselku dua tahun yang lalu, tapi tak pernah bisa hilang dari ingatanku. Dan air matanya di rumah sakit waktu itu, aku juga tak akan pernah bisa melupakannya.

Dokter mengatakan kanker di kepalanya muncul karena ternyata ada darah yang menggumpal di otaknya saat kejadian dia terjatuh dulu. Itulah yang membuat tumor tumbuh dan tumor itu berkembang menjadi kanker. MinJoo tidak pernah bercerita jika dia merasa sakit kepala. Tak ada yang tahu kecuali MinHwan yang selalu menaruh curiga, perasaan keduanya memang kuat. Tapi MinJoo selalu berusaha meyakinkan MinHwan kalau dia baik-baik saja. Sampai akhirnya MinJoo divonis kanker otak.

***

“Jangan pernah kau menyuruhku pergi. Itu sia-sia saja karena aku akan selalu berada di sampingmu. Menemanimu sampai akhir.”

MinJoo sudah pasrah dengan kehadiranku, dia tak pernah berusaha untuk mengusirku lagi. “Tapi berjanjilah kau tidak boleh menangis saat aku pergi dan setelahnya. Berjanjilah kau akan mencari seseorang yang menggantikan aku, kau harus mencintai dia seperti kau mencintaiku bahkan lebih. Berjanjilah kau akan melakukan itu semua.” Pinta MinJoo.

Aku mengangguk. “Ne, yaksokhae. Aku akan melakukan semua yang kau inginkan.”

 

“Aku ingin pergi ke bukit.”

MinHwan melotot ke arah MinJoo. “Jangan harap aku akan mengijinkanmu.” Katanya tajam.

“Jebal…. Aku ingin kesana untuk yang terakhir kalinya. Aku ingin merasakan angin di sana.” Pinta MinJoo dengan memelas.

Yejin ahjumma mengelus rambut putrinya itu. “Eomma akan mengijinkan kamu pergi. Tapi appa harus ikut,  agar dia bisa menjagamu.”

MinJoo mengangguk.

 

“Semuanya tetap sama kecuali tanaman yang tumbuh dengan rindang. Memang paling menyenangkan berada di sini saat musim semi.” Kata MinJoo dengan ceria di atas kursi rodanya.

Aku menatapnya sedih. Entah sampai kapan dia bisa bertahan. MinJoo menolak semua pengobatan yang ditawarkan dokter. Dia tak ingin menunda kematiannya yang sudah dekat, dia tak ingin rambutnya habis saat dia pergi nanti.

“MinJoo babo. Kenapa kau pura-pura ceria seperti itu?” Kataku sambil menatap MinJoo yang memaksa Siwon ahjusshi membawanya berkeliling.

MinHwan menepuk pundakku. “Kajja. Kita harus mencari tempat yang tidak bisa ditemukan MinJoo. Biarkan dia bersama appa sekarang.” Ajaknya padaku. Bisa kulihat air matanya hampir menetes ke pipinya.

Belahan jiwa kami akan segera pergi…

 

“Eomma, aku ingin pulang. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku di sini. Aku ingin di rumahku sampai saat terakhir.” Pinta MinJoo.

Air mata Yejin ahjumma tidak bisa dibendung setiap mendengar MinJoo mengatakan ‘terakhir’. Sedang aku? Aku selalu berusaha untuk tidak menangis, setidaknya MinJoo tidak melihatku menangis. Aku dan MinHwan sepakat untuk menyembunyikan air mata kami.

Yejin ahjumma mengangguk pelan.

***

Air mataku tak bisa aku tahan lagi. Setelah dua tahun berlalu, sekarang aku melanggar janjiku pada MinJoo. Aku tak bisa  jika harus terus memendam semuanya, aku tak sanggup harus terus menangis dalam hati.

***

“MinHwan, berjanjilah untuk memperbaiki hubunganmu dengan HeeNa. Aku tak ingin menyesal karena kau tidak berbaikan dengannya. Lalu kembalilah ke bandmu, kau sudah mengorbankan bandmu demi  aku. Lalu hidup lah dengan bahagia, wakili aku menikmati sisa kehidupan ke depannya.”

“Appa, kau harus sering pulang ke rumah ya. Jangan terlalu sering pergi meninggalkan rumah hanya untuk dinas kerja yang bisa kau wakilkan pada orang lain.”

“Eomma, kau harus tegar. Jangan sering menangis karena aku. Eomma masih punya MinHwan, aku yang lain. Tegar lah. Aku pasti akan merindukan masakan eomma nanti.”

“Seunghyun-a, berjanjilah padaku untuk tidak mengunjungi tempatku tidur kecuali kau datang bersama seseorang yang lebih berarti dariku. Berjanjilah kau akan menceritakan dia seperti apa di depanku. Apa kelebihan dan kekurangan dia daripada aku. Aa, aku tahu kau pasti akan protes. Jadi aku beri kamu kesempatan untuk datang ke tempatku dua kali sebelum kau datang bersama dia. Lalu aku ijinkan kau untuk menangis satu kali di depanku. Dan kau tidak diberikan ijin untuk protes.”

“Sekarang aku mau tidur dulu. Kalian pergi saja dari kamarku. Aku ingin tidur sendiri. Sudah terlalu sering waktu kalian terganggu karena harus menungguiku. Annyeong.”

 

Summer, after she’s gone….

“MinJoo-ya, ini kali kedua aku datang mengunjungimu. Ini kali pertama aku menangis di depanmu. Bagaimana keadaanmu di sana? Aku harap kamu bahagia, tunggu aku nanti. Aku datang kemari untuk bilang padamu kalau aku akan pergi. Aku akan pindah ke Seoul. Terlalu menyakitkan terus berada di sini. Aku takut melanggar janjiku padamu. Doakan aku untuk bisa menemukan seseorang penggantimu, tapi aku berharap waktu itu tidak segera tiba. Aku masih ingin bersamamu. MinJoo-ya, tetap di hatiku ya. Karena kau adalah orang yang mengenalkanku pada kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan kata. MinJoo-ya, neomu jeongmal saranghae yeongwonhi. Annyeong…”

-end-

Akhirnya, selesai juga.. hahhehhoh…

Pengen bikin cerita tentang Seunghyun-TaeRi, tapi TA lagi lagi manggil manggil.. semoga sempet  bikin, hohoho…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s