(Short Story) Won Bin Oh Won Bin He Makes Me Crazy [4]

Standard

Cast :

*) Lee Jaerin, Jaejin’s twin –OC-

*) Oh Won Bin

Genre :  AU, pengen Romance tapi liat tar, gaje sangat, humor aneh bertebaran dimana-mana

Rate : G

Disclaimer : As usual, aku bayar para pemaen yg maen di ep2 aku pake cinta, kecuali para OC J

A/n : Aku belom kenal bener ma WonBin, jadi anggep aja dia emang penyanyi dari FnC tapi beda karakter sama asli’a, haha /plakk… piku ancur, mian.. aku gak bakat ngedit poto *nyengir siwon*. awalnya pengen bikin yg normal, taunya malah jadi ‘normal’. Maklumin yaa… Yg kena tag baca yaa, apalagi pake komen, ditambah like mantep tuh…hal2 yg dianggep lucu oleh WonBin belom tentu lucu buat kalian, maklumin yaa 🙂

Chap 1 | Chap 2 | Chap 3 |

Yayaya… Hyora sering bercerita kalau dia kadang suka ke gedung FnC hanya untuk melihat Oh Won Bin. Padahal dia tahu itu sangat sulit, tapi Hyora bilang meski hanya melihat mobilnya, dia akan sangat bahagia. Dan biasanya setelah bercerita begitu, dia akan bermain dengan fantasinya. Mengandai berada di dalam mobil Oh Won Bin, mengandai pergi jalan-jalan bersama si tampan itu.

Aku berbalik. Kembali masuk ke dalam gedung.

“Jaerin-ssi, gwenchana?” Tanya Oh Won Bin yang ternyata menyusulku.

Ah, namja tampan yang baik hati. Dia rela mengejarku karena khawatir padaku. Eh tunggu, bukan itu yang harus aku pikirkan.

“Oh Won Bin-ssi. Tolong sembunyikan aku.” Pintaku sambil memegang lengannya. Oh Won Bin terlihat bingung dengan permintaanku. “Temanku. Dia ada di depan. Aku bisa dirajam olehnya kalau dia melihatku di sini, terlebih melihatku denganmu.” Terangku.

Oh Won Bin memang namja yang pintar. Dengan sedikit penjelasan, dia bisa mengerti kondisiku. “Kalau begitu kita ke ruangan tadi. Aku mau mengambil perlengkapanku, kita pergi dengan mobilku jadi kau bisa pergi tanpa ketahuan temanmu.” Ucap Oh Won Bin kemudian.

Aku mengangguk lalu mengikuti langkahnya menuju ruangan tadi. Aku tak mau menunggunya di bawah. Takut kalau Hyora bisa melihatku di sini. Sebenarnya itu tidak mungkin, tapi orang yang sedang ketakutan mana bisa berpikir jernih.

Dan tanpa sadar, tangan liarku yang merupakan warisan dari Yesung appa terus saja memegang erat kaos yang dipakai Oh Won Bin. Lancang sekali aku ini. Aku terus saja mengekor Oh Won Bin, bahkan saat dia membungkuk untuk mengambil tasnya, aku tak melepaskan pegangan tanganku di kaosnya.

“Jaerin-ssi. Apa kita tunggu dulu di sini sampai kau tenang? Aku rasa kau benar-benar sedang ketakutan sekarang.” Tanya Oh Won Bin padaku sesaat setelah dia mengambil tasnya.

“Ah… eh..?” Aku baru menyadari posisi tangan nakalku. Buru-buru aku menarik tanganku. “Jwaesonghamnida.” Ucapku sambil membungkuk.

Aku mendengar Oh Won Bin tertawa. “Kau benar-benar lucu Jaerin-ssi.” Ucapnya.

Jebal. Jangan katakan kalau aku lucu. Aku memang menyukai orang yang lucu dan berharap menjadi orang yang lucu sebelumnya. Tapi tidak sekarang. Aku tidak ingin dianggap sebagai pelawak. Andwae!

“Jaerin-ssi, kau tidak usah terus membungkuk begitu.” Kata Oh Won Bin sambil menarik lenganku agar aku berdiri tegak. Dia lalu mengajakku untuk duduk di kursi kayu panjang yang ada di pojok ruangan..

“Jwaesonghamnida Oh Won Bin-ssi.” Ucapku lagi.

Entah kenapa Oh Won Bin selalu tertawa setiap aku meminta maaf. Hh… apakah aku benar-benar ditakdirkan untuk menjadi pelawak? ANDWAE!!!

“Oh Won Bin-ssi, kenapa kau selalu tertawa setiap aku meminta maaf?” Tanyaku.

Oh Won Bin menggelengkan kepalanya. “Entahlah. Mungkin karena kau memang lucu. Entah kenapa kalau melihat tingkahmu yang, mian, sedikit aneh, aku jadi tidak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa.” Jawabnya.

Baik. LEE JAERIN = PELAWAK

Takdirku mungkin memang menjadi seorang pelawak.

“Waeyo? Apa aku menyinggungmu?” Tanya Oh Won Bin begitu melihat ekspresi lesuku.

Aku menggeleng. “Anni. Hanya berpikir tentang masa depan yang suram yang tiba-tiba menghantuiku.” Jawabku asal.

“Kita pulang? Sepertinya kau sudah baikan.” Tanya Oh Won Bin.

Aku menoleh ke arahnya. Dua bola matanya yan indah itu sedang menatapku lekat. Aku terus memandanginya, menikmati tatapan lembutnya itu.

“EHM… Jaerin-ssi.” Panggil Oh Won Bin sambil melambaikan jari-jarinya di depan wajahku.

“Ah… eh… jwaesonghamnida Oh Won Bin-ssi. Aku barusan melamun.” Kataku kemudian.

Dan ya. Oh Won Bin langsung tersenyum dan sedikit tertawa LAGI setelah aku meminta maaf.

Aku pasrah saja lah. Pulang ke rumah aku akan bilang pada eomma kalau aku mau pindah kuliah dan belajar untuk mendalami dunia perlawakan. Aku sudah bisa membayangkan tampang eomma yang terlihat biasa menanggapi ucapanku. Aku bahkan bisa menebak apa yang akan diucapkan eomma ku itu.

“Keluarga kita kan memang nama tengahnya aneh. Tidak aneh kalau kau dianggap aneh. Malah kau akan dianggap aneh oleh anggota keluarga yang lain jika tidak memiliki minimal satu sifat aneh. Dan kalau misalnya ternyata sifat anehmu itu dianggap lucu oleh orang lain, kau harus mempertahankannya karena itu aset berharga untukmu untuk meneruskan keturunan aneh kita.”

“ANDWAE!!” Teriakku.

“Waeyo Jaerin-ssi?” Tanya Oh Won Bin yang sedang mengambil gitarnya.

“Ehhh…. “ Lagi-lagi aku mempermalukan diri. Tapi aku berusaha untuk tidak meminta maaf lagi. Aku masih belum terima jika aku benar-benar harus menjadi pelawak. “Anniyo.” Jawabku pada Oh Won Bin yang terus menatapku meminta jawaban. “Kajja. Aku harus segera pulang karena masih banyak tugas kuliah yang belum aku selesaikan.” Ajakku pada Oh Won Bin. Tanpa ba bi bu, aku langsung berjalan menuju pintu keluar.

“Aku antar kau sampai ke rumah ya.” Tawar Oh Won Bin saat kami sudah berada di dalam mobilnya.

“Kapan lagi ada kesempatan diantar pulang oleh idola banyak yeoja? Kapan lagi ada kesempatan berlama-lama dengan namja tampan yang sedang disukai?”

Aku mengangguk dengan semangat.

Oh Won Bin kemudian menyalakan mesin mobilnya dan mulai melajukannya.

“Aku harus bersembunyi.” Kataku begitu mobil keluar dari basement gedung.

Aku tak ingin mengambil resiko kalau Hyora melihat ada seorang yeoja di dalam mobil Oh Won Bin. Aku yakin dia akan menangis besok jika itu terjadi. Terlebih jika yang dia lihat itu aku, pasti aku akan dicincang terus dagingnya dia berikan pada ikan lele peliharaannya.

Aku kemudian merendahkan dudukku, tapi posisiku sangat tidak nyaman. Aku lalu mengubah posisiku. Aku melepaskan safety belt yang melingkar di tubuhku lalu menunduk ke dashboard.

“Oh Won Bin-ssi, bilang padaku kalau Hyora sudah tidak bisa melihat kita.” Bisikku pada Oh Won Bin yang sedang menyetir di sampingku.

Oh Won Bin tersenyum menanggapi bisikanku.

Sekitar sepuluh menit aku terus mempertahankan posisiku untuk terus membungkuk. Aku menolehkan kepalaku pada Oh Won Bin. “Oh Won Bin-ssi, apakah aku sudah boleh bangun. Punggungku sakit sekali.” Tanyaku.

Bukannya menjawab pertanyaanku, Oh Won Bin malah tertawa.

Aku menatapnya heran, tapi tidak berani untuk bangun.

“Ne… ne… kau sudah boleh bangun.” Kata Oh Won Bin kemudian.

Aku bernafas lega kemudian bangun. Aish, aku yakin kalian membayangkan posisiku saja pasti merasa tersiksa, apalagi aku yang harus mengalaminya.

Aku melihat jalanan di depanku. “Oh Won Bin-ssi, ini kan sudah cukup jauh dari kantormu.” Kataku sambil menoleh pada Oh Won Bin yang wajahnya terlihat memerah dengan kepalan tangan kiri berada di depan mulutnya. Terlihat sedang menahan sesuatu.

“FUWAHAHAHAHAHAHA………”

Oh Won Bin kemudian tertawa sampai keluar air mata di ujung matanya.

Aku menatapnya heran.

“Mianhae. Kau benar-benar lucu.” Katanya di sela tawa.

Aku melongo mendengar perkataannya barusan. Masa depanku sepertinya sudah sangat dan terlalu jelas.

“Kamsahamnida.” Ucapku sambil membuka safety belt begitu mobil Oh Won Bin sudah berada di depan pintu gerbang rumahku.

“Jaerin-ssi.” Panggil Oh Won Bin saat aku hendak membuka pintu. Aku menoleh padanya. “Boleh kita berbincang sebentar?” Tanyanya.

Aku berpikir. “Tapi tidak di sini. Aku takut jika Hyora mendadak ingin mendatangi rumahku dan mendapati mobilmu terparkir di depan rumahku. Itu sama dengan menjemput ajal.” Kataku kemudian.

“Baiklah.  Kau tahu café atau restoran yang agak private di sekitar sini?” Tanya Oh Won Bin lagi.

Aku mengangguk dan menyebutkan nama café yang diinginkan oleh Oh Won Bin.

Kami berdua di sini. Aku dan Oh Won Bin. Duduk berhadapan di salah satu ruangan di café yang letaknya satu blok dari rumahku.

“Aku sepertinya menyukaimu.” Ucap Oh Won Bin setelah pelayan café yang menanyakan pesanan kami berlalu di balik pintu.

Aku membulatkan kedua mataku. “MWO?” Tanyaku kaget.

“Maksudku suka bukan dalam artian yang lebih. Kau jangan salah faham dulu. Kau orangnya menarik dan lucu, karena itu aku menyukaimu.” Jelasnya.

Aku mengangguk lalu ber “ohhh…..” panjang.

“Kau tahu? Sudah lama aku tidak tertawa sepuas tadi. Aku tidak menyangka aku masih bisa tertawa seperti itu. Karena kau yang lucu, aku bisa merasa sangat bebas.”

TUHAN…. DEMI APAPUN AKU MAKIN YAKIN DENGAN TAKDIRKU SEBAGAI PELAWAK…

“Bagaimana kalau mulai sekarang kau tidak memanggilku dengan sapaan formal lagi? Kau lebih muda dariku ya? Bagaimana kalau kau memanggilku oppa?” Tawarnya.

“Ehh… aku? Memanggilmu oppa?” Tanyaku dengan ekspresi kaget. Oh Won Bin mengangguk. “Oh Won Bin oppa.” Ucapku pelan.

Oh Won Bin langsung tertawa mendengar ucapanku. “Kau tidak perlu menggunakan margaku lagi. Aku yakin kau bisa membedakan mana yang kakekmu mana yang aku. Kau kan memanggil kakekmu Won Bin haraboji, dan kau memanggilku Won Bin oppa. Atau kau bisa hanya memanggilku oppa.” Kata Oh Won Bin.

Aku, dengan tampol aka TAMPANG POLOS  yang aku miliki mengangguk mengiyakan.

“Kalau begitu aku memanggilmu Jaerin-ah tau Rin-ah.” Kata Won Bin oppa tanpa persetujuanku.

Dan dengan tampol seperti sebelumnya, aku mengangguk lagi.

“Won Bin oppa… Won Bin oppa… Won Bin oppa…” Aku mengucapkan nama panggilan baru itu berkali-kali sambil menengadahkan kepalaku agak ke samping.

Won Bin oppa tertawa lagi. “Jaerin-ah… Jaerin-ah… Jaerin-ah…” Ucap Won Bin oppa mengikutiku.

Kami berdua kemudian tertawa bersama.

Entah berapa lama aku berbincang dengan Won Bin oppa. Pokoknya banyak hal yang kita berdua  bicarakan selama di café. Aku tidak mengerti mengapa aku bisa dengan nyamannya berada bersama orang yang aku sukai ini. Ternyata semua hal yang Hyora katakan padaku mengenai Won Bin oppa bukan hanya pandangan objektifnya saja. Won Bin oppa memang orang yang baik adanya.

Walaupun kadang Won Bin oppa sengaja membuatku melakukan hal yang membuatku malu, tapi aku tak bisa marah padanya.

Tuhan, benarkah aku mencintainya?

***

Aku menghampiri Jaejin yang sedang menonton televisi bersama Jino. Jaejino terlihat sedang asik menonton Spongebob dengan volume yang cukup besar.

”Gary… kukira hubungan kita istimewaaa….”

Aku mendengar dengan jelas ucapan si Patrick Star yang sedang menangis karena ditinggal siput milik Spongebob.

“Giliran noona.” Ucapku yang dengan tanpa ijin mengambil remote televisi yang berada di atas paha Jino. Aku lalu duduk di antara dua namja imut hasil kolaborasi eomma dan appa itu.

“Noonaaaa~~” Jino mulai merengek karena aku kemudian menurunkan volume televisi lalu mengganti chanelnya.

“Filmnya kan sudah habis Jino-ya. Besok lagi kau nonton Spongebobnya ya.” Rayuku pada Jino. “Eh, kau mau kemana?” Tanyaku begitu melihat Jaejin beranjak dari tempat duduknya.

“Kencan.” Jawab Jaejin pendek.

-to be continued-

Advertisements

7 responses »

  1. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [End] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  2. Pingback: (Short Story) Wonbin Oh Wonbin, He Makes Me Crazy [6] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  3. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [7] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  4. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [8] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  5. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [5] « [Kim n Lee Famz]'s Family

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s