(Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [8]

Standard

Author : Asuchi

Main Cast :

*) Lee Jaerin, Jaejin’s twin [OC]

*) Oh Won Bin

Other Cast :

*) Son Hyora, Jaerin’s friend

*) Jaerin’s family

Genre :  AU, pengen Romance tapi liat tar, gaje sangat, humor aneh bertebaran dimana-mana

Rate : G

Disclaimer : As usual, aku bayar para pemaen yg maen di ep2 aku pake cinta, kecuali para OC J

A/n : Won Bin under FnC manj but OOC…. Happy reading ^^

Chap 7 | Chap 6 | Chap 5 | Chap 4 | Chap 3 | Chap 2 | Chap 1

“Mian.” Won Bin oppa yang sedang berdiri di sampingku menggaruk kepalanya. “Aku mulanya ingin menyiapkan sesuatu yang romantis saat mengatakan ini. Tapi, aku tidak terlalu pintar untuk hal yang seperti itu.” Ucapnya. Aku bisa melihat dengan  jelas bagaimana tampang Won Bin oppa yang malu-malu. “Dan aku tidak tahu sejak kapan, yang pasti aku menyukaimu. Menginginkan status yang lebih dari seorang teman.” Lanjutnya. “Jadi, apa kau mau menjadi pacarku?” Dia kini bertanya.

Yang aku lakukan hanya diam dan menatap tampangnya yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Dia tampan dan lucu sekaligus. Wajah malu-malunya benar-benar mempesona.

“Rin-ah… Jaerin.”

Aku terkesiap. Sadar kalau aku mulai melamun lagi. “Mianhae oppa.” Ucapku sambil salah tingkah.

“Jadi?” Won Bin oppa bertanya lagi. Sepertinya dia tidak sabar.

“Na do saranghae.” Ucapku akhirnya.

Brakkkkk….

Aku dan Won Bin oppa kaget saat mendengar pintu terbuka kasar. Saat kami menoleh, Hyora sedang menatap kami dengan wajah yang aku tak bisa artikan itu apa. Di belakangnya ada seorang pelayan yang berusaha meminta Hyora untuk pergi.

“Jadi ini yang kau sembunyikan selama ini?” Tanya Hyora sambil kemudian mengeluarkan air matanya.

“Hyo…”

Hyora menghampiri kami, tepatnya menghampiriku, dengan wajah penuh air mata. “Aku tidak pernah menyangka kau bisa melakukan ini padaku. Sahabatku sendiri menyakiti hatiku seperti ini, menusukku dari belakang.” Ucap Hyora dengan nada tajam padaku. Bisa aku lihat kebencian di matanya. “Aku akan  bunuh diri dan menghantuimu selamanya.” Tambah Hyora sebelum dia berbalik dan berjalan menuju pintu.

“Rin-ah… Jaerin.”

Aku terkesiap. Aku menoleh ke kanan dan kiri. Menyadari ekspresi Won Bin oppa yang terlihat bingung dan terus menatapku.

“Gwenchana?” Tanya Won Bin oppa padaku.

Aku kembali menoleh ke kanan dan kiri, memastikan kedatangan Hyora tadi memang sebuah ilusi. “Hyora….” Ucapku menggantung.

“Ne, wae? Kenapa dengan Hyora?” n Won Bin oppa bertanya dengan bingung.

Aku mendongak, menatap Won Bin oppa. “Tadi Hyora tidak datang kemari kan oppa? Dia tidak mengancam akan bunuh diri dan menghantuiku kan?” Tanyaku masih berusaha meyakinkan diri.

Won Bin oppa mengangguk. “De. Kau dari tadi hanya diam. Tidak ada Hyora.” Jawab Won Bin oppa lagi.

Aku menghembuskan nafas lega selega-leganya. Fyuuhhh~ ternyata itu benar-benar halusinasi. Eh tapi tunggu… apa pernyataan cinta Won Bin oppa padaku juga hanya ilusi?

“Oppa, apa kau tadi menyatakan cinta padaku? Ups….” Aku langsung membekap mulutku juga menunduk. Kenapa aku tidak bisa menyaring ucapanku? Masa aku bertanya seperti itu. Jaerin babo! Tidak tahu malu!

Aku merasakan sebuah tangan bergerak di atas kepalaku. Aku kemudian mendongakkan kepalaku dengan kedua tangan masih membekap mulut.

“Aku memang bilang aku mencintaimu dan ingin menjadi kekasihku. Itu bukan ilusi.” Ucap Won Bin oppa sangat sangat manis.

Ya Tuhan! Aku ingin sekali meleleh melihat ekspresinya itu. Aku tidak tahan. Tapi aku harus kuat, jika aku meleleh sekarang, aku tidak bisa menjawab pertanyaan Won Bin oppa.

“Aku akan  bunuh diri dan menghantuimu selamanya.”

Ucapan Hyora kembali terngiang di telingaku. Harus aku jawab apa pernyataan cinta Won Bin oppa?

Aku berjalan gontai menuju rumahku. Menyesali apa yang sudah aku katakan pada Won Bin oppa tadi.

“Oppa mianhae. Aku juga mencintai oppa. Tapi aku tidak bisa. Hyora tidak mungkin memberikan restunya. Aku tidak ingin kehilangan sahabatku sendiri.”

Aku setengah sadar saat masuk ke dalam rumahku. Masih tidak percaya aku melewatkan kesempatan yang mungkin tidak akan pernah ada lagi. Padahal aku juga mencnintai Won Bin oppa. Padahal aku ingin menjadi seseorang yang spesial untuknya, tapi aku tidak bisa. Aku tidak mungkin membiarkan Hyora bunuh diri. Andwae!

“Noona waeyo?”

Aku menoleh dengan malas ke arah seseorang yang menghadang langkahku. Pantas saja dari tadi aku berjalan, aku masih berada di ruang tamu. Aku melihat Jino, adikku, tengah menatapku dengan mata penuh tanda tanya. Melihat wajah polosnya itu, aku tidak bisa lagi menahan diri. Aku memeluk Jino dan menangis di pundak kecilnya. Aku sadar aku berat dan Jino pasti akan kesusahan menopangku. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan, menangis pada adik bungsuku itu.

“Loh, Jaerin? Ada apa denganmu?”

Aku melepaskan pelukanku dari tubuh Jino, samar kudengar Jino menghela nafas lega, atau mungkin tadi dia kesulitan bernafas? Molla. Aku menoleh pada satu lagi namja yang terlihat polos, walau hanya kelihatannya saja. Aku bangkit dan memeluk saudara yang memiliki wajah mirip denganku.

“Jaejin-aaaa….” Aku terisak lagi kali ini dalam pelukan Jaejin.

Sontak Jaejin berusaha melepaskan diri dari pelukanku. Tapi aku memeluknya sangat erat. Aku tidak ingin melepaskannya. Bukan karena aku pecinta namja cute dan ingin menyerang saudara kembarku itu, tapi aku benar-benar sedang sedih.

Entah Jaejin mengerti atau apa. Dia kemudian berhenti berusaha melepaskan diri. Dia lantas mengelus rambutku pelan. Menenangkanku tanpa kata. Kami mungkin lebih sering bertengkar daripada akur. Tapi aku dan Jaejin memang tumbuh dalam rahim eomma bersama. Dia mungkin mengerti aku saat ini  memang sangat membutuhkannya.

“Rih-ah, ayo makan malam!” Perintah eomma sambil menggedor pintu kamarku yang aku kunci.

Aku diam tidak menjawab. Aku terlalu malas untuk menjawab perintah eomma. Hanya tiduran di kasurku setelah produksi air mataku berhenti. Semua penghuni rumah sudah tahu aku patah hati bahkan sebelum aku mengatakan pada mereka. Jino yang punya insting tajam, Jaejin yang mungkin punya ikatan batin denganku, eomma yang selalu saja tahu apapun. Meski mungkin hanya eomma yang tahu aku patah hati oleh siapa.

“Kalau kau tidak makan, Jaejin dan Jino akan eomma ungsikan ke apartemen uncle Song, dan eomma akan melarang Minhwan juga Minwoo untuk datang kemari. Lalu eomma akan menjauhkanmu dengan semua tetangga cute.” Ancam eomma masih dari balik pintu.

Dengan malas juga terpaksa aku berjalan gontai menuju pintu. Ayolah, aku sudah kehilangan kesempatan untuk menjadi kekasih Won Bin oppa, masa aku juga kehilangan para namja cute itu? Andwae!

“Sesedih apapun, kau harus tetap makan! Eomma tidak ingin anak eomma kelaparan dan kekurangan gizi.” Ucap eomma dengan tampang cueknya.

Aah~ aku cinta pada eomma. Dia lebih sering terlihat tidak peduli padaku, tapi ternyata dia juga peduli. Dia memperhatikanku. Mengerti anaknya yang sedang patah hati ini.

Dengan sedikit senyuman, aku merangkul eomma dari belakang, mengikutinya berjalan menuju ruang makan.

“YA! Turun!” Perintah eomma padaku setelah berjalan beberapa langkah. “Kau memang boleh malas berjalan, tapi tidak harus membuat eomma menggendongmu begini!”

Aku melepaskan rangkulanku lalu nyengir. Tidak sadar ternyata tadi selain tanganku berpindah ke pundak eomma, kakiku juga pindah ke pinggangnya. Aku lantas berjalan mengikuti eomma, kali ini benar-benar berjalan dengan kakiku.

“Jaerin-a, nawa.” Yesung appa melambaikan tangannya dari meja makan dan memintaku untuk menghampirinya.

“Ne appa, wae?” Tanyaku masih dengan separuh jiwa tak ada di tempatnya.

“Seunghyun sedang di Jepang sekarang. Dia sedang jalan-jalan. Tadi siang menghubungi appa. Dia mengajak Jino dan Jaejin untuk menyusulnya kesana. Eomma bilang kau sedang sedih dan Jino bilang dia ingin kamu saja yang pergi.” Terang appa. “Pergilah. Agar suasana hatimu lebih baik.”

“APPAAAA~~~ Jaejin sudah bilang padaku kalau tidak tidak akan pergi karena ada janji kencan, jadi aku akan menggantikannya.” Ucap Seorin eonni yang tiba-tiba datang dengan Jaejin di belakangnya.

“Ya! Kim Seorin! Kau mengancam Jaejin?” Eomma bertanya pada Seorin eonni.

Seorin eonni menggeleng. “Anniyo~ tadi aku hanya meminjam ponsel Jaejin dan mengirim pesan pada kekasih tercintanya. Hanya itu.” Jawab eonni dengan tampang sok polosnya.

“Noona bilang kalau hyung mengajaknya kencan, begitu?” Tebak Jino yang diikuti anggukan semangat dari Seorin eonni.

Seorin eonni kemudian menghampiri kursi kosong di samping Jino. “Uri magnae memang jenius.” Pujinya pada Jino.

Jaejin berjalan menuju tempat kami dengan tampang tidak baik. Sepertinya dia tidak terima jatahnya diambil oleh Seorin eonni. Tapi dia mana bisa melawan eonni yang kelewat cinta Jepang hingga bisa melakukan apapun itu.

“Kau mau pergi? Pergi saja. Aku agak malas untuk keluar.” Ucapku saat Jaejin sudah duduk di sampingku.

Jaejin menggeleng. “Kau lebih membutuhkannya. Aku akan pergi dengan pacarku. Itu juga tidak kalah menyenangkan.” Ucapnya.

Aku mengetikkan beberapa kata pada ponselku lalu mengirimnya pada Hyora juga Won Bin oppa, mengatakan pada keduanya kalau aku mau pergi ke Jepang selama tiga hari. Aku tidak bisa pamit langsung pada keduanya. Aku masih malu karena sudah menolak cinta Won Bin oppa dan aku belum sanggup untuk bertemu dengan Hyora. Aku meminta maaf pada keduanya karena memberitahu mereka ketika aku sudah berada di bandara, dengan jadwal terbang yang tak lama lagi.

Aku menoleh pada Seorin eonni, dia tengah menikmati susu kotak favoritnya. Ekspresi wajahnya berbanding terbalik denganku. Dia sangat senang karena akan ke negara favoritnya bersama dengan Seunghyun samchon, paman favoritnya. Sedang aku menekuk kepalaku. Masih dalam keadaan berkabung karena kehilangan cinta.

“Namja yang memberikan miniatur Kamiki….” Seorin eonni menatapku saat aku menoleh padanya. “Apa dia orang yang membuatmu patah hati?” Tanyanya.

Aku mengangguk dengan malas. Sebenarnya aku tidak ingin membahasnya sama sekali.

“Kau tenang saja. Aku akan mendoakanmu agar kamu jadi kekasihnya juga menikah sekalian.” Ucap Seorin eonni lagi.

Aku membulatkan mataku. Jarang-jarang eonni mau mendoakanku. Aa~ aku terharu.

“Dia sepertinya namja yang baik. Nanti kalau dia ke Jepang lagi, dia pasti mau membelikanku oleh-oleh lagi. Aku tidak berhasil meminjam tanpa ijin kartu kredit appa, dan Seunghyun samchon bukan orang yang punya banyak uang. Aku hanya bisa jalan-jalan tanpa membeli banyak pernak-pernik di Jepang nanti.”

Aku menjatuhkan kepalaku. Seorin eonni mana mau mendoakan aku jika tidak menguntungkannya.

“Jaerin-ah, kau bisa menemuiku di restoran yang biasa? Aku ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu. Aku harap kamu mau datang. Sudah hampir satu minggu kau menghindari oppa. Datanglah.” Pinta Won Bin oppa saat dia meneleponku.

“Baiklah oppa, aku usahakan datang.” Jawabku.

Jujur aku sangat merindukan Won Bin oppa. Sudah hampir satu minggu, tepatnya dua hari setelah aku pulang dari Jepang aku sama sekali tidak tahu kabar Won Bin oppa.

Di kampus aku berusaha bersikap senormal mungkin pada Hyora. Berusaha agar dia tidak tahu. Tapi entah kenapa aku merasa sangat sakit harus berbohong seperti itu. Rasa sakitnya melebihi dulu, saat sebelum ada pernyataan cinta dari Won Bin oppa.

“Hyo, aku akan pergi ke perpustakaan. Mianhae, aku tidak bisa pulang denganmu.” Ucapku pada Hyora begitu kelas terakhir selesai.

Hyora mengangguk sambil membereskan perlengkapan di mejanya. “Aku juga ada janji sekarang.” Jawabnya.

Aku dan Hyora kemuudian berpisah. Hyora pulang dengan mobil appanya, sedang aku berjalan menuju halte bis, menunggu bis yang menuju Hongdae tiba.

Saat aku tiba di restoran, aku langsung menuju ruangan yang biasa Won Bin oppa pesan. Aku membuka pintu dan mendapati seseorang tengah duduk di sana.

“Hyora….”

“Jaerin….”

-to be continued-

Advertisements

One response »

  1. Pingback: (Short Story) Won Bin Oh Won Bin, He Makes Me Crazy [End] « [Kim n Lee Famz]'s Family

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s