Love and Revenge [part 2 of 2]

Standard

Author : Seo Rin/Ma’ippo

Cast :

*) Lee Donghae [Super Junior]

*) Jung Ae Tae [OC]

Genre :  Sedikit romance*?*

Disclaimer : semua cast dipilih murni karena cinta mereka pada saiia/plakkkkk

a/n: lagi-lagi saiia bilang kalau ni ff lama sekali*tabok*, pernah dipublish di sujuff, blog pribadiku dan notes fbku, jadi maklum kalau ada yang pernah baca. Ini ff murni karya saiia^^. happy reading all^^

Dong Hae berlari dengan raut muka yang sangat panik sambil memegangi dipan beroda yang ada di sampingnya. Di atas dipan itu, tubuh EunHyuk tergolek lemah bersimbah darah. Para perawat sibuk mengusahakan pertolongan pertama sementara Dong Hae terus memanggil nama sahabatnya itu.

“Hyukkie!! Bangun Hyuk! Bangun dan bukalah matamu, kumohon!” Ia terus berteriak, tapi EunHyuk tidak juga bergerak.

Para perawat menghentikan Dong Hae ketika mereka sampai di depan UGD. Mereka menyuruh Dong Hae menunggu di luar sampai ada kabar selanjutnya. Begitu pintu UGD tertutup, Dong Hae menjatuhkan dirinya di atas bangku. Ia menutup mukanya dengan kedua tangannya dan tertunduk dalam.

“Harusnya memang aku tidak boleh percaya pada hantu itu Hyuk.. Mian Hyuk.. Mianhe..” ucapnya lirih, lirih sekali, tapi cukup keras untuk kudengar dari tempatku sembunyi dan membuat hatiku bertambah perih.

Aku benar-benar tidak berniat melakukannya Hae.. Aku hanya ingin menolongmu.. Aku tidak tahu kalau akan begini jadinya..

 Part 2……

Dong Hae berlari dengan raut muka yang sangat panik sambil memegangi dipan beroda yang ada di sampingnya. Di atas dipan itu, tubuh EunHyuk tergolek lemah bersimbah darah. Para perawat sibuk mengusahakan pertolongan pertama sementara Dong Hae terus memanggil nama sahabatnya itu.

“Hyukkie!! Bangun Hyuk! Bangun dan bukalah matamu, kumohon!” Ia terus berteriak, tapi EunHyuk tidak juga bergerak.

Para perawat menghentikan Dong Hae ketika mereka sampai di depan UGD. Mereka menyuruh Dong Hae menunggu di luar sampai ada kabar selanjutnya. Begitu pintu UGD tertutup, Dong Hae menjatuhkan dirinya di atas bangku. Ia menutup mukanya dengan kedua tangannya dan tertunduk dalam.

“Harusnya memang aku tidak boleh percaya pada hantu itu Hyuk.. Mian Hyuk.. Mianhe..” ucapnya lirih, lirih sekali, tapi cukup keras untuk kudengar dari tempatku sembunyi dan membuat hatiku bertambah perih.

Aku benar-benar tidak berniat melakukannya Hae.. Aku hanya ingin menolongmu.. Aku tidak tahu kalau akan begini jadinya..

1 jam sebelumnya, kota Seoul.. Dong Hae dan Eun Hyuk sedang jalan-jalan berdua.

“Kudengar kau sudah punya pacar ya?” tanya Eun Hyuk tiba-tiba, membuat Dong Hae tidak sengaja tersedak lemon tea kalengan yang sedang diteguknya.

“Uhukk! Uhukk! K..Kata siapa?” bantahnya cepat.

“Kata anak-anak asrama atas,” jawab Eun Hyuk santai.”Katanya mereka sering mendengarmu mengigau saat tidur sambil memanggil nama seseorang. Kau juga sering senyam-senyum sendiri tidak jelas beberapa hari ini. YA! Kenapa tidak ngasih tahu aku?” tambahnya seraya menyikut Dong Hae.

Dong Hae hanya meringis.

“Jadi itu benar ya?” tanya Eun Hyuk.”YA! Katakan padaku siapa orangnya!” Ia terus mendesak Dong Hae.

“Namanya Jung Ae Tae, tapi kami sama sekali tidak pacaran,” kilah Dong hae cepat.

“Tapi kau memang suka kan padanya? Buktinya sampai menyebut-nyebut namanya dalam tidur,hha. Seperti apa orangnya?”

Dong Hae tidak menimpali pernyataan Hyuk yang pertama. Ia hanya tersenyum tipis.

“Orangnya baik, manis dan selalu bisa membuatku tertawa,” jawabnya ringkas.

“Lalu, tunggu apa lagi? Ayo cepat ungkapkan perasaanmu padanya!”

“Aissh, kau ini apa-apaan sih. Sudah ah, berhenti membicarakan hal ini.”

“Mwo? Wae yo? Kau malu ya?? Hha, Dong Hae malu!!”

“YA! Lee Hyuk jae, kubilang berhenti ya berhenti!”

 

Aku sedang jalan-jalan sambil melayang-layang tidak tentu arah di pusat kota saat tiba-tiba saja kulihat Dong Hae dan Eun Hyuk sedang jalan-jalan berdua di bawah, menunggu lampu hijau di daerah penyeberangan. Mereka sedang tertawa dan bercanda entah membicarakan apa. Kelihatannya asik sekali. Aku sapa mereka saja aaah~

Aku melayang turun ke bawah dengan ceria. Tepat saat itu, lampu penyeberangan berubah warna jadi hijau. Eun Hyuk dan Dong Hae berjalan dengan santainya ke tengah jalan tanpa menyadari kalau ada mobil ngebut yang melanggar lampu merah dari samping mereka. Semua orang menghindar, kecuali mereka. Mereka terlalu kaget untuk bergerak, begitu juga denganku. Aku harus menolong mereka, tapi apa.. apa yang bisa kulakukan??? Ohtokacchi???

 

Ckiiiiiiiiiiittttt! Brakkk! Dua tubuh manusia terpental bersama derit rem yang diinjak. Aku berdiri tepat di depan mobil itu, masih dengan tubuh yang tidak bisa dilihat orang lain kecuali Dong Hae dan sedang gemetar hebat. Aku tidak percaya dengan kejadian yang kuakibatkan barusan.

Aku mengalihkan pandangan ke arah Dong Hae yang sedang terduduk di pinggir jalan. Ia sama gemetarnya seperti aku. Ia memang terpental, tapi sama sekali tidak terluka karena akulah yang sebenarnya mendorongnya hingga mental ke pinggir jalan sebelum mobil itu sempat menyentuhnya. Matanya nanar menatap sesuatu yang ada di depannya. Sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak kuinginkan. Eun Hyuk.. Dia terkapar di jalan dengan darah yang mengalir deras dari tiap luka di tubuhnya. Aku terlambat menyelamatkannya.. Aku hanya sempat menyelamatkan Dong Hae saja..

“Hyukkie..” ucap Dong Hae lirih.”Hyukkie-ah!” pekiknya menghambur ke arah tubuh sahabatnya itu. Semua orang segera berkerumun untuk menolongnya.

“Hyukkie-ah?? Kau baik-baik saja, kan?? Seseorang! Cepat panggilkan ambulans!!!” Ia terus berteriak di tengah hiruk pikuk yang ada.

“D.. Dong Hae-ah..” ucapku seraya mendekatinya, tapi Dong Hae malah tersentak kaget. Ia menatapku dengan tatapan tidak bersahabatnya.

“Berhenti di situ…” ucapnya dingin.”Jangan mendekat…”

“Tapi aku..”

“Kupikir kau sudah janji untuk tidak menyakitinya..Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau melanggar janjimu??”

“Bukan begitu!”

“Jelas-jelas aku melihatmu! Kau mendorongku tapi tetap membiarkan Eun Hyuk di sana supaya tertabrak mobil itu, kan?? Supaya dendammu terbalas, kan?” Ia terus berkata tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan.

Aku bisa paham hal itu. Semuanya memang seolah-olah aku benar-benar berniat mencelakai Eun Hyuk. Apalagi ditambah kenyataan bahwa dulu aku berkeliaran di sini hanya untuk membalas dendam pada Eun Hyuk. Tapi, aku tidak pernah berniat Eun Hyuk jadi seperti ini. Meskipun aku dendam padanya.. aku cuma ingin membuat hidupnya jadi sedikit tidak tenang saja. Hanya sedikit, tidak lebih..

Ingin sekali aku mengatakan semua itu pada Dong Hae, tapi kata-katanya selanjutnya membuatku mengurungkan niat.

“Aku menyesal percaya padamu.”

Deg. Menyakitkan.. benar-benar menyakitkan..

Aku tetap diam di tempat saat ambulans datang, saat para perawat menembus tubuhku untuk memberikan pertolongan pertama pada Eun Hyuk, saat tubuh Eun Hyuk masuk ke ambulans diikuti Dong Hae, saat ambulans itu melaju meninggalkanku dengan sirine yang meraung, dan saat mobil serta orang-orang menghilang dari hadapanku. Aku masih diam dan teringat kata-kata Dong Hae.

“Aku menyesal percaya padamu.”

Apa yang bisa kulakukan supaya kau percaya padaku Dong Hae? Apa yang bisa kulakukan untuk mengembalikan senyummu yang biasanya? Haruskah aku menghilang dan tidak pernah kembali lagi..

___***___

1 minggu kemudian

Dong Hae dengan setia menemani Eun Hyuk yang terbaring lemah di rumah sakit dengan perban di sana sini. Kata dokter, EunHyuk koma untuk sementara waktu dan tidak tahu kapan bisa bangun. Ia menatap sahabatnya itu, berharap akan ada keajaiban sehingga Eun Hyuk membuka matanya saat ini juga.

Kejadian saat kecelakaan itu membayang lagi dalam ingatannya. Ia sedang bercanda dengan Hyuk, lalu mobil itu.. teriakan orang-orang.. gadis itu.. ya, gadis itu.. Jung Ae Tae.. Ia masih tidak percaya Ae Tae yang dikenalnya tega berbuat seperti itu. Menyelamatkannya tapi mengorbankan Eun Hyuk.. Apa yang ada di pikiran gadis itu? Bukankah beberapa hari sebelumnya semuanya baik-baik saja.. Ae Tae juga tidak kelihatan mendendam lagi pada Eun Hyuk, tapi kenapa..

“Dong Hae-ah..” suara yang mirip bisikan itu menyadarkan Dong Hae dari lamunannya. Eun Hyuk sudah membuka matanya. Meski lemah, ia sudah sadar dari koma. Doa Dong Hae terkabul.

“Hyukkie-ah!” ucap Dong Hae kaget.”Jangan banyak bicara dulu. Aku akan segera panggilkan dokter dan yang lain. Aku..”

“Ada yang harus kukatakan padamu..” ucap Eun Hyuk, masih lirih.

“Eh?”

___***___

Dong Hae terus berlari sambil tak henti-hentinya berdoa dalam hati. Ia ingin bertemu gadis itu.. Ingin sekali.. Ada yang harus dikatakannya.. Semoga saja ia tidak terlambat ke tempat itu..

“Saat aku tidak sadarkan diri, aku melayang-layang entah di mana. Lalu, seorang gadis datang dan menyuruhku untuk ikut dengannya. Ia bilang ‘Dong Hae sedang menunggumu..’,” cerita Eun Hyuk. Dong Hae menahan nafasnya.

“Ae Tae..” Entah kenapa nama itu yang terlintas pertama kali di kepalanya.

“Dia juga bilang sebelum dia pergi, ’sampaikan maafku padanya.. Aku tidak pernah ingin menyakiti kalian berdua.. Cepatlah sembuh dan buat ia tertawa lagi.. Jaga dia untukku..’.”

“Maksudmu..”

“Sepertinya dia akan pergi jauh..”

Dong Hae terdiam. Berbagai pikiran berkecamuk di otaknya.

“Apa kau mengenal gadis itu..” tanya Eun Hyuk. Dong Hae membiarkan udara segar masuk ke dalam paru-parunya.

“Dia.. orang yang telah mencelakaimu..” ucapnya berat. Ia sebenarnya sama sekali tidak ingin mengatakan hal ini.

“Aku tidak percaya..” sahut Eun Hyuk.

“He?”

“Kalau memang dia ingin membuatku celaka, tidak mungkin ia menyuruhku bangun dan cepat sembuh, kan?”

Dong Hae tidak memperdulikan rasa dingin yang menusuk kulitnya. Malam sudah sangat larut sekali. “Dia tersenyum, tapi juga menangis saat menitipkanmu padaku. Aku tahu dari tatapan matanya kalau dia benar-benar menyayangimu, Hae..” Kata-kata Eun Hyuk sebelum ia keluar dari rumah sakit terngiang lagi di telinganya.”Tunggu aku.. Ae Tae..”

___***___

“Haaaah~ bosan…” keluhku. Aku berbaring di bangku taman, menatap langit yang penuh bintang. Di tempat inilah biasanya aku dan Dong Haae bertemu, bercanda dan tertawa bersama. Hari ini aku mauu pergi, tapi belum bertemu Dong Hae sama sekali. Pasti menyenangkan kalau bisa bicara dengannya lebih dulu.

Aisshhh! Tidak boleh!>.< kalau bertemu nanti dia bisa marah lagi padaku. Ia sudah mengira aku yang menyakiti sahabatnya. Aku tidak ingin menambah masalah lebih banyak lagi.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh taman sebelum kuputuskan untuk beranjak pergi. Aku pasti akan merindukan tempat ini..

“Jangan pergi!!!” suara yang kukenal menghentikan gerakanku. Dong Hae dengan nafas tersengal-sengal dan keringat bercucuran habis berlari sudah berdiri di belakangku.

“D.. Dong Hae-ah..” ucapku kaget.

“Aku sudah mencarimu ke semua tempat dan baru menemukanmu di sini. Kumohon jangan pergi!”

“Kau marah padaku..”

“A.. aku.. aku memang salah. Saat itu aku sedang kalut dan kau ada di hadapanku. Aku hanya bisa ingat bagaimana dulu kau begitu dendam pada Eun Hyuk. Maafkan aku.. cheongmal mianhe..”

Aku berjalan mendekati Dong Hae untuk menaikkan wajahnya yang tertunduk penuh penyesalan.

“Kau sama sekali tidak salah..” ucapku kemudian.”Aku bisa mengerti perasaan Dong Hae saat itu. Tidak ada yang perlu kumaafkan..”

“Apa itu artinya kau tidak akan pergi?”

“Em.” Aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum tipis.

“Aku tetap harus pergi..”

“Mwo? Wae yo?”

“Aku tidak ingin mengganggu kehidupan Dong Hae lagi..”

“Kau sama sekali tidak menggangguku. Aku senang bersamamu.”

“Itu bukan alasan untuk menahanku pergi.”

“Meski aku bilang saranghae Jung Ae Tae?”

Aku terhenyak kali ini. Benarkah yang kudengar barusan? Dong Hae.. Dia bilang kalau dia mencintaiku??

“Saranghae.. Ae Tae-ah..” ulangnya sekali lagi.

Sebuah perasaan yang tidak bisa kugambarkan mulai bergemuruh dalam diriku. Aku bisa merasakan debaran yang begitu kencang di dadaku meski jantungku sudah tidak berdetak lagi. Inilah yang kutakutkan.. Perasaan yang membuatku ingin terus bersamanya.

“Aku senang kau mengatakan itu.. tapi tetap saja aku harus pergi.”

“Wae yo?”

“Karena dunia kita berbeda. Kita tidak mungkin bersatu dengan keadaan kita yang seperti ini.”

“Itu tidak masalah buatku.”

“Tapi itu masalah untukku! Melihatmu hidup.. melihatmu bernapas, mendengar tiap detak jantungmu.. Semua itu membuatku ingin hidup lagi. Aku ingin bisa menggandeng tanganmu, memelukmu, terus menemanimu dengan tubuh nyataku, tapi itu tidak mungkin karena aku sudah mati. Itu sangat menyakitkan untukku..”

“Ae Tae..”

“Kau pasti bisa menemukan gadis yang lebih baik dariku Dong Hae-ah.. Seseorang yang masih hidup dan mencintaimu lebih daripada aku..”

Sebuah hentakan yang selanjutnya membuat perasaanku makin tidak karuan. Dong Hae memelukku. Hangat dan nyaman. Aku tidak pernah merasakan semua ini saat aku hidup dulu. Aku menembus pelukannya dan melayang ke atas sebelum rasa tidak ingin meninggalkannya menguasai diriku. Aku tersenyum ke arahnya.

“Oh ya, soal perjanjian kita..” ucapku.”batalkan saja..”

“Mwo?”

“Kau tidak perlu ke makamku dan membawakan semua pesananku..”

“Tapi..”

“Aku sudah punya impian lain selain balas dendam pada Eun Hyuk..”

“He..”

Aku mendaratkan kecupan pertama dan terakhirku di kening Dong Hae sebelum ia sempat mengatakan apapun.

“Naddo saranghae.. Dong Hae-ah..” ucapku seraya tersenyum. “Cheongmal gomawo.. terima kasih.. untuk semuanya..” Secara perlahan-lahan tubuhku menghilang dari hadapan Dong Hae, meninggalkannya sendirian di taman. Semilir angin malam musim gugur mengiringi perpisahan kami. Dong Hae mendongak dan menatap langit.

“Aku pasti tidak akan melupakanmu.. Ae Tae..” ucapnya seraya tersenyum. Senyum yang pasti kurindukan.

Aku tahu tujuanku saat ini..

Aku ingin melihatnya tersenyum.. Aku ingin melihatnya tertawa.. Aku ingin selalu melihat kebahagiaan dalam dirinya.. Meski ia tidak bisa melihatku.. Meski ia tidak bisa merasakan keberadaanku lagi.. Aku akan selalu ada di sampingnya.. Memastikan ia mendapatkan kebahagiaannya..

_eNd_

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s