[sp][Minari b’day] One day in my birthday…

Standard

Author : Ma’ippo/Seorin

Main Cast :

*) Choi Minhwan [FT Island] as Lee Minhwan

Other Cast :

*) Lee Hyuk Jae [Super Junior] as Minhwan’s appa

*) Kim Seorin [OC] as Minhwan’s umma

*) Lee Hyunri [OC] as Minhwan’s noona

*) No Minwoo [Boyfriend] as Lee Minwoo>>Minhwan’s brother

*) Jung Yoogeun as Lee Yoogeun>>Minhwan’s brother

Genre : komedi gagal*?*, family

Length : 2716

a/n : akhirnya ff buat b’day minan aka anak jadi-jadian saiia selese jugaaaaa/plakkkk,, wkwkwk,, sama sekali ga ada bayangan mau bikin ff seperti apa, jadinya malah ga jelas kayak gini.  mian kalau lebay, =P, mian kalau Lee famz di sini pelitnya minta ampun, mian juga kalau kepanjangan*kebiasaan*. Ga wajib buat RCL kug, mau baca aja udah makasih*tabur duit tetangga* tapi kalau mau RCL juga ga ada larangan,hhe.. sangkyu very kamsha so much*popo* guling. Happy reading^^

Let’s get it started_________

[Suatu pagi di keluarga Lee yang terkenal dengan kepelitan sang kepala keluarganya/plakkk]

“Appa, appa ingat tidak hari ini hari apa?” Tanya Minhwan, anak laki-laki pertama keluarga Lee itu seraya memasang tampang sok imutnya di hadapan appanya, Lee Hyukjae, yang sedang melakukan entah pekerjaan apa yang membuatnya benar-benar sibuk sejak tengah malam tadi.

“Ya, jangan ganggu appa minari, appa sedang membuat daftar supermarket yang akan mengadakan diskon besar-besaran bulan ini, kalau mau ganggulah yang lain.”

Merasa diacuhkan, ia berpaling pada noonanya yang kelihatannya sedang asik komat-kamit menghapalkan isi tulisan buku yang ada di depannya.

“Jangan tanya aku, aku sedang belajar.” Kata-kata Hyunri bahkan membuat Minhwan harus mengurungkan niatnya sebelum sempat melakukan aksinya. Kembali merasa teracuhkan, ia mengalihkan tatapannya pada adik laki-laki bungsunya, Yoogeun, yang saat ini sedang duduk nyaman di sofa sambil berkedip menatapnya dengan tatapan tanpa dosa. Setelah menilik, menimbang dan memutuskan bahwa yang bersangkutan belum cukup umur untuk ditanyai, ia menghela nafas panjang dan segera mencari korban lain untuk jadi sumber jawabannya.

Minwoo, adik laki-laki pertamanya sedang berlatih dance bersama Kwangmin dan Youngmin, adik tirinya dari madu ummanya yang lain, jadi dia tidak mungkin ada di rumah. Kalau begitu yang tersisa hanya…

Ia melirik satu-satunya pintu kamar yang bertuliskan ‘Kamar Seorin, masuk BAYAR’*plakkkk*. Meskipun berdasarkan pengalaman ummanya tak pernah ingat hari penting untuknya ini, mungkin saja hari ini akan ada keajaiban.

“Umm…”

BRAKKKKK! Kepala Minhwan sukses kena cium daun pintu kamar ummanya sebelum sempat menyelesaikan satu kata.

“Mukyaaaa~~ Gawaaat,, umma sudah telat! Lho, kau kenapa Minari?”

“A.. awww~~.” Erang Minhwan kesakitan. Tangannya sibuk mengusap dahinya yang terkena ancaman benjol.

“Aigoo~ harusnya kau lebih hati-hati. Ketuk dulu pintu kamar umma kalau mau masuk~.”

==a. Memangnya siapa yang asal buka pintu saat mau diketuk, ha??? Minhwan nyaris ingin menangis gemas gara-gara kelakuan ummanya yang sok polos ini, tapi dia tingat misi utamanya jadi terpaksa ia menangguhkan rasa sakit di kepalanya.

“Umma, apa umma ingat..”

“GYAAA!! Umma harus segera berangkat! Primadonna yang lain sudah menunggu umma untuk merayakan ulang tahun Choi Minhwan, drummer paling imut kesukaan umma!*/plakkkk abaikan==a* Kau mau tanya apa Minari? Bisa kau tunda nanti, kan? Umma harus pergi sekarang. Dan ini plester untuk luka di dahimu, kau bisa pasang sendiri, kan? Daaaa~~.”

Minhwan hanya sempat melongo mendengar pidato singkat dari ummanya dan berkedip pelan saat melihat dua buah plester bergambar ayam di tangannya. Detik berikutnya, ummanya sudah menghilang entah kemana diiringi angin sepoi-sepoi yang berhembus begitu dingin.

Brrr… Itu juga lah yang dirasakan Minhwan di hari istimewanya ini.

o[]o[]o[]o

[@Heechul apartement]

Akhirnya, karena merasa seluruh dunia mengabaikannya, Minhwan yang kecewa pun memutuskan untuk kabur ke apartemen Heechul, paman dari ummanya. Apartemen ini kosong karena paman dari ummanya itu sedang pergi ke bulan dan tidak akan kembali dalam waktu dekat ini. Kebetulan saja ummanya punya kunci cadangannya. Yah, memang menyedihkan sih.. tapi paling tidak Minhwan bisa menyepi dari peradaban dunia di dalam sini, menunggu sampai orang tuanya sadar kalau ini hari ulang tahunnya.

Segera saja ia masuk dan mengambil tempat di sofa setelah menyetel televisi di depannya.

Tidak ada berita yang menarik. ==a. Yang ada malah berita tentang perampokan bersenjata yang terjadi seminggu lalu dan dua orang pelakunya yang sama sekali belum ditemukan. Biarpun kelihatannya penting, tapi Minhwan sama sekali tidak berminat pada berita itu. Toh, perampok itu juga bukan pergi ke tempatnya berada saat ini, kan? Satu-satunya yang penting baginya saat ini hanya satu…

“Hiks.. “ Minhwan mulai terisak. ”Kenapa tahun inipun semua orang lupa ulang tahunku~~ TT^TT.”

Minhwan tahu kalau semua orang di keluarganya bahkan tak pernah ingat dengan ulang tahunnya  atau bahkan ulang tahun mereka masing-masing, tapi… tapi… tapi… masa tahun ini juga sama??? Huwaaaa~~ Ia juga ingin kadang-kadang ada yang mengingat ulang tahunnya~~. TT^TT.

KRUMPYAAAAANGGG. Minhwan sedang memikirkan betapa indahnya hari ini kalau ada kejutan untuknya ketika suara berisik panci jatuh terdengar dari dapur.

He? Bukankah harusnya apartemen ini kosong

Dengan penasaran, Minhwan berjalan ke arah dapur. Kali ini terdengar suara berisik lain seperti gemerisik plastik yang terdengar.

Apa mungkin salah satu kucing peliharaan peliharaan Heechul haraboji main karena merindukan majikannya ya? Paman ummanya itu memang hobi sekali pelihara kucing dan Minhwan pernah memergoki Baengshin, salah satu kucingnya ada di apartemen saat majikannya itu masih di bulan.

“Ya, Baengshin-ah…”

Mulut Minhwan langsung membeku dalam keadaan terbuka begitu melihat siapa yang ada di dapur. Dua orang pria berpakaian serba hitam dengan sebelah tangan memegang pistol, mulut menggigit roti dan tangan satunya memegang pintu kulkas sedang menatapnya. Bisa dipastikan kalau mereke bertiga sama-sama kaget dan bisa dipastikan juga dari ciri-cirinya kalau dua orang yang dilihat Minhwan itu adalah buronan polisi yang beritanya tadi sempat dilihatnya di teve.

Sepertinya.. perkiraannya kalau buronan itu takkan ke sini benar-benar meleset.==a

“T.. tangkap dia!” teriak salah satu borunan itu pada temannya.

“Eh..” Minhwan bahkan belum sempat berbalik ketika kedua perampok bersenjata itu berlari ke arahnya, tersandung, berbenturan kepala dengannya lalu jatuh menimpanya dengan suara berdebam.

Setelah itu?? Ia tidak ingat apapun.

o[]o[]o[]o

[20 minutes later]

“Emmmmhh…” Minhwan langsung merasakan sakit di kepala dan beberapa bagian tubuhnya saat kesadarannya mulai timbul. Tapi, bukan hanya mulutnya yang tidak bisa bersuara, kaki dan tangannya bahkan tidak bisa digerakkan karena terikat sesuatu.

“Ya,  percuma saja kau bergerak.” Seseorang berbicara sambil mengunyah pisang yang Minhwan yakin merupakan ‘simpanan gelap’ appanya yang dititipkan di kulkas apartemen harabojinya ini. Ia duduk dengan santainya di pojok ruangan bersama rekannya yang juga asik makan. Sepertinya, mereka lebih mirip orang kelaparan daripada buronan yang dicari-cari polisi.==a. Apa karena terlalu lama bersembunyi jadi tidak dapat makanan??

“Emmm! EEmmh emmh emmmh emhhh!!” teriak Minhwan dalam bahasa yang bahkan tak terdeteksi umat manusia/plakkkk.

“Wae? Kau juga mau makan pisang?” tanya si perampok nomor satu santai sambil memamerkan pisang di tangannya. Mulai sekarang Minhwan akan menyebut mereka perampok satu dan dua karena ia tidak tahu nama mereka.

“EEMMMH! Emmh emh emmmmh!” Minhwan menggeleng, lalu mulai mencoba bersuara lagi.

“Yaa~ bicaralah yang benar supaya kami bisa tahu apa maksudmu~~,”  sahut perampok nomor dua.

==a,, bagaimana bisa bicara dengan benar kalau mulutnya saja diikat kain hingga nyaris tidak bisa bersuara?? Para perampok ini bodoh atau sudah gila karena terlalu lama bersembunyi dari polisi??

“Minari~~ ini ummaa~~ angkat teleponnya cepat atau uang sakumu akan umma potong tiga bulaaannn~~…”Tepat saat Minhwan hendak berpikir lebih macam-macam lagi, benda yang ada di sakunya mendadak bergetar dengan rekaman cempreng made in ummanya berbunyi nyaring. Tidak salah lagi, cuma ada satu orang yang mau memasang nada dering senorak itu di handphone anaknya==a, pasti ummanya sedang menelepon.

“Ya, ada yang meneleponnya, bagaimana ini?” tanya perampok nomor dua setelah merogoh hape minhwan dari sakunya.

“Kalau kita terus mematikan hapenya saat ada panggilan, bisa-bisa si penelepon curiga dan ada resiko pelaporan ke polisi. Berikan hapenya pada anak itu dan biarkan dia bicara. Ancam supaya tidak macam-macam,” sahut perampok nomor satu. Si perampok nomor dua menuruti kata perampok nomor satu dan segera mendekatkan hape itu ke telinga Minhwan.

“Kau dengar kata-kata temanku, kan? Jangan bicara macam-macam kalau tidak ingin terluka, arasso?” Setelah memencet tombol hijau dan menghidupkan loudspeaker, si perampok nomor dua membuka ikatan kain yang menyumbat mulut Minhwan.

“Ya! Minariii~~ kenapa lama sekali angkat teleponnya? Katanya kau sedang kabur dari rumah dengan menulis pesan ‘Aku kabur ke apartemen Heechul haraboji, jangan cari aku’?? Yaa~~ bukan begitu cara menulis pesan kabur, harusnya…”

“A… AKU SEDANG DISANDERA UMMAAAAAAA HHHMPF..” Teriakan Minhwan terhenti karena kedua perampok itu sekarang kompak membekap mulutnya dengan paksa.

Hening sejenak.

“Disandera itu sama dengan ditawan ya?” Suara Seorin memecah keheningan yang ada.”Kalau begitu, boleh umma berbicara dengan penyaderamu?” Kedua perampok itu berdikusi dengan bahasa mata sebelum akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran umma Minhwan.

“A… annyeong….” sapa mereka grogi seakan baru pertama kali wawancara kerja.

“Annyeoooong~~,” balas Seorin ceria tanpa beban. “Aigo~ jadi kalian sedang menjadikan anakku sandera?? Maaf, ya, kalau anakku merepotkan. Meskipun kadang nakal, Minari itu sebenarnya anak yang penurut. Marahi saja kalau dia melawan kalian.”

“T.. tunggu.. jadi kau tidak masalah kalau anakmu disandera?” Tanya salah satu perampok nyaris tidak percaya.

“Tentu saja tidak, itu kan bisa jadi pengalaman buatnya. Lagipula kalian cuma menyaderanya, kan, tidak mencelakainya.  Kalau begitu pastikan dia pulang dengan selamat tanpa luka sedikitpun setelah urusan kalian selesai saja, ya?^^.”

“Oh ya, untuk Minari, kau juga baik-baiklah pada mereka, umma akan menjemputmu setelah urusan umma selesai. Ingat, jangan nakal ya, titip salam untuk ahjussi-ahjussi di sampingmu~~ annyeong~”

Tuut Tuut Tuut. =________________=. Sambungan putus sepihak. Tiga orang yang berada di ruangan itu bahkan sampai kehilangan kata-kata mereka saking shocknya.

“Ya, lihat, ummamu bahkan tidak perduli padamu,” sahut perampok satu sambil melepas tangannya dari mulut Minhwan dan mengembalikan hapenya pada pemilik sahnya tanpa menyadari kalau mata Minhwan sudah mulai banjir.

“Hiks..”

“Eh?” Kedua perampok itu ber’eh’ pelan ketika isakan singkat itu terdengar dari bocah yang mereka sandera.

“Hiks..” Produksi air dari mata Minhwan mulai luber.

“Ya.. k.. kenapa malah menangis???”

“H.. H.. Huwaaaaaaaa~~~~,” kali ini tangisannya pecah dan berhasil membuat dua ahjussi di dekatnya kelabakan. Satu sisi karena takut ketahuan, satu sisi karena iba pada bocah ini, dan satu sisi iba pada diri mereka sendiri karena bingung bagaimana cara menghentikan tangisannya.

o[]o[]o[]o

Setelah capek lima menit menangis nonstop, Minhwan menghentikan tangisannya dan membuat dua perampok yang bekerja keras menenangkannya lega bukan main. Bahkan, mereka memberi bonus untuk melepaskan ikatan Minhwan dan juga sesi curhat supaya Minhwan tidak mengangis lagi. Tentu saja itu dengan perjanjian Minhwan tidak akan kabur tiba-tiba. Minhwan yang sedang kehilangan minat untuk kabur pun mengiyakan saja.

“Jadi kau kabur ke sini karena keluargamu lupa hari ulang tahunmu?” tanya perampok satu. Minhwan mengangguk, masih dengan mulut agak manyun.

“Memangnya ini ulang tahunmu yang keberapa?”

“Molla… Hiks.. aku bahkan lupa karena terlalu sering dilupakan..” jawab Minhwan yang membuat para ahjussi itu makin bersimpati padanya.

“Tidak pernah dirayakan?”

“Mana mungkin dirayakan. Untuk makan sehari-hari saja kami sering menumpang di tempat halmoni. Appa jarang sekali mau mengeluarkan uang kecuali kebutuhannya sangat mendesak..” jawab Minhwan lagi.

“Aigooo~~ ternyata nasibmu lebih menyedihkan dari kami,” sahut perampok nomor dua yang hatinya sudah benar-benar tersentuh sambil menepuk-nepuk punggung Minhwan.

“Kami berdua merampok bank karena iseng saja. Hidup kami sebenarnya berkecukupan. Tidak kusangka ternyata ada yang sepertinya lebih membutuhkan uang seperti  keluargamu,” sahut si nomor satu.

“Hiks.. Terima kasih ahjussi…” balas Minhwan yang merasa mendapat teman seperjuangan*?*.

Pembicaraan terus berlanjut tanpa arah. Hampir dua jam berlalu dan Minhwan sekarang sudah akrab dengan mereka. Mereka bahkan sudah mulai panggil nama dan tukaran nomer hape juga*/plakkkkk abaikan (lagi)*

“Ah, ahjussi, apa kalian haus? Aku akan buatkan minuman sebagai tanda terima kasihku pada kalian.” Minhwan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur, meninggalkan dua orang perampok itu dengan diskusi yang tidak bisa didengarnya.

“Ya, sebaiknya kita apakan bocah ini? Aku tidak tega kalau harus menyakitinya,” ucap perampok dua.

“Tapi dia sudah melihat wajah kita. Bagaimana kalau dia lapor polisi?” tanya perampok satu.

“Dia kan susah janji untuk merahasiakan semua ini.”

“Kau benar-benar percaya pada janji bocah itu?”

“Mau bagaimana lagi? Dia kelihatannya juga bukan seorang pembohong.”

Diskusi mereka dihentikan dengan paksa oleh suara langkah kaki Minhwan.”Ahjussii~~ kubawakan minuman segar GGYAAAAA!!” Tanpa sengaja Minhwan terpeleset kulit pisang yang tadi sempat dibuang sembarangan oleh kedua perampok itu setelah makan tadi.

PRAAAAANGGGG! JEDUG! Baki beserta minuman di tangan Minhwan terlempar ke tembok dan pecah di sana sementara Minhwan jatuh dengan lutut duluan dilanjutkan kepala membentur lantai. Dahinya yang sudah tiga kali ini mengalami ‘kecelakaan’ alhasil mengalami sedikit lecet.

Tepat saat itu, dari arah pintu…

“Minari~~~ umma datang menjemputmu~~.” Pintu menjeblak terbuka dan sosok mungil dari Seorin terlihat, masih lengkap dengan baju berlambangkan FT Island.nya dan bendera kuning di tangannya. “Aaah, kalian yang menyandera anakku tadi ya, annyeoong~,” sahutnya ramah begitu melihat dua pria yang ada di pojok ruangan.”Mana anakku?”

“U… umma?” panggil Minhwan sambil mencoba membenarkan diri dari dari posisi jatuhnya.

“Aigooo~Kenapa kau malah tiduran di situ? Eh, tunggu.. Kau terluka?” Seorin buru-buru mengampiri anak laki-laki pertamanya itu dan memeriksa luka terbuka di dahinya. Jiiiiitttttt. Tatapan Seeorin langsung bergerak ke arah dua perampok tadi dan membuat keduanya berjengit ngeri karena ancaman tanda bahaya.

“YA~~.” Geram Seorin mengerikan. Tatapan sadisnya membuat kedua perampok itu lansung menciut saat ia dekati. “Sudah kubilang jangan sampai anakku terluka, kan?”

“T.. tunggu nyonya, anda salah paham…..”

“L.. luka itu bukan kami yang…”

“TIDAK PERLU ALASAN!!”

BUGH! DUAKKK! GUBRAKKK!! KRUMPYANGGGG!!

Selanjutnya, hanya kekuatan seorang umma*?* yang berbicara.

o[]o[]o[]o

“Ya, kau tidak seharusnya kabur seperti itu, Minari~. Hari ini usiamu bertambah, kan? Harusnya kau tambah dewasa juga.” Seorin berbicara dalam perjalanan menuju rumah keluarga Lee bersama Minhwan. Mereka sudah menyelesaikan urusan dengan perampok itu, mulai menghajarnya dengan jurus-jurus Taekwondo Seorin yang diwarisinya saat SMA, melaporkan mereka ke polisi dan meminjam beberapa lembar/plakkk maksudnya mengembalikan keseluruhan uang hasil rampokan yang ternyata disembunyikan di rumah Heechul juga.

Kasihan… Padahal mereka kan sebenarnya tidak salah apa-apa pada Minhwan. Tapi jujur, Minhwan sedikit terharu saat ummanya menghajar perampok itu hanya karena ia terluka.

“U.. umma ingat kalau aku ulang tahun hari ini?” tanya Minhwan dengan mata berbinar.

“Tentu saja. Meskipun umma tetap mendahulukan drummer FT Island itu, umma dan yang lain ingat kok.”

“Eh? T.. tapi tadi waktu semuanya kutanyai…”

Seorin tersenyum lembut. Sesuatu yang sangat jarang dilihat Minhwan karena biasanya ummanya tersenyum penuh keevilan. Mereka sudah di depan rumah saat ini.

“Ayo masuk. Semuanya menunggu di dalam sekarang..” sahutnya seraya membukakan pintu untuk Minhwan.

Jantung Minhwan berdetak kencang. Antara senang karena ternyata tidak ada satupun keluarganya yang melupakan ulang tahunnya kali ini dan penasaran dengan kejutan apa yang sebenarnya disiapkan oleh mereka. Dengan hati mantap akhirnya ia melangkahkan kaki masuk ke rumah.

“Aku pulaaaaanggg~~,” sahutnya ceria.

“YA, hyung~, kenapa kau lama sekali? Kuenya sudah kami habiskan gara-gara kau tidak pulang-pulang.”

Bukan sambutan.. Bukan ucapan selamat.. Tapi kata-kata protes dari adiknya, Minwoo, itu yang pertama kali ia dengar setelah masuk pintu. Sekejap ia terpuruk. Sepertinya ia memang tidak bisa berharap banyak dari keluarga ini.=_=;

“M..MWO!! Kuenya habis????” tanya Seorin yang langsung buru-buru masuk untuk memastikan pendengarannya. Betul saja, di meja yang ada di depan suaminya -Lee Hyuk Jae- dan ketiga anaknya -Hyunri, Minwoo, dan Yoogeun- kue yang seharusnya masih utuh untuk penyambutan Minhwan sudah nyaris tak bersisa kecuali lilin dan hiasannya.”Yaaa~~ Aku kan belum makaaaaannnn~~.”

Cuma dalam hitungan detik, ruang keluarga itu langsung ramai dengan protes Seorin, pembelaan diri Hyuk Jae, Hyunri dan Minwoo yang asik makan popcorn untuk menonton adegan sinetron antara appa dan ummanya, serta si bungsu Yoogeun yang menarik-narik baju ummanya minta diantar ke kamar mandi.

Minhwan hanya menghela nafas panjang dan berjalan ke arah sisa-sia kue yang tadinya ditujukan untuknya. Ada satu kartu ucapan di samping kue itu dengan namanya tertulis di kertasnya. Sepertinya ini kartu ucapan dari keluarganya. Satu persatu ia membaca tulisan di dalamnya.

“Minari~ saengil chukae~ karena umma tahu kau suka ayam, umma berikan koleksi gambar makanan dari ayam untukmu~.” –Umma-

==a.Ternyata sifat hemat ummanya ini tidak tergoyahkan. Daripada membelikan Minhwan makanan, Seorin malah memberikan hadiah aneh semacam ini dan membuatnya makin ingin makan ayam. Minhwan melirik benda lain yang ada di meja. Sebuah buku kecil dengan gambar ayam yang Minhwan yakin digambar sendiri oleh ummanya. Ia lalu melanjutkan membaca pesan yang lain.

Minari~ Berhentilah menyukai ayam~. Apa kau tahu batin appa menderita tiap kali harus mengeluarkan budget beli ayam goreng tiap bulan?? –Appa-

==a.Orang tuanya yang satu ini juga sepertinya tidak sembuh-sembuh dari penyakit pelitnya.

“Saengil chukae~ nae dongsaeng~~. Aku baru tahu kalau kau suka ayam.” –Hyunri-

==a.Sebenarnya sudah berapa tahun mereka hidup satu atap??

“Hyung~ kalau kau makan ayam, berbagilah denganku. Aku lapar~. Bagaimana kalau kau membelikanku ayam goreng saja sekarang?” –Minwoo-

==a.Anak ini sepertinya sudah teracuni oleh lingkungan rumah yang tidak beres ini. Kemana perginya adik manis yang bahkan selalu memberikan jatah ayamnya pada hyungnya ini??

“Hyung…… Sarang haeee~~.”-Yoogeun-

Kata-kata Yoogeun bagaikan oase di padang pasir dan mentari yang baru saja mengukir sinarnya di hati Minhwan. Dari semua pesan keluarganya, tulisan acak-acakan Yoogeun yang masih belajar menulis itulah yang membuat dadanya terasa sejuk oleh tiupan angin musim semi.

Yah, meskipun pesan-pesan yang lain terasa cukup menyedihkan, Minhwan lumayan senang juga karena itu adalah salah satu bukti kalau keluarganya masih perhatian padanya. Terlebih lagi, mereka sempat mempersiapkan kejutan untuknya meski tak jadi dijalankan. Yah, walau bagaimanapun pelitnya, anehnya dan tak bisa diungkapkan dengan kata-katanya perbuatan mereka, mereka tetaplah keluarganya yang nomor satu dan paling dicintainya.

“Oh ya, Minari, appa lupa satu hal..” sahut Hyukjae yang tiba-tiba rehat sejenak dari pertengkarannya dengan Seorin.”Uang untuk beli kue itu kuambil dari tabunganmu, jadi jangan kaget kalau uangmu ada yang hilang, oke?”

“M.. MWWOOOOOOO??????”

Dan begitulah cerita tentang suatu hari di mana Minhwan berulang tahun berakhir…

-The End-

Advertisements

3 responses »

  1. heran.. gak bisa komen di wp sendiri.. musti di kompi dlu in /plakk…
    hyuk, mantu umma yg cute, yg bibirnya selalu minta di cubit,
    kamu perhitungan gak usah segitu’a, staun 12 kali aja kaya yg berat banget
    umma yg tiap hari sediain ayam buat kalian gak pernah ngeluh, ckckck~

    • wkwkwkwk,,
      eh, kenapa yang dipuji-puji si unyuk?? jangan umma~~ makin dipuji dia makin pelit*?*
      itu si minan sekali sebulan tapi satu karung/plakkk

      btw ini ff sebenernya critanya ttg apa si =_____=*garuk tembok*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s