(Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [5]

Standard

Cast :

*) Lee Jaerin, Jaejin’s twin –OC-

*) Oh Won Bin

Genre :  AU, pengen Romance tapi liat tar, gaje sangat, humor aneh bertebaran dimana-mana

Rate : G

Disclaimer : As usual, aku bayar para pemaen yg maen di ep2 aku pake cinta, kecuali para OC J

A/n : Aku belom kenal bener ma WonBin, jadi anggep aja dia emang penyanyi dari FnC tapi beda karakter sama asli’a, haha /plakk… piku ancur, mian.. aku gak bakat ngedit poto *nyengir siwon*. awalnya pengen bikin yg normal, taunya malah jadi ‘normal’. Maklumin yaa…

hal2 yg dianggep lucu oleh WonBin belom tentu lucu buat kalian, maklumin yaa 🙂


Chap 1 | Chap 2 | Chap 3 | Chap 4 |

Aku menghampiri Jaejin yang sedang menonton televisi bersama Jino. Jaejino terlihat sedang asik menonton Spongebob dengan volume yang cukup besar.

”Gary… kukira hubungan kita istimewaaa….”

Aku mendengar dengan jelas ucapan si Patrick Star yang sedang menangis karena ditinggal siput milik Spongebob.

“Giliran noona.” Ucapku yang dengan tanpa ijin mengambil remote televisi yang berada di atas paha Jino. Aku lalu duduk di antara dua namja imut hasil kolaborasi eomma dan appa itu.

“Noonaaaa~~” Jino mulai merengek karena aku kemudian menurunkan volume televisi lalu mengganti chanelnya.

“Filmnya kan sudah habis Jino-ya. Besok lagi kau nonton Spongebobnya ya.” Rayuku pada Jino. “Eh, kau mau kemana?” Tanyaku begitu melihat Jaejin beranjak dari tempat duduknya.

“Kencan.” Jawab Jaejin pendek.

“MWO???” Aku langsung melepaskan remote yang aku pegang yang langsung disambar Jino. Aku berdiri, menahan langkah Jaejin. “Nugu? Nugu? Nugu? Kau tidak bercerita padaku kalau kau punya yeoja.” Tanyaku menuntut sambil merajuk.

“Haruskah aku bilang?” Tanyanya balik.

Aku mengangguk mantap.

“Aku tidak mau.” Ucapnya sambil memeletkan lidah lalu pergi.

“YA! JAEJIN-AH! BILANG PADA NOONA!!!” Teriakku sambil berkacak pinggang tapi tidak mengejarnya, aku sedang malas.

“Hyung tidak akan bilang pada noona, dia bilang kalau noona suka mengganggu yeoja yang dekat dengannya.” Ucap Jino sambil memakan kacang polong yang ada di toples di atas meja.

Aku langsung berbalik, menatap tajam si magnae. “Jino-ya, kau tahu sesuatu kan? Kau tahu kan noona yang diajak kencan oleh hyungmu itu?” Tanyaku sambil duduk disampingnya.

Jino menoleh ke arahku tapi kemudian matanya kembali melihat layar televisi tanpa mengatakan apa-apa.

“Jino-ya~~ bilang pada noona dia siapa.” Pintaku dengan nada super merajuk sambil mengguncang-guncangkan bahu Jino.

Jino menggeleng. “Sudah Jino bilang, hyung tidak mau kalau noona tahu.” Jawabnya menyebalkan.

“Tskk…. Aku kan hanya ingin mencoba akrab dengan yeoja yang dekat dengan Jaejin.” Ucapku sebal sambil melipat kedua tanganku di dada dan menggembungkan pipiku. “Yeoja-yeoja itu saja yang menyebalkan, bilang kalau mereka takut padaku. Padahal aku tidak berbuat apa-apa selain mencoba mengakrabkan diri. Sekarang Jaejin bahkan merahasiakan yeojanya padaku.” Tambahku makin sebal.

“Song Hye Sang.”

“Mwo?” Tanyaku begitu Jino menyebutkan sebuah nama.

“Itu nama noona yang kencan dengan hyung. Jino hanya memberi tahu namanya, karena Jino sayang noona. Tapi noona harus janji pada Jino tidak boleh menyebutkan nama itu di depan hyung.” Terangnya dengan nada persis seperti setiap Heechul samchon mengajukan syarat. Tak bisa diprotes, tak bisa mengajukan keringanan.

Aku mengangguk pasrah meski aku sebenarnya ingin mengorek informasi lebih banyak dari Jino. “Gomapta.” Ucapku sambil tersenyum super manis pada Jino.

Aku melihat perubahan ekspresi adikku itu, tapi sebelum dia berbuat atau berbicara apa-apa, aku langsung mengambil remote televisi yang ada di atas pahanya. Dan lagi, aku mengganti chanel televisi yang sedang ditonton Jino.

“YA! Noona~~” Jino mulai merajuk lagi. Sekarang giliran Jino yang melipat kedua tangannya di dada sambil menggembungkan pipinya yang makin imut dan menggoda untuk digigit. Tapi aku menahan diri untuk tidak melakukannya karena sesuai perjanjian, aku boleh bermain dengan Jino saat pagi. Bukan siang seperti sekarang. Eomma bisa marah jika aku melanggar perjanjian ini. Dipecat jadi anak dan tepisah jauh dengan namja-namja cute disekitarku, andwae! Lebih baik aku menahan diri.

Aku mulai menikmati chanel televisi yang sedang aku tonton. Mengacuhkan Jino yang tetap mempertahankan ekspresi kesalnya. Aku lalu mengganti chanel di televisiku setiap iklan di layar televisi selesai.

“YA! NOONA!” Jino berteriak tepat di dekat telingaku. Aku menoleh. “Bisakah kebiasaan noona menonton iklan itu berhenti? Aku tidak suka iklan, noona. Kenapa noona selalu saja mencari chanel yang sedang iklan.” Protes Jino setelah lebih dari sepuluh menit dia hanya menonton iklan-iklan di televisi.

“Kau kan tahu kalau noona memang suka menonton iklan.” Jawabku tanpa rasa bersalah.

“Noona jahat..!!!” Ucap Jino sambil pergi dari tempat duduknya dan terdengar terisak.

“Jino-ya, mianhae….” Pintaku sambil mengejar Jino yang terus  berlari.

“Hiks….”

Aku menatap tisu yang berserakan di kamarku. Hampir semua bagian di kasurku tak ada yang tidak tertutup tisu, belum lagi di lantai. Dan sudah empat box tisu habis sejak tiga jam yang lalu.

“Aku memang harus menerima jika suatu saat Won Bin oppa menjalin hubungan dengan seseorang. Tapi aku tidak menyangka akan secepat ini. Rasanya sangat menyakitkan. Hiks….” Ucap Hyora.

Tiga jam yang lalu, sekitar pukul tiga sore, Hyora datang ke rumahku dengan tampang mengenaskan. Matanya terus saja mengalirkan air, seperti keran bocor. Dia langsung berhambur ke pelukanku dan menangis kencang.

“Apa yang terjadi dengan Won Bin oppa?” Tanyaku pada yeoja yang wajahnya sudah tidak karuan itu. Tiga jam dia menangis tanpa mengatakan apa-apa padaku. Dan barusan dia menyebut nama Won Bin oppa.

Hyora mengambil ponselnya lalu memainkan ponselnya sebelum menyerahkannya padaku. Aku membaca apa yang tertera di layar ponselnya itu. Sebuah artikel gosip berjudul ‘Oh Won Bin pergi ke sebuah café dengan seorang yeoja, kencan kah????’ terpampang di layar itu.

Aku langsung mengkeret begitu membaca judulnya. Tapi aku memberanikan diri untuk membaca artikel tersebut,

‘12/08 – Penyanyi pujaan para gadis, Oh Won Bin, kedapatan pergi berdua dengan seorang gadis ke sebuah café di kawasan Sunsang-dong. Salah seorang pelayan yang melayani mereka tidak mau menjelaskan ciri-ciri yeoja yang pergi bersama Oh Won Bin tersebut. Tapi dia mengatakan kalau mereka terlihat sangat kaku pada awalnya dan terlihat begitu akrab setelah keluar dari café. “Yang pasti gadis itu bukan dari kalangan artis. Sepertinya ada pernyataan cinta karena aku melihat wajah gadis merona begitu aku masuk mengantarkan makanan.” Terang pelayan tersebut.’

Aku menoleh ke arah Hyora, jujur aku tak ingin melanjutkan membaca artikel tersebut karena itu sudah sangat menjelaskan kalau yeoja itu AKU.

“Sudah lah Hyora-ya. Itu kan hanya gosip. Kau tidak perlu mempermasalahkannya. Toh sampai sekarang belum jelas apakah Won Bin oppa benar-benar berpacaran atau tidak. Aku yakin mereka hanya berteman.” Ucapku berusaha menghibur Hyora.

Hyora menatap dengan mata sembabnya yang menyeramkan. Ya Tuhan, aku takut sebenarnya, tapi akan jadi apa kalau aku meninggalkan Hyora yang labil ini?

“Jinjja? Ne, Won Bin oppa pasti akan meminta ijin dulu padaku jika dia akan memiliki kekasih. Dia pasti akan mengatakan semua agar aku bisa menyiapkan hati.” Ucapnya yang entah aku tak mengerti dia itu menghibur diri atau apa. “Won Bin oppa pasti akan menunggu saat yang tepat untuk berkenalan denganku kemudian menyatakan cintanya padaku. Aku yakin, dia tidak akan memiliki kekasih selain aku.” Tambahnya dengan nada memburu.

“HHhhh…..” aku menghembuskan nafas panjang.

Kupikir hanya keluargaku saja yang memiliki nama tengah aneh, ternyata orang lain juga ada yang lebih aneh dariku. Bahkan Hyora boleh dikata gila, gila karena Oh Won Bin. Aku bersyukur bisa bertemu dengan Hyora, terlepas dari kadang menyeramkannya dia pada suatu waktu, Hyora benar-benar membuatku merasa jadi orang normal. Aku bahagia bisa dianggap normal oleh orang lain.

“Takdirmu itu jadi orang aneh, kau tidak normal kalau dianggap normal.”

Aku menggelengkan kepalaku cepat. Ucapan eomma terngiang bergitu saja di telingaku.

“Oppa, gwenchana?” Tanyaku di telepon pada Won Bin oppa. Jujur aku khawatir terjadi apa-apa pada Won Bin oppa setelah artikel itu menyebar.

“Gwenchana. Kau tenang saja. Kemarin memang aku yang salah karena tidak memakai penyamaran. Untung pelayan itu tidak menyebutkan ciri-cirimu. Akan jadi masalah kalau dia mengatakannya. Kau bagaimana? Temanmu?”

“Kamarku jadi lautan tisu gara-gara dia oppa. Untung saja produksi air matanya tidak sebanyak biasanya. Kalau iya, sudah pasti aku harus mengungsi ke kamar lain. Tapi itu sebenarnya bukan masalah. Aku lebih takut pada wajahnya oppa, sangat menyeramkan.” Jawabku.

“Hahaha… aku jadi penasaran seperti apa tampangnya itu.”

“Chakkaman.”

Aku menekan tombol ‘hold’ di ponselku kemudian masuk ke menu dan mencari folder foto, aku mencari gambar yang tadi baru aku ambil lalu mengirimkannya pada Won Bin oppa. Setelahnya aku kembali menekan ‘unhold’.

“HAHAHAHAHAHAHA………….” Suara tawa keras menyambutku begitu aku menempelkan ponselku ke telinga. Aku bahkan harus menjauhkan ponsel itu.

“Kau memotretnya?” Tanya Won Bin oppa kemudian, setelah dia puas tertawa.

“Ne, kebetulan aku ingat kalau teman adikku sedang di bully teman sekolahnya, jadi aku mau memberikan foto itu untuk menakuti orang yang membully itu. Seram kan oppa?” Tanyaku balik.

“Rin-ah… Rin-ah, kau benar-benar kurang kerjaan!” Komentarnya.

Lima hari aku tidak bertemu dengan Hyora, tepat setelah dia menyampah tisu di kamarku. Ponselnnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Saat aku bertanya pada eommanya, dia bilang Hyora sedang mengikuti acara untuk menenangkan jiwa di Bukanshan dengan appanya. Hanya mendengar kalau Won Bin oppa pergi dengan yeoja –yang yeoja itu AKU- Hyora bisa sampai seperti itu. Tuhan, harus bagaimana aku ini? Aku tidak bisa mencintai Won Bin oppa kalau begini. Aku takut aku akan menyakiti sahabatku. Orang yang meski terkesan egois dan menyeramkan tapi dia itu orang yang baik. Bahasaku ambigu dan membuat pusing ya? Sama, aku juga pusing. Pokoknya Hyora adalah orang langka yang sangat dekat denganku, kami klop satu sama lain. Walaupun kenyataannya kini aku menyembunyikan sebuah rahasia yang bisa bertransformasi menjadi bom yang menghancurkan persahabatan yang aku jalin bersama Hyora.

Kalau boleh jujur, aku makin menyukai Won Bin oppa. Dia makin menguasai lahan kosong di hatiku, membelinya dengan cinta, menggarapnya dengan setiap sikap manisnya. Aku sudah merelakan hatiku untuknya meski dia tidak pernah tahu.

Tapi, sepertinya aku tidak bisa mendapatkan keduanya sedang aku sama sekali tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka.

“Hhh….” Aku menghembuskan nafas panjang. Aku merindukan Hyora, aku merindukan Won Bin oppa. Setelah hubungan telepon terakhirku dengannya, aku tidak berhubungan dengan Won Bin oppa.

“Waeyo?”

Aku menolehkan kepalaku ke samping, melihat saudara sepupu dari eommaku sedang menatapku heran. “Seunghyun samchon.” Aku memanggilnya.

“Kau terlihat sedang kesusahan, wae?” Tanyanya lagi.

“Aku sedang bingung samchon.” Jawabku.

“Boleh samchonmu ini tahu? Yah, mungkin aku bisa memberi pendapat atau mungkin solusi?” Tawar Seunghyun samchon.

Aku sebenarnya bingung mau bercerita atau tidak. Karena yang aku tahu samchonku yang satu ini sedang terlibat cinta segitiga dengan dua yeoja. Dan yang aku tahu dia masih terlibat dengan cinta segitiga itu, apa mungkin dia bisa memberikan solusi padaku?

“Err… samchon… anu… aku belum siap cerita.” Jawabku kemudian.

Seunghyun samchon tersenyum yang aku yakin jika Seorin eonni melihatnya dia akan teriak saking indahnya senyuman itu. “Tidak masalah. Samchon mengerti. Tapi ada baiknya kau bercerita pada seseorang, agar kau tidak pusing sendiri dan mendapatkan solusi dari masalah yang sedang menderamu.” Ucapnya sangat sangat bijak.

Jujur, ada sekitar sepuluh detik aku bengong begitu mendengar ucapannya yang di luar dugaan. Dia tidak pernah memperlihatkan sisi sebijak ini sebelumnya.

“Masalahku dengan Taeri dan Minjoo benar-benar membuatku pusing…”

“Hhhhh….”

Aku mendesah semakin panjang. Sudah ku duga ada sesuatu mengapa Seunghyun samchon  bicara sebijak itu. Pada akhirnya aku malah mendengarkan cerita dia bersama dua yeoja yang sedang memperebutkannya. Aku hanya diam pasrah terus mendengar celotehannya yang kadang menuntutku menjawab pertanyaannya.

Aku menatap Hyora yang berkali-kali menghembuskan nafas beratnya. Dia menopang dagunya dengan kedua tangannya. Tampangnya terlihat sedikit lebih baik.

“Gosipnya sudah menguap, aku juga tidak pernah lagi mendengar gosip yang lain. Tapi kau tahu tidak?” Tanya Hyora sambil menoleh ke arahku.

Aku menggeleng karena aku bahkan tidak tahu jalan pembicaraan teman di sampingku itu.

“Aku bermimpi kalau yeoja yang bersama Won Bin oppa waktu itu adalah kau. Aneh kan?”

-to be continued-

next part gak janji bisa cepet, tangan kanan aku patah jadi susah buat ngetik, minta doa’a yaa semuaaa….

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s