(Oneshot) Love in Train

Standard

Cast :

*) Lee Jaejin [FT Island]

*) Kang Rae Woo [OC]

Genre : Romance

Rate : G, Teen Age

Disclaimer : Jaejin itu anak saia, tidak dapat diganggu gugat!!! /plakkk. Aku bayar yg maen di ff aku  pake cintaaa…. based of true story’a author :p tapi kisah asli’a di bis, bukan kereta ^^

Note : Hahaha… aku datang lagi bawa epep anak aku, si JeJe… jarak Wonju sama Seoul emang cukup jauh, tapi aku gak tau tepatnya makan waktu berapa lama buat sampe sana pake kereta, karena ini fiksi, anggap waktu di ep2 ini emang bener *author males nyari tau dulu*happy reading ^^

Aku menatap melalui jendela pemandangan sepanjang jalan yang terlihat mataku. Aku sedang berada di dalam kereta yang mengantarkanku ke Wonju. Tangan kiriku menopang daguku. Perjalanan dari Seoul ke Wonju bukan perjalanan yang lama, tapi bukan juga perjalanan yang singkat. Aku harus memanfaatkan kesempatan yang jarang sekali aku dapatkan ini.

Kereta lalu berhenti di stasiun, tapi bukan stasiun tujuanku. Ini baru stasiun pertama setelah aku naik, dan masih di daerah Seoul. Perjalananku masih sekitar enam jam lagi.

“Annyeong haseyo.”

Aku mendengar suara sapaan seseorang di belakangku, walaupun mungkin itu tidak ditujukan padaku, aku menoleh untuk melihat siapa dia.

Seulas senyuman manis menyambutku begitu aku melihat siapa yang menyapa itu. Refleks aku juga menyunggingkan sebuah senyuman karena dia, orang yang tadi menyapa, ternyata menyapaku.

“Bolehkah saya duduk di sini?” Tanyanya padaku dengan nada sopan.

Aku menoleh ke kanan dan kiri, kereta yang aku tumpangi memang cukup penuh, dan ada satu kursi di sampingku yang kosong. Aku mengangguk mengijinkan.

“Mian, hajiman…” katanya menggantung. Orang itu menunjuk kursi kosong yan ternyata ada tas tanganku di sana.

“Mianhae.” Ucapku sambil mengambil tas itu dan menyimpannya di atas pahaku.

“Gwenchana.” Ucapnya kemudian duduk di sampingku.

Aku kembali menoleh ke luar jendela, melihat orang berlalu lalang di samping kereta.

“Emm….”

Aku menoleh pada orang di sampingku. “De?” Tanyaku begitu tahu dia terlihat ingin mengatakan sesuatu.

“Anda mau pergi kemana?” Tanyanya.

“Wonju.” Jawabku pendek.

Dia membulatkan matanya. “Jinjja? Kalau begitu kita sama. Aku juga mau kesana.” Katanya.

“Aa ye. Kalau begitu kita akan jadi teman seperjalanan lima jam ke depan.”Kataku kaku. Jujur aku tidak terbiasa berbincang dengan orang yang belum aku kenal.

“Choneun Lee Jaejin imnida, bangapseumnida.”Ucapnya mengenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

Mau tidak mau aku menyambut uluran tangannya dan menyebutkan namaku, “Kang Rae Woo imnida.”

Melihat dari sikap Jaejin, aku rasa dia namja yang baik. Aku mulai terbiasa dengannya karena dia pandai berbicara. Mulanya dia selalu bertanya padaku yang selalu aku jawab dengan kaku. Tapi lama kemudian semuanya mengalir begitu saja. Kami, tepatnya Jaejin, selalu menemukan topik pembicaraan sehingga kami berdua tidak pernah diam.

“Bagaimana kalau kita tidak perlu berbicara formal? Aku sebenarnya agak susah berbicara formal seperti ini.” Tanya Jaejin sekitar satu jam kemudian. Kami berdua memang berbincang dengan bahasa formal.

“Ne Jaejin-ssi.” Balasku. “Mian, Jaejin…….” Aku menggantungkan ucapanku karena bingung harus memanggilnya apa, aku tidak tahu apakah dia lebih muda dariku atau lebih tua.

“Oppa.” Kata Jaejin kemudian. “Kau bilang tadi kalau sekarang masih pelajar. Aku mahasiswa.” Terangnnya.

Aku berjengit mendengar keterangannya. “Ne? Kau terlihat seumuran denganku Jaejin-ssi.” Kataku. “Mian, Jaejin op… pa.” Ralatku kemudian.

Jaejin oppa tertawa mendengar penuturanku. “Aku memang awet muda.” Ucapnya dengan tampang penuh percaya diri. “Tepatnya terlihat seperti bocah.” Tambahnya dengan nada sedikit merajuk.

Aku tersenyum menanggapi ucapannya. Dia orang yang ramah, menyenangkan dan sedikit konyol.

Dua jam berlalu tanpa terasa.

“Kereta di stasiun selanjutnya akan berhenti setengah jam. Apa kau mau pergi keluar sebentar? Kita nikmati udara luar. Kau akan senang dengan pemandangan nanti.” Tawar Jaejin oppa.

Aku memang belum pernah pergi ke Wonju. Jadi aku tidak tahu mengenai jalan menuju sana.

Aku ragu. Walaupun Jaejin oppa memang terlihat namja yang baik, tapi aku tetap harus waspada. Kakakku selalu mengatakan kalau namja itu sering bermuka dua. Manis di depan, tapi punya maksud jahat di belakang.

Jaejin oppa sepertinya sadar dengan keraguanku. “Kita hanya keluar sebentar, menikmati pemandangannya langsung lalu kembali ke kereta. Dan kalau kau tidak mau, aku tidak akan memaksa.” Katanya sambil tersenyum.

‘Apa Jaejin oppa tahu kalau senyumannya itu sangat manis?’

Ups, apa yang aku pikirkan?

Aku mengangguk. “Baiklah oppa. Aku jadi penasaran semenarik apa pemandangan nanti.” Jawabku kemudian.

Jaejin oppa tersenyum lagi, senang.

-o0o-

“WOAAHH…….” Aku terpana melihat pemandangan di hadapanku.

Di hadapanku terhampar sawah yang sangat luas. Entah berapa kilometer luasnya, tapi yang pasti sangat sangat luas. Aku tidak menyadari bahwa selama perjalanan tadi ada pemandangan seperti ini. Jaejin oppa selalu mengajakku berbicara, membuatku memusatkan perhatianku padanya.

Buru-buru aku mengambil ponselku dan mengambil pemandangan yang jarang sekali aku lihat.

“Kau terlihat begitu senang.” Ucap Jaejin oppa di belakangku saat aku memotret orang-orang yang sedang berada di sawah.

“Aku sangat suka pemandangan yang alami seperti ini oppa. Kalau di Seoul, aku hanya menemukan gedung-gedung tinggi. Aku sangat jarang menemukan pemandangan yang seindah ini.” Jawabku antusias kemudian kembali mencari objek foto.

“Kau tidak ingin dipotret?” Tanya Jaejin oppa. Dia kini berdiri di sampingku.

Aku berpikir. “Err… aku tidak fotogenik oppa.” Jawabku sedikit malu. Aku lebih senang memotret daripada di potret.

Jaejin oppa tertawa mendengar jawabanku. “Kau tidak sadar kalau kau itu manis? Kau cukup tersenyum, dan aku yakin hasil fotonya pasti bagus.” Ucapnya.

Oke, aku yakin pipiku bersemu merah sekarang karena aku merasa panas pada wajahku. “Kau terlalu memuji oppa.” Ucapku masih tetap tidak percaya diri.

Aku lalu kembali menoleh, mencari lagi objek fotoku.

“Rae-ya!”

Aku menoleh lagi karena Jaejin oppa memanggilku.

Klikk…

Jaejin oppa mengarahkan kamera ponselnya padaku, dan tanpa ijin memotretku.

Aku langsung menghampirinya. “Oppa, apa yang kau lakukan?” Tanyaku sambil berusaha untuk mengambil ponsel di tangannya.

Jaejin oppa berusaha menghindariku, dan sebaliknya, dia malah mengambil ponselku. Dengan sambil terus menghindariku, dia mengotak-atik ponselku. Tak lama dia berhenti dan menyerahkan ponselku.

“Lihatlah. Aku tidak salah. Kau benar-benar manis.” Ucapnya begitu aku melihat layar ponselku yang terpampang hasil jepretan kamera Jaejin oppa tadi.

Aku diam. Memperhatikan raut wajahku yang terlihat aneh karena dipotret tanpa pemberitahuan. Aku kembali mendongak, melihat Jaejin oppa yang sedang mengarahkan ponselnya LAGI padaku.

Klikk…

“Oppaaa….” Aku merajuk.

Namja di hadapanku itu benar-benar jail.

#annyeongiran malhamyeon dagawatda sarangiran…. #

Aku melihat ponselku, satu MMS masuk ke dalam ponselku. Aku membukanya. Sebuah fotoku yang baru saja Jaejin oppa ambil sudah berpindah ke ponselku.

“Oppa kapan mencuri nomor ponselku?” Tanyaku sambil menatap tajam Jaejin oppa.

Cengiran terlukis di wajah Jaejin oppa mendengar pertanyaanku. “Barusan.” Jawabnya enteng, tak ada rasa bersalah padanya padahal aku sudah menggunakan kata ‘mencuri’. “Kau lihat kan? Hasil fotonya bagus. Kau tidak perlu merasa tidak percaya diri. Sudah aku katakan, kau itu manis.” Ucapnya kemudian.

Lagi-lagi aku merasa wajahku panas.

“Baiklah oppa, tapi hanya satu foto.” Kataku kemudian.

Jaejin oppa tersenyum senang. “Kau berdiri di sana. Pemandangan di belakangnya sangat bagus.” Seru Jaejin oppa sambil menunjuk sebuah tempat.

Aku mengangguk lalu berjalan menuju tempat yang ditunjuk Jaejin oppa. dengan sedikit malu, aku tersenyum pada kamera ponsel Jaejin oppa yang sudah mengarah padaku. Tatapanku kemudian  beralih pada Jaejin oppa. Aku tersenyum sambil menatapnya, mengingat hal-hal yang terjadi bersamanya beberapa jam yang lalu.

Aku terus tersenyum sampai suara ponsel Jaejin oppa menyadarkanku. Pipiku kembali malu karena sadar aku terlalu memperhatikan Jaejin oppa. Untung dia tidak sadar karena dia fokus pada layar ponselna untuk mengambil fotoku.

“Oppa.” Panggilku sambil berjalan menghampirinya. “Bolehkah aku memotretmu?” Tanyaku. Entah mengapa aku ingin mengabadikan sosoknya.

Jaejin oppa menggeleng. “Anni.” Katanya. Aku menaikkan alisku. “Aku mau asal kita foto berdua. Aku tidak suka dipotret sendirian.” Ucapnya.

Aku memajukan bibirku. Merengut. “Kau curang oppa.” Ucapku dengan nada merajuk.

Jaejin oppa tidak berkata apa-apa. Dia malah terus mengotak-atik ponselnya. Lalu terbesit di pikiranku untuk membalas dendam. Aku mematikan suara ponselku. Lalu memotret Jaejin oppa berkali-kali tanpa dia tahu.

Aku tersenyum puas begitu sudah mendapatkan banyak fotonya, walaupun ekspresi dan posisinya hampir sama semua. Aku kembali menoleh ke arah persawahan, mencari lagi objek foto karena Jaejin oppa sepertinya masih sibuk dengan ponselnya.

Sebuah tangan menarik pergelangan tanganku saat aku masih mengarahkan ponselku pada objek foto di hadapanku. Aku tersentak karena kaget. Beruntung tangan yang menarikku bukan tangan yang sedang memegang ponselku. Aku menoleh, Jaejin oppa.

“Kajja! Keretanya sebentar lagi berangkat.” Ucapnya.

Dia mengajakku berlari karena posisi kami memang agak sedikit jauh dari kereta, meski masih berada di area stasiun.

“Haaahhh…. Haahhhh….” Aku berusaha mengatur nafasku begitu sampai di dalam kereta. telat beberapa detik saja, aku yakin aku pasti akan ketinggalan keretanya. Aku melihat Jaejin oppa di sampingku juga melakukan hal yang sama.

Kita saling berpandangan kemudian tertawa.

“Hahaha…. Hampir saja kita terlambat.” Kata Jaejin oppa sambil sedikit terengah.

Aku mengangguk menyetujui. “Ne oppa. aku tak tahu bagaimana jadinya kalau kita terlambat. Terjebak di tempat tadi.” Balasku.

Kami kemudian kembali menuju tempat duduk kami. Jaejin oppa menyodorkan botol air mineral padaku setelah kami duduk. Aku mengambilnya, membuka penutupnya lalu meneguk air itu tiga kali dan mengembalikan botol itu pada Jaejin oppa setelah aku memasang penutupnya. Jaejin oppa membuka penutupnya lagi kemudian meminumnya hingga tersisa setengah.

“Menyenangkan?” Tanyanya sambil mengerling nakal.

Aku tersenyum lalu mengangguk. “Gomawo oppa.” Ucapku.

“Satu setengah jam lagi kita akan berpisah.” Kata Jaejin oppa kemudian. “Satu setengah jam lagi aku harus turun.” Katanya. “Aku tidak turun  di stasiun yang sama denganmu.” Tambahnya.

Entah kenapa, aku merasa sedikit sedih mendengarnya. “Kita bisa bertemu lagi kan nanti?” Tanyaku.

“Kalau kau mau, tentu.” Jawabnya.

Aku tersenyum. Lega mendengar jawabannya barusan. “Aku lelah oppa, boleh aku tidur sebentar? Tapi tolong bangunkan aku di stasiun berikutnya. Aku hanya ingin tidur sejenak.” Kataku.

Jaejin oppa mengangguk. “Tidur lah. Aku akan membangunkanmu setengah jam lagi.” Ucapnya.

Aku menempelkan kepalaku pada jendela kereta lalu mulai menutup mata.

“Rae-ya, ireona.”

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Kepalaku masih sedikit berat tapi aku sudah sepenuhnya bangun. Aku baru menyadari posisiku. Kepalaku kini berada di pundak Jaejin oppa. Begitu sadar, aku langsung mengangkat kepalaku. “Mian.” Ucapku cepat.

“Kau pusing?” Tanya Jaejin oppa mengacuhkan permintaan maafku.

Aku menggeleng. “Kepalaku sedikit berat. Tapi tak apa. Aku ijin ke toilet oppa.”Kataku kemudian beranjak dari tempat dudukku dan pergi ke toilet untuk membersihkan diri.

“Sebentar lagi aku turun.” Kata Jaejin oppa begitu aku kembali dari toilet dengan wajah yang lebih segar.

Aku menaikkan alisku. “Bukannya satu jam lagi?” Tanyaku bingung.

Jaejin oppa membiarkan aku duduk di tempatku sebelum  dia bicara. “Kau tadi tidur sangat lelap. Aku tidak berani membangunkanmu, jadi aku membiarkanmu tidur lebih lama.” Jawabnya. “Ekspresimu saat tidur sangat lucu Rae-ya.” Ucapnya.

Buru-buru aku memegang pipiku, menutup rona merah yang lagi-lagi muncul di pipiku itu. Aku bahkan menutup wajahku, malu.

Jaejin oppa mengacak rambutku. “Jangan malu begitu, kau benar-benar manis.” Katanya yang justru membuat wajahku makin panas.

Tapi kemudian aku ingat. Aku menoleh pada Jaejin oppa. “Berapa lama lagi stasiun tempat oppa turun?” Tanyaku.

Dia melihat keluar, memperhatikan jalanan dan seperti sedang mengukur waktu. “Sekitar dua puluh menit lagi.” Jawabnya kemudian.

Aku mengangguk mengerti. Aku diam. Menghela nafas panjang dan menghembuskannya cepat. Aku merasa sedikit sedih karena akan segera berpisah dengan namja yang baru aku kenal lima setengah jam yang lalu itu.

“Kau masih tertarik dengan fotoku?” Tanya Jaejin oppa membuat aku mengalihkan perhatianku padanya.

“De?” Tanyaku.

Jaejin oppa mengulang pertanyaannya.

“Bolehkah?” Tanyaku balik.

“Tapi seperti yang sudah aku bilang. Aku tidak suka difoto sendirian.” Katanya.

Aku memeletkan lidah. “Bilang saja kalau oppa mau berfoto denganku.” Ejekku. Pipiku lagi-lagi terasa panas setelah mengatakannya. Aku jadi ragu wajahku ini normal.

“Kalau iya kenapa?” Tanyanya.

“DE?” Aku menyangka dengan apa yang diucapkan Jaejin oppa barusan.

“Kau manis, jadi aku ingin berfoto denganmu.” Kata Jaejin oppa.

Aku yakin wajahku sangat merah sekarang, karena aku merasa wajahku sangat panas, seolah aku sedang berada di ruangan sauna dengan suhu 400 Celcius.

“Tapi itu juga kalau boleh, aku tidak akan memaksamu.” Ucap Jaejin oppa.

Aku menoleh padanya kemudian mengangguk.

Jaejin oppa terlihat senang. Dia kemudian mengambil ponselnya yang dia simpan di dalam saku celananya.

Kami berdua lalu berpose di depan kamera. Aku berusaha memberikan senyum terbaikku.

Jaejin oppa menarik tangannya, dia membuka foto yang baru saja diambilnya. “Sudah kubilang kalau kau ini memang manis.” Komentarnya sambil memperlihatkan hasil foto kami.

Jaejin oppa benar-benar membuatku melayang dengan pujian yang terus saja dia lontarkan padaku, tapi karena itu, aku merasa sedikit percaya diri. Aku lalu mengambil ponselku, lalu mengarahkan kamera ponselku itu pada kami.

“Oppa ayo berfoto lagi.” Ajakku pada Jaejin oppa.

Jaejin oppa tersenyum sebelum kemudian berpose.

Kami berdua terus berselca. Jaejin oppa berbohong soal dia tidak suka berfoto sendiri, dia malah sering bepose narsis begitu aku mengarahkan kamera ponselku padanya. Dan aku tidak malu-malu lagi saat dipotret. Tapi kebanyakan Jaejin oppa memamerkan ekspresi konyolnya. Entah ada berapa foto yang sudah kami ambil. Yang pasti suara dari speaker di dalam kereta menyadarkan kami.

Stasiun tempat Jaejin oppa turun sebentar lagi.

“Apa kita bisa bertemu saat di Wonju?” Tanyaku pada Jaejin oppa yang sedang menyampirkan ranselnya di pundaknya.

“Aku rasa tidak. Kau tahu kan aku ke Wonju untuk menjemput dongsaengku? Jino bilang dia merindukan noona dan eomma, jadi kami akan kembali ke Seoul besok.” Jawabnya.

Aku sedikit  kecewa mendengarnya. Tapi aku berusaha untuk tidak memperlihatkan kekecewaanku.

“Kau bisa hubungi aku kalau sudah kembali ke Seoul. Kita bisa bertemu di sana.” Katanya kemudian.

Aku tersenyum lalu menganguk.

“Kalau begitu, aku turun duluan. Annyeong.” Katanya lalu berdiri dari duduknya karena kereta memang  sudah berhenti.

Aku ikut bangun dan berjalan menyusulnya. “Aku ingin mengantar oppa.” Ucapku padanya. Jaejin oppa hanya tersenyum menanggapi ucapanku.

Jaejin oppa membiarkan orang lain yang  juga akan turun, turun lebih dahulu. Dia turun dari kereta paling terakhir, di pintu tempat kami berada tentunya.

Aku berdiri di depan pintu, tetap berada di jarak aman karena pintu akan menutup otomatis sebentar lagi. Aku menatapnya terus, dia juga melakukan hal yang sama. Aku merasa tidak rela harus berpisah dengannya.

“Johae.” Ucapnya sebelum pintu kereta kertutup.

Aku menatapnya sambil membulatkan mataku. Jaejin oppa tersenyum nakal. Kereta mulai berjalan, menjauhkan aku dengan Jaejin oppa.

#annyeongiran malhamyeon dagawatda …#

from : unknown

aku tidak bohong, aku menyukaimu walau kita hanya bertemu sebentar. aku berharap perasaan ini bukan rasa suka yang datang sekilas, aku harap aku benar-benar menyukaimu lebih.

ps : aku benar-benar menyukai ekspresi tidurmu.

Aku tersenyum membaca isi pesan yang ada di ponselku. Walaupun aku belum menyimpan nomor ponselnya, aku tahu jelas siapa pengirim pesan ini. Tapi aku langsung memajukan bibirku begitu melihat foto tidurku yang Jaejin oppa ambil diam-diam.

“Kenapa dia sangat suka mencuri fotoku sih?” Keluhku sambil tersenyum. Aku kemudian membalas pesannya sambil berjalan menuju tempat dudukku. Tentu saja aku terus tersenyum sepanjang sisa perjalananku karena Jaejin oppa menemaniku lewat ponsel.

-end-

Advertisements

6 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s