Summer Rains.. part 2

Standard

Author : Zen

Cast :

*) Lee Taeri, Lee Taemin’s (SHINee) twins>>OC

*) Song Seunghyun (FT Island)

*) Lee Taemin (SHINee)

*) Lee Jinki aka Onew (SHINee)

Genre : molla~~~, wkwkwk,, ga pinter nentuin genre,, romance???

Rate : G

Disclaimer : yah, seperti kata umma saiiya….

As usual, aku bayar para pemaen yg maen di ep2 aku pake cinta, kecuali para OC

/plakkkk>>main comot kata2 orang tanpa ijin, =P,, pizzzz ummaaa~~

A/n: all this story is fiction, kekekeke~~ author sama sekali ga tau tempat-tepat di korea, jadi cuman main karang aja,hhe*nyengir*/plakkkk,, ga ada kewajiban buat RCL kug, =P,, tapi kalau emang pengen like ma komen sah2 aja dan arigato sankyu veri kamsha, hhe..

oh iya,, catatan… kalau yang tulisannya semua miring itu artinya flash back^^

Let’s get it started________

.:Now.. In Living Room:.

“Kalian baik-baik saja, kan?” Pria paruh baya di depanku mencoba tersenyum meski dengan canggung. Aku dan TaeMin hanya ber‘ye’ pelan sambil menyeruput teh hangat yang sengaja disediakannya untuk kami.

Tiga tahun kami tidak pernah bertemu.. Tiga tahun aku selalu mencoba menghindar.. dan inilah hasilnya.. Aku bahkan tidak bisa lagi berbicara dengan lancar kepada seseorang yang harusnya bisa kupanggil manja dengan panggilan appa. Suasana beku ini benar-benar menyakitkan..

“A.. appa sendiri?” kupaksakan mulutku untuk mengeluarkan kata-kata itu. Aku tidak tahu apa yang harusnya kukatakan di saat-saat seperti ini. Kepalaku kosong..

Kulihat appa tersenyum dan mengedarkan pandangannya dengan menerawang ke sekeliling ruangan yang ada dalam jangkauan pandangannya.

“Kalian tahu..” sahut appa, masih menatap ke arah selain kami. ”Rumah ini begitu sepi tanpa kalian..”

Perasaan aneh kembali berkecamuk dalam dadaku. Kugigit bibir bawahku tanpa sadar. Sesuatu yang mengganjal itu sama sekali tak mau pergi dari sana. Tengorokanku kering dan lidahku begitu kelu untuk sekedar berbasabasi atas pernyataan appa.

Apa yang seharusnya kukatakan di saat seperti ini????

 

 [][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

.:16 July, afternoon, Onew oppa apartemen:.

“Aku pulaaaaaanggg~~” ucapku bersemangat sambil membuka pintu apartemen Onew oppa dan melempar tasku begitu saja di sofa. Kuambrukkan diriku dengan santai di samping tas.

“Ya! Apa yang kau lakukan di sini?? Tadi pagi kan kau sudah pulang, kenapa kembali ke sini lagi? Pulang sana, umma dan appamu khawatir tahu!” protes Onew oppa cepat begitu melihatku seraya menyentilkan jari telunjuknya ke dahiku.

Aku meringis kesakitan tapi sambil terkekeh.

“Oppa~~” panggilku manja sambil memasang senyum termanisku.”Ijinkan aku menginap di sini lagi ya, ya, ya??” rengekku seraya menarik-narik bajunya. Oppa hanya menatapku dengan dingin.

“P-U-L-A-N-G..” ejanya penuh ancaman.

“Shireoo~~” tolakku dengan muka memelas.”Jebaaall~ ijinkan aku tinggal beberapa malam lagi di sini~”

“Ya, kau ini kan masih punya rumah dan orang tua. Kau tidak takut kalau appa dan ummamu kelimpungan mencarimu?”

Aku terdiam seketika. Onew oppa belum tahu soal rencana perceraian itu ya.. Suaraku begitu lirih saat kata-kata berhasil keluar dari mulutku. “Aku bahkan tak yakin kalau mereka masih memikirkanku..”

“Mwo?” tanya Onew oppa.

“Ah.. a anniyooo~~” ucapku dengan nada dan muka yang kupaksakan untuk kembali ceria. ”Kumohon.. ijinkan aku tinggal di sini ya oppa~ Taemin sudah kusuruh untuk membawakan semua barang-barang kami ke sini. Oppa tidak ingin membuat kerja keras Taemin sia-sia kan?” Aku mencoba mendesak Onew oppa sekali lagi.

“Mwo?” sahut Onew oppa kaget.

“Makanya… boleh ya oppa~” ucapku sekali lagi.

Onew oppa menatapku dengan tatapan nyaris tak percaya dan menghembuskan nafas panjangnya sebelum akhirnya berbalik dan menjawab pertanyaanku.

“Aish.. ara.. ara! Tinggallah sesuka kalian.”

“Jincha-yo? Kyyaaa!! Gomawo oppaaa~~” teriakku super ceria. Aku segera membongkar-bongkar isi tasku dan masuk ke kamar yang semalam jadi kamarku juga. Ada dua kamar di apartemen ini, satu kamar Onew oppa dan satunya lagi kamar yang memang disediakan untukku yang sering sekali menginap di tempat ini.

“Oh ya..” sahutku saat sampai di depan pintu kamar.”Aku boleh minta bantuan oppa tidak?”

“Apa lagi~??” tanya Onew oppa gemas.

“Oppa mau kan pergi ke rumahku dan mengambilkan barang-barangku dan Taemin di sana?”

“He?” Onew oppa mengernyit heran.”Bukannya tadi kau bilang Taemin sudah..”

“Aku bohong,” tukasku cepat sebelum perkataan oppa selesai.”Hhe..”

“YA! LEE TAE-“

Brakkk!! Kututup pintu dan kukunci dengan cepat sebelum tangan Onew oppa sempat bergerak untuk menjitakku dengan gemas bercampur kesal.

“Habis kalau aku tidak bohong oppa tidak akan mengijinkan kami tinggal!” teriakku diiringi usaha Onew oppa untuk membuka kenop pintu.

“YA! Buka pintunya Taeri-ah!”

“Aku sudah menulis semua yang harus dibawa, tolong ya oppa!” teriakku sekali lagi seraya menyelipkan selembar kertas berisi tulisan kecil-kecil milikku ke bawah pintu sebelum kemudian mengambrukkan diri di kasur dan menutup kepalaku dengan bantal, membiarkan Onew oppa teriak-teriak begitu saja di luar kamar.

Mian oppa.. Aku dan Taemin sedang benar-benar tidak ingin pulang!!>.

“YA! TAE RI-AH!”

 

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

.:17 July, early morning:.

Aku berjalan jinjit dengan susah payah supaya tak menimbulkan suara saat keluar kamar dan berjalan menuju dapur. Sejak semalam aku sama sekali tidak keluar kamar untuk menghindari ‘balas dendam’ dari Onew oppa. Aku bahkan tidak tahu nasib TaeMin seperti apa saat bertemu Onew oppa kemarin. Apa dia jadi sasaran balas dendam oppa? Apa dia baik-baik saja? Huwwee.. mianhe TaeMin-ah, aku memang bukan dongsaeng yang baik. Aku pasti akan memperbaiki semuanya kalau suasana sudah kondusif!

Krucuk krucukkk~~ Terdengar lagu keroncong yang begitu kukenal dari perutku. Aisshh.. rasa lapar gara-gara tidak makan seharian kemarin ini benar-benar menyiksaku.

Kuteruskan aksi agen 007ku untuk mengendap-endap ke dapur tanpa diketahui Onew oppa. Setelah sampai dengan selamat di sana, aku segera membuka kulkas dan mengacak-acak isinya, mencari apapun yang bisa langsung kumakan.

“Aishh.. oppa benar-benar tidak modal. Masa tak ada makanan yang bisa dimakan di kulkas..” gerundelku saat tak ada makanan siap makan yang kutemukan di kulkas.

“Jadi kau masih punya waktu untuk keluar kamar dan protes padaku ya…”

GLEKKK.. Dengan gerakan patah-patah aku menengok ke belakang, ke arah aura kegelapan dan suara ancaman barusan berasal.

“P…p..pagi oppa~~” sahutku sok innosen.”Hhee.. A..a..ANNYEONG!” tanpa menunggu komentar apapun dari oppa, aku sudah lari dan berkelit darinya ke arah pintu. Buru-buru aku keluar dari kamar apartemen setelah menutup pintunya dengan bantingan keras. Aku sendiri tidak tahu kenapa mendadak aku begitu phobia dengan keberadaan Onew oppa.

“Ya! Lee Tae Ri, kita perlu bicara!” Onew oppa membuka pintu apartemennya dan menyilangkan kedua tangannya di dada seraya menatapku tajam.

“A.. andwaeee~~!” ucapku sambil masuk ke lift sebelum Onew oppa terpaksa mengejarku. Kupencet tombol lift sekenanya, entah lantai berapa, yang penting pintu segera menutup. Aku bahkan tidak tahu apakah Onew oppa berusaha menyusulku atau tidak.

Ting!

Tak berapa lama, lift yang kutumpangi berhenti bergerak dan pintunya terbuka, memperlihatkan pemandangan lorong yang meskipun aku tahu berbeda lantai dengan milik Onew oppa tetap saja terlihat sama. Begitu memastikan kalau Onew oppa tidak ada di manapun, aku memberanikan diriku untuk keluar dari lift.

“Haaaah…” Aku menghela nafas lega dan menyandarkan diri di samping pintu salah satu kamar apartemen.”Kadang oppa bisa benar-benar menyeramkan…==”

Aku mengelus perutku yang benar-benar terasa tanpa isi sama sekali. Pelarian barusan membuat orkestra di perutku makin menjadi-jadi saja.. Hupf.. Ottohke.. Kalaupun keluar apartemen aku kan tidak bawa uang sama sekali..TT_TT. Dengan lemas aku menatap pintu di sampingku.

Empat.. kosong empat..” ejaku lirih.

Kenapa sepertinya aku pernah tahu nomor kamar ini ya?

Aku sedang mengalihkan langkahku ke depan pintu dan melakukan pose berpikirku saat tiba-tiba saja pintu terbuka. Mataku bertatapan dengan mata manusia di depanku dan ada sesesuatu yang mendadak terlintas di otakku.

Bayangan tentang lift.. Seseorang.. Gerakan tangannya yang membentuk rangkaian 3 angka itu..

“Aaaahh!!” teriakku cepat.”Kau yang kemarin, kan???!” Aku buru-buru menutup mulutku saat menyadari kebodohanku. Berdiri di depan pintu orang yang sama sekali tidak kau kenal dan tiba-tiba berteriak sambil mengacungkan telunjukmu tepat di depan mukanya. Kebodohan macam apalagi ini Lee Tae Riiii.>.

Krucuk krucuk~~ Suara perutku memecah keheningan yang baru saja tercipta diantara kami. Namja di depanku tersenyum geli, sementara semburat merah terbentuk perlahan di pipiku. Perutku ini memang sama sekali tidak peduli situasi apapun lagi kalau sudah kelaparan ya.. ==

Namja itu menyahut pergelangan tanganku dan sebelum aku sempat berpikir, kakiku sudah berjalan cepat mengikuti langkahnya.

“T.. Tunggu! Kita mau ke mana??”

 

 [][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

.:Now:.

Pyukk. Pyukk. Aku membiarkan air mengalir di wajahku dan membiarkan sensasi segar mengusainya. Di tengah kebingunganku akan apa yang seharusnya kulakukan, kuputuskan untuk pamit ke kamar mandi dan mencoba menenangkan diriku. Kutatap bayangan wajahku yang terpantul di cermin.

Apa tujuanmu sebenarnya Tae Ri-ah?

Kuhela nafasku yang terasa begitu berat.

Mungkin memang harusnya aku tidak menemui appa saat ini. Aku belum siap sepenuhnya. Kalau harus jujur, aku tak pernah membencinya, hanya saja aku tak bisa membuat semuanya kembali terasa seperti dulu lagi, saat aku masih bisa bergelayut manja di bahunya, saat semuanya masih seperti sebuah keluarga seharusnya, saat umma masih ada.

Pikiranku melayang ke satu orang setelah itu.

Umma.. Aku bahkan juga belum bertemu dengannya sejak 3 tahun terakhir.. Bagaimana ya kabarnya?

Aku segera kembali ke ruang tamu setelah berhasil menenangkan pikiranku. TaeMin masih duduk di sana bersama appa. Atmosfir kecanggungan belum sepenuhnya meluntur di antara kami semua.

“Sebenarnya appa punya alasan tersendiri kenapa tiba-tiba menyuruh kalian datang ke sini..” ucap appa saat aku sudah duduk. Kami menatapnya, mencoba mendengarkan dengan seksama.

“Appa akan menikah lagi,” ucapnya sambil menatap masuk ke dalam bola mata kami.

[][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

.:17 July,Cafe:.

“Aahhh~~ hidupku terselamatkaaaann!>.

Aku melirik ke arah namja di depanku yang sedari tadi hanya menatapku dan tersenyum dengan tangan menyangga dagu. Jantungku masih terus berdegup lebih cepat tiap senyum itu melintas di depan mataku dan sensai panas dingin yang aneh terus membayangi tubuhku. Jincha.. Sebenarnya perasaan apa ini?

“Y.. ya.. jangan melihatku seperti itu terus.. Aku tahu kalau cara makanku memang berantakan, tapi kau tidak perlu sampai mengamatiku seperti itu. Aku malah jadi bingung harus bagaimana kalau kau menatapku terus seperti itu..” ucapku seraya menundukkan pandanganku dan menggaruk-garuk kepalaku yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.

Selembar kertas kecil disodorkannya di depanku. Ada sesuatu yang tertulis di atasnya.

Kau manis..

Peshh. Wajahku pasti merah saat ini.

“Y..ya! Sekarang kau belajar merayu? Meskipun aku mau kau ajak ke sini karena aku benar-benar kelaparan, bukan berarti aku mudah luluh dengan rayuan semacam itu.” Aku menggembungkan pipiku. Kuakui jantungku sempat berdesir saat membaca tulisannya itu, tapi setengahnya aku juga merasa sedikit kesal. Namja di depanku malah terkekeh tanpa suara.

Mian, mian~ aku Cuma bercanda. Aku sama sekali tidak punya maksud apa-apa, jadi jangan salah paham.

Lagi-lagi namja di depanku itu menulis di secarik kertas.

“Ya, kau ini aneh sekali, dari tadi menulis di kertas terus. Padahal kan aku ada persis di depanmu, kenapa kau tidak langsung bicara saja?”

Senyum kembali terkembang di bibirnya.

Apa kau tak tahu kalau berkomunikasi dengan cara seperti ini sedang tren?

“Cheongmal yo?” tanyaku dengan poolosnya.”Kalau begitu apa aku perlu menulis sepertimu juga?”

Hha.. Kau tidak perlu melakukan hal seperti itu.

“Aish, kau benar-benar aneh,” ucapku.”Tapi aku harus berterima kasih banyak padamu. Kau sudah banyak menolongku. Saat hujan.. dan saat ini juga. Gomapta. Cheongmal gomapta,” tambahku cepat sambil menganggukkan kepalaku dan tersenyum. Dia balas tersenyum.

“Ah ya, siapa namamu? Kita belum kenalan, kan? Lee TaeRi imnida,” aku memperkenalkan diri.

Song SeungHyun..  tulisnya singkat di atas kertas, lalu ia menambahkan sesuatu di bawahnya ..danaku tak berbohong saat bilang kau manis..

Aku yakin kalau aku tidak bisa bernapas tiba-tiba.

 

 [][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

“Duduk!”

Kata itu keluar sebagai kata kedua setelah kata ‘Masuk!’ yang ia ucapkan di depan pintu saat aku pulang ke apartemen. Setelah berpikir masak-masak, tidak ada gunanya aku menghindari Onew oppa terus, karena itu aku menyiapkan mentalku untuk menampung semua ceramah Onew oppa baru pulang ke sana.

TaeMin sudah menunggu di sofa dan aku segera duduk di sampingnya. Onew oppa menatap kami tajam dengan kedua tangan terlipat di dada. Tak ada yang berani bicara diantara aku dan TaeMin.

“Kudengar dua minggu lagi orang tua kalian akan sidang?” ucap Onew oppa tiba-tiba, sesaat setelah keheningan terasa menghantui kami.

Aku dan TaeMin saling lirik tanpa dikomando.

“Darimana hyung tahu?” tanya TaeMin kemudian.

“Ya! Kalian pikir kenapa kemarin aku lama sekali di rumah kalian, ha? Umma dan appa yang kalian cerita padaku semuanya,” sahut oppa.

“Jadi oppa bukannya marah karena aku bohong pada oppa kemarin?” tanyaku takut-takut.

“Aku marah.”

GLEKKK..

“Tapi aku marah bukan karena itu. Karena kalian sama sekali tidak cerita padaku tentang hal itu dan membiarkan aku merasa dibodohi dengan keanehan sikap kalian belakangan ini.”

“Mian..” sahutku dan TaeMin berbarengan dengan kepala tertunduk.

“Aku tahu kalian pasti tidak suka membahas hal itu, tapi kalau kalian ada masalah, bicaralah padaku. Walau bagaimanapun, aku oppa dan hyung kalian, aku pasti akan membantu kalian selama aku bisa, jangan sungkan,arasso?”

“Ne..” Lagi-lagi aku dan TaeMin menjawab bersamaan.

“Kalau begitu oppa..”sahutku.”Apa aku boleh minta satu hal?

“Apa?”

 

 [][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

.:18 July, 303 apartement:.

“Jangan salah paham ya, aku ke sini hanya untuk mengembalikan payung yang dulu kau pinjamkan padaku. Ini!” Aku mengulurkan payung yang ada di tanganku dengan tegas pada Seung Hyun yang ada di depanku. Pagi ini, kuputuskan untuk menemuinya lagi.

Seung Hyun hanya terkekeh geli saat menyahut uluran payungku.

Ara.. Ara.. Gomawo.. Kau tidak kelaparan lagi kan kali ini? Ia menulis di notesnya. Heran bagaimana bisa dia terlatih menulis di notes itu dengan cepat dan tulisannya masih terbaca.

“Ya, aku kan ke sini bukan kalau butuh makanan saja..” tukasku menggembungkan kedua pipiku.

Kau mau masuk??  Tanyanya melalui notes.

“Mwo?Aku ini gadis baik-baik, aku tidak mau masuk ke apartemen namja yang baru saja kukenal begitu saja.”

Kalau begitu.. mau keluar denganku?

“He?”

 

 [][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][][]

“Whooaaaa, eskriiiiiiiiimm!!(>.Aku berteriak tanpa sadar saat suapan pertama dari makanan manis dan lembut itu masuk ke dalam mulutku dan meleleh di lidahku. Saat sudah berhadapan dengan eskrim, dunia seakan hanya jadi milikku dan es krim saja. Aku bahkan mungkin tak akan menyadari keberadaan orang di depanku kalau dia tidak tiba-tiba menyodorkan notes kecilnya padaku.

Semua orang sedang melihatmu.

“Mwo?” ucapku kaget. Aku menatap sekelilingku. Benar apa katanya, semua pasang mata sedang menatapku. Mungkin heran, bagaimana bisa ada orang yang begitu histeris hanya gara-gara eskrim. Aku hanya nyengir dan kembali mengemut eskrimku dengan tenang setelah ‘berjeosong hamnida’ dan membungkuk pada mereka semua. Tak lama aku sudah asik lagi dengan dunia milikku dan eskrim itu.

“Ah, ada satu hal yang ingin kutanyakan,” tanyaku tiba-tiba saat teringat sesuatu. Aku menatap namja di depanku.

Apa?

“Kenapa kemarin-kemarin kau menghindariku?” ucapku bingung.”Saat pertama kali kita bertemu kau hanya tersenyum dan tiba-tiba pergi. Saat di apartemen juga, tiba-tiba kau menghilang dan masuk lift. Berapakalipun aku memikirkannya, tetap saja tidak ada jawaban yang masuk akal.”

Kau tak ingin menebaknya?

“Kalau aku bisa menebaknya aku tak akan bertanya padamu.” Aku mengerucutkan bibirku lalu mulai menikmati es krim lagi.

Errr.. Mungkin karena aku malu? Lagi-lagi dia menulis di atas kertas yang disodorkannya padaku sambil tesenyum. Aku menyeringai tipis.

 “Ya! Alasan macam apa itu?” 

Lagi-lagi dia hanya terkekeh tanpa suara. Tapi entah kenapa aku menimati senyum lebarnya saat ini. Manis.. dan itulah alasan yang selalu kukatakan tiap kali melihat pulasan kebahagian di wajahnya.

Aku tahu kau suka padaku, tapi tak perlu terus menatapku seperti itu..

Aku nyaris tersedak oleh ludahku sendiri saat dia menyodorkan kertas berisikan tulisan yang membuat mukaku merah seketika. Apa perasaanku begitu mudahnya terlihat?? Aigoooo..

“Y.. Ya!” Aku membalas kata-katanya dengan gugup.”Kata siapa aku menyukaimu? Kita baru bertemu beberapa kali, ingat? Kenapa juga aku harus menyukaimu kalau aku belum begitu mengenalmu??” dengan suksesnya kata-kata bohong itu keluar dari mulutku. Tunggu… kalau aku bilang kata-kata itu bohong apa itu berarti aku benar-benar menyukainya???

Seunghyun kembali menyodorkan sebuah kertas padaku.

Tapi aku menyukaimu 🙂 . .

Ia menuliskan semua itu sambil menatapku dan tersenyum. Omo…Kali ini jantungku yang hampir saja melompat keluar.

Ottohke???

dan lagi2 TBC~~~~ XD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s