Love and Revenge [part 1 of 2]

Standard

Author : Seo Rin/Ma’ippo

Cast :

*) Lee Donghae [Super Junior]

*) Jung Ae Tae [OC]

Genre :  Sedikit romance*?*

Disclaimer : semua cast dipilih murni karena cinta mereka pada saiia/plakkkkk

a/n: Sebenernya aku cuma pengen nulis “mati kepleset kulit pisang” aja, wkwkwk, ga tau kok malah bisa jadi gini critanya,, XP,, ni ff lama sekali*tabok*, pernah dipublish di sujuff, blog pribadiku dan notes fbku, jadi maklum kalau ada yang pernah baca. Biarpun critanya ga jelas dan ga menentu ke mana arahnya/plakkk tapi ini ff murni karya saiia^^. Karena kalau dibikin oneshot krasa kepanjangan, jadi aku bagi 2, happy reading all^^

Let’s get it started…..

Tik. Tik. Tik.

Aku menghitung detik demi detik yang harus dilewati jarum panjang jam dinding di ruangan siaran Sukira untuk sampai ke angka 12. Sepuluh detik lagi dan orang itu akan keluar. Saatnya aku melakukan pembalasan seperti yang kuinginkan.

9..8..7..6..5..4..3..2..1..dan..

Ngek! Aku ditarik sebelum sempat bergerak.

“Sudah kubilang jangan ganggu dia, kan?” ucap namja berjaket abu-abu yang tadi menarikku, namja yang kukenal bernama Lee Dong Hae.

“Kau lagi kau lagi. Bisa tidak sih tidak mengikutiku terus,” protesku bersungut-sungut.

“Tepati dulu janjimu untuk tidak mengganggunya.”

“Janji yang mana, ya?”

“Jangan pura-pura tidak tahu.”

Errrgh! Aku memalingkan mukaku ke arah lain. Lagi-lagi Dong Hae menatapku dengan tatapan itu. Tatapan yang membuatku tidak bisa sekalipun membantahnya. Kenapa.. Kenapa aku jadi seperti ini kalau ada di dekatnya..

_flash_back___

“Ae Tae~.. hiks.. hiks..” Suara tangisan keluarga dan iring-iringan jenazah itu berlalu begitu saja di depanku. Tidak ada yang melihatku… Tidak ada yang menyadari keberadaanku.. Tak ada yang menyapaku bahkan di pemakamanku sendiri..

Haaah~.. Ternyata memang tidak semua orang bisa melihat orang yang sudah mati sepertiku.. T^T..

Jung Ae Tae, itulah nama lengkapku sejak aku masih hidup sampai mati sekarang ini. Rasanya masih belum bisa percaya kalau rohku ini benar-benar sudah terpisah dari jasadku.  Hupf.. Ini semua karena manusia bernama Lee Hyuk Jae yang sering dipanggil EunHyuk itu! Aku.. pasti akan balas dendam padamu EunHyuk!! Tunggu pembalasanku!!

___***___

Aaaaah~ aku melayang tanpa arah mengikuti arah angin. Setibanya di depan bangunan asrama Super Junior, aku turun dan menatap pintu yang ada di depanku. Setelah melewati pintu ini, aku akan bisa bertemu dan balas dendam padanya. Aku harus bersiap-siap.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Sebuah suara menahan langkahku. Seorang namja berwajah tampan, seumuran EunHyuk berdiri dengan wajah penasarannya di belakangku. Setahuku ia juga anggota Super Junior yang bernama Lee Dong Hae.

“K..Kau bisa melihatku???” tanyaku bingung.

“Tentu saja. Memangnya..”

Tepat saat itu, pintu terbuka, EunHyuk bersama LeeTeuk keluar dari asrama.

“Tumben kau tidak langsung masuk dan malah berdiri di sini,” tanya LeeTeuk.

“Aku sedang ngobrol dengan seseorang.”

“Mwo? Siapa?” Mereka berdua celingak-celinguk kebingungan.”Tidak ada siapa-siapa kok di sini.”

“Tapi..” Dong Hae menunjuk ke arahku, sayang percuma  karena tidak ada yang lihat.

“Aisssh, kau ini halusinasi karena kecapekan ya? Sana, masuk dan istirahat saja,” saran Eun Hyuk.

“Eh, tapi..” Dong Hae menatapku sekali lagi. Ia baru sadar kalau leader Super Junior dan teman akrabnya itu tidak bisa melihatku yang ada tepat di hadapan mereka. “Ah, sudahlah, pasti memang cuma bayanganku saja.. hha..”

“Ya sudah, kami berangkat dulu, ya!” pamit LeeTeuk dan Eun Hyuk. Mereka berdua berjalan menembus tubuhku.

“Tunggu!” Dong Hae berteriak saat melihatku mau mengejar mereka.

“Ada apa?” tanya mereka.

“B.. bukan kalian, m maksudku bukan apa-apa, hhe..” Ia segera menarikku yang kasat mata ke dalam asrama bersamanya.

“Hei!! Tunggu! Apa yang kau lakukan? Aku mau balas dendam pada Lee Hyuk Jae!! Aku harus balas dendam padanya! Lepaskan akuu!!!”

___***___

Dong Hae baru melepas tanganku setelah sampai di kamarnya.

“Tiba-tiba membawa perempuan yang tidak kau kenal masuk ke dalam kamar. Kau tidak takut kena skandal?” protesku.

“Kau hantu, kan? Memangnya skandal apa yang bisa dilihat orang.”

“Oh, iya ya.” Aku mengangguk-angguk. Baru 2 hari jadi hantu sih, jadi kadang tidak nyadar kalau aku ini sudah tidak hidup lagi.

“Memangnya kau punya dendam apa pada EunHyuk?” tanya Dong Hae.

“Hah, kalau kuceritakan kau pasti akan tertawa seperti hantu-hantu lain. Tidak mau ah,”tolakku cepat.

“Mencurigakan..” ucap Dong Hae seraya menyipitkan matanya dan melirikku curiga. Aish, aku paling tidak suka kalau sudah ditatap seperti ini.

“YA! Arasso! Arasso! Akan kuceritakan, tapi janji jangan ketawa.”

“Janji.” Ia memasang angel face-nya dan langsung bersikap manis. Aku menarik napas dalam-dalam.

“Dia.. “ Aku menyiapkan diriku untuk mengatakan kata-kata selanjutnya.: Orang yang membuatku mati terpeleset kulit pisang.”

Hmp. Baru juga 1 kalimat Dong Hae sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan. Mukanya sudah mirip kepiting rebus saking kuatnya menahan tawa.

“Sudah, jangan ditahan. Kalau mau tertawa tertawa saja.”

“Hmp Hahahahaha!!” tawa Dong Hae meledak seketika. Sudah kuduga reaksinya akan seperti ini. Semua hantu yang kuberitahu cara kematianku juga selalu tertawa sampai perut mereka sakit. Kata mereka,”Cara mati seperti apa itu?? Benar-benar memalukan! Hahaha! Masa’ Cuma gara-gara kulit pisang!”

Enak saja! Mana aku tahu kalau cara matiku akan seperti itu? Semua ini kan sudah takdir, aku tidak mungkin bisa memilih waktu dan cara kematian sesukaku. Tapi, tetap saja aku tidak bisa memaafkan EunHyuk!

Gara-gara ingin melihat berita terbaru EunHyuk, tidak sengaja temanku menjatuhkan kulit pisangnya di tangga. Lalu, karena dipanggil untuk ikut melihat majalah yang ada EunHyuk-nya, aku jadi tidak liat jalan dan terjadilah peristiwa itu.. Aaaah~ sensasi kematian yang tidak bisa kuungkapkan..

Meskipun cuma terpeleset kulit pisang, kau bisa mati kalau setelah itu menggelinding 2 lantai, mengalami patah tulang, pendarahan dan gegar otak berat seperti yang kualami. Kalau saat itu temanku tidak berkutat dengan EunHyuk, aku mungkin masih hidup sekarang, karena itu..

“Sudah tahu kan? Sekarang aku mau balas dendam pada EunHyuk,” pamitku.

“Mwo? Tidak akan kuijinkan.”

“Wae yo?”

“Dia kan sahabatku. Lagipula, apa yang akan kau lakukan untuk balas dendam padanya?”

“Emmm.. Tidak tahu..” ucapku lirih. Aku bahkan belum memikirkan hal ini. Apa ya, yang akan kulakukan untuk balas dendam?

“Mungkin membunuhnya?”

“Mwo?” sahut Dong Hae kaget.

“Bercanda. Mungkin aku akan menghantuinya seumur hidup.”

“Sampai kapan? Sampai kau bosan? Ssampai dia juga mati dan kalian berdua sama-sama jadi hantu? Dia saja tidak bisa melihatmu bagaimana kau mau menakut-nakutinya?”

“Ah, benar juga ya..” Aku terpuruk di lantai.”Tapi tidak ada salahnya mencoba!” Aku buru-buru mau terbang tapi ditahan Dong Hae.

“Kau ini keras kepala ya!” ujarnya.”Bagaimana kalau kita bikin satu perjanjian saja?”

“Mwo?”

“Daripada kau keluyuran tanpa tujuan yang jelas dan melakukan hal-hal yang sia-sia seperti itu, bagaimana kalau sementara ini kau main saja denganku dan melakukan hal-hal yang lebih berguna? Mungkin kau bisa dapat tujuan baru selain balas dendam pada EunHyuk. Kau mau kan?” Dong Hae menatapku dalam-dalam dan tersenyum. Semua gerakanku di udara terhenti. Tatapan orang ini benar-benar membuatku tidak berkutik. Senyumnya yang menawan menyesap dalam otakku dan membuat mulutku bergera hanya untuk berkata..

“Ya..”

OMO! Apa yang barusan kukatakan?? Tanpa sadar aku mengatakan ‘ya’?? Hanya gara-gara 1 senyuman aku mengorbankan rencana balas dendamku pada EunHyuk?? Aku pasti sudah tidak waras.

“Terima kasih..” Dong Hae tersenyum sekali lagi dan pasti bisa membuat wajahku langsung merah dengan cepat kalau aku masih hidup. Untung dia tidak bisa lihat karena aku pucat terus.

“A.. Aku harus pergi!” Aku mengalihkan perhatian dan langsung keluar lewat jendela.

“Hei? Kau mau ke mana?”

_flashback_end___

“Ternyata benar kau ke sini,” ucap Dong Hae. Ia menyeretku ke luar Sukira sebelum sempat ketemu EunHyuk. “Kupikir kau tadi sudah setuju untuk tidak dendam lagi pada Hyuk.”

“A..Aku kan cuma bilang ‘ya’, aku tidak bilang ‘ya’ itu untuk apa. Bisa saja kan ‘ya.. aku tidak mau’, atau ‘ya.. tidak bisa’, terserah aku, kan?” kilahku.

“Aisssh, kau ini. Banyak sekali alasan.”

“Perjanjiannya kan juga belum selesai. Kau hanya bilang kalau aku harus berhenti mengganggu EunHyuk setelah menemukan tujuan baru. Kau belum bilang janjimu. Kalau aku tidak berhasil menemukan tujuan baru. Apa yang bisa kau janjikan? Mengorbankan dirimu untuk kuhantui??” cetusku asal-asalan.

Dong Hae menatap langit dan berpikir agak lama.

“Mungkin menyerahkan nyawaku padamu.”

“Mwo?? Candaanmu mengerikan ah,” komentarku seraya melayang menjauh darinya.

“Tapi, bukannya itu yang biasa diinginkan hantu di film-film? Menarik orang yang masih hidup supaya menemaninya jadi hantu?”

“Aisshh, kau kebanyakan nonton film. Lagipula, apa aku kelihatan seperti hantu yang suka mengoleksi nyawa orang? Aku ini hantu yang baik, tidak suka menyakiti orang lain kecuali manusia bernama asli Lee Hyuk Jae itu. Cari janji yang lain.”

“Apa ya..”

“Mmm..” Aku menggali otakku lebih dalam.”bagaimana kalau kau mengunjungi makamku tiap 1 minggu sekali saja, lalu kau harus bawa mawar putih yang banyak, coklat, eskrim..”

“Kau itu hantu tapi rakus sekali sih.”

“Biarin! Pokoknya kau harus janji untuk melakukan semua itu! Paling tidak bawa bunga mawar putih. Mau ya? Ya?” pintaku seraya menarik-narik bajunya.

“Hmmmm. Kurasa tidak ada masalah,” jawab Dong Hae ringan.

“Asyikk!>.<! Makamku akan dikunjungi artis!!” Aku melompat-lompat di udara saking senangnya.

“Tapi cuma kalau kau tidak bisa menghilangkan tujuanmu balas dendam pada EunHyuk lho!”

“Iya! Iya!” jawabku cepat.”Tapi.. kau percaya diri sekali tadi, sampai sempat mau menyerahkan nyawamu padaku.”

“Soalnya aku yakin pasti bisa menghilangkan dendammu itu.”

“Hha, kita lihat saja nanti!”

___***___

“Dong Hae ah~, lihat apa yang kubawakan untukmu,”sahutku seraya melayang cepat ke arahnya yang sedang duduk santai di taman. Dua cone eskrim ukuran besar kupegang erat di tangan.

“Ya! Kau dapat dari mana? Hasil curian ya?”

“Enak saja! Aku dikasih cuma-cuma sama ahjussi penjual eskrim yang ada di sana tahu! Kebetulan ahjussi bisa melihat makhluk sepertiku, lalu katanya karena aku cantik makanya aku dikasih hadiah eskrim ini. Satu untukku satu untukmu,” celotehku panjang lebar.

“Hha, paling juga ahjussi itu kasihan melihat mukamu yang memelas karena ngiler eskrim,” ledek Dong Hae tertawa.

“jahat! Ya sudah, kalau begitu eskrimnya buatku sendiri saja.”

“Mwo? Aku juga mau!”

“Ambil sendiri kalau bisa, weeekkk!!” Aku menjulurkan lidahku lalu terbang rendah di atas Dong Hae untuk menggodanya.

Tidak terasa sudah satu bulan aku berteman dengan Dong Hae. Kami jadi sering main bersama dan makin akrab saja. Kalau dia sedang konser atau apa, aku juga sering datang sekedar untuk menyemangatinya. Rasanya menyenangkan sekali bisa tertawa bersamanya. Kadang aku juga masih suka mengerjai EunHyuk, tapi langsung dimarahi DongHae kalau ketahuan, hhe..

Lee Dong Hae, entah sejak kapan dia selalu bisa menarikku ke arahnya.. Aku ingin sekali bisa melihat senyumnya setiap saat.. selama yang aku bisa..

___***___

3 hari kemudian, rumah sakit..

Dong Hae berlari dengan raut muka yang sangat panik sambil memegangi dipan beroda yang ada di sampingnya. Di atas dipan itu, tubuh EunHyuk tergolek lemah bersimbah darah. Para perawat sibuk mengusahakan pertolongan pertama sementara Dong Hae terus memanggil nama sahabatnya itu.

“Hyukkie!! Bangun Hyuk! Bangun dan bukalah matamu, kumohon!” Ia terus berteriak, tapi EunHyuk tidak juga bergerak.

Para perawat menghentikan Dong Hae ketika mereka sampai di depan UGD. Mereka menyuruh Dong Hae menunggu di luar sampai ada kabar selanjutnya. Begitu pintu UGD tertutup, Dong Hae menjatuhkan dirinya di atas bangku. Ia menutup mukanya dengan kedua tangannya dan tertunduk dalam.

“Harusnya memang aku tidak boleh percaya pada hantu itu Hyuk.. Mian Hyuk.. Mianhe..” ucapnya lirih, lirih sekali, tapi cukup keras untuk kudengar dari tempatku sembunyi dan membuat hatiku bertambah perih.

Aku benar-benar tidak berniat melakukannya Hae.. Aku hanya ingin menolongmu.. Aku tidak tahu kalau akan begini jadinya..

To be continued….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s