(Ficlet) Kim Family Story : Oh My Petr, Chelsea oh Chelsea

Standard

Cast :

*) Cho JinHo as Kim JinHo aka Kim Jino

*) Kim Boram, Kim SeoRin

Disclaimer : Jino adalah member dari SM The Ballad, aku cuma pinjem gratis dia buat maen di ff aku /plakk

>>>Kim Family Story : Oh My Petr, Chelsea oh Chelsea<<<

Kim Family’s House, 10.56 AM –KST-

Jino membuka pintu kamar eommanya. Dia kemudian melihat pemandangan yang membuatnya sangat terkejut. Perlahan Jino menjauhi eommanya itu lalu langsung berlari menuju ruang tengah dimana telepon rumahnya berada.

Jino menekan angka yang sudah dia hafal di luar kepala. Usianya yang baru enam tahun tidak menghalanginya untuk menjadi seorang yang cecrdas. *oke, author udah sangat ngaco sekarang*

“Noona, kau ke rumah sekarang. Ppalli. Eomma… Aku tak bisa menjelaskannya. Pokoknya noona cepat datang.” Kata Jino panik begitu noonanya, Kim SeoRin menjawab panggilan darinya.

Jino kemudian kembali ke kamar tempat eommanya, Kim BoRam, berada. Jino tidak menemukan BoRam di manapun di kamar appa dan eommanya itu. Jino mencari ke belakang gorden, bawah meja, dalam lemari, tapi sosok eommanya itu tetap tidak dia temukan.

“Huhuhuhuu…. Hiks.. Hiks..”

Jino mendengar suara tangisan dari kamar mandi, dia kemudian menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya. “Eomma, kau di dalam?” Tanya Jino.

Tak ada jawaban, hanya isak tangis yang kembali terdengar. “Eomma gwenchana?” Tanyanya lagi.

Tak ada jawaban, hanya isakan.

Jino tampak khawatir. Kim JongWoon, appanya sedang tidak ada di rumah karena ada pekerjaan di Jepang. Sekarang Jino hanya berharap noonanya segera datang karena dia tidak tahu harus berbuat apa.

“Eomma, kemarin SeungHyun sachon memberikan aku cokelat mahal. Cokelatnya untuk eomma saja, tapi eomma mau keluar ya.” Bujuk Jino. “Aku nanti minta appa untuk membawakan boneka Hotaru.” Bujuknya lagi.

Tapi sama seperti sebelumnya, tak ada jawaban hanya ada isakan.

“Eomma, sebenarnya ada apa denganmu?” Tanya Jino bingung.

“Huwaaa……. Naui Petr.” Tangis BoRam dari dalam.

Mendengar kata ‘Petr’, Jino langsung ingat pertandingan Chelsea tadi malam. Dia lalu mengambil ponsel eommanya yang tergeletak di meja dekat lampu tidur. Menggunakan aplikasi web browser untuk mencari tahu informasi mengenai pertandingan tadi malam.

Jino akhirnya mengerti penyebab eommanya setengah gila. Chelsea semalam dikalahkan oleh MU *author langsung bikin boneka voodoo runi trus tusuktusuk pake tusuk sate dengan mem-baby tuna netra*

“Eomma, sudah lah. Chelsea kan belum pasti kalah. Masih ada leg kedua.” Kata Jino.

Yang terdengar di telinga BoRam hanya dua kata yaitu ‘Chelsea’ dan ‘kalah’. Dan karena itu, BoRam semakin menangis histeris.

Jino bingung dibuatnya. Dia tak bisa berbuat apa-apa karena kunci kamar mandi digantungkan di dalam. Dia semakin khawatir begitu mendengar suara gemercik air di dalam kamar mandi.

“Eomma, apa yang terjadi di dalam?” Tanyanya.

“JINO, NEO EODIGA?” Teriak SeoRin yang baru saja masuk ke rumah.

“AKU DI KAMAR EOMMA, NOONA. PPALLI!!!!” Jawab Jino dengan berteriak juga.

Tak berapa lama SeoRin sudah ada di dalam kamar. “Waeyo?” Tanya SeoRin pada Jino.

“Eomma sepertinya sedih karena Chelsea semalam kalah. Dia….”

“Huwaaa…..” BoRam histeris lagi mendengar ucapan Jino.

“Kita keluar saja noona.” Ajak Jino. Mereka lalu pergi ke tempat yang kira-kira tak bisa didengar BoRam. “Begitulah. Semalam Chelsea kalah dan eomma jadi histeris begitu.” Terang Jino.

“Loh, memangnya Chelsea semalam bermain dengan mana?” Tanya SeoRin.

Jino menatap tajam noonanya itu. “Noona bilang noona MU Lover tapi tak tahu pertandingan semalam? Ke-MU Lover-an noona wajib dipertanyakan.” Komentar Jino tanpa menjawab pertanyaan SeoRin.

“Heh? Lawan MU?” Tanya SeoRin sedikit kaget. “Premier League?” Tanyanya lagi.

Jino menggeleng heran. “Noona memang tidak pantas dibilang MU Lover.” Katanya meledek. “Semalam itu Champion League, Chelsea lawan MU di Stamford Bridge.” Jelas Jino.

SeoRin terlihat berpikir setelah mendengarkan ucapan dongsaengnya itu. Senyuman kemudian tercetak jelas di bibirnya. “Jadi MU menang tandang? JINJJA???? Pantas saja barusan Sora terus cemberut dan Yoori imo cengengesan tak jelas. YEAH! Horee….” SeoRin langsung lompat-lompat begitu otaknya berhasil mencerna semuanya.

“NOONA!!!” Bentak Jino kesal karena noonanya sama sekali tidak mengerti situasi dan kondisi yang ada. “Sekarang eomma bagaimana? Tidak mungkin kita membiarkan dia tetap mengurung diri di kamar mandi. Eomma sedang hamil, aku takut nanti adikku kenapa-kenapa.” Kata Jino begitu SeoRin berhenti lompat-lompat.

SeoRin nyengir kemudian mengajak Jino kembali ke kamar BoRam.

“Eomma, ayo buka pintunya. Kalah dan menang sudah biasa eomma, tidak usah dipikirkan. Nanti juga ada masanya Chelsea menang. Eomma kan sangat sayang pada calon adikku, kalau eomma terus menangis seperti itu, nanti adikku kenapa-kenapa. Nanti appa marah loh sama eomma. Nanti appa tak akan mau mengajak eomma pergi ke London lagi. Nanti eomma  tak bisa melihat Petr secara langsung lagi loh. Nanti….”

Cklekkk…

Pintu kamar mandi dibuka. BoRam keluar dari kamar mandi dengan mata sembab dan wajah sangat basah. Mereka bertiga kemudian duduk di kasur.

“Eomma…. Chelsea…. JaeJin…. Hiks….” BoRam menggantungkan ucapannya. “Hiks….” BoRam terisak lagi. “Huwaa…. Eomma tak suka pada Torres, kenapa semalam Anelka ahjusshi menggantikkan Drogba bukan Torres. Padahal hiks…. Padahal banyak sekali peluang, kenapa tidak ada yang menjadi gol. Eomma juga tidak suka pada Ivan yang hobi berada di depan, padahal dia kan pemain belakang. Kasihan Petr harus berjuang sendiri. Huwaa…. Kenapa Chelsea tidak bisa seperti Arema yang bisa menyamakan kedudukan di injury time? Hiks…. Padahal emyu sudah lama tidak bisa menang di Stamford Bridge. Hiks…. Hiks….” BoRam terus mengoceh.

SeoRin sudah tidur dengan kepala bersandar ke pundak Jino yang kecil.  Jino sendiri asik mengemut permen yang dibawa oleh SeoRin.

Jino yang sangat sayang pada eommanya bangkit membuat SeoRin terjungkal ke lantai namun tetap terpejam. Jino kemudian mengelus kepala eommanya itu sebentar. Dia lalu membuka bungkus cokelat batangan yang dia ambil sebelumnya dari dapur dan memasukkan cokelat itu ke mulut BoRam. “Sudah eomma. Nasib Chelsea masih lebih baik dari Inter. Eomma tidak usah sesedih ini.”  Hibur Jino.

Entah karena ucapan Jino, atau cokelat yang ada di mulutnya, yang pasti BoRam langsung berhenti menangis.

“Eomma tadi kenapa mengurung diri di kamar mandi?” Tanya Jino kemudian.

“Eomma takut eomma pingsan lagi karena melihat wajah eomma yang seram karena banyak menangis. Makanya eomma tadi menangis sambil mencuci wajah eomma.” Jawab BoRam polos.

Pada akhirnya keluarga Kim kembali damai. SeoRin  memang memiliki andil untuk membuat BoRam keluar dari kamar mandi, tapi yang paling berjasa adalah bocah yang baru berusia enam tahun, Kim JinHo.

-end-

Emang lagi sial kali yaa… huft, no komen deh, masih syok saia… di atas merupakan curahan hati author tentang beberapa pemain yg bikin author rada kecewa… samaan kaya trueblue yang menggalau sepagian tadi garagara tim kita kalah… hiks, *tampar runi*

Advertisements

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s