Heartsick

Standard

Heartsick..

Author : Ma’ippo/Seorin

Cast :

*) Choi Minjoo [OC]

*) Choi Minhwan [FT Island]

*) Onew [SHINee]

Genre : Angst

Length : 793

a/n : Saatnya penggalauan masaall~~/plak. kekekeke~~ saiia sendiri nggak tahu kenapa bikin ff kayak gini==a. Hanya teringat kata-kata entah siapa di masa lalu*?*.”Sometimes I say that I’m okay, but sometimes you just can’t tell, is this my real, or just my fake smile.” Mian yah kalau ffnya ga jelas. Happy reading all^^

..Aku bahkan tak tahu apa lagi yang bisa kupercaya..

Terlalu banyak ilusi yang kalian buat

Terlalu banyak kebohongan yang kalian sembunyikan

Apakah aku terlalu bodoh hingga selalu percaya pada kalian??

 ~~~~~

Gadis itu masih menatap lantai di bawahnya dengan tatapan setengah kosong. Suasana atap yang sepi dan angin yang membelai lembut sama sekali tak mampu menggugahnya. Tubuhnya memang berada di tempat ini, tapi otak bahkan hatinya terpisah dari jiwanya. Sesekali ia masih berusaha menghapus air mata yang merembes keluar dari sudut kedua kelopak matanya. Ia tahu ini bukan saatnya menangis, tapi dia bahkan tidak bisa mengontrol buliran bening itu mendesak keluar dari sarangnya. Rasa perih itu belum mau hilang.. Bahkan meski ia sudah menyuruh otaknya untuk mencabut semua indera perasanya saat ini.

Sakit..

“Masih.. belum sembuh?” Suara lembut dari sosok bocah laki-laki belasan tahun yang dari tadi masih setia berada di sampingnya itu membuat tatapan gadis itu teralih padanya sesaat.

“Gwenchana..” ucap gadis itu lirih, memaksakan senyum terukir di bibirnya, tapi hal itu justru memicu air matanya untuk kembali mengalir. Ia buru-buru memalingkan mukanya lagi dan berusaha keras menghapus air matanya. “M.. Mianhe!” ucapnya terbata-bata, dalam isakan yang tak terdengar.

Bocah laki-laki itu tersenyum lembut, cukup tahu apa yang sebenarnya sedang dirasakan oleh gadis itu. Tangannya bergerak merengkuh bahu gadis itu dan membiarkan kepala gadis itu bersandar dengan tenang di dadanya.

“Kau tahu kalau aku akan selalu ada untukmu, kan?” lagi-lagi bocah laki-laki itu berkata. Gadis yang ada di pelukannya terdiam sebelum akhirnya menganggukan kepalanya pelan.

“Gomawo..”

“Kau tidak seharusnya mengatakan terima kasih padaku, Minjoo-ya..” sahut bocah laki-laki itu. “Aku tak pernah melakukan apapun untukmu.”

Minjoo menarik tubuhya dari pelukan bocah laki-laki itu dengan perlahan dan menatapnya dengan lembut dari bola matanya yang masih berselimut selaput bening.

“Selalu berada di sampingku.. Selalu mendengar semua kata-kataku.. Selalu mengatakan semuanya dengan jujur padaku.. Itu sudah lebih dari cukup untukku,” ucap Minjoo. ”Jangan pernah berpikir kalau kau harus melakukan sesuatu yang besar untukku supaya aku menganggapmu berharga Minhwan-ya.”

“Katakan..” Minhwan menatap lurus ke bola mata gadis di depannya. “Apa kau marah?”

Minjoo menggeleng pelan.

“Sama sekali tidak…” katanya lirih. “Aku hanya merasa sakit. Di sini..” Ia meletakkan tangannya di atas thoraxnya sendiri. Degup jantungnya yang lemah merembet dan menghasilkan irama tersendiri di saraf-saraf telapak tangannya. Rasa sakit itu tak bisa dirasakan oleh orang lain. Rasa sakit itu bahkan membuatnya tak pernah mampu untuk mengatakan segalanya pada orang lain. Hatinya terluka.. Terlalu dalam hingga pintunya tak bisa lagi terbuka untuk sekedar memberikan celah pada orang lain agar bisa menilik apa yang ada di dalam hatinya.

“Apa aku bodoh karena selalu percaya pada mereka?” tanya Minjoo.

“Kau tidak bodoh Minjoo-ah..” Minhwan menyibakkan rambut yang jatuh dengan halus, mencoba menutupi raut kepedihan gadis itu. “Kau hanya terlalu naïf…”

“Aku bahkan tak tahu lagi mana yang bisa kupercaya dan mana yang tidak. Dunia kadang berbalik menyerangku.” Lagi-lagi Minjoo berucap.

“Kau bisa percaya padaku…”

“Aku tak pernah meragukanmu Minhwan-ah. Sedikitpun. Aku hanya tak bisa percaya pada diriku sendiri.” Minjoo mengerang dalam kegelapan hatinya. ”Aku tak tahu sampai kapan bisa bertahan dengan kebohongan macam ini.”

“Menangislah saat kau ingin menangis, tertawalah saat kau benar-benar ingin tertawa. Jangan pernah memaksakan dirimu untuk terlihat kuat di mata orang lain. Kau hanya gadis biasa Minjoo-ah.”

Minjoo menahan sesak yang masih bergemuruh di hatinya. Kalau mereka bilang ia harus berhenti, ia pasti akan berhenti. Kalau mereka bilang sejak awal bahwa mereka tak menyukainya, hatinya pasti takkan sesakit ini.

Mendengar dari orang lain, bergelut dengan pikiran buruk yang menggerayangi otaknya dengan paksa, menyusup di hatinya yang entah sudah mati rasa. Tangisan takkan menyelesaikan segalanya. Tapi, tangisan adalah satu-satunya teman setia yang tak pernah mengkhianatinya.

Krieeettt. Pintu menuju tangga atap di belakang mereka terbuka sedikit. Sesosok manusia muncul dengan wajah polosnya yang sedang mencari sesuatu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh pojokan sebelum menyadari bahwa orang yang dicarinya sedang duduk bersandar pada salah satu sisi pagar atap dengan mata terpejam.

“Ya, Choi Minjoo!” ucapnya kemudian, lega karena akhirnya ia berhasil menemukan gadis itu dalam keadaan baik-baik saja. Yang dipanggil segera membuka matanya dan tersenyum begitu melihat pemanggilnya.

“Oi!” balas Minjoo dengan nada biasa, seolah air mata yang tadi ia teteskan tak pernah ada dan rasa perih di hatinya tak pernah nyata.

“Yaa~ kau di sini rupanya. Aku mencarimu kemana-mana. Sebentar lagi pelajaran mulai. Kajja.” Bocah laki-laki bernama Onew itu mengulurkan tangan untuk gadis di depannya. Dengan senang hati, Minjoo menyambut uluran tangan itu dan berjalan beriringan dengan Onew menuruni tangga dari atap gedung.

“Oh ya, sepertinya tadi aku sempat mendengarmu bicara dengan orang lain. Apa aku salah dengar?” Tiba-tiba saja Onew bertanya dalam perjalanan mereka.

“Hanya diriku sendiri Onew-ah,” sahut Taeri cepat sebelum mengalihkan pandangannya sekilas ke sosok seseorang yang ada di belakangnya, mengikuti langkahnya dan Onew dengan begitu tenang, seorang bocah laki-laki yang dipanggilnya Choi Minhwan. ”Dan diriku yang lain…” tambahnya lagi, lirih.

End…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s