(Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy

Standard

Cast :

*) Lee Jaerin, Jaejin’s twin –OC-

*) Oh Won Bin

Genre :  AU, niat Romance tapi liat tar, humor aneh, aneh, gak lucu, gak berkelas bertebaran dimana-mana

Rate : G

Disclaimer : As usual, aku bayar para pemaen yg maen di ep2 aku pake cinta, kecuali para OC J

A/n : Aku belom kenal bener ma WonBin, jadi anggep aja dia emang penyanyi dari FnC tapi beda karakter sama asli’a, haha /plakk… piku ancur, mian.. aku gak bakat ngedit poto *nyengir siwon*. awalnya pengen bikin yg normal, taunya malah jadi ‘normal’. Maklumin yaa…


Saat ini aku sedang berdiri di dalam sebuah ballroom. Sebagian banyak dinding ballroom ini dipenuhi oleh poster seseorang, orang yang mengadakan sebuah konser mini. Orang yang menjadi bintang panggung dan jadi alasan utama aku berada di sini.

Sebenarnya aku di sini bukan sepenuhnya karena dia. Aku berada di sini karena seseorang yang sedang berdiri di sampingku. Orang yang memaksaku berada di tempat ini, untuk menemaninya.

“Rin-a, aku tidak sabar menanti Won Bin oppa keluar.” Ujar Hyora, si pelaku pemaksaan itu.

Aku menolehkan kepalaku pada temanku itu, dari samping aku bisa melihat dengan jelas binar matanya. Hyora tidak pernah sekalipun mengalihkan pandangannya dari pintu di samping panggung yang rencananya akan menjadi tempat keluar idola pujaannya itu.

Oh Won Bin, penyanyi tampan yang dipuja banyak kaum hawa karena wajah tampannya. Tapi lebih dari itu, suara lembutnya mampu membuai siapapun. Orangnya sangat pandai memainkan alat musik dan dia juga cerdas untuk membuat lagu. Oh Won Bin sangat menyukai olahraga, terlihat dari proporsi tubuhnya yang terbentuk sempurna. Banyak yeoja yang berandai bisa menyentuh tubuh indahnya itu. Oh Won Bin, benar-benar namja tanpa cela.

Kenapa aku terlihat hafal tentang itu semua? Tentu saja Hyora-lah jawabannya. Bagaimana aku tidak bisa tahu kalau setiap saat dia selalu mengoceh tentang namja itu? Walaupun aku berusaha untuk mengacuhkannya, tetap saja telingaku ini bisa mendengar dan otakku mengingat apa yang didengar oleh telingaku.

Hyora sangat fanatik terhadap Oh Won Bin. Tas, baju, aksesoris, selimut, sprai dan yang lainnya semuanya berbau Oh Won Bin. Bertemu dengan Hyora bisa dikatakan aku bertemu dengan Oh Won Bin. Ya! Karena selalu saja minimal satu barang yang melekat di tubuhnya ada sosok Oh Won Bin. Bahkan saat kami mengikuti sebuah pesta yang cukup formal, Hyora mengenakan kalung dengan foto Oh Won Bin sebagai liontinnya.

Kenapa aku memanggil seorang Oh Won Bin dengan nama lengkap? Karena kakekku juga memiliki nama yang sama dengannya, Won Bin. Rasanya aneh memanggil namanya saja. yang terpikirkan oleh otakku adalah wajah tampan kakekku itu -_____________-.

Eits, sebentar. Apa aku terkesan tidak menyukai seorang Oh Won Bin? Jangan salah. Aku juga ada perasaan suka padanya, selalu bersama dengan orang yang selalu menceritakan tentang idolanya membuatmu menjadi penasaran kan?

Itu lah yang aku alami.

Selalu direcoki semua tentang Oh Won Bin membuat aku penasaran pada sosoknya. Ya, Hyora terang menjadi seorang objektif saat menilai Oh Won Bin. Aku cukup kenyang mendengar kesempurnaan namja itu. Makanya aku suka mencari tahu sendiri, tanpa sepengetahuan Hyora, mengenai sosok Oh Won Bin. Tepatnya aku mencari tahu kekurangan yang dimiliki namja yang mampu membuat Hyora rela menolak dua puluh tujuh namja yang menyatakan cinta padanya dengan alasan menunggu Oh Won Bin yang menyatakan cinta.

Dan begitulah, aku kemudian menyukai namja yang bahkan tak ada satu orangpun akan menyangkanya. Bahkan Hyora mencapku sebagai ‘orang yang tidak mungkin menyukai Oh Won Bin’. Jadi saat aku bertanya mengenai Oh Won Bin, Hyora sama sekali tidak curiga padaku.

Alasan Hyora mencapku  seperti itu karena memang pada kenyataannya aku lebih menyukai namja dengan predikat ‘imut’ atau ‘lucu’, bukan namja yang terkesan keren atau tampan atau maskulin. Dari dulu aku sangat menyukai sosok Minhwan, keponakanku atau Jaejin, kembaranku juga Jino, adikku. Ketiga anggota keluargaku itu sangat sangat sangat imut. Meski Jaejin adalah replika dari diriku sendiri, aku selalu mengagumi wajahnya yang terlihat minta dicubit setiap berada di dekatku. Apalagi Minhwan, dia sangat lucu >,<.

Kembali pada Oh Won Bin. Aku…

Oh tidak! Aku harus menghentikan dulu ceritaku. Dia sudah keluar.

Aku dan Hyora langsung berhambur ke depan. Tanganku terus ditarik oleh Hyora agar kami bisa mendapatkan posisi yang pas. Kami berdua berdesakan dengan para The Way, fandom untuk Oh Won Bin, yang lain.

“KYAAA…… WON BIN OPPA!!!!!” Teriak hampir semua yeoja yang ada di dalam ballroom, tentu aku tidak termasuk di dalamnya.

Beruntung aku sudah terbiasa dengan teriakan-teriakan karena memiliki keluarga yang tidak pernah jauh dari berteriak. Boram eomma sering berteriak tengah malam saat menonton bola. Bahkan kamarku yang letaknya sangat jauh dengan kamarnya bisa mendengar teriakannya itu. Seorin eonni sering beradu mulut dengan Yesung appa, dan mereka selalu berteriak saat beradu mulut tersebut. Hyunri, putri sulung dari Seorin eonni terlahir sebagai seorang yang tidak bisa bicara pelan. Jadi kalau aku berada di dekatnya, seolah aku berada di samping speaker di tempat konser yang sedang berlangsung. Dan master dari segala master, orang yang membuatku sangat sangat terbiasa dengan teriakan adalah samchonku tercinta, Heechul samchon. Suaranya sangat memekakan telinga. Bahkan walaupun kau menutup telingamu rapat-rapat, kau masih bisa mendengar suara Heechul samchon dengan jelas dan keras.

Baik! Aku harus menghentikan ceritaku tentang keluarga ‘aneh’ku. Karena kalau tidak, aku pasti akan menceritakan sampai ke para leluhurku. Eh, tapi keluargaku yang aku tahu baru enam turunan, aku belum tahu identitas leluhurku.

“Jaerin-a, ppali!” Teriak Hyora.

Eh tapi sebentar. Aku melihat ke depan, menoleh ke kiri dan kanan, tak ada sosok Hyora.

“Hyora-ya, eoddiga?” Tanyaku dengan suara keras.

“Aku di belakangmu. Sekarang kau coba menerobos ke depan, aku mengikutimu dari belakang.” Jawab Hyora yang kedua tangannya menempel di punggungku.

Sudah kuduga.

Aku memang replika seorang Jaejin yang imutnya alhamdulillah(?). Tapi saking kembarnya aku juga memiliki postur tubuh yang sama dengannya. Bahkan aku bisa dikatakan lebih lebar SEDIKIT dari Jaejin yang imut-imut itu. Bisa dikatakan, postur tubuhku dengan Jaejin itu tertukar. Salah satu alasan mengapa Jaejin menendangku keluar dua hari sebelum dia sendiri keluar dari rahim eomma. Dia tidak suka aku mengambil jatah gizi miliknya di dalam kandungan eomma yang membuatku tubuh berkembang dengan sangat baik bahkan bablas.

Lagi-lagi aku bercerita mengenai keluarga ‘aneh’ku.

Dengan sangat terpaksa, eh… tidak menggunakan kata sangat. Denga terpaksa aku berusaha merangsek ke depan. Menyingkirkan tubuh yeoja lain yang lebih kecil dariku.

“Tidak sia-sia aku membayar tiket untukmu. Kau memang sangat berguna Rin-ah.” Komentar Hyora tanpa menoleh ke arahku begitu kami sudah berada di posisi yang strategis. Tepat di depan panggung.

Salah satu alasanku merahasiakan kalau aku juga menyukai seorang Oh Won Bin pada Hyora adalah aku bisa mendapatkan tiket gratis darinya. Tubuh Hyora yang mungil memang agak sulit bersaing dengan yeoja lain, makanya dia sering mengandalkan aku.

Aku bukannya orang yang sangat miskin sampai tidak mampu membeli tiket. Bukan juga orang yang senang memanfaatkan orang lain. Ini semua karena aku mempunyai eonni yang sangat hemat, tepatnya pelit. Jadi aku belajar secara tidak langsung darinya untuk memanfaatkan situasi yang bisa menguntungkanku. Dan karena Hyora juga memanfaatkan tubuhku, jadi kami impas kan?

Kembali ke konser…

Oh Won Bin, si namja tampan itu hanya berjarak sekitar dua meter dari kami. Dia bernyanyi sambil memainkan gitarnya. Sangat tampan. Suara para yeoja yang meneriakkan namanya begitu menggodaku. Aku juga ingin meneriakkan namanya, memanggilnya. Tapi aku bukan tipe orang yang bisa begitu kecuali di depanku ada namja imut seperti Jaejin, Minhwan, Jino, Minwoo, Henry, Yoseob, ehm…. Tugasku bukan mengabsen kan ya?

“Oh Won Bin…”Ucapku pelan sambil menatap setiap gerakan yang dibuatnya di atas panggung.

“Kyaa… Won Bin oppa, SARANGHAE…!!!” Teriak Hyora di sampingku dengan nada histeris. Dia terus saja menjulurkan tangannya. Berharap menjadi salah satu yeoja yang beruntung mendapat jabatan tangan dari seorang Oh Won Bin.

“Aku juga ingin.Sesalku dalam hati saat harapan Hyora jadi nyata.

“Hyora kau pulang duluan saja ya. Jaejin memintaku untuk membeli suplemen di apotik. Kebetulan tadi sebelum masuk aku melihat ada apotik di seberang di ujung jalan.” Ucapku pada Hyora begitu konser di ballroom selesai. Kami berdua sedang duduk di bangku di luar ballroom, mengistirahatkan kaki kami yang pegal karena terus berdiri selama konser berlangsung.

Aku menoleh pada lawan bicaraku. Melihat ekspresi Hyora menjelaskan bahwa jiwa temanku itu sedang tidak ada di dalam tubuhnya. Yakinku dia sedang berfantasi di dunia khayalnya, bermain dengan Oh Won Bin tercintanya. Akan butuh waktu lama untuk menunggu sampai dia sadar.

Aku melangkahkan kakiku menuju seberang jalan, tempat apotik berada. Meninggalkan temanku bermain dengan dunia fantasinya.

Aku menghampiri seorang apoteker, menyebutkan merk suplemen yang dipesan Jaejin begitu apoteker tersebut bertanya. Kutolehkan kepalaku ke samping, menatap seorang namja yang sepertinya familiar bagiku. Tapi aku lupa tepatnya siapa dia.

“Agasshi, ini suplemen yang anda minta.” Ucap apoteker yang melayaniku. Aku kembali menoleh pada apoteker tersebut. “Semuanya 8.300 Won.” Tambah sang apoteker sebelum aku bertanya.

Aku merogoh tas selempangku, mengambil dompetku lalu mengeluarkan uang 10.000 Won dan menyodorkannya pada apoteker di hadapanku.

Rasa penasaranku pada orang yang berada di sampingku masih belum hilang, aku kembali menoleh padanya.

Merasa diperhatikan, namja di sampingku itu menoleh padaku dan tersenyum.

Aku ikut tersenyum kemudian kembali menoleh karena apoteker di hadapanku sudah menjulurkan tangannya memberikan kembalian.

“Hyung, kau lama sekali. Aku butuh obatnya sekarang.” Ucap seseorang di belakangku.

Aku menoleh. Seorang namja dengan menggunakan topi hitam dan jaket yang menutupi lehernya menghampiri namja yang sedari tadi memancing rasa penasaranku.

Oh Won Bin. Dia sosok namja yang menggunakan topi hitam itu. Jadi, orang yang berada di sampingku itu…. Tepat! Dia manajer sang namja tampan. Pantas aku merasa mengenalnya. Tapi aku lupa nama ataupun marga manajernya itu.

“Oh Won Bin.” Ucapku menyebutkan nama namja tampan di sampingku. Dia menoleh padaku, dan tatapan kami saling bertemu.

“KYAAA…… WON BIN OPPA..!!!!” Teriak banyak yeoja di luar apotek.

Kami menoleh ke arah luar. Terlihat satpam berusaha untuk mencegah para yeoja itu untuk masuk ke dalam apotek.

Raut wajah dua orang di hadapanku berudah jadi panik. Mereka berdua menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, seolah mencari jalan. Sang manajer malah berjalan kesana kemari saking bingungnya, sepertinya.

“Ppali, kita harus bersembunyi.” Ucap sang manajer sambil menarik lenganku dan membawaku ke belakang.

Aku tak sempat bereaksi saat tangan sang manajer itu menarikku. Aku mengikuti langkahnya yang terus mengajakku berlari. Dan aku tersadar saat kami berada di depan toilet pria.

“Chakkaman ahjusshi!” Teriakku saat manajer itu sudah membuka pintu toilet.

“EEHHHHH……”

Raut wajah namja di hadapanku berubah kaget begitu sadar siapa yang dia tarik. “Dimana Won Bin?” Tanyanya kemudian.

“Aku disini hyung.” Ucap Oh Won Bin yang berada di belakang kami.

“Mianhae agasshi.” Ucap sang manajer sambil membungkukkan tubuhnya padaku.

“Gwencahana ahjusshi.” Balasku.

“Ayo Won Bin-a. Kita harus bersembunyi.” Ajak sang manajer pada idola tampan di hadapanku. Dia menarik tangan Oh Won Bin agar ikut dengannya untuk masuk ke dalam toilet.

“Ahjusshi.” Panggilku.

“De?” Tanya sang manajer saat sebagian tubuhnya sudah masuk ke dalam toilet.

“Saya rasa toilet bukan pilihan yang baik untuk bersembunyi. Anda bisa meminta pekerja di sini untuk menunjukkan pintu belakang, kalian bisa keluar lewat sana. Atau kalian bersembunyi saja di atap. Saya rasa itu lebih baik.” Ucapku. Entah mendapat ilham dari mana aku bisa berpikir sejenius itu. Eh, tapi pada dasarnya aku memang pintar. Kakek dari appaku, Kim Kibum, terkenal sebagai seorang yang jenius. Jadi aku masih keturunan orang jenius.

Sang manajer mengangguk, sepertinya dia sependapat denganku.

“Biar saya yang mengecek kondisinya.” Tawarku yang disetujui olehnya.

Kami bertiga kemudian berpapasan dengan seorang namja yang dilihat dari pakaiannya merupakan salah satu pegawai di apotek ini. Aku menghampirinya dan menceritakan garis besar masalah yang menimpa dua orang di belakangku. Pegawai itu kemudian menunjuk sebuah pintu yang berada di ujung lorong. Aku mengucapkan terima kasih padanya sebelum kemudian menghampiri Oh Won Bin dan manajernya.

Kami bertiga kemudian berjalan menuju pintu yang ditunjukkan pegawai tadi. “Biar saya lihat kondisinya terlebih dahulu.” Ucapku sebelum membuka pintu tersebut.

Dengan pelan aku membuka pintu itu. Aku merasakan firasat yang tidak enak. Dan benar saja. ada sekitar enam yeoja sedang berdiri tidak jauh dari pintu. Aku langsung menutup pintu dan berbalik. “Tidak aman. Kalian harus bersembunyi di atap.” Terangku.

“Won Bin oppa, eoddiga?” Tanya suara seseorang yang sangat aku kenal, Hyora. Dia sudah sadar rupanya.

“Ahjusshi, Oh Won Bin-ssi, kkaja!” Ajakku pada mereka dengan sedikit panik. Kalian tahu bagaimana jika seorang Hyora bertemu langsung dengan seorang Oh Won Bin. Mungkin Oh Won Bin akan bermimpi buruk beberapa hari karenanya.

“Agasshi, kamsahamnida.” Ucap sang manajer padaku begitu kami sudah berada di atap gedung apotek.

Aku terseyum menanggapinya.

“Kau salah satu penonton kan? Aku tadi melihatmu berdiri di depan.” Tanya Oh Won Bin padaku.

EHM…. Seorang Oh Won Bin bicara padaku. SEMUANYAAA… DIA BICARA PADAKU.

Aku mengangguk. “Ne.” Jawabku berpura-pura cuek untuk menutupi rasa senangku. “Saya menemani teman.” Tambahku cepat. Aku tak ingin dia sampai tahu kalau aku juga menyukainya. Aku tak ingin ada seorang pun yang tahu.

“Pantas saja. semua orang histeris tapi kau hanya diam saja tadi.” Kata Oh Won Bin lagi.

Eh, dia memperhatikanku?

“YA! AKU JUGA INGIN BERTERIAK MEMANGGIL NAMAMU. TAPI AKU TAK INGIN ADA ORANG LAIN YANG TAHU KALAU AKU MENYUKAIMU..!” Teriakku dalam hati. “Saya bukan The Way, jadi saya tidak perlu berteriak seperti mereka pada anda.” Dustaku.

“Baguslah. Aku aman berada di dekatmu kalau begitu.” Ucap Oh Won Bin lagi, dingin.

Ternyata saudara-saudara. Oh Won Bin bukan orang yang sangat ramah. Buktinya dia terlihat seperti tidak suka pada para fansnya. Hm… jadi semua sikap manis di hadapan para fans itu hanya fanservice? Sikapnya di depanku yang bukan seorang fans terlihat sangat berbeda. SAUDARA-SAUDARA, OH WON BIN ITU MUKA DUA!!!!

Huh… aku menemukan salah satu sifat buruknya. Tapi aku sudah terlanjur menyukainya, dan karenanya aku makin tidak ingin ada orang yang tahu kalau aku menyukainya. Ah, tapi aku sudah menceritakan semuanya pada kalian…

Aku menatap Oh Won Bin yang berada setengah meter di depanku. Omoo… wajahnya sangat tampan. Eh tapi sebentar, dia terlihat sedikit pucat.

“Gwenchana Oh Won Bin-ssi?” Tanyaku padaku.

Oh Won Bin menatapku. Mengerutkan dahinya tanda tidak mengerti dengan pertanyaanku.

Tanganku bergerak menuju wajahnya. Jemariku dengan nakalnya menyentuh pipi indahnya. “Wajah anda terlihat pucat.” Ucapku masih tidak sadar dengan apa yang dilakukan oleh tanganku. Aku menoleh ke pipinya dan sadar. “Omoo… mianhae. Aku tidak bermaksud menyentuhmu.” Ucapku kemudian sambil menarik dan memukul tangan nakalku dengan tangan yang lain.

Aish, aku ingin sekali memutar waktu. Mencegah eomma menikah dengan appa yang punya kebiasaan memegang wajah orang lain. Yesung appa, siap-siap saja nanti kalau aku sudah di rumah. Aku akan meminta pertanggungjawaban karena sudah membuatku memiliki sifat sepertimu…!!!!

“Mianhae Oh Won Bin-ssi. Aku tidak bermaksud menyentuhmu.” Ucapku lagi saat Oh Won Bin tidak berkata apa-apa.

Oh Won Bin terlihat sedikit oleng didepanku. Dia menubrukku.

-to be continued-

Advertisements

7 responses »

  1. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [End] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  2. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin He Makes Me Crazy [4] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  3. Pingback: (Short Story) Wonbin Oh Wonbin, He Makes Me Crazy [6] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  4. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [7] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  5. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [8] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  6. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [5] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  7. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [2] « [Kim n Lee Famz]'s Family

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s