Summer Rains.. part 3

Standard

Author : Zen

Cast :

*) Lee Taeri, Lee Taemin’s (SHINee) twins>>OC

*) Song Seunghyun (FT Island)

*) Lee Taemin (SHINee)

*) Lee Jinki aka Onew (SHINee)

Genre : molla~~~, wkwkwk,, ga pinter nentuin genre,,angst? romance???

Rate : G

Disclaimer : semua yang jadi cast di sini bayar aku pake cintaaaa~~~/plakkkkk

A/n: Hha, lagi ga bisa banyak gombal*tabok* happy reading aja yah^^,, kalau kepanjangan bilang yah~ maklum, author belum pengalaman bikin ff~*urek2 muka Hyuk*

oh iya,, catatan… kalau yang tulisannya semua miring itu artinya flash back^^

Let’s get it started________

SH_raining

Even I you say we’ll always together…

Even if you say we’ll never be a part..

I know all of this won’t last forever..

But..

Still..

Can I hope it to last longer??

All is Taemin’s POV

.: 10 July, Home:.

“Aku sudah tidak bisa lagi meneruskan semua ini..” samar-samar kudengar pembicaraan di ruang keluarga saat aku baru saja melangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah. Gerakanku terhenti tiba-tiba di depan pintu. Bahkan aku belum sempat untuk melepas sepatu yang masih melekat di kakiku ataupun sekedar mengucapkan salam.

“Apa menurutmu kita harus memberitahu mereka?” Kali ini terdengar suara laki-laki. Suara yang tak asing, suara appaku.

“Apa kau pikir mereka akan bisa menerimanya?” Giliran seorang perempuan yang menjawab pertanyaannya. Tidak salah lagi, ia ummaku. Terasa getar dalam nada bicaranya.

“Tapi, sampai kapan kita harus menyembunyikan masalah ini?” tanya appa lagi.”Mereka berhak tahu yang sebenarnya.”

“Aku.. hanya tidak yakin…” ucap umma lirih kemudian, tapi masih cukup keras untuk bisa kudengar. Entah kenapa hatiku teasa bergejolak tanpa alasan yang jelas. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?? Apa yang mereka sembunyikan hingga takut untuk kami ketahui??

“Mereka sudah cukup dewasa untuk mengetahui semuanya. Tak ada gunanya lagi kita meneruskan kepura-puraan ini,” sahut appa cepat, seakan masalah yang mereka bicarakan harus diunkapkan sama cepatnya pada kami.

“Tapi..”

“Bahkan, meskipun sangat menyakitkan.. mereka harus tetap tahu tentang rencana perceraian ini.”

Deg…

Aku yakin pertahananku goyah tiba-tiba. Sesuatu yang keras seakan menohok dadaku tanpa diduga. C.. Cerai?? A.. apa maksud semua ini.. Aku tak pernah mendengar pebmbicaraan seperti ini sebelumnya.. I.. Ini bohong, kan?? Aku hanya salah dengar kan?? Katakan kalau aku hanya berhalusinasi.. Kumohon..

“Ya, ternyata kau belum masuk?” seseorang menepuk pundakku tiba-tiba dan membuatku cukup terlonjak dalam kaget. Saudara kembarku, Lee Taeri dengan ekspresi muka polosnya sedang menatapku bingung. Aku bahkan tidak begitu sadar kapan ia masuk dan membuka pintu.

Sepertinya dia menyadari ketidakberesan dalam raut muka dan reaksiku karena dia langsung bertanya.”Gwencaha yo??” sahutnya khawatir.

“A.. annii~ gwenchana..” sahutku terbata.”Kapan kau masuk?”

“Baru saja. Wae? Apa terjadi sesuatu?”

“A.. annii~~!” ucapku cepat.”S.. sesuatu apa? Sama sekali tidak terjadi apa-apa, kok!” Aku segera menyibukkan diri untuk melepas sepatu yang masih melekat di kakiku.

Dahi Taeri mengernyit saat mendengar kilahanku. Dia tahu aku bohong. Dia selalu tahu bahkan tanpa aku perlu mengatakannya.

“Ya, Taeminnie, katakan ada apa? Kau menyembunyikan sesuatu dariku, kan?”

“Anniii~ kenapa aku harus menyembunyikan sesuatu darimu?”

“Bohong! Kau tahu kalau kau tidak pernah bisa bohong dariku, kan?” desaknya seraya mengerucutkan bibirnya dan menatap tajam ke arahku.”Cepat katakan ada apa.”

“Eopso yo~~,” kilahku lagi.

“Yaa~~ Taeminnie~~ palli ya~.”

“Eopso~~.”

“Yaaa~~.”

“Ya, ada ribut-ribut apa ini?” Dua sosok manusia yang paling tidak ingin kulihat keberadaannya saat ini berjalan dengan terburu-buru ke arah kami berdua. Sepertinya appa dan ummaku mendengar keributan kecil yang ditimbulkan oleh kami berdua. Tak ada kesan canggung atau keanehan apapun yang kulihat dari mereka, seolah pembicaraan yang tadi tak kusengaja kudengar itu benar-benar khayalanku semata. Ya, kuharap itu memang benar-benar khayalanku semata.

“Appa~~, umma~~ “ Taeri buru-buru melepas sepatunya dan berlari ke arah mereka. “Taemin menyembunyikan sesuatu dariku~,” ucapnya manja seraya bergelayut di bahu appa.

“Mwo? Cheongmal yo?” tanya appa yang disambut anggukan Taeri.”Ya, Taemin-ah, sejak kapan kau main rahasia-rahasiaan dengan adikmu, ha~,” sahut appa kemudian.

“A.. Annii~~ aku sama sekali tidak menyembunyikan sesuatu. Taeri hanya bercanda,” ucapku cepat, tapi bahkan tanpa berani menatap mata mereka.

“Bohong! Dia jelas-jelas masuk duluan daripada aku,  tapi dia malah berhenti di sini dan ketika kutanyai dia pasang aksi mencurigakan. Pasti terjadi sesuatu, iya, kan??” Taeri memberondongku dengan pernyataannya dan aku melihat raut kaget yang seharusnya bisa kuduga di wajah kedua orang tuaku. Tatapan mereka seakan bertanya pada diri mereka sendiri apakah aku tahu tentang sesuatu.

“Y.. Ya, apa yang kau bicarakan? Tadi aku berdiri terus di sini karena aku baru ingat kalau ada beberapa barangku yang ketinggalan. Ayo Taeri, temani aku!” Tanpa pikir panjang aku langsung menarik Taeri dan mengajaknya keluar. Satu-satunya hal yang ingin kulakukan saat ini hanyalah menyingkirkan pikiran buruk dari otakku dan menghindari kecurigaan dari Taeri. Aku tak tahu apakah pendengaranku memang benar, tapi aku masih tetap berharap bahwa kebenaran tak terasa menyakitkan.

“Y.. Ya, Taeminnie, apa yang kau lakukan? Aku harus pakai sepatu dulu. Sebentar, jangan cepat-cepat…  Ya! Aish.. A.. appa, umma, kami pergi dulu ya!” Suara pamitan Taeri dan debam pintu yang ditutupnya seakan jadi penutup sementara kenyataan yang tak pernah ingin kualami ini. Yah, aku tahu ini hanya sementara..

o[]o[]o[]o

“Kau bilang ada barangmu yang ketinggalan, tapi kenapa kau malah mengajakku ke minimarket?” tanya Taeri polos sementara aku sibuk memilih makanan kecil yang ada di depanku.

“Perutku lapar dan aku tidak bawa uang, makanya aku mengajakmu ke sini. Kau bawa uang, kan?” Aku menjawab pertanyaan Taeri asal-asalan saja. Mataku pura-pura sibuk melihat harga makanan kecil yang ingin kuambil, tapi aku sendiri sadar bahwa itu hanyalah kamuflase yang mati-matian kubuat untuk menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang belum juga mau hilang dari memori otakku.

“Ya… Taeminnie…” panggil Taeri setelah sempat terdiam beberapa saat.

“Hm?”

“Kau aneh.”

Segera saja gerakan tubuhku terhenti dengan canggung. Mataku yang sama sekali tidak fokus kemanapun semakin liar mencari alibinya. Aku benar-benar tidak suka saat seperti ini. Saat Taeri seakan bisa membaca apa yang ada di otakku sebenarnya.

“Kau tahu kalau aku yang paling mengenalmu, kan?” Ia tersenyum dan menjajarkan dirinya di sampingku, memilih asal-asalan snack yang ada di depannya dan memasukkannya begitu saja di keranjang kami. “Aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan dariku. Tapi, aku tahu kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Aku juga tidak akan memaksamu cerita sekarang kok, tapi kalau kau butuh aku, aku pasti akan selalu ada untukmu, arachi?” Ia tersenyum, merebut keranjang yang ada di tanganku dan berlari kecil ke arah kasir dengan ceria.

Kalau aku mengatakan semuanya saat ini.. Akankah ia masih bisa berkata seperti itu??

“Ya, Taeri-ah, tunggu!” sahutku kemudian. “Biar aku yang bayar. Aku bohong saat bilang tidak bawa uang!” Begitu Taeri menghentikan langkahnya, aku segera berlari ke arahnya dan mengambil kembali keranjang di tangannya. Ia hanya tersenyum.

“Ayo kita bayar berdua,” sahutnya sambil mengangkat sisi gagang keranjang yang lain sehingga kami sama-sama berbagi keranjang itu sekarang. Kali ini giliran aku yang tersenyum.

“Bodoh…”

“Bodoh begini juga saudara kembarmu, kan?” Kami terkekeh dalam cara yang indentik sebelum kemudian berjalan beriringan ke arah kasir berdua, sama seperti yang selalu kami lakukan dari kecil tiap kami berdua ke minimarket ini.

Duniaku kami, begitulah aku dan Taeri menyebutnya. Dunia di mana hanya ada aku dan Taeri di dalamnya. Tempat di mana kami bisa saling percaya dan memahami semuanya bahkan tanpa perlu mengucap satu kata. Saat di mana kami tahu kami bisa berbagi segalanya. Tapi, saat ini yang ada hanyalah duniaku. Aku tidak ingin menyakitinya dengan mengatakan semua yang telah kudengar tadi.. Aku tidak bisa membaginya dengan Taeri saat ini.. Tidak..

Saat itu, aku belum benar-benar menyadari.. Dunia kami, bahkan takkan selamanya hanya menjadi milik kami..

o[]o[]o[]o

.:13 July, Class Room :.

“TAERI MENGHILANG!!!” Kalimat pertama dari ummaku di telepon itu nyaris membuatku berhenti bernapas. Nada bicaranya terdengar begitu cemas dan ketakutan saat ia mengatakan kalimatnya yang selanjutnya.”Taemin-ah.. Kau harus temukan Taeri. Umma mohon..”

“Apa yang terjadi?”

“T.. Tentang perceraian itu.. umma dan appa..”

Tut. Aku bahkan tidak perlu mendengar penjelasan lebih lanjut dari mereka untuk segera memutus sambungan telepon dan berlari setelah menyambar tasku yang ada di meja. Hari ini, Taeri memang pulang lebih awal dariku, tapi aku bahkan tak sempat memikirkan efek buruk macam apa yang akan ia terima tanpa aku di sampingnya.

Sial! Kenapa harus ada kejadian seperti ini dalam hidupku????

“Kalianlah yang harus memberitahunya sendiri…” ucapku pada umma dan appa yang ada di depanku. Aku tahu mereka sengaja memanggilku untuk bertanya tentang kejadian yang kudengar di ruang tamu.

“Taemin-ah..”

Aku diam dalam bisu, sama sekali tak bisa menatap wajah mereka. Aku bahkan tak benar-benar tahu apa yang harus kukatakan pada mereka. Perasaan kalut ini benar-benar menyiksaku.

“Kami tahu ini memang berat untuk kalian..” sahut appa.” tapi..”

“Apa kalian pernah memikirkan perasaan kami..” tanyaku pelan sebelum appa menyelesaikan kata-katanya. Kupaksakan paru-paruku menerima pasokan oksigen dari luar meski itu membuatku makin sulit bernapas. ”Memutuskan semua ini demi kebaikan kalian.. Memutuskan semuanya tanpa bertanya dulu pada kami.. Apa karena kalian orang tua karena itu kalian bisa berbuat seenaknya??”

“Taemin-ah.. bukan begitu..”

“Aku tidak perduli!” sahutku.”Aku tidak perduli kalian mau berpisah atau tidak!” Aku mengatur emosiku secepat mungkin . Aku yakin air mata akan merembes keluar kalau tidak sekuat tenaga kutahan. Aku takut appa.. Aku takut umma.. Aku tak ingin ada perpisahan seperti ini.. Apa kalian tidak bisa mengerti perasaanku?

Aku memaksa tubuhku untuk berbalik dan memutar gagang pintu yang sekarang ada di hadapanku.

“Aku tak akan menentang apapun keputusan kalian…” ucapku lirih. ”Tapi…” Aku menarik nafas.”Bisakah aku berharap bahwa tak akan ada yang tersakiti?”

Blam. Pintu ruangan tempat umma dan appaku berada tertutup dengan sempurna setelah kulangkahkan kakiku keluar dari sana. Kusandarkan punggungku di pintu dan kurasakan dadaku yang terasa begitu sakit. Dari dalam bisa kudengar isakan samar dari ummaku dan suara appaku yang berusaha menenangkannya.

Aku bahkan tak bisa berkata “Jangan berpisah” pada mereka.

Tes.. Tes.. Kurasakan sesuatu yang dingin mengenai kulitku. Langit yang tadinya gelap karena mendung kini sudah menumpahkan isinya dan mulai menyenandungkan irama gemericik suara hujan. Aku sama sekali belum menemukan Taeri sejak sejam lalu meskipun sudah berputar-putar ke semua tempat yang biasa didatanginya.

Taeri-ah! Dimana kau sebenarnya??

“Hiks..” Aku terhenti saat isakan pelan itu terdengar di dekat taman. Suara isakan itu memang lirih, tapi bisa kupastikan kalau aku mengenalnya dengan baik.

“Hiks.. Hiks.. ” Gadis itu sedang menekuk lututnya dan bersembunyi di baliknya di salah satu sudut taman. Meskipun aku tidak tahu persis bagaimana rasa sakit yang ia alami, aku tahu kalau ia sangat menderita saat ini. Meskipun kadang terlihat lebih tegar, perasaan Taeri yang lebih mudah terluka sebagai seorang gadis tak bisa dipungkiri.

Aku baru saja ingin melangkah ke arahnya ketika niatku terpaksa harus kuurungkan karena seseorang sudah mendahuluiku. Seorang bocah laki-laki sebaya denganku dengan payung merahnya berdiri di depan Taeri saat ini. Ia menatap Taeri lembut dan menyerahkan payung di tangannya dengan senyuman, sesuatu yang entah kenapa membuat perasaan aneh bergejolak di dadaku. Aku terdiam di tempatku. Satu hal yang pasti.. Mulai saat ini.. Ada celah yang mulai menelusup dalam duniaku dan Taeri..

o[]o[]o[]o

.: 18  July, morning, Jinki hyung apartment:.

Aku dan Taeri memutuskan secara sepihak pada orang tua kami untuk tinggal di apartemen Jinki hyung, kakak sepupu kami yang saat ini masih kuliah tanpa memberitahu mereka sama sekali. Entahlah, aku sendiri bingung dengan perasaanku terhadap sikap kedua orang tuaku. Mungkin kami hanya akan saling menyakiti dengan cara ini, tapi aku sendiri masih belum benar-benar bisa menerima kenyataan perpisahan mereka.

Kalau pada akhirnya harus berpisah, untuk apa mereka menikah? Bukankah mereka menikah karena mereka saling mencintai? Apa ikatan cinta memang sebegitu rapuhnya? Apa kalau mereka sudah bosan dekan pernikahan mereka maka perpisahan adalah hal yang sah-sah saja? Apa aku bodoh kalau berharap mereka akan bersama selamanya?

Aku mengambrukkan diri di atas sofa, sedikit frustasi dengan hasil pemikiranku sendiri. Aku bahkan tak tahu bagaimana isi pikiran orang dewasa.

Tapi tunggu, kalau mereka tidak menikah tidak  akan ada aku ya??==a

“Hoahemmm~~.” Onew hyung keluar dari kamarnya sambil menguap lebar-lebar. Kelihatannya ia masih ngantuk karena semalam harus mengerjakan tugas kuliahnya sampai larut.

“Taeri kemana?” tanyanya saat hanya melihatku saja.

“Molla. Dia pamit padaku pergi sebentar, tapi sampai sekarang belum kembali. Wae? Hyung mau bicara dengannya?”

“Anni…” sahut Onew oppa, masih sesekali menguap. “Hanya mau cari makan, kau mau ikut?”

“Mana mungkin aku melewatkan kesempatan gratis, hhe..” ucapku sambil nyengir.

Hampir setengah jam aku menunggu Onew hyung untuk cuci muka, berganti pakaian dan sedikit menyemprotkan minyak wangi di tubuhnya. Setelah itu, ia mengajakku ke kafe kecil di dekat apartemen tempat dia biasa makan ayam.  Tadinya kami akan makan di tempat, tapi karena ingat Taeri belum pulang dan ada kemungkinan dia belum makan dari pagi, kami putuskan untuk membungkus makanannya dan segera kembali ke apartemen.

“Ya, bukankah itu Taeri?” tanya Onew hyung ketika kami melewati kafe lain yang menjual eskrim. Aku menyipitkan mataku untuk melihat ke dalam jendela kafe yang dilapisi kaca bening. Seorang gadis, identik denganku duduk berhadapan dengan seorang laki-laki. Entah dejavu atau apa, aku merasa mengenal laki-laki itu.

Tunggu…
Bocah laki-laki itu…

Bocah berpayung di taman waktu itu, kan?

Aku tidak tahu kenapa ekspresi Taeri saat bersama orang itu membuat perasaan aneh itu kembali menyerangku. Perasaan hampa seakan kehilangan sesuatu yang penting. Perasaan yang begitu menggangguku. Dia tak pernah bercerita tentang orang itu padaku. Dia tak pernah menyembunyikan sesuatu sebelumnya.

Aku tahu tak ada gunanya aku berpikir seperti itu.. Aku tahu suatu hari aku harus bisa melepasnya… Tapi..

Setelah perpisahan kedua orang tuaku. Apa aku… akan kehilangan Taeri juga?

Entah kenapa justru pikiran bodoh itu yang sekarang terlintas di otakku.

Berikutnya, kakiku sudah melangkah menuju tempat mereka tanpa kusuruh.

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s