(Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [2]

Standard

Main Cast :

*) Lee Jaerin, Jaejin’s twin –OC-

*) Oh Won Bin

Other Cast :

*) Son Hyora, Jaerin’s friend

*) Jaerin’s family (Lee Jaejin, Choi Minhwan ‘FT Island’, Jino ‘SM The Ballad’, Yesung, Kibum, Heechul ‘Super Junior’, Won Bin, OCs) numpang dan nampang

*) Sisanya baca aja… /plakk

Genre :  AU, pengen Romance tapi liat tar, gaje sangat, humor aneh bertebaran dimana-mana

Rate : G

Disclaimer : As usual, aku bayar para pemaen yg maen di ep2 aku pake cinta, kecuali para OC J

A/n : Aku belom kenal bener ma WonBin, jadi anggep aja dia emang penyanyi dari FnC tapi beda karakter sama asli’a, haha /plakk… piku ancur, mian.. aku gak bakat ngedit poto *nyengir siwon*. awalnya pengen bikin yg normal, taunya malah jadi ‘normal’. Maklumin yaa…

Chap 1

Tanganku bergerak menuju wajahnya. Jemariku dengan nakalnya menyentuh pipi indahnya. “Wajah anda terlihat pucat.” Ucapku masih tidak sadar dengan apa yang dilakukan oleh tanganku. Aku menoleh ke pipinya dan sadar. “Omoo… mianhae. Aku tidak bermaksud menyentuhmu.” Ucapku kemudian sambil menarik dan memukul tangan nakalku dengan tangan yang lain.

Aish, aku ingin sekali memutar waktu. Mencegah eomma menikah dengan appa yang punya kebiasaan memegang wajah orang lain. Yesung appa, siap-siap saja nanti kalau aku sudah di rumah. Aku akan meminta pertanggungjawaban karena sudah membuatku memiliki sifat sepertimu…!!!!

“Mianhae Oh Won Bin-ssi. Aku tidak bermaksud menyentuhmu.” Ucapku lagi saat Oh Won Bin tidak berkata apa-apa.

Oh Won Bin terlihat sedikit oleng didepanku. Dia menubrukku.

“Mianhae…” Ucap Oh Won Bin setengah berbisik di telingaku. Dia berusaha bangun tapi sepertinya tak ada tenaga.

“WON BIN-A..!” Teriak sang manajer dan menghampiri aku yang terjatuh karena tidak mampu menahan berat badan si tampan yang berada di atasku. Besar-besar juga aku yeoja yang lemah lembut.

Aku baru sadar kalau tubuh Oh Won Bin ternyata panas. Saat tanganku menyentuh pipinya beberapa saat yang lalu aku tidak menyadarinya. Mungkin karena memang aku tidak bisa mengontrol tanganku itu jadi dia tidak mentransfer informasi ke otakku.

Sang manajer kemudian mengangkat tubuh Oh Won Bin, dia dan aku pastinya, memapah tubuh lemah Oh Won Bin ke kursi yang ada tak jauh dari kami lalu mendudukkannya di sana.

“Agasshi, apa kau punya air minum?” Tanya sang manajer padaku.

Aku mengangguk lalu menyodorkan air minumku. “Tapi aku sudah meminumnya setengah.” Ucapku.

Sang manajer terlihat tidak peduli. Dia lalu membuka tutup botol minumku setelah mengambil beberapa obat yang dia beli tadi. Manajer itu kemudian meminumkan obatnya pada Oh Won Bin.

“Seharusnya kau menurut padaku saat akan membawamu ke rumah sakit Won Bin-a. Hanya karena takut para fans mengikutimu dan tahu kau sakit kau jadi seperti ini. Saking takutnya mereka cemas kau mengorbankan dirimu sendiri.” Ucap sang manajer.

Chakkaman. Apa yang manajer bilang barusan?  Memikirkan fans? Takut fans cemas? Jadi… baik! Aku ralat ucapan pedasku tadi!!! OH WON BIN TIDAK BERMUKA DUA, TAPI DIA BENAR-BENAR NAMJA YANG BAIK DAN TANPA CELA. Aish, aku harus membuat surat pernyataan maaf nanti saat pulang ke rumah karena sudah menuduh Oh Won Bin yang tidak-tidak.

“Aish, sial! Ponselku tertinggal di mobil. Won Bin-a, mana ponselmu?” Tanya manajer pada Oh Won Bin begitu selesai meminumkannya obat.

“Milikku juga di mobil hyung.” Jawab Oh Won Bin lemah.

Aku merogoh tasku dan mengeluarkan ponselku. “Pakai saja.” Ucapku sambil menyodorkan ponselku pada sang manajer.

“Aku panggil ambulans ya.” Ijin sang manajer.

Oh Won Bin langsung menahan tangan sang manajer yang bersiap menekan nomor telepon rumah sakit. “Andwae. Kau telepon saja Jihoo hyung. Kita ke rumah sakit begitu para fans bubar.” Katanya.

Seingatku, Hyora pernah bilang kalau Jihoo itu nama bodyguardnya Oh Won Bin. Tapi entah, aku lupa.

“Oh Won Bin… kau memang namja yang sangat baik. Tidak salah temanku sampai gila karenamu, dan sepertinya aku akan segera mengikuti jejak temanku itu.” Ucapku dalam hati sambil menatap wajah pucat Oh Won Bin, tapi dia masih terlihat sangat tampan dengan tampang pucatnya itu.

“Baiklah.” Ucap sang manajer pasrah.

Dia lalu menelepon nomor yang sudah dia hafal. Berbicara dengan orang di seberang telepon.

“Kita tunggu sampai Jihoo menelepon, memastikan kalau semuanya aman.” Ucap manajer pada Oh Won Bin. Selesai menelepon, dia menyerahkan kembali ponselku.

Aku melihat keringat keluar di pelipis Oh Won Bin. Dan tanganku langsung mencari tisu untuk melap keringatnya itu. Oh Won Bin diam saja mendapat perlakuan seperti itu dariku. Sepertinya dia sangat lemas atau sedang berusaha mengumpulkan tenaga untuk berjalan nanti.

“Andai teman saya itu tahu, saya yakin dia pasti akan menangis sampai anda sembuh Oh Won Bin-ssi. Dia benar-benar mencintai anda.” Ucapku tanpa pakai pikir-pikir. Hanya mengeluarkan apa yang terlintas di benakku.

Oh Won Bin tersenyum mendengar ucapanku.

Aahh…. Senyumannya sangat tampan. Bahkan dengan ekspresi lemah seperti itu.

“Untung kau bukan The Way, jadi kau tidak akan menangis walaupun tahu aku sakit begini.” Katanya.

“Apakah aku benar-benar tidak terlihat sebagai seseorang yang menyukaimu Oh Won Bin-ssi?” Lagi-lagi aku hanya mengucapkannya dalam hati. “Ne Oh Won Bin-ssi. Ada untungnya juga saya tidak menyukai anda.”

“Kenapa kau selalu memanggil nama lengkapku?” Tanya Oh Won Bin.

Aku hendak menjawab, tapi perhatianku beralih pada bunyi ponselku yang ada di tanganku. Merasa tidak mengenal nomornya, aku menyerahkan ponselku pada manajer Oh Won Bin.

“Yoboseyo? … Ara, kami akan turun sekarang. Kalian bersiap ya di depan.”

Aku menoleh pada manajer yang baru saja menutup sambungan telepon. “Kau bisa jalan kan Won Bin-a? Jihoo sudah ada di bawah.” Tanya sang manajer yang diikuti anggukan Oh Won Bin.

Aku dan manajer lalu memapah Oh Won Bin berjalan menuruni tangga.

“Saya mengantar sampai sini saja. Saya tidak ingin ada The Way yang melihat saya.” Ucapkku begitu kami sudah sampai di lantai bawah.

Aku membungkukkan tubuhku lalu pergi dari hadapan keduanya.

***

Benar-benar malam yang menyenangkan. Siapa yang menyangka aku bisa bersama dengan orang yang selalu digilai oleh temanku? Pertemuan singkat kami, percakapan pendek kami, aahh… INDAH. Sepertinya aku harus meralat ucapanku yang tidak menyukai namja tampan dan keren. Buktinya, tanda-tanda cinta itu mulai bermunculan.

Aku menatap sebuah artikel yang sudah tak berbentuk karena aku meremasnya dulu. Artikel mengenai si tampan nan mempesona, Oh Won Bin. Artikel itu milik Hyora yang secara tidak sengaja masuk ke dalam ranselku. Aku yang dulu tidak menyukai Oh Won Bin langsung meremas artikel itu begitu menemukannya.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, aku juga sudah mulai mengantuk. Tapi entah kenapa aku malah menghampiri laptopku yang berada di meja, menyalakannya. Aku membuka situs web browser dan mengetikkan nama ‘Oh Won Bin’ dan mengklik search.

Aku memandangi foto-foto indah dari namja tampan yang berhasil meluluhkan hatiku. Tapi aku tidak cukup punya nyali untuk menyimpan foto-foto itu. Entah bagaimana reaksi Hyora kalau tahu aku juga menyukai idolanya. Dia orangnya sedikit memusuhi orang-orang yang menyukai Oh Won Bin, menganggap mereka saingan cinta tak sampainya.

Puas memandangi wajahnya di layar, aku pun menghampiri kasur dan tertidur.

***

(a/n : usia Jino, Henry dan Yoseob di ep2 ini semuanya 8 taun yaa.. )

 

“EOMMA…. AKU PULANG…..” Teriakku begitu sampai ke dalam rumah setelah seharian kuliah. Hari ini aku tidak bertemu dengan Hyora karena dia tidak punya jadwal, jadi telingaku masih segar tidak mendengar celotehannya mengenai Oh Won Bin. Bicara mengenai dia, dia apa kabar ya? Ah sudah lah. Aku pikirkan itu nanti saja, aku agak lapar.

Aku berjalan menuju dapur, tak ada siapa-siapa. Lalu aku pergi menuju halaman belakang, aku menemukan Jino, adik bungsuku, sedang bersama dengan Minhwan, keponakan yang usianya satu tahun lebih muda dariku denganku.

“Kyaa….. Minari.” Teriakku langsung berlari menghampiri kedua namja lucu itu.

Minhwan bangkit dari duduknya dan berlari menghindariku. “Imo…. Jebal, aku tidak ingin dipeluk olehmu.” Mohon Minhwan sambil terus berlari menghindariku.

“Imo rindu padamu Minari.” Kataku mengacuhkan permohonan keponakanku itu dan terus berusaha menangkapnya.

“Jino-ya.”

Aku langsung berhenti mengejar Minhwan begitu mendengar suara orang yang memanggil Jino. “Kyaa…. Yoseob! Henry!” Teriakku lebih histeris melihat dua bocah lucu nan imut yang baru saja datang dari balik pintu.

Henry dan Yoseob langsung berlari mengikuti Minhwan begitu melihatku. “Kyaa… ayo kemari kalian, aku ingin memeluk kalian.” Teriakku senang sambil mengejar mereka bertiga.

“Ahjumma jebal. Kami tidak ingin dipeluk olehmu.” Pinta Yoseob sambil terus menghindariku.

“Na do. Ahjumma peluk Jino saja.” Tambah Henry.

“Shirreo. Jadwal memeluk Jino itu pagi.” Jawabku sambil terus berusaha menangkap tiga namja cute yang terlihat senang bermain kejar-kejaran denganku.

***

 “Jaerin! Ada telepon dari Hyora.” Kata Jaejin dari balik pintu kamarku.

Aku menatap heran Jaejin tapi kemudian berjalan menghampirinya dan mengambil telepon rumah yang disodorkan Jaejin.

“Yoboseyo, Hyora-ya. Tumben kau menelepon ke rumahku. Kenapa tidak langsung ke ponselku?” Tanyaku pada orang di seberang telepon.

“Justru aku mau bertanya padamu kenapa yang menjawab teleponku itu namja? Kenapa dia bilang kalau ponsel kau itu terbawa olehnya? Kenapa kau tidak bilang kalau kau kencan dengan namja? Dan kenapa suaranya mirip Won Bin oppa?” Tanya Hyora bertubi-tubi padaku.

“Heh? Won Bin oppa?” Tanyaku yang mampu mengingat pertanyaan terakhirnya. “AKH…!”

“Wae?” Tanya Hyora yang bingung mendengar aku yang tiba-tiba berteriak.

“Ponselku… ponselku… aku lupa. Sudah ya Hyora, aku mau menghubungi ponselku dulu.” Ucapku kemudian menutup telepon bahkan tanpa salam perpisahan.

Aku kemudian menekan nomor ponselku di tombol telepon rumahku yang ada di tanganku.

Nada dering ponselku terdengar begitu aku menempelkan teleponnya di telingaku. Cukup lama kemudian nada dering itu berhenti diikuti suara sapaan.

“Yoboseyo?”

Oh Won Bin, itu suara Oh Won Bin.

“Yoboseyo Oh Won Bin-ssi. Ini saya, yang kemarin.” Ucapku sedikit patah-patah.

“Ah, kau Jaerin?” Tanyanya.

Aku menaikkan alisku. “Darimana anda tahu nama saya?” Tanyaku balik. Seingatku aku tidak memperkenalkan diriku kemarin.

“Temanmu yang bernama Hyora itu yang mengatakannya padaku.” Jawab Oh Won Bin. “ Sepertinya dia yang kau bilang fans ku itu. Saat dia menelepon dia terus membicarakan konserku kemarin. Dia juga mengoceh apa kau begitu tidak sukanya padaku sampai kau meninggalkan dia begitu konser selesai.” Tambahnya. Aku mendengar suara tertawa begitu dia selesai bercerita mengenai Hyora.

Aku mengangguk. Babo! Oh Won Bin mana bisa melihat anggukanku? “Err… memang dia yang saya ceritakan kemarin Oh Won Bin-ssi.” Kataku kemudian. “Bagaimana keadaan anda? Sudah baikan kah?” Tanyaku begitu ingat kejadian kemarin.

“Ne, aku sudah lebih baik sekarang walaupun masih harus istirahat.” Jawabnya. “Oh iya, jangan bicara seformal itu padaku.” Tambahnya.

Aku menghela nafas lega begitu mendengar kondisinya. “Semoga kau cepat sembuh Oh Won Bin-ssi.” Ucapku kemudian aku tidak lagi menggunakan bahasa seformal sebelumnya, walaupun masih dengan nada sopan.

“Gomawo. Oh iya, kau belum menjawab pertanyaanku kemarin. Kenapa kau selalu memanggil nama lengkapku?” Tanyanya.

Aku nyengir mendengar pertanyaannya, padahal jelas dia tidak akan bisa melihat cengiranku. “Itu… sebenarnya…” kataku ragu. “Itu… karena namamu sama dengan nama kakekku. Jadi kalau aku menyebutnya tanpa marga, aku jadi teringat wajah kakekku.” Jawabku akhirnya. Aku memukul kepalaku berkali-kali karena terlalu jujur. Padahal kan aku bisa saja berbohong apaa gitu, kenapa aku harus mengatakan yang sebenarnya? Babo!

“Hahaha… kau lucu sekali Jaerin-ssi.” Kata Oh Won Bin sambil tertawa.

Dari suaranya, entah mengapa aku merasa seperti sedang melihatnya tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya.

“Mianhae Jaerin-ssi.” Katanya kemudian.

Aku mendengar sekilas kalau dia terbatuk. “Gwenchana Oh Won Bin-ssi?” Tanyaku khawatir.

“Ne, gwenchana. Aku hanya tertawa terlalu banyak.” Jawabnya.

Nah loh!!! Kalau dia bilang tertawa terlalu banyak, dan itu karena ucapanku, berarti aku punya bakat jadi seorang pelawak dong. Andwae! Aku tidak mau, aku sekarang menyukai Oh Won Bin. Dan dia tidak mungkin menyukai pelawak kan? Aish, kenapa aku mesti dilahirkan di lingkungan orang aneh? Aku jadi tertular aneh kan? Eomma…. Appa…. Kalian harus bertanggung jawab.

“Jaerin-ssi… Jaerin-ssi…”

Aku tersadar dari lamunanku. “Ah ne, mian.” Ucapku cepat.

“Kau bisa tidak lusa datang ke gedung FnC? Aku ingin mengembalikan ponselmu langsung, sekaligus ingin berterima kasih padamu karena sudah menolongku kemarin.” Tanya Oh Won Bin.

“DE? Ah… ne. Aku akan datang Oh Won Bin-ssi. Pukul berapa?” Tanyaku balik.

“Hm, aku ada jadwal latihan vokal sampai pukul empat. Kita bisa bertemu pukul lima.” Jawabnnya.

“Baiklah.”

Aku lalu memutus sambungan dua arah itu.

“Nugu? Kau terlihat senang sekali? Oh Won Bin-ssi? Jangan bilang dia penyanyi yang digilai temanmu itu. Tidak mungkin kalau kau berbincang dengannya.” Tanya Jaejin yang entah sejak kapan ada di dalam kamarku, memakan snackku sambil bermain dengan laptopku.

“YA! Sedang apa kau di sini?” Tanyaku balik.

“Kau tidak buta kan? Tidak perlu bertanya untuk tahu apa yang sedang aku lakukan.” Jawab Jaejin menyebalkan tanpa menoleh ke arahku. Dia masih saja asik bermain game di laptopku dan makan snackku.

Aku tersenyum melihatnya dan menghampirinya, aku mengecup pipinya sekilas. “Kau lucu Jaejin-ah.” Ucapku sambil masih tersenyum menatapnya.

“YA!!!” Protes Jaejin. “Aish, kita ini sudah mau dua puluh tahun. Tapi kelakuanmu masih seperti anak sekolah, bocah.” Ucapnya pedas.

“Jaejin-a, noona mau donk punya wajah cute sepertimu. Kenapa noona yang kembaranmu ini wajahnya tidak sangat mirip denganmu? Kenapa kau cute sendirian? Kita kan tumbuh bersama di dalam kandungan eomma.” Tanyaku dengan nada merajuk pada kembaran di hadapanku.

“Sudah ku bilang jangan menyebutmu noona di depanku. Aku tidak pernah mau memanggilmu noona. Dan sudah aku bilang juga, salahmu sendiri mengambil gizi kebanyakan saat di kandungan eomma.” Jawab Jaejin kesal.

Melihat tampang Jaejin yang sedang kesal begitu, aku tidak tahan untuk tidak mencubitnya.

“Aish, kembaran gila.” Komentar Jaejin sambil beranjak dari tempat dudukku.

“Aku gila padamu Jaejin-a.” Ucapku dengan nada sangat dibuat-buat ketika Jaejin membuka pintu kamarku. Dia menghilang di balik pintu tanpa berkata apa-apa. “Padahal aslinya kau lebih gila Jaejin-a, kau juga mengagumi wajah cutemu itu. Kau kira aku tidak tahu saat kau memuji wajahmu di depan cermin sambil bernyanyi trot? Huh… aku saudara yang baik, jadi aku tidak pernah membahasnya di depanmu.” Omelku pada pintu sambil kadang memajukan bibirku.

– to be continued –

Advertisements

6 responses »

  1. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [End] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  2. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin He Makes Me Crazy [4] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  3. Pingback: (Short Story) Wonbin Oh Wonbin, He Makes Me Crazy [6] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  4. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [7] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  5. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [8] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  6. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [5] « [Kim n Lee Famz]'s Family

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s