Summer Rains.. part 1

Standard

Author : Zen

Cast :

*) Lee Taeri, Lee Taemin’s (SHINee) twins>>OC

*) Song Seunghyun (FT Island)

*) Lee Taemin (SHINee)

*) Lee Jinki aka Onew (SHINee)

Genre : molla~~~, wkwkwk,, ga pinter nentuin genre,, romance???

Rate : G

Disclaimer : yah, seperti kata umma saiiya….

As usual, aku bayar para pemaen yg maen di ep2 aku pake cinta, kecuali para OC,

/plakkkk>>main comot kata2 orang tanpa ijin, =P,, pizzzz ummaaa~~

A/n: all this story is fiction, kekekeke~~ author sama sekali ga tau tempat-tempat di korea, jadi cuman main karang aja,hhe*nyengir*/plakkkk,, ga ada kewajiban buat RCL kug, =P,, tapi kalau emang pengen like ma komen sah2 aja dan arigato sankyu veri kamsha, hhe..

oh iya,, catatan… kalau yanng tulisannya semua miring itu artinya flash back^^

Let’s get it started________

SH_raining

I meet him.. I know him.. and I’m falling in love with him…

SSSSSHHHHHHH…. Tak. Tak. Tak. Suara gemeletak itu terdengar saat tetesan air mulai menitik di atap apartemenku.

Hujan..

Aku berjalan ke balkon apartemen dan menengadahkan telapak tanganku keluar sana, membiarkan bulir-bulir air yang turun dari langit itu membasahi tanganku dan mengalir dengan lembut di atasnya.

Mendung ini.. Hamparan rintik-rintik air yang terbentang luas di hadapanku.. Suara tetes demi tetes air hujan yang menciptakan nada sedih dan mengalun bagaikan lagu perpisahan.. Angin ini.. Saat-saat yang selalu mengingatkanku padanya..

Aku meremas kalung yang bersarang di leherku, merasakan degup jantungku, mencoba meresapi rasa rindu yang terus menyesap dalam dadaku.

Oppa.. masihkah kau ingat padaku??

 

 [][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

.:13 July, three years ago,Sangnam Park:.

“Hiks..” Aku menyusupkan wajahku ke dalam kedua lututku yang kutekuk dari tadi. Sakit.. Dadaku terasa begitu sakit saat ini.. Pedih..

Suara Hp yang sejak tadi berdering di sakuku sama sekali tidak kuperdulikan. Entah sudah berapa sms atau missed call yang masuk. Aku tahu mereka mencariku.. Aku tahu mereka pasti berusaha menghubungiku.. tapi.. aku tidak ingin bicara dengan siapapun saat ini.. Aku hanya ingin sendiri.. aku tidak ingin seorangpun membahas tentang ‘hal itu’..

“Wae yo..”isakku parau. Air mata merembes keluar lagi dari mataku. “..wae umma.. wae appa..”

Tes.. Tes.. Tes.. Aku tersentak oleh rasa dingin yang meretas di kepalaku. Kudongakkan kepalaku.

Hujan..

Bahkan langit pun ikut menangis bersamaku.. Apa aku semenyedihkan itu???

Kupejamkan mataku dan kutelusupkan lagi wajahku ke dalam lutut. Kubiarkan air menyapu seluruh tubuhku begitu saja. Gemericik air seakan jadi melodi tersendiri yang mengiringi isakan lirihku.

Ingin rasanya aku menjerit saat ini.. Ingin rasanya aku berhenti menangis dan meneriakkan semua yang kurasakan kepada umma dan appaku.. Aku ingin mereka tahu apa yang kuinginkan.. Aku ingin mereka mengerti perasaanku.. Tapi.. selalu saja air mata yang berbicara..

Salahkah aku kalau aku hanya bisa menangis..

Kudengar sebuah langkah pelan yang mendekatiku. Siapa??

Langkah itu berhenti tepat di depanku dan bisa kurasakan kalau tetesan air hujan yang mengguyurku ikut berhenti seketika. Aku membuka mata. Seorang namja dengan payung hitam di tangannya ada di hadapanku saat ini. Bukan seseorang yang kukenal.

“Kau.. siapa..” tanyaku pelan dengan suara serak habis menangis seharian. Namja itu tidak menjawab. Ia hanya mengacungkan gagang payungnya ke arahku, seolah memberi isyarat padaku untuk menerimanya.

“Untukku?” tanyaku bingung. Ia mengangguk.

Aku mengerutkan dahiku. Meski sedikit ragu, entah kenapa aku mengulurkan tanganku juga.

Ia menatapku dengan tatapan lembutnya dan tersenyum saat payung itu sudah di genggamanku. Senyuman yang begitu indah.. Senyum yang membuatku terpana sebelum tiba-tiba ia membungkuk dalam-dalam dan pergi begitu saja dari hadapanku..

 

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

Now,, 07 July,,apartement..

“Sedang mengingat orang itu ya?” Suara seorang namja tiba-tiba terdengar dari belakangku.

“Eh?” aku memasang tampang bingung sekaligus kaget saat menengok ke arah namja itu, Lee TaeMin, saudara kembarku. Aku buru-buru menarik tanganku dari sapuan air dan mengeringkannya dengan bajuku.”Ah.. I.. Itu..”

TaeMin menjajariku dan menatapku dalam-dalam dalam senyumannya.

“Dia pasti masih ingat padamu TaeRi-ah.. percayalah..” ucapnya yang membuatku langsung begitu salting. Kenapa anak ini selalu tahu apa yang kupikirkan? =3=.

“Aishhh, a..apa-apan sih?” sahutku seraya beranjak pergi dari balkon.”Ah, iya! Onew oppa belum pulang ya?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan dengan menatap jam yang ada di dinding ruang tamu dan merapikan buku-buku dia atas meja belajarku. Sudah jam 5 sore..

“Mungkin sebentar lagi,” jawab TaeMin ringan sambil memainkan air hujan yang ada di tangannya. ”Hyung bilang dia ingin mampir ke suatu tempat dulu.. dan ah, sepertinya itu dia,” ucapnya lagi saat mendengar derap langkah dari arah depan apartemen kami dan suara pintu yang dibuka dengan pelan.

“Mianhe, aku terlambat!”

Onew oppa muncul dengan pakaiannya yang basah dan titik-titik air yang masih menetes dari rambutnya. Sepertinya ia kehujanan..

“Aisshh, kenapa basah begini?? Oppa hujan-hujanan ya?? Sudah berapa kali kukatakan kalau oppa harus bawa payung ha?? Cepat keringkan tubuh oppa! Oppa bisa masuk angin nanti!” Aku segera melakukan semua kegiatan beruntun mulai dari mendelik ke arah Onew oppa, mengomelinya, mengambil handuk dari kamar mandi dan melemparkannya dengan cepat ke oppa.

“Aish, kau ini cerewet sekali sih. Aku kan suma basah sedikit,” sahut Onew oppa bersungut-sungut tapi sambil menerima lemparan handukku dan ber’kamsahamnida’ pelan .”Ini, kubawakan sup hangat untuk kalian.”

“Ah, nde!” Aku menyahut tas plastik yang dibawa oleh Onew oppa dan segera menyiapkan meja makan kami sementara oppa ke kamarnya untuk berganti pakaian.

“TaeMin, mangkuk!”

“Ara!”

Tanpa dikomando, apartemen mungil yang kami tinggali bertiga langsung ramai dengan suara berisik piring yang berdenting dan derap langkah kami yang bolak-balik mempersiapkan meja makan. Rasanya benar-benar menyenangkan sekali saat-saat seperti ini. Nyaris tidak terasa kalau semua ini sudah berlangsung selama 3 tahun. Ya.. Tiga tahun.. Hanya aku, TaeMin, dan Onew oppa, tanpa appa maupun umma.. Lalu.. tanpa orang itu juga..

“YA! Berhentilah melamun!” Aku merasakan kibasan tangan cepat di depan mukaku dan tersentak cukup kaget. Onew oppa sedang menatapku dengan mata sipitnya. Rupanya dia sudah selesai mengeringkan badan.

“Ah. M.. mian!” ucapku cepat. Aku buru-buru mengelap meja makan kami dengan cepat, mencoba meneruskan pekerjaanku yang terhenti barusan. Aisssh..lagi-lagi ketahuan melamun.. TaeRi pabo.. Aiyyo kembali ke dunia nyata!(>.

“M.. mejanya sudah siap! A.. Ayo kita makan!” ucapku kemudian dengan sedikit salting setelah selesai merapikan meja. Aku menjatuhkan diriku di kursi dan menghindari tatapan Onew oppa sebisa mungkin. Aku tahu dia pasti mengerti dengan jelas penyebab lamunanku tadi. Ya.. semua orang di ruangan ini tahu jelas apa yang selalu ada di otakku belakangan ini.

Selalu orang itu.. Dan hanya orang itu..

Drrrt..Drrrtt.. Hapeku bergetar tiba-tiba. Icon email di inboxku berkedip-kedip tanda ada message yang masuk. Mungkinkah..

Aku segera membuka email itu, berharap inilah jawaban yang kutunggu-tunggu selama tiga tahun terakhir ini, tapi.. Aku menatap email yang muncul di hapeku dengan hampa. Bukan dia..

“Masih menunggu kabar darinya?” tanya Onew oppa.

Aku melirik Onew oppa sekilas dan mengangguk, meletakkan hapeku begitu saja di meja tanpa semangat.

“Bagaimana?” tanya Onew oppa lagi.

Aku menggeleng lemah sambil menyuapi mulutku dengan makanan.

“Mungkin dia sibuk..” ucapku pelan pada akhirnya. Ya.. sudah tiga tahun orang itu pergi.. meninggalkanku dan semua kenangan tentang kami.. Dia bilang akan menjemputku suatu saat nanti, tapi aku tidak pernah mendapat kabar darinya sedikitpun. Pertemuan terakhirku dengannya dulu juga penuh ketidakjelasan.. Tanganku kembali bergerak untuk meremas kalungku.. Saat itu juga hujan..

“Kalau kau yakin dia akan kembali.. Dia pasti kembali TaeRi-ah..” sahut Onew oppa lembut. Aku mendongak menatap Onew oppa. Ia dan TaeMin tak pernah berhenti meyakinkanku tentang orang itu.. Tapi..

“Entahlah..” bisikku lirih seraya menundukkan kepalaku dan meremas kalungku lagi. Dengan perlahan aku mulai menyuapkan sendok demi sendok sup yang dibelikan oleh Onew oppa ke dalam mulutku.

“Oh ya. Tadi aku mampir ke rumah lama kalian..” ucap Onew oppa kemudian.

“Lalu?”

“Besok appa kalian ingin bertemu,” ucapnya lagi, membuat tatapan mataku dan TaeMin saling beradu dan sendok yang kugunakan untuk menyeruput sup terhenti di mulutku cukup lama.

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

.:13July, home:.

 “Aku pulang..”ucapku seraya membuka pintu. Kuletakkan sepatuku yang basah terpoles lumpur di dekat rak sepatu dan kusampirkan payung yang kupakai di sampingnya.

“TaeRi-ah, ke mana saja kau?”

“Kami mencarimu ke mana-mana.. ya ampun, kenapa kau basah??” Suara umma dan appaku terdengar menyusul kemunculan mereka dengan derap langkah yang terburu-buru di depanku. Raut wajah mereka menunjukkan kekhawatiran.

“Aku mau masuk kamar..” sahutku tanpa menjawab pertanyaan mereka. Aku bahkan tidak menatap mata mereka sama sekali.”Maaf..”

Kukerahkan semua tenagaku untuk menahan supaya air mataku tidak keluar lagi. Melihat umma dan appaku bersama saat ini benar-benar menyakitkan. Lebih menyakitkan daripada saat mereka bilang padaku kalau mereka memilih untuk berpisah. Ya, umma dan appaku bilang kalau mereka ingin bercerai.. Karena itulah aku menangis.. karena itulah aku merasa sakit..

Cklek! Aku mengunci pintu kamarku dan menyandarkan tubuhku di dinding. Sekarang apalagi yang bisa kulakukan..

“Sampai kapan kau mau menangis ha..” seseorang meletakkan handuk kering di atas kepalaku dan membuatku buta selama sepersekian detik karena mataku tertutup oleh handuk itu. Aku menyibakkan handuk itu dan melihatnya.. TaeMin.. Dia juga habis menangis.. Matanya sembab meski ia berusaha terlihat tegar.

“Ya.. kau sendiri juga menangis, kan?” sahutku memaksakan sedikit tawa.

“Jangan tertawa..”

“Kau tidak mengijinkanku menangis tapi juga tidak mengijinkanku tertawa. Lalu kau ingin aku bagaimana??”

Kami berdua saling menatap dalam diam dan tiba-tiba saja sudah tersenyum detik berikutnya.

“Pabo!” ucap kami berdua bersamaan.

Aku mengusap air mataku yang masih ikut meluncur deras bersama tawa yang keluar dari mulut kami sementara TaeMin mengacak handuk di kepalaku, mencoba mengeringkan rambutku yang basah. Aku menyandarkan kepalaku di bahu TaeMin.

“Kita tidak akan berpisah kan TaeMinie..”sahutku dalam isakan lirih. TaeMin menepuk-nepuk pundakku lembut.

“Shireo..”

 

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

08 July,, my old house..

Aku menatap pintu pagar bercat putih di depanku.

Tiga tahun.. Tiga tahun sudah aku meninggalkan rumah ini dan pindah ke apartemen Onew oppa bersama TaeMin. Aku rindu sekali dengan aroma rumah ini. Aroma kehangatan yang meski sudah pudar selalu membawa kenangan manis dalam mimpiku.

Mungkin.. kalau dulu umma dan appaku tidak memutuskan untuk bercerai, semuanya pasti akan terasa lebih manis lagi.

“Kita harus masuk ya?” tanyaku retoris pada diriku sendiri.

“Nde,” TaeMin mengangguk pelan. Aku tahu perasaannya sama denganku. ”Kajja, TaeRi-ah.” Genggaman tangan TaeMin sudah mengalungi pergelangan tanganku dan menarikku masuk ke dalam pintu pagar bercat putih itu.

Kali ini aku tidak akan menangis lagi.

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

.:15 July, Onew oppa apartment:.

“Ya! Kalian mau di sini sampai kapan, ha?” Onew oppa menyilangkan kedua tangannya di depan dada.”Ini sudah hampir tengah malam, umma dan appa kalian bisa bingung mencari kalian.”

“Biarkan saja,” ucapku ketus. Aku memencet tombol-tombol yang ada di stik PS dihadapanku dengan hampa. ”Kami berdua mau menyepi dari peradaban sementara waktu. Benar kan TaeMin?”

“Ndeeee~” sahut TaeMin, masih dalam posisi yang sama denganku, mata terpaku ke layar televisi.

“Aisshhh, menyepi.. Kalian pikir apartemenku ini gua jaman purba apa?? Kalian kan harus tidur sekarang, besok kalian sekolah kan? Sana? Hus hus!” Onew oppa menghentikan permainan kami dan  mendorongku serta TaeMin menjauh dari layar televisi.

“Y.. YA! Tanggung oppa!”

“Tidak ada alasan. Kalau kalian mau menginap di sini kalian harus menuruti semua perintahku, arasso?” sahut Onew oppa seraya mematikan layar TV. Aku dan TaeMin hanya bisa mendesah kecewa.

“Kalau begitu belikan kami makanan..” ucap TaeMin.

“Boe? Tengah malam begini?”

“Kami lapar oppa~~. Kalau kau ingin kami menuruti semua kata-katamu, paling tidak buatlah perut kami menuruti kami dulu~” rajukku seraya mengerucutkan mulutku dan memasang ekspresi super aegyoku.

“Dasar kau ini!” oppa menyentil kepalaku dengan gemas dan berbalik menyambar jaketnya dengan cepat. ”Aku akan keluar sebentar untuk beli makanan sekaligus menelepon orang tua kalian. Awas kalau kalian macam-macam atau kabur.”

“Ara! Ara~~!” sahutku dan TaeMin berbarengan. Kami berdua segera melirik ke arah masing-masing saat dentuman pintu yang tertutup dan langkah kaki Onew oppa yang menjauh terdengar.

“Saatnya main game lagi!>.

“Ok! Let’s..”

Pats!

“Gggyaaaa!!!” Teriakanku langsung meledak saat semua yang ada di sekitar kami mendadak tidak terlihat dan gelap. Aku meraba-raba semua yang ada di dekatku dengan cepat, mencoba menemukan sosok Tae Min.

Aku phobia gelaaaaappp~~ TT_TT.

“Aku akan pergi ke bawah untuk tanya pengurus apartemen dulu, kau tunggu di sini ya TaeRi!” terdengar suara TaeMin tiba-tiba entah dari mana.

 “M.. Mwo?? ” sahutku kaget.”C.. chamkanman! T.. Taeminnie, kau ada di mana?? Jangan tinggalkan aku sendiri!  Kau tahu kalau aku phobia gelap,kan? TaeMinnie! Taemiiinnnie!!”

Krieeett. Brak. Jawaban yang kudengar hanyalah pintu apartemen Onew oppa yang berdecit lalu berbunyi keras tanda baru saja ditutup. Aku tertegun. Aku tak bisa bergerak.

“T.. tunggu..” batinku cemas. Apa ini berarti aku ditinggal sendirian?? Aku ditinggal sendirian di tempat gelap begini?? G.. gyyaa!! Andwaee~~ Aku harus segera cari cahaya.. cahaya.. cahayaaa~~>.

JDERRRRR!! Kilatan cahaya diikuti suara menggelegar itu semakin memacu jantungku untuk bekerja lebih keras.

Aku juga phobia PETIR!!!

Dengan cepat aku segera beringsut, meraba-raba apapun yang ada disekelilingku, berharap tidak merasakan sentuhan aneh yang bisa membuat imajinasi hororku kumat tiba-tiba, berusaha menuju ke arah manapun yang bisa membawaku keluar dari kamar ini.

Keringat dingin sudah benar-benar membasahi tubuhku saat tanganku menjangkau sesuatu yang dingin yang kukenal sebagai kenop pintu. Tanpa pikir panjang, aku langsung menariknya kuat-kuat dan dan menghambur ke luar, berlari dalam kegelapan koridor.

Brughhh!

Tubuhku terpental dengan keras secara tiba-tiba karena menabrak sesuatu yang sama sekali tak bisa kuprediksi karena gelap. Aku mengaduh lirih tapi sama sekali tidak ada respon dari sesuatu yang kutabrak tadi. Hanya ada suara langkah yang diseret dengan lemah.

GLEKKK.

Uwwaaaa~~ sebenarnya aku nabrak apa??? Bukan setan kan?? Jebaaalll!! Cepatlah hidup lampuuu!!

Permohonanku segera terjawab sedetik kemudian dengan nyala terang dari semua lampu yang mendadak kembali dialiri listrik. Sesosok manusia tampak berdiri di depanku. Aku mematung kaget.

“Kau…” ucapku pelan. Namja di depanku tersenyum dan mengangguk ke arahku. Senyum yang sama yang ia tampilkan ketika pertama kali kami bertemu dalam hujan. Senyum yang membuatku merasakan aliran listrik yang tiba-tiba menyentak seluruh sel dalam tubuhku.

Jantungku berdebar dengan kencang saat ini..

“TaeRi-ah~!” Suara TaeMin terdengar dari ujung koridor di belakangku. Aku mengalihkan pandanganku sekilas ke sana dan melihat TaeMin sedang berlari ke arahku. Tapi, ketika aku mengembalikan arah pandanganku ke orang yang ada di depanku, orang itu sudah menghilang.

Tunggu.. Dia, kemana??

Kulihat pintu lift di dekatku setengah terbuka. Mungkinkah..

“C.. chamkanman!” teriakku cepat, mencoba menghentikan laju pintu pintu lift, sayangnya gerakanku kurang cekatan. Satu-satunya petunjuk yang bisa kudapatkan dari namja itu hanyalah isyarat tangannya.

404.. Aku melihat jemari-jemari tangan namja itu bergerak dengan cepat mengkodekan angka-angka itu sebelum pintu lift menutup begitu saja di depanku, menelan bayangan dan senyumnya dari hadapanku. Jantungku berdetak kencang saat ini. Sesuatu yang aneh bergejolak di dadaku..

Rasa penasarankah??

“Ya, kau baik-baik saja?” tanya TaeMin seraya menepuk pundakku. Nafasnya memburu karena barusan berlari. Raut mukanya khawatir.

“A.. anni.. G.. gwenchana..” ucapku tergagap. Pandanganku kembali tertujup pintu lift di depanku.

“Yang tadi itu.. Temanmu?” tanya TaeMin bingung.

Aku menggeleng pelan.

“Molla..”

TBC~~~

 

kekeke~~ Otte?

Hanya membantu umma jadi-jadian saiia untuk sekedar mengisi kekosongan di blog/plakkkk

adakah yang tega buat komen??/plakkkkk

Advertisements

One response »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s