(Ficlet) Reunion

Standard

Author : Asuchi

Cast  :

*) Lee Young Ae

*) Wonbin/Kim Do Jin

*) Kim Boram [OC]

Genre : Family, a little Humor, Gaje the most(?)

Disclaimer :

As usual, aku bayar para pemaen epep aku pake cinta /plakk. Kim Do Jin sama Lee Young Ae bukan pasangan di dunia nyata, bukan juga org tua dari Kim Heechul. Ini mah akal2an author yg ngebet jadi anak 2 seleb itu, wkwkwk… kalo gak ada yg tau Kim Do Jin siapa, dia itu yg punya nama panggung Won Bin. Kalo Lee Young Ae, dia yg jadi Jang Geum di drama lupa judul, yg dia jadi tabib cw pertama di Korea..

Note  :

Author bener-bener lagi stress pas bikin ini. pusing gara-gara TA yang bikin otak ngebul /plakk. Jadi mian kalo sangat gaje. kekeke… satu lagi, author lagi kangen berat sama appa sama eomma yg jadi cast (bukan yg asli), maka’a tercipta lah epep ini. bayangin lagi meluk Do Jin appa /plakplakplakk

Reunion

“Yoboseyo?”

“HUWEEE…. EOMMAAAA….”

“Ya! Boram-ah, waeyo?”

“EOMMAAA….”

-o0o-

Lee Young Ae yang panik langsung menekan speed dial 1 di ponselnya. Dia mendengarkan nada sambung di telinganya, menunggu nada sambung itu berhenti dan orang yang ditujunya menjawab teleponnya.

“Yoboseyo, yeobo aku minta ijin untuk pergi ke Seoul sekarang juga. Aku mau menemui Boram.” Katanya cepat pada Suaminya, Kim Do Jin.

“….”

“Mollaso. Tapi tadi dia menangis histeris. Aku khawatir terjadi apa-apa padanya. Kau tahu kan kalau Heechul sekarang sedang sangat sibuk? Aku tak bisa memintanya untuk mendatangi Boram. Jadi aku ingin pergi ke sana langsung untuk memastikan kalau Boram baik-baik saja.” Terang Young Ae. “Boleh ya? Aku akan pergi jika kau mengijinkannya?” Tambahnya.

“….”

“Ah, gomawo yeobo. Nanti kalau kau mau menyusul bilang saja. Aku akan siapkan makan malam untukmu, nanti kau tinggal panaskan saja. Annyeong.”

Young Ae langsung menutup sambungan teleponnya. Dia kemudian pergi ke dapur, memasakkan makanan untuk suaminya nanti. Dia bergerak cepat karena ingin segera pergi ke Seoul, tempat putrinya berada.

Sejak telepon Boram tadi pagi, Young Ae selalu mendengar Boram menangis di telepon. Setiap dia tanya ada apa, hanya isakan yang keluar dari pita suara Boram. Young Ae sangat cemas  dengan keadaan Boram yang tidak jelas. Kakak Boram, Heechul, tak bisa dimintai tolong karena dia sedang sangat sibuk dengan boybandnya. Sepupu Boram, Seunghyun, juga tak bisa dimintai tolong karena sedang berada di Jepang. Satu-satunya cara agar Young Ae merasa tenang adalah menemui Boram secara langsung.

Begitu selesai dengan masakannya, Young Ae langsung pergi ke kamarnya. Dia memasukkan beberapa potong pakaiannya ke dalam tas. Untuk mengantisipasi kalau-kalau dia harus menginap lama di Seoul.

Selesai dengan persiapannya, Young Ae langsung menuju garasi tempat mobilnya berada. Tapi kemudian dia kembali ke kamarnya karena kunci mobilnya tertinggal.

“Tenang. Kau harus tenang. Kau harus selamat sampai tujuan.” Kata Young Ae pada dirinya sendiri begitu sadar kalau dia terlalu panik.

Young Ae kemudian mengambil ponselnya, mengetikkan beberapa baris kata di pesan yang akan dikirimnya pada suaminya. Memberi tahu kalau dia sudah akan berangkat.

Begitu dia merasa dia mulai tenang, Young Ae menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya itu menuju jalan.

Jarak Wonju dan Seoul terpaut cukup jauh. Tapi Young Ae berusaha mengemudikan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Dia selalu mengingatkan dirinya untuk tetap tenang dan berusaha untuk selamat sampai tujuan.

Young Ae sampai di kota Seoul sekitar pukul tujuh malam. Tapi dia memerlukan waktu setengah jam lagi untuk sampai di apartemen tempat putrinya tinggal.

-o0o-

“Hiks…. Hiks….”

Boram melemparkan tisu yang sudah basah ke sembarang tempat. Dia sedang duduk di depan netbooknya. Memandang miris layar monitor netbooknya itu. Di sekitarnya berserakan tisu yang basah maupun yang tadinya basah. Sudah sejak pagi dia menangis. Dan sudah sejak pagi pula dia tidak beranjak dari tempatnya duduk.

Tiittt….

Bel apartemen Boram berbunyi. Boram mendengarnya tapi dia pura-pura tidak mendengar. Dia tidak punya tenaga, tepatnya niat, untuk beranjak dari tempatnya duduk.

Ttiiittt….

Bel itu berbunyi lagi.

Dengan perasaan enggan kali ini Boram bangun dan menghampiri pintu. Dia menekan tombol di interphone dekat pintu. “Nuguya?” Tanya Boram sedikit lemas.

“Ini eomma.”

Mendengar kata ‘eomma’, Boram langsung membuka pintunya. Matanya yang baru saja kering kini kembali memproduksi air lagi.

“Eommaaaa….” Boram langsung menghambur ke pelukan eommanya itu.

Young Ae yang tidak siap menerima serangan, mundur dua langkah begitu tubuh Boram menubruknya. “Kita masuk dulu ya sayang.” Ajak Young Ae pada Boram yang mulai terisak lagi di pelukannya.

Boram mengangguk kemudian melepaskan pelukannya. Keduanya lalu masuk ke dalam apartemen.

Young Ae pergi ke dapur setelah meletakkan tasnya di samping rak sepatu. Dia membawakan segelas air minum untuk putrinya. “Jelaskan pada eomma ada apa.” Pinta Young Ae lembut setelah melihat Boram menghabiskan minuman yang disodorkannya.

“Aku stress eomma. Deadline tugasku sebentar lagi dan aku tak yakin bisa menyelesaikannya tepat waktu. Huwaa…. Ini kali pertama aku seperti ini. Eomma ottohke? Aku tak ingin kalau aku sampai tidak lulus. Huwee….” Terang Boram yang detik berikutnyamulai kembali histeris.

Young Ae hanya bisa membuka lebar mulutnya mendengar keterangan Boram. jauh-jauh dia datang dari Wonju ke Seoul hanya untuk masalah seperti itu? Sia-sia Young Ae panik setengah mati dan meninggalkan Do Jin di rumah.

Tiiitttt….

Young Ae yang mulai sadar langsung pergi menuju pintu meninggalkan Boram yang masih menangis LAGI. Melihat siapa yang datang.

“Yeobo, ada apa dengan Boram?” Tanya Do Jin dengan wajah panik.

Young Ae langsung menubruk tubuh Do Jin, menangis di dada suaminya itu. “Huhu…. Aku tak tahu mengapa bisa aku melahirkan anak seperti Boram.” Curhat Young Ae dibarengi air mata yang keluar dari matanya. Young Ae mengusap air matanya dengan ibu jarinya.

“Waeyo?” Tanya Do Jin tidak mengerti.

“Putrimu itu menangis hanya karena tugasnya belum selesai. Dia bukannya mengerjakan tugasnya, malah terus saja menangis. Membuatku berpikir yang macama-macam. Huhu….” Jelas Young Ae.

Do Jin mendadak lemas mendengar penjelasan Young Ae. Sama seperti istrinya, sia-sia dia panik dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh agar bisa segera sampai ke Seoul. Dia bahkan sampai membatalkan meeting dengan relasinya.

Do Jin kemudian mengelus lembut rambut Young Ae, menenangkan istrinya itu. Setelah Young Ae berhenti menangis, mereka lalu menemui Boram.

“APPAAAA….” Boram berhambur ke dada Do Jin begitu melihat sosok appanya itu.

Do Jin yang mulanya geram, tak bisa berbuat apa-apa begitu merasakan kemejanya basah. Boram benar-benar menangis. Akhirnya kepalan tangannya yang awalnya akan dia gunakan untuk menjitak kepala Boram direntangkan dan dia mulai mengelus lembut kepala putrinya itu.

“Uljima….” Kata Do Jin lembut. “Sekarang kau kerjakan tugasmu. Appa dan eomma ada di sini untuk mendukungmu.” Tambahnya.

Boram mengangguk dalam pelukan Do Jin dia kemudian menyeka air matanya dan menghampiri netbooknya. Jari-jarinya sudah berada di atas keyboard. “Huwaaa….”

“Apa lagi?” Tanya Do Jin.

“Aku tak tahu harus bagaimana….” Kata Boram sambil kembali menangis.

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s