(Short Story) Wonbin Oh Wonbin, He Makes Me Crazy [6]

Standard

Author : Asuchi

Main Cast :

*) Lee Jaerin, Jaejin’s twin [OC]

*) Oh Won Bin

Other Cast :

*) Son Hyora, Jaerin’s friend

*) Jaerin’s family

Genre :  AU, pengen Romance tapi liat tar, gaje sangat, humor aneh bertebaran dimana-mana

Rate : G

Disclaimer : As usual, aku bayar para pemaen yg maen di ep2 aku pake cinta, kecuali para OC J

A/n : Aku belom kenal bener ma WonBin, jadi anggep aja dia emang penyanyi dari FnC tapi beda karakter sama asli’a, haha /plakk… piku ancur, mian.. aku gak bakat ngedit poto *nyengir siwon*. awalnya pengen bikin yg normal, taunya malah jadi ‘normal’. Maklumin yaa… Happy reading ^^


Chap 1 | Chap 2Chap 3 | Chap 4 | Chap 5 |

Aku menatap Hyora yanng berkali-kali menghembuskan nafas beratnya. Dia menopanng dagunya dengan kedua tangannya. Tampangnya terlihat sedikit lebih baik.

“Gosipnya sudah menguap, aku juga tidak pernah lagi mendengar gosip yang lain. Tapi kau tahu tidak?” Tanya Hyora sambil menoleh ke arahku.

Aku menggeleng karena aku bahkan tidak tahu jalan pembicaraan teman di sampingku itu.

“Aku bermimpi kalau yeoja yang bersama Won Bin oppa waktu itu adalah kau. Aneh kan?”

Aku tersentak, telapak tanganku mendadak berkeringat.

“Tapi untung itu hanya mimpi. Tak mungkin juga kalau yeoja itu kau, hahaha…. Akan jadi suatu hal yang mustahil.” Ucap Hyora sambil terkekeh. “Eh, waeyo Jaerin-ah??” Tanyanya saat menoleh ke arahku dan menatapku yang aku yakin wajahku kini pucat pasi.

“A… anniyo. Gwenchana.” Kataku cepat. “Eh. Hyora, apa kau sudah mempersiapkan bahan untuk persentasi besok?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

Hyora menggeleng. “Belum. Aku terlalu pusing karena gosip kemarin. Kau sudah?” Dia balik bertanya. Aku mengangguk. “Kalau begitu kau bantu aku ya. “Aku bawa mobil appa hari ini, kita ke rumahku nanti aku antar kau pulang. Bagaimana?”

Aku mengangguk lagi. “Baiklah. Kajja. Aku harus pulang cepat hari ini karena Seorin eonni akan datang bersama Minwoo dan Minhwan.” Ajakku sambil bangkit dari tempat dudukku.

Ddrrtttt…. Ddrrrrtttt….

“Eh Rin-ah, ponselmu.” Hyora yang masih duduk di tempatnya mengambil ponselku yang ada di meja. “Oppa?” Tanyanya begitu melihat layar ponselku.

Buru-buru aku merebut ponselku dan melihat ponsel yang terus saja bergetar di tanganku. Panggilan masuk dari Won Bin oppa. Beruntung aku hanya memberi nama ‘oppa’ di kontak ponselku. Aku menoleh pada Hyora yang menatapku heran. Kalau aku menjawab, aku takut Hyora tahu. Tapi, ini kali pertama Won Bin oppa meneleponku sejak kasus banjir air mata Hyora di kamarku.

Akhirnya aku menekan tombol hijau karena malaikat rinduku lebih mendominasi. “Oppa.” Ucapku begitu menempelkan ponselku di telinga.

“Rin-ah, annyeong. Apa kabar?” Tanya Won Bin oppa.

Aku menoleh Hyora. “Nugu?” Tanyanya dengan tatapan menyelidik.

“Chingu.” Jawabku tanpa suara. Hyora terlihat tidak percaya. Tentu saja. Aku sangat jarang sekali memanggil seseorang dengan panggilan ‘oppa’.

“Kau menyembunyikan sesuatu dariku Rin-ah.” Ucap Hyora.

“A…”

“Rin-ah, Jaerin….” Won Bin oppa memanggilku.

“I… iya oppa.” Jawabku gugup. Aku memalingkan wajahku, menghindari tatapan dari Hyora.

“Gwenchana? Apa aku mengganggumu?” Tanyanya.

“Anniyo.” Ucapku cepat. “A…”

Hyora langsung merebut ponselku. Dia menempelkan ponselku di telinganya. “Yoboseyo?” Tanyanya pada Won Bin oppa.

Keringat dingin mulai berproduksi lagi di telapak tanganku juga pelipisku. Aku melihat dengan sangat jelas ekspresi Hyora yang tiba-tiba berubah. Matanya membulat, mulutnya menganga, ekspresi kaget tergambar dengan jelas di wajahnya. ‘Ya Tuhan, jangan sampai Won Bin oppa bicara jujur.’ Mohonku. Hyora menatapku tajam danaku terperangkap dalam tatapannya itu.

“Oh, jadi namamu Tae Shik? Son Hyora imnida. Waktu itu aku tidak sempat memperkenalkan namaku, mianhae. Oh iya oppa, apa kau tahu Won Bin oppa? Orang yang dulu aku sebut-sebut saat ponsel Jaerin ada di tanganmu. Suaramu sangat mirip dengannya. Aahh~~~ aku seperti sedang berbicara dengannya. Oppa, ayo bicara lagi, aku ingin mendengar suaramu.” Ucap Hyora hampir tanpa jeda dengan wajah senang tak terkira.

Aku mengucap syukur berkali-kali saat tahu kalau Won Bin oppa tidak membocorkan identitasnya. Eh, chakkaman. Itu kan telepon untukku.

Aku langsung merebut ponselku dari tangan Hyora. “Oppa, mianhae. Temanku sudah bicara yang aneh-aneh. Kau sedang tidak sibuk?” Tanyaku.

“Gwenchana. Temanmu sedang bersamamu? Apa tidak masalah?” Tanyanya dengan nada khawatir.

Hyora berusaha untuk merebut lagi ponselku. Sepertinya gila Hyora sedang kumat. Dia terlihat sangat bernafsu untuk mendengarkan lagi suara Won Bin oppa. Tapi aku tidak akan mengijinkannya. Aku juga ingin mendengarkan suaranya. Aku merindukannya. Hyora akhirnya menyerah.

“Kau harus memberiku penjelasan nanti!” Tuntutnya sebelum kemudian mengambil iPodnya.

“Ne, kau tenang saja oppa. Sekarang dia sudah bermain di dunianya sendiri.” Jawabku. “Ehm, maksudku dia sedang mendengarkan iPodnya. Mendengarkan lagumu pastinya.” Terangku saat melihat Hyora sudah sibuk menaik-turunkan kepalanya mengikuti irama lagu di telinganya dan ta bisa mendengarkan pembicaraanku. “Oh iya, tumben oppa meneleponku.”

Aku mendengar suara tawa Won Bin oppa. “Hanya merindukanmu.” Jawabnya.

Ada sekian detik aku bahkan lupa bagaimana caranya bernafas saat mendengar dua kata terakhir dari Won Bin oppa.

“Rin-ah.. Rin-ah….” Won Bin oppa Memangilku. Membuatku sadar dan bisa lagi bernafas. “Aku sekarang sedang ada di Jepang, kau mau bawakan sesuatu untu oleh-oleh?” Tawarnya.

“Chakkaman oppa, ada SMS masuk.” Ijinku kemudian mengecek SMS masuk pada ponselku

From : Seorin eonni

Jaerin-a~~~ kalau ada yg org di jepang menawarimu oleh-oleh bilang eonni mau patung  miniatur Kamiki >,< awas kalau kau tidak bilang, aku tidak akan membawa Minan dan Minwoo hari ini.

Aku hanya bisa memelototi isi SMS itu. Indera keenam Seorin eonni memang menakutkan, apalagi untuk sesuatu yang berbau Jepang dan gratis seperti ini. Aku heran kenapa dia bisa sampai tahu.

Aku teringat pada Won Bin oppa, menempelkan lagi ponselku di telingaku. “Emm… kalau oppa tidak keberatan, bisakah membawa patung minatur Kamiki Ryunosuke?” Tanyaku sedikit ragu. Aku malu harus meminta seperti ini. Tapia aku jauh lebih takut kalau Seorin eonni benar-benar tidak membawa para keponakanku. Aku merindukan keponakan-keponakan imutku itu.

“Akan aku usahakan. Ada yang lain?” Won Bin oppa.

“Tidak usah oppa. Itu juga sudah cukup. Oppa hati-hati nanti kalau pulang.” Pesanku.

“Hahaha…. Kau tenang saja. Nanti kalau aku sudah di Korea kita bertemu lagi ya. Tapi jangan sampai temanmu itu tahu.”

“Arasseo oppa. Annyeong.” Ucapku kemudian memutus sambungan telepon dengan Won Bin oppa.

Aku berbalik. Hyora sudah berdiri di depanku dengan kedua tangan bertolak dipinggangnya. “JE- LAS-KAN!!!!” Tuntut Hyora.

“Apa yang perlu dijelaskan?” Tanyaku.

“Oppa…. Oppa…. Oppa…. Oppa…. Nuguseyo?” Tanyanya dengan tampang layaknya seorang polisi bertanya pada seorang tersangka pembunuhan. “Aku tidak ingin kau bohong. Dari cara kau memanggilnya saja sudah jelas ada sesuatu antara kau dengan dia.” Tambahnya saat aku mau mengelak.

Aku menghela nafas panjang. “Seperti yang sudah aku jelaskan dulu, dia orang yang meminjam ponselku. Dan hubungan kami? Tidak lebih dari itu. Aku hanya berteman dengannya.” Jawabku bohong, meski kenyataannya itu 80% benar.

Hyora tetap menatapku tidak percaya. “Kalau begitu pertemukan aku dengan dia.” Ucapnya.

“MWO???”

“Wae?” Tanyanya karena melihat aku kaget mendengar ucapannya.

“M… mau apa?” Tanyaku bingung.

Hyora senyum licik. “Hanya ingin mendengar suaranya langsung. Pasti serasa Won Bin oppa yang berbicara langsung padaku nanti.” Jawabnya kali ini lengkap dengan cengiran gilanya.

“YA~~~” Aku berteriak. Hyora yang sedang senyum tidak jelas langsung menatapku bingung. “Aish, jinjja! Kau ini. Dia itu orang sibuk. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya, hanya saat mengembalikan ponselnya itu.” Ucapku kesal.

“Mian.”

“Kajja. Kita selesaikan saja tugasmu. Aku malas membahas orang itu.” Ajakku. Aku berusaha agar Hyora tidak memikirkan Won Bin oppa atau orang yang dia anggap ‘seperti Won Bin oppa’.

Aku berdiri di halte dekat perpustakaan. Salah satu trik agar Hyora mau menjauh dariku adalah dengan aku berada di perpustakaan, tempat yang sangat dibencinya. Satu jam yang lalu Hyora dengan baik hati mengantarku ke perpustakaan kota dan langsung pergi begitu sampai. Aku terpaksa berdiam diri di dalam perpustakaan selama satu jam agar Hyora tidak curiga.

Alasan aku begitu ingin menghindari Hyora? Apa lagi/ Won Bin oppa sudah pulang dari Jepang dan dia mengajakku untuk bertemu. Tapi Won Bin oppa tidak mengatakan padaku kami janjian dimana. Jadi aku mengatakan kalau aku akan menunggunya di depan halte dekat perpustakaan.

Beberapa menit yang lalu Won Bin oppa mengatakan padaku kalau dia akan sampai beberapa saat lagi. Aah~~~ aku sangat merindukan dia.

TIIINNNN….. TTTIIINNNN…….

Suara klakson menyadarkan aku. Aku menoleh ke arah mobil hitam yang berhenti tepat di depanku. Perlahan namun pasti kaca mobil itu turun dan memperlihatkan siapa orang yang ada di dalam mobil itu.

“Rin-ah! Sedang apa kau disana?” Tanya si pengemudi mobil  yang ternyata eomma.

“Eomma? Aku sedang menunggu teman. Eomma dari mana?” Aku bertanya balik.

“Mengantarkan Jino les tari di tempat Joon. Mau pulang? Masuklah.” Tawar eomma.

Aku menggeleng. “Aku mau pulang nanti saja. Temanku sebentar lagi datang.” Tolakku.

Eomma mengangguk, menaikkan kaca mobilnya dan pergi.

Beberapa saat kemudian sebuah mobil berhenti lagi di depanku. Kali ini memang orang yang sedang aku tunggu. “Won Bin oppa.” Ucapku antusias. Beberapa detik kemudian aku sadar dan menormalkan lagi ekspresiku yang kelewat senang. “Won Bin oppa annyeong.” Ucapku senormal mungkin.

Won Bin oppa membuka pintu penumpang tanpa keluar dari mobilnya. “Masuklah.” Ucapnya. Aku mengangguk kemudian masuk. “Mianhae. Aku tidak keluar. Tadi tidak sempat untuk membuat penyamaran.” Jelasnya. Dia kemudian mulai melajukan mobilnya di jalanan.

“Gwencahana oppa. Bagaimana Jepang?” Tanyaku.

“Baik. Tidak banyak berubah. Oh iya, ini….” Won Bin oppa memberikan sebuah paper bag padaku. “Pesananmu.” Ucapnya saat aku mau melihat isinya.

“Gomawo oppa.”

Won Bin oppa mengangguk. “Aku tidak menyangka kalau kau suka artis Jepang.” Komentarnya.

“Anniyo~” Elakku. “Ini untuk Seorin eonni. Dia sangat suka dengan Kamiki.” Terangku.

Won Bin oppa mengangguk. “Kalau begitu, aku tidak memberikan oleh-oleh padamu.”

Aku terkekeh. “Melihatmu saja sudah cukup oppa. Kita baru bertemu dua kali, dan yang ketiga merupakan oleh-oleh yang lebih dari cukup bagiku.” Jawabku.

“Kalau begitu aku akan mentraktirmu sebagai pengganti oleh-oleh. Kau tidak boleh menolak.” Ucap Won Bin oppa sambil mengerlingkan matanya.

“Arasseo.”

Kami, aku dan Won Bin oppa, kini sudah ada di sebuah restoran di daerah Hongdae. Aku sebenarnya agak bingung mengapa Won Bin oppa memilih daerah ramai seperti ini.

“Orang cenderung tidak akan berpikir artis akan berada di tempat seramai ini di waktu-waktu sekarang ini.” Ucap Won Bin oppa  tadi saat aku bertanya.

Setelah Won Bin oppa melakukan penyamaran, kami masuk ke sebuah restoran yang –lagi-lagi- agak private. Restoran ini sepertinya sering dikunjungi Won Bin oppa, karena saat kami memesan mankanan, Won Bin oppa terlihat berbincang akrab dengan pelayannya.

“… Jangan mengatakan pada siapapun. Oke.”

“Tenang saja Won Bin-ssi. Anda akan aman berada di sini.”

Setelah berbincang akran itu, pelayan tersebut pergi mengambilkan pesanan kami. Tepatnya pesanan Won Bin oppa, karena aku tidak memesan apapun. Semuanya dipesan oleh Won Bin oppa.

“Oppa sering kemari?” Tanyaku begitu pelayan pergi.

“Kadang-kadang. Dulu sering.” Jawabnya.

“Dengan yeoja?” Aku bertanya lagi.

Won Bin oppa terkekeh. “Jujur, baru kau yeoja yang aku ajak kemari. Kau tahu aku tidak terlalu dekat dengan yeoja.” Jawabnya lagi.

“Heran. Oppa kan tampan. Tapi kok seperti namja lajang tak laku yaa.”

“YA~~~” Won Bin oppa melotot padaku. “Aku ini banyak yang suka. Kalau aku mau aku bisa mendapatlan yeoja sebanyak yang aku mau.” Katanya berapi-api.

“Hanya bercanda oppa.”

Won Bin oppa mencebik.

“Aku ke toilet dulu ya oppa.” Ijinku kemudian keluar dari ruangan yang hanya ada kami berdua dan berjalan menuju toilet.

Sekitar lima menit kemudian aku selesai dengan aktivitasku di toilet dan kembali ke ruangan tempat Won Bin oppa menungguku. Saat aku memegang gagang pintu, sebuah suara yang sangat tidak asing terdengar memanggilku.

“Jaerin-ah!”

Aku menleh dengan sangat-sangat pelan. “Hyora-ya.” Aku mengucapkan nama orang yang memanggilku.

Hyora menghampiriku. “Sudah pulang dari perpustakaan? Kok sebentar? Sedang apa di sini?” Hyora menanyaiku bertubi-tubi.

Aku hanya diam sambil pucat, otakku sibuk membaut alasan yang pas.

Mata polisi Hyora beraksi, dia menatapku tajam. “Kau bertemu dengan Tae Shik oppa???” Tanyanya.

Aku hendak menjaawab, tapi Hyora langsung membuka pintu dan dia melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu.

 -to be continued-

Advertisements

15 responses »

      • Yach kal0 gk bsa di buatin n0vel, buatin bku yg isix kmpulan cerpen2 yg da di bl0g ini ajah, kan lumayan tuch,
        emMm btw lanjtan sh0rt st0ry (won bin 0h w0n bin he make me crazy) pngen pxa bkux dech biar bsa di bca ulag2,

  1. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [End] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  2. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [7] « [Kim n Lee Famz]'s Family

  3. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [8] « [Kim n Lee Famz]'s Family

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s