(Sp) Kim Family Story : Trip to Japan for Birthday Celebration(?)

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Kim JongWoon/Yesung [Super Junior]

*) Jino [SM The Ballad]

*) Kim BoRam [OC]

*) Kim Seorin [OC]

Disclaimer : Aku sewa bang Yes sama Jino buat maen di ff aku dibayar pake cinta >,< /plakk

Genre : AU, Humor nanggung, Family

a/n : Kim Family series, random, gak selalu sesuai dengan aturan silisilah yg ada, dibuat sesuai kebutuhan aja… kekeke~~ Aslinya ada 2 kisah, Jino as him self sama Jino as Kim Fam member…. Tapi yg satu lagi aku jadiin koleksi pribadi aja, wkwk…. Terus aslinya Jino sekarang 19 taun, tapi umur’a disini dipangkas 12 taun. Hoho…. Happy reading ^^’

12 April 2011

Jino menghampiri JongWoon yang baru saja pulang dari kerjanya. Tampang lelah sang appa tidak dihiraukan oleh Jino.

“Appa, jangan lupa ulang tahunku ya. Jino tidak ingin pesta yang mewah. Hanya ingin appa ada dan merayakan ulang tahun Jino bersama eomma dan noona.” Ucapnya.

JongWoon menatap putra kecilnya yang dengan wajah berbinar mengambil tas kerja miliknya. “Ne, kita akan merayakannya bersama.” Katanya sambil mengacak rambut Jino.

“Saranghae appa.” Kata Jino kemudian berlari untuk menyerahkan tas JongWoon pada BoRam.

-o0o-

13 April 2011

Jino pulang sekolah dan melihat BoRam sedang asik menyiram tanaman di taman depan rumah keluarga Kim.

“Eomma, tadaima!” Kata Jino.

“Kau bicara bahasa Jepang. Tumben.” Kata BoRam.

Jino tersenyum sambil memperlihatkan barisan giginya. “Hanya ingin eomma, tadi di sekolah ada guru baru dari Jepang.” Jawabnya. “Oh iya eomma, jangan lupa ulang tahunku. Aku ingin eomma masak makanan spesial untukku. Aku masuk dulu ya eomma.” Tambahnya kemudian berlari menuju rumahnya.

-o0o-

14 April 2011

Jino memperhatikan BoRam yang sedang memasak untuk makan malam. Tapi lama kemudian dia merasa bosan dan pergi ke ruang tengah. Jino mengambil remote televisi dan menyalakan televisi di hadapannya. Beberapa saat kemudian Jino mengambil telepon rumahnya dan menekan angka-angka yang sangat diingatnya.

“Yoboseyo? SoRa noona.” Kata Jino pada madu kakaknya yang ada di seberang telepon. “Apa SeoRin noona ada? Aku mau bicara hal penting padanya.” Tanyanya kemudian. Jino mengganti-ganti saluran televisi dengan tangan kanan sedang tangan kirinya tetap memegang telepon yang menempel di telinganya. “Noona..!” Seru Jino begitu mendengar SeoRin bicara di telepon. “Tidak ada apa-apa hanya ingin mengingatkan jangan lupa ulang tahunku. Noona harus datang ke rumah.” Katanya kemudian.

Jino masih mengganti-ganti saluran televisi karena belum menemukan saluran yang menarik.

“MWO? Noona jahat! Ulang tahunku itu tanggal 17. Noona cepat ambil spidol dan tandai kalender. Jino tidak ingin noona lupa.” Kata Jino dengan nada merajuk.

-o0o-

15 April 2011

“Aku pulang.”

JongWoon masuk ke dalam rumah disambut oleh BoRam. JongWoon terlihat begitu ceria.

“Waeyo yeobo? Kau tidak cocok senyum-senyum ganjen seperti itu.” Tanya BoRam sambil mengambil tas kerja milik JongWoon.

“Aku cerita setelah makan malam.” Jawab JongWoon.

JongWoon kemudian pergi ke kamarnya, bersiap untuk membersihkan dirinya sedang BoRam menunggu suaminya itu di meja makan bersama Jino.

“Tadaaa..” JongWoon memperlihatkan selembar kertas dengan senyum tak hilang dari wajahnya keluarga Kim itu selesai makan malam.

“Apa itu appa?” Tanya Jino dengan mata terus memandang kertas putih dengan sebagian banyak tulisan berwarna merah.

“Appa dapat undian berhadiah wisata ke Jepang selama tiga hari dua malam.” Kata JongWoon bersemangat.

“OOH….” Kata BoRam dan Jino datar. Keduanya tidak bereaksi seperti yang JongWoon pikirkan.

“Untuk keluarga maksimal empat orang.” Tambah JongWoon.

“JINJJA????” Jino dan BoRam langsung bersemangat seketika.

BoRam mengambil kertas itu, dia dan Jino membaca dengan sangat detail. Bahkan tak ada satu pun tanda baca yang terlewat.

“Tapi kita harus berangkat besok.” Kata JongWoon lagi.

“Yeah! Aku akan merayakan ulang tahun di Jepang!” Kata Jino bersemangat. Dia langsung berdiri di kursinya dan melompat-lompat. Ajaib dia tidak jatuh atau terlihat akan jatuh. Sedang BoRam langsung pergi ke kamar mengambil dua kura-kuranya dan membawanya ke ruang makan.

“Yeobo, Ddangko Brothers boleh ikut kan? Mereka kan tidak bisa dibilang orang, jadi bisa kan?” Tanyanya.

“Molla. Tapi sepertinya dia bisa ikut.” Jawab JongWoon.

BoRam langsung mengangkat kedua kura-kura itu tinggi-tinggi.

Jino kemudian berhenti melompat-lompat. “Appa, itu hadiahnya kan untuk empat orang. Berarti kita bisa pergi bersama noona.” Kata Jino sambil menatap appanya.

“ANDWAE!!!!!” Teriak JongWoon dan BoRam bersamaan begitu mendengar ucapan si magnae.

“Waeyo?” Tanya Jino tidak mengerti.

BoRam mendesah pelan. “Noonamu itu pasti akan menghilang sejak tiba di bandara.” Katanya.

“Dan dia pasti tidak akan mau pulang.” Timpal JongWoon.

BoRam dan JongWoon saling menatap, bicara lewat tatapan mata. Keduanya lalu menoleh ke arah Jino. “Membawa noonamu itu sangat dan terlalu merepotkan karena sifatnya.” Ucap keduanya kompak.

-o0o-

16 April 2011

Keluarga Kim sedang sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk liburan mereka. Sebenarnya tidak banyak yang dibawa, orang liburannya juga hanya tiga hari! Jino membawa semua mainannya yang ‘made in Japan’. Dia ingin tahu harga asli dari mainan-mainannya itu. BoRam membawa beberapa poster Chelsea, rencananya dia akan memajang poster itu di kamar hotel nanti. JongWoon hanya membawa beberapa potong pakaian. Kopernya penuh dengan rumah bongkar pasang Ddangko Brothers.

Tin.. Tiinnn….

“Taksinya sudah datang. Kajja.” Ajak JongWoon.

Kedua anggota Kim yang lain langsung mengekor JongWoon menuju taksi yang sudah menanti mereka di depan.

“Annyeong.” Sapa seseorang begitu BoRam masuk ke kursi belakang.

“KYAAA….” BoRam langsung berteriak.

Si supir taksi yang memang sudah diberi peringatan akan adanya teriakan, santai saja karena telinganya sudah disumpal oleh headset dengan musik yang kencang. Jino dan JongWoon yang sedang memasukkan koper ke bagasi langsung berjalan menuju pintu belakang. Jino dari sebelah kiri, JongWoon dari kanan.

“Wae.. Yo…? WHOAAA….” JongWoon ikut kaget mendapati ada orang di samping BoRam.

“Noona! Kau ikut?” Tanya Jino pada orang itu yang ternyata SeoRin.

SeoRin tersenyum sambil memperlihatkan barisan giginya. “Kekeke…. Pasti. Noona tidak boleh melewatkan hal seperti ini.” Jawabnya.

“Da… Dari mana kau tahu?” Tanya BoRam. BoRam lalu menoleh ke arah Jino. “Kau yang memberitahu dia?” Tanyanya lagi sambil menunjuk SeoRin.

“Anniyo. Aku kemarin nonton iklan yang mengatakan kalau appa mendapat tiket liburan ke Jepang untuk empat orang.” Kata SeoRin.

JongWoon mengernyitkan dahi. “Tak pernah ada iklan tentang undian yang appa menangkan.” Ucapnya.

SeoRin tak peduli dengan yang dikatakan oleh JongWoon. “Kalian kan hanya bertiga, bayi eomma belum bisa dihitung karena belum lahir. Aku yakin kalian tidak akan mengajak SeungHyun samchon apalagi HeeChul samchon. Jadi aku datang saja. Lagipula besok kan ulang tahun Jino aku ingin ikut merayakannya juga.” Terangnya.

Mata Jino langsung berkaca-kaca. “Noona ingat ulang tahunku.” Ucapnya terharu.

“Kami sudah membatalkan tiket yang satu itu.” Kata JongWoon.

“Jangan bohong appa. Di kuis itu kan dijelaskan kalau ada uang belanja dan sebagainya, aku yakin appa pasti tidak ingin membatalkan hadiah tersebut.” Kata SeoRin.

JongWoon mendesah. “Appa tak tahu kamu mengetahui sampai sedetail itu dari mana. Tapi kau tetap tidak boleh ikut.” Kata JongWoon kemudian.

SeoRin murka. “Appa! Kau tidak akan pernah melihat Ddangko brothers kalau kau tidak mengijinkan aku ikut.” Katanya dengan nada mengancam. Entah bagaimana caranya, satu kura-kura yang bernama ddangkomeng sudah ada di tangan SeoRin.

JongWoon terlihat sangat bingung.

“Kau boleh ikut tapi jangan menghilang di bandara dan harus mau ikut pulang. Jangan mengejar Kamiki Ryunosuke, Ryu Nishikido, Kanata Hongo ataupun yang lainnya!” Kata BoRam.

“Ne eomma.”

“Asik! Kim family lengkap.” Seru Jino senang.

-o0o-

Keempat anggota keluarga Kim itu tiba di bandara internasional Narita sekitar pukul satu siang. Mereka langsung disambut oleh seorang guide yang ditugaskan untuk memandu mereka. Sebenarnya bagi keluarga Kim ini bukan pertama kali datang ke Jepang. Mereka dulu sering datang ke negeri Sakura itu. Tapi karena SeoRin sering berulah, Jepang menjadi negara nomor satu yang paling dihindari untuk wisata keluarga. Jino bahkan sama sekali tidak ingat karena terakhir dia berkunjung saat dia baru berusia dua tahun. Intinya keluarga Kim tidak asing lagi dengan Jepang. Mereka bisa berjalan-jalan sendiri tanpa seorang guide. Tapi guide tersebut satu paket dengan hadiah liburan.

“Annyeong, Shin DongHee imnida. Anda bisa memanggil saya ShinDong. Selamat datang di Jepang. Sekarang kita langsung saja menuju hotel dan kalian akan mendapatkan makan siang yang langsung diantarkan ke kamar kalian. Nanti pukul enam sore kita akan pergi ke tempat-tempat yang sudah kami pilihkan.” Kata guide tersebut.

“Konnichiwa ahjusshi.” Sapa Jino. “Besok aku ulang tahun. Jangan lupa ya ahjusshi.” Tambahnya.

SeoRin menepuk pundak Jino. “Memang besok kau ulang tahun?” Tanyanya polos.

Jino langsung menggembungkan kedua pipinya. “Noona! Yang pelupa itu eomma, kenapa jadi noona yang melupakan ulang tahunku? Noona jahat!” Ucapnya marah.

SeoRin nyengir. “Hanya bercanda.” Katanya. “Ahjusshi, nanti setelah istirahat, kita bisa kan pergi menemui Kamiki Ryunosuke?” Tanyanya pada si guide.

“SEORIN..!!!!” Teriak JongWoon dan BoRam.

ShinDong langsung melompat begitu mendengar teriakan keduanya.

SeoRin nyengir tak merasa salah.

Keluarga Kim tersebut kemudian pergi menuju hotel dengan mobil yang disediakan bersama ShinDong.

Hotel tempat mereka menginap adalah hotel bintang tiga yang memiliki fasilitas family room, seperti mini home. Ruangan yang didapat oleh keluarga Kim adalah ruangan dengan dua kamar. Jino satu kamar dengan SeoRin di kamar dengan dua tempat tidur, dan JongWoon satu kamar dengan BoRam pastinya.

-o0o-

“Appa, ireona! Ayo kita pergi jalan-jalan. Sekarang sudah pukul setengah enam.” Kata Jino sambil menggoyangkan tubuh JongWoon. BoRam sudah berada di kamar mandi.

JongWoon membuka kedua matanya yang sipit, dia kemudian menggeliat di atas tempat tidurnya. Tak lama kemudian JongWoon terduduk di atas tempat tidurnya. “SeoRin mana?” Tanya JongWoon.

Jino menggaruk kepalanya. “Tadi pas aku bangun noona sudah tidak ada di manapun.” Jawabnya.

“MWOYA?????” JongWoon langsung bangkit dan berdiri di atas kasur.

“Wae yeobo?” Tanya BoRam yang baru saja keluar dari kamar mandi.

“SeoRin menghilang.” Kata JongWoon.

BoRam menggeleng pelan. “Sudah kuduga akan begini. Sudahlah, biarkan saja. Kita tidak akan bisa menikmati liburan kita kalau mencari anak itu.” Katanya tanpa perasaan dan diamini oleh JongWoon.

Jino hanya diam pasrah.

-o0o-

ShinDong mengajak keluarga Kim untuk pergi.

“JongWoon-ssi SeoRin-ssi eodiga?” Tanya ShinDong begitu sadar keluarga yang akan dipandunya kurang satu orang.

“Dia sedang berpetualang sendiri. Biarkan saja anak itu. Kami yakin kalau dia lapar atau ngantuk dia akan kembali ke hotel.” Jawab JongWoon dan BoRam kompak.

Dalam hati ShinDong merasa takjub dengan kekompakan sepasang suami istri itu.

ShinDong kemudian mengangguk mengerti. “Baiklah.” Katanya. “Kita akan pergi ke tempat wisata paling terkenal di sini, Tokyo Tower. Tapi akan lebih menyenangkan pergi ke sana saat malam hari, kita bisa melihat pemandangan malam yang indah. Jadi sekarang kita akan pergi ke daerah sekitar Tokyo Tower kemudian makan malam di restoran di sana setelah itu baru kita akan mengunjungi Tokyo Tower.” Terang ShinDong panjang lebar.

JongWoon dan BoRam setuju saja begitu melihat putra mereka, Kim JinHo, begitu bersemangat. Yah, liburan kali ini hanya untuk Jino.

-o0o-

Pukul sepuluh malam keluarga Kim sudah kembali ke hotel. Mereka memang tidak berlama-lama di luar karena lelah. Terlebih kandungan BoRam sudah memasuki bulan tua.

“Eomma, apa noona benar-benar tidak akan pulang? Besok ulang tahunku. Apa noona tidak akan merayakan ulang tahun Jino?” Tanya Jino sedih begitu tahu noonanya belum juga kembali ke kamar hotel.

“Kau tenang saja. Noona pasti akan pulang begitu dia lapar dan ngantuk, kecuali kalau ada orang lain yang memberikan dia makanan dan tempat yang lebih baik dari hotel ini.” Kata BoRam sambil mengelus perutnya yang membusung.

“Sudah. Biarkan saja noonamu itu, sekarang kau ke kamar mandi, bersihkan diri lalu tidur. Appa sudah memesan tempat di restoran dekat sini untuk merayakan ulang tahunmu besok.” Tambah JongWoon. Dia mengacak rambut putranya itu.

Jino tetap terlihat murung. Walaupun SeoRin tidak terlalu perhatian padanya, tapi Jino sangat menyukai noonanya itu.

Dddrrrtttttt…..

JongWoon mengambil ponselnya yang bergetar di dalam saku celananya. “Yoboseyo?” JongWoon menyapa si penelepon yang entah siapa.

APPA.. JANGAN LUPA SIAPKAN TEMPAT UNTUKKU YAA…. AKU PASTI TIDAK AKAN MELEWATKAN ACARA MAKAN-MAKAN.. Teriak SeoRin dari seberang telepon.

Suaranya cukup membuat bayi BoRam sempat keluar karena kaget.

Jino langsung mengambil ponsel milik JongWoon, tapi belum sempat dia berkata, sambungan telepon sudah terputus.

-o0o-

17 April 2011

“Appa.. Ayo ke restoran.” Ajak Jino pada JongWoon.

“Yeobo, Ddangko Brothers hilang!” BoRam keluar kamarnya dengan panik.

Ucapan BoRam membuat JongWoon hampir terkena serangan jantung. “JEONGMAL????” JongWoon berusaha meyakinkan diri.

BoRam mengangguk. “Ne, mereka tidak ada di tempatnya. Biasanya kalau mereka mau pergi pasti melapor dulu.” Terang BoRam.

“Appa, ulang tahunku…” Jino menarik ujung baju JongWoon tapi kemudian JongWoon menepisnya.

“Kau cepat panggil polisi! Kirimkan lima pleton pasukan anti huru-hara kemari segera. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Ddangko Brothers.” Perintah JongWoon pada BoRam.

BoRam mengangguk mengerti. Dia kemudian menelepon kepolisian pusat Seoul, melaporkan kejadian yang menimpa mereka. Terang kepolisian pusat Seoul tidak menanggapi laporan BoRam. Pertama, kejadiannya di luar jangkauan. Kedua, kasusnya hanya dua kura-kura yang menghilang. BoRam langsung mendapatkan amukan dari petugas polisi yang menerima laporannya. Tapi kemudian BoRam malah mengamuk balik pada polisi tersebut.

Akhirnya, Jino diam menatap appanya yang berjalan kesana kemari mencari Ddangko Brothers dan menatap eommanya yang terus bertengkar dengan petugas polisi. Jino kemudian mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.

“Ddangkoma, hyung kangen padamu. Andai kau ada di sini, kamu pasti akan menjadi kura-kura pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku.” Ucap Jino sambil menatap foto seekor kura-kura.

Jino jengah melihat orang tuanya mulai bersikap seperti biasanya, heboh. Dia kemudian melangkah keluar. Jino tahu lokasi restoran yang sudah dipesan oleh appanya. Jadi Jino memutuskan untuk pergi ke restoran itu sendiri.

Meja nomor 17. Sesuai dengan tanggal kelahirannya. Begitu Jino duduk di tempat itu, seorang pelayan langsung mendatanginya sambil membawa kue tart tiga tingkat dengan tulisan ‘saengil chukkae Kim JinHo’ di pinggiran kue tingkat kedua.

Jino memandang nanar kue di hadapannya. Dia membayangkan keluarganya menyanyi saengil untuknya. Tak lama kemudian matanya memanas dan dia mulai menangis histeris.

“HUWAAA…. APPA…. EOMMA…. NOONA…. DDANGKO…. SAMCHON…. IMO…. HAELMONI…. HARABOJI….”

Beberapa pengunjung restoran menatap heran Jino. Antara tak mengerti apa yang diucapkan Jino dan aneh karena Jino menangis padahal ada kue tart besar di hadapannya.

Bahkan setelah setengah jam berlalu, Jino tetap sendirian memandang kue di depannya. Jino menangis hingga sesenggukan. Tapi tak ada satu orang pun menghampirinya. Sampai akhirnya Jino merasa lapar. Dia lalu mencolek kue di depannya menggunakan telunjuk, dia mengemut telunjuknya. Dan dia terus melakukan hal yang sama sampai kue itu berkurang cukup banyak.

“Hiks…. Eomma, appa, Ddangko, noona, samchon, imo, haraboji, haelmoni.. Hiks, kuenya enak.” Katanya sambil terus sesenggukan dan tetap melanjutkan mencolek kue di hadapannya.

“Saengil chukkahamnida…. Saengil chukkahamnida…. Saranghaneun uri Kim JinHo…. Saengil chukkahamnida….”

BoRam dan JongWoon menyanyi sambil bertepuk tangan di dekat Jino. Jino menoleh ke arah orang tuanya itu.

“Uu.. Eomma kelewatan ya? Matamu sampai bengkak begini.” Kata BoRam sambil memegang kedua pipi Jino. Dia menatap sayang putranya itu.

“Eomma.. Appa.. Ddangko…” Jino terlihat bingung.

JongWoon mengacak rambut Jino. “Haha.. Mereka ada di kamar. Kami hanya pura-pura kehilangan mereka.” Katanya sambil tersenyum licik.

“Appa! Eomma! Kalian ini sudah tua, kenapa kalian mengerjai aku?” Protes Jino.

JongWoon dan BoRam hanya nyengir mendengar Jino protes.

BoRam lalu memanggil seorang pelayan yang sudah dikontak sebelumnya.

Pelayan itu kemudian membawa mangkuk di atas nampan. Dia lalu meletakkan mangkuk itu di depan Jino. Sup rumput laut terhidang di depan Jino.

“Ulang tahun tidak lengkap tanpa sup rumput laut.” Kata BoRam saat Jino menoleh ke arahnya.

“Eomma memang eomma paling perhatian sepanjang masa!” Seru Jino bahagia. Dia lupa kalau tadi dia kesal karena dikerjai oleh appa dan eommanya itu.

JongWoon kemudian menyerahkan sebuah kado yang sejak tadi dia sembunyikan di balik punggungnya.

Wajah Jino semakin berbinar. Dia benar-benar lupa kalau tadi dia sudah menangis histeris.

“Kado dari HeeChul samchon dan SeungHyun samchon sudah eomma simpan di kamarmu.” Kata BoRam kemudian.

Jino menangguk mengerti.

“Sekarang waktunya acara tiup lilin.”

JongWoon mengambil pematik dari sakunya dan menyalakan lilin dengan angka 7 di atas kue.

“Make a wish.” Kata BoRam begitu Jino hendak meniup lilinnya.

Jino kemudian menutup matanya, setelah itu dia meniup lilinnya.

“Loh kuenya…” BoRam baru sadar kalau kue ulang tahun Jino sudah tidak utuh.

Jino nyengir. “Tadi aku makan karena lapar.” Jawabnya. “Noona mana ya eomma? Kok dia belum ada?” Tanyanya kemudian.

JongWoon dan BoRam langsung mengangkat kedua bahunya bersamaan.

“Kuenya ke pinggirkan dulu. Kita makan sekarang. Nanti jam dua ShinDong akan mengajak kita ke Tokyo Disneyland.” Kata JongWoon.

“AKU DATANG….” SeoRin langsung menghampiri keluarganya dengan wajah sangat cerah. “Waktu makan memang waktu yang paling aku tunggu.” Tambahnya begitu duduk di kursi yang berhadapan dengan Jino. BoRam dan JongWoon tak merespon kedatangan SeoRin. Putrinya yang satu itu kadang memang bisa datang dan pergi tanpa permisi.

“Noona tidak melupakan sesuatu?” Tanya Jino pada SeoRin yang sedang asik melihat daftar menu.

SeoRin menoleh pada Jino. Wajahnya tampak sedang berpikir. “Ah, aku lupa. Aku belum mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah menampungku semalam! Tapi itu bisa nanti sih. Ya, Jino-ya, kau tahu tidak? Dia itu baik dan kaya sekali. Kemarin dia mempertemukan aku dengan Ryunosuke. Aish, aku jadi tidak mau pulang dan ingin tinggal dengannya saja.” Cerita SeoRin panjang lebar.

“NOONA!” Jino kesal. “Hari ini ulang tahunku. Mana ucapan darimu?” Tanyanya.

“Oh. Saengil chukkae Jino-ya.” Kata SeoRin datar.

Jino cemberut.

-o0o-

Epilog

Jino senang ulang tahunnya berjalan tanpa ada rintangan yang berarti. Dia bahagia bisa merayakan ulang tahunnya di negeri sakura bersama keluarga tercintanya.

Jino sangat penasaran dengan hadiah yang diberikan oleh samchon dia. Makanya, begitu acara makan di restoran selesai, Jino langsung pergi ke kamarnya untuk mengambil hadiahnya. Tapi begitu Jino sampai di kamar, dia tidak menemukan hadiah itu di kamarnya. Dia mencari ke setiap sudut tapi tidak ada. Dia juga mencari ke kamar orang tuanya, tapi tetap tak menemukan hadiah itu.

Lalu pikiran Jino langsung tertuju pada satu orang.

Jino langsung pergi lagi ke restoran, menemui keluarganya yang masih di sana, menikmati dessert.

“NOONA! Mana hadiah dari SeungHyun samchon dan HeeChul samchon?” Tanya Jino sambil menadahkan kedua tangannya di depan SeoRin.

SeoRin nyengir begitu Jino menagih kado dari para pamannya itu. “Kau tahu saja noona yang mengambilnya. Hehe… Hadiahnya untuk noona saja ya. Kau tahu kan kalau noona sangat suka samchonduel?” Katanya tanpa dosa.

Jino hanya menghela nafas pasrah.

“Dikerjai appa dan eomma, kado diambil noona. Hhh…. Ddangkoma, bogoshipoyo..” Kata Jino setelah mengambil foto kura-kura yang selalu dia bawa.

-end-

Advertisements

8 responses »

    • itu 12 taun lebih muda, jadi 7 tahun.. lebih bocah lagi, haha
      jujur, awalnya mau dibikin senormal mungkin (buat ukuran orang biasa)
      tapi gak tau kenapa ujungnya tetep aja gitu -_____-
      udah aneh tingkat akut kita..
      gomawo udah baca

  1. Pingback: (SP) Little Birthday Party For Our Hoya « [Kim n Lee Famz]'s Family

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s