(Ficlet) Save My Love

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Yesung/Kim Jongwoon [Super Junior]

*) Kim Boram [OC]

Genre : AU, Romance, Angst

a/n : err~ mungkin gara2 kelewat kangen #eaa makanya ini ff dibikin, biasalah.. bikin ff ituu gimana suasana hati :p happy reading ^^

Save My Love

Sibuk.. Memang satu kata itu bisa menjadi alasan yang sangat ampuh. Tapi haruskah selalu ‘sibuk’ kau jadikan alasan?

Aku menghela napas panjang. Kuhampiri speaker ipodku dan menambah volumenya. Tak peduli meski penghuni kamar sebelah mulai mengoceh karena dia terganggu dengan lagu yang sedang kuputar. Aku tahu dia makin kesal karena harus mendengarkan lagu yang sama terus-menerus. Tapi terserah dia mau mengoceh seperti apa, aku tak peduli. Aku juga tak peduli ketika dia mulai menggedor pintu kamarku yang memang sudah dikunci.

“YA, Kim Boram!! Kenapa berisik sekali? Matikan ipodmu itu atau kalau tidak kurangi volumenya. Lagipula kau bisa pakai handfree agar tak mengganggu orang lain!” Teriaknya di balik pintu lengkap dengan gedoran pada pintuku.

Aku mengacuhkan teriakan juga gedoran itu. Aku menghempaskan tubuhku ke kasur kemudian kedua punggung tanganku menutup kedua mataku. “Bogoshippo.” Kataku lirih sambil mendengarkan lagu yang keluar dari speaker.

Berapa lama kita tak saling bertatap muka secara langsung? Jujur aku bahkan melupakan kapan itu terjadi. Bukan hanya karena aku memang pelupa, tapi setiap aku mengingatnya, hatiku makin pedih. Apa kau merasakan hal itu juga?

Aku merasa punggung tanganku mulai basah, dan aku sedikit terisak. “Aish, jinjja. Lagumu sangat indah, sangat menyentuh. Tapi terlalu menyentuh dan menyakitkan.” Ucapku di tengah isak ketika lagu yang berputar di kamarku sampai pada bagian reff.

“YA, Kim Boram!! Kalau kau memang sangat ingin bertemu dengannya, temui saja dia! Apa susahnya sih? Oppa akan mengantarkanmu!!”

Aku tetap tak menggubris teriakan dari luar. “Andai aku bisa, aku pasti akan menemuinya sejak kemarin. Tapi aku sudah berjanji padanya kalau aku tak akan menemui dia saat dia berkutat dengan pekerjaannya, meski aku bisa berpura-pura sebagai salah satu fans yang tak ada hubungan apapun dengannya. Sayangnya aku sudah berjanji tak akan melakukan hal seperti itu dan aku orang yang akan berusaha menjaga janjiku sesulit apapun itu.

Tapi hatiku sakit. Aku tersiksa..

Kau selalu meyakinkan aku tentang cintamu. Tapi ketika jarak dan waktu itu campur, dan ketika rasa ragu itu mulai muncul, mengapa kau tak ada untuk menghilangkan keraguan itu?

Tangisku berhenti. Percuma juga aku terus menangisi namja bni bahkan tak tahu aku sedang menangisinya. Kuambil ponsel yang tergeletak tak jauh dari tubuhku. Tadi aku mencoba menghubunginya, dan ajaibnya nomor ponsel dia tak aktif. Baru saja aku memegang ponselku, ponselku bergetar karena telepon masuk.

“Yoboseyo Jungrae eonni..” Kataku begitu menekan ‘answer’ dan menempelkan ponselku ke telinga.

Boram, kau sedang apa?” Tanyanya.

“Sedang merindukan seseorang yang sedang menghilang entah kemana.” Jawabku asal. “Eonni sedang apa? Apa Siwon oppa tak mengajakmu kencan?” Tanyaku basa-basi.

Haha.. Kami sekarang sedang berada di restoran italia untuk dinner. Dia sedang ke kamar mandi. Entah kenapa tiba-tiba aku ingin meneleponmu. Kau tak kencan juga? Dia kemana?” Jungrae eonni balik bertanya.

“Sibuk.” Jawabku singkat.

Entahlah. Aku merasa hatiku semakin sakit mendengar ucapan Jungrae eonni. Seorang Choi Siwon yang tak kalah sibuk bisa menyempatkan waktunya untuk berjumpa dengan Jungrae eonni. Sedang dia? Bahkan aku tak bisa mendengar suaranya kecuali dari ipod yang sedang menyala.

Sabar ya. Eonni nanti akan coba tanya pada Wonnie kemana dia. Ya sudah, Wonnie sudah kembali. Nanti eonni hubungi lagi. Annyeong.” Kata Jungrae eonni.

Dia bahkan tak menungguku mengucapkan salam balik atau terima kasih ketika memutus sambungan teleponnya. Tapi ya sudahlah. Moodku memang sedang sangat buruk saat ini.

Aku menyimpan ponselku sembarang. Niatku menelepon seseorang mendadak hilang. Aku merasa moodku berkali-kali lebih buruk dari sebelumnya. Bahkan aku tak bisa menangis lagi. Ini membuatku semakin sesak.

Hentikan aku, jebal. Hentikan aku untuk terus menambah rasa ragu ini. Hentikan aku yang mulai merasa jengah dengan keadaan kita. Datanglah, dan aku pastikan semua keraguanku padamu akan hilang seketika. Kamu dimana?????

Aku bangkit dari tempat tidurku. Mengacak rambutku sejenak kemudian mulai beranjak dari tempat tidurku, menghampiri ipod yang terpajang di meja yang letaknya agak jauh dari ranjang. Aku hendak menghentikan semua kebisingan yang sempat membuat oppaku naik darah.

Na ireoke haru handareul..

Tiittt…

Aku mematikan ipodku, menciptakan keheningan di kamarku.

“..tto illyeoneul.. Na apado joha.. Nae mam dachyeodo joha nan.. Geurae nan neo hanaman saranghanikka..” Seseorang melanjutkan lirik lagu yang tadi terhenti dari ipodku.

“Boram, tolong buka pintunya.”

Aku tahu betul siapa pemilik suara itu. Aku ingin segera membuka pintu tapi tubuhku terasa kaku, mungkin pengaruh rasa terkejutku karena kedatangannya. Dan ketika aku sudah bisa menguasai tubuhku lagi, tanpa ba bi bu aku langsung membuka kuncian di pintuku dan berhambur ke pelukan namja yang sangat kurindukan. Aku memeluknya sangat erat seolah aku akan kehilangan dia jika kulonggarkan pelukanku sedikit saja. Tak ada air mata. Entah. Mungkin air mataku sudah tak diproduksi lagi, tapi apa peduliku dengan hal itu. Yang penting dia bersamaku saat ini.

“Bogoshippo oppa. Neomu jeongmal bogoshippoyo.” Kataku pelan.

Aku merasa jantungnya berpacu dengan cepat. Telingaku yang memang berada di dadanya dapat mendengarnya dengan jelas.

“Na do jagiya. Na do bogoshipo..” Bisiknya di telingaku.

Aku merasa dia mengecup puncak kepalaku. Kulonggarkan pelukanku tapi tak melepaskan. Aku mendongak. Menatap wajahnya yang agak tirus, bukti dia didera rasa lelah.

Dia tersenyum, kemudian mengecup sekilas keningku. “Aku berusaha menyelesaikan semua jadwalku. Mianhae, aku baru bisa menemuimu sekarang. Aish, ternyata memintamu untuk tak berada bersamaku saat aku bekerja malah membuatku tak bisa konsentrasi karena merindukanmu. Nanti aku akan cari cara agar kau bisa bersamaku tanpa tercium wartawan. Bagaimanapun aku tak ingin hidupmu diganggu mereka.” Katanya sedikit frustasi.

Aku terkekeh mendengar ceritanya. Rupanya tak hanya aku yang menderita.

“YA, Yesungie.. Berhenti bermesraan seperti itu.. Aish, kau ini. Sudah, pergi ke ruang tamu sana. Awas saja kalau kau masuk ke kamar yeodongsaengku.” Oppaku mulai mengoceh begitu dia keluar dari kamarnya.

Aku dan Yesung oppa tertawa kecil. “Ara.. Ara.. Kau pergi kencan sana.” Kataku sambil menarik lengan Yesung oppa, pergi ke ruang tamu..

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s