(Sp) For Our Cute Goat, Jaejinnie.. Saengil Chukkae~~

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Lee Jaejin [FT Island]

*) Lee Hongki [FT Island]

*) Choi Jonghoon [FT Island]

*) Song Seunghyun [FT Island]

*) Choi Minhwan [FT Island]

*) Duo Pedojumma, nama MASIH dirahasiakan [OCs]

*) Song Hye Sang [OC]

*) Kang Rae Woo [OC]

*) Lee Jaerin [OC]

*) Kim Hyorin [OC]

*) Kim Jino, imagine as Cho Jino [SM The Ballad]

Genre : Humor gak sampe, OOC

a/n : *tendangdirisendiri* apa coba ini? Gajelas banget. Maksa banget. Gak mutu juga -__________-  tapi tetep dkomen yah yg baca ^^, dan mian kalo misal ada pihak2 yg gak suka.. ini buat hiburan semata… happy reading ^^’

“Ahjumma, apa tidak masalah kita melakukannya?”

“Namanya juga kejutan. Bukan apa-apa jika dia tidak terkejut kan?”

“Tapi…”

“Percayalah, mereka walaupun ahjumma tapi kecintaan mereka pada para member tidak diragukan lagi. Kita tidak akan melakukan hal yang buruk. Karena kita tidak mungkin menyakiti  para member kan?”

“Iya sih. Baiklah. Kita lakukan semuanya saja.”

-o0o-

Ai, bertemu lagi dengan narator yang aku yakin kalian sudah bisa menebak kira-kira isi fanfiction ini untuk apa. Menilik dari judul dan cast yang sudah sangat jelas, narator tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi kan? Karena kebetulan narator mendadak jadi orang sok sibuk dan waktu luang yang dipunya narator jadi sedikit. Ditambah gaji yang narator dapat dari author tidak terlalu banyak.

Eh, itu target kita datang. Mari narator jelaskan apa yang terjadi.

Lima pria tampan, ada juga yang sekaligus cantik, berjalan bersama di lorong sebuah gedung apartemen. Kelima pria itu baru saja pulang dari latihan mereka di gedung Warner Music Japan. Kelimanya berjalan biasa saja, tapi sering terjadi pertumpahan darah atau banjir dadakan saat beberapa orang tertentu melihat mereka berjalan. Kebanyakan dari orang-orang yang berdarah tersebut berjenis kelamin berbeda dengan kelima pria tampan itu yaitu perempuan. Biasanya mereka tidak bisa menahan pesona yang terpancar dengan indah dari kelima pria tampan itu sehingga mereka mendadak mimisan atau mendadak air liur mereka keluar secara tidak terkendali. Bahkan tangan kiri narator tengah mencari tisu untuk menahan air liur karena tidak tahan dengan pesona mereka walau hanya dengan menceritakan mereka saja.

Satu pria berjalan di depan yang lainnya. Dia pria tampan juga cantik yang sering sekali membuat adik-kakak, teman, senior-junior, anak-ibu-ayah, cucu-kakek-nenek bertengkar karena mempermasalahkan jenis kelamin pria ini. Dia terlalu cantik untuk seorang pria. Makanya sering terjadi kesalahan analisa dari orang-orang yang baru pertama kali melihatnya. Dia memiliki usia paling tua di antara empat pria lainnya.

Pria yang berada satu langkah di belakang mereka adalah pria yang sangat sangat sangat sangat tampan. Hidungnya yang mancung terlihat sangat indah. Tubuhnya indah. Senyumnya indah. Permainan gitar dan pianonya indah. Bahkan sendawanya pun indah. Dia makhluk Tuhan yang sangat indah sehingga orang normal pasti mengatakan dia tampan. PASTI.

Pria yang berjalan di samping pria tampan adalah pria manis yang banyak orang berpikir dia tengah stress sehingga membuat rambutnya memutih lebih awal. Pria ini adalah pria paling pintar di antara kelima pria tampan itu. Dia juga pria yang memiliki selera baca kelas atas. Tapi karena dia termasuk 91’s line di negaranya, bisa dikatakan otaknya agak bermasalah karena dia bergabung dengan sebuah aliansi yang isinya makhluk-makhluk 91’s line dengan tingkat kewarasan dipertanyakan tapi sangat terkenal. Bibirnya seksi menggoda, naratorpun sampai berkhayal untuk mencubit bibir tipis itu.

Dua pria di belakangnya adalah duo magnae di antara lima pria tersebut. Yang satu adalah pria paling tinggi dan satu paling pendek. Yang satu meski penampilannya sangat meyakinkan untuk orang yang memiliki kemampuan olahraga yang bagus, tapi itu sangat salah. Pria tinggi yang terlihat punya badan bagus itu sangat payah dalam olahraga. Tapi tampan sih, jadi tidak masalah dia payah juga, narator suka. Pria satu lagi memiliki otot lengan yang sangat kuat. Meski tingginya paling rendah dibanding keempat temannya, dia bisa dikatakan tinggi. Dia sangat menyukai ayam. Hidupnya lebih bermakna karena ayam dan perempuan masih kalah mempesona dibanding ayam.

Narator yakin tanpa narator mengatakan identitas dari kelima pria tersebut, kalian bisa menebak siapa mereka. Dan karena tidak mungkin narator menebut terus mereka dengan nama julukan, mulai saat ini narator akan menceritakan menggunakan nama sesuai dengan nama yang tertera di data kependudukan di negara mereka.

Hongki membuka pintu tempat dia dan keempat rekan satu bandnya, FT Island, tinggal selama di Jepang. Dia lalu menghentikan langkah kakinya secara mendadak karena sesuatu yang aneh ditangkap kedua retina matanya.

Brukk…. Brukkk…. Gubrakkk…

“YA! CEPAT MENYINGKIR DARIKU!!!” Teriak Hongki dengan bahasa ibunya yang sedang telungkup di lantai dengan Jaejin dan Jonghoon berada di atas tubuhnya dan Seunghyun juga Minhwan berada di atas keduanya. Kelimanya membuat tumpukan tubuh tiga tingkat dengan Hongki sebagai penderita karena harus menopang tubuh keempat temannya. “PPALI!!!!” Hongki berteriak lagi karena beban ditubuhnya tidak juga berkurang meski waktu sudah berjalan lebih dari sepuluh mneit sejak insiden tumpang tindih terjadi.

Akhirnya setelah penuh perjuangan, kelimanya bangkit dari tumpang tindih mereka. “Ya! Hongki-ya. Kenapa kau tiba-tiba berhenti sih?” Tanya Jonghoon sambil membetulkan rambutnya yang sedikit kusut.

“Kau lihat saja.” Ucap Hongki sambil mengerlingkan matanya ke dalam apartemen tempat tinggal mereka.

Jonghoon menoleh dan matanya langsung terbelalak lebar, Jaejin yang mengikuti langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan tangannya begitu juga Seunghyun dan Minhwan yang saling berpandangan.

“Ige mwoya?” Tanya Seunghyun dan Minhwan bersamaan. Keduanya lalu menghampiri sesuatu yang membuat Hongki tadi menghentikan langkah dan membuat Jonghoon juga Jaejin menabraknya.

Minhwan dan Seunghyun mendekati tiga buah keranjang dari anyaman bambu yang tingginya selutut Minhwan dan lebarnya hampir selebar pintu apartemen mereka. Ketiga keranjang jumbo tersebut berisi buah-buahan yang jarang sekali dilihat langsung oleh para member FT Island. Jaejin dan Hongki lantas ikut menghampiri tiga keranjang tersebut sedang Jonghoon berjalan ke arah berlawanan dengan tempat para keranjang berada.

Jaejin mengambil sebuah kartu ucapan yang tertangkap oleh kedua matanya. Dia lantas membacakan isi kartu ucapan tersebut. “Lee Jaejin, uri sarang… Saengil chukkae, tanjoubi omedeto… Kami harap kau bisa mengingat kami walaupun kita baru sekali berinteraksi langsung. Kami primadonna yang sangat menyayangimu. Yang waktu itu membuat pesta kejutan untuk Minhwan…”

Mata Minhwan, Hongki dan Seunghyun langsung berkilat sambil menatap tajam Jaejin. “Pedojumma!!!!” Ucap keempatnya bersamaan.

Sejak insiden ulang tahun Minhwan yang menurut Minhwan mengerikan bulan November yang lalu, lima pria tampan nan mempesona itu menjuluki dua Primadonna berumur, yang memberikan kejutan pada Minhwan, sebagai ‘Pedojumma’.

“Ne? Ada apa dengan Pedojumma?” Tanya Jonghoon yang baru saja bergabung dengan empat rekannya sambil membawa gitar berpita besar di tangannya. ”Wah, hadiahmu daebak Jaejin-a. Padahal ini kan belum waktunya ulang tahunmu, masih ada sekitar satu jam lagi.” Komentar Jonghoon sambil menoleh ke jam dinding yang ada di dekatnya.

Jaejin menatap gitar yang dipegang Jonghoon. Warna gitar itu putih metalik dengan gambar karikatur kambing di badan gitar tersebut dan ada kata ‘Saengil chukkae Jaejin’ tercetak di gitar tersebut. “Kambing?” Jaejin bertanya bingung.

Tapi Jaejin tidak terlalu memusingkan gitar itu, perhatiannya kembali beralih pada kartu di tangannya. “… Kami Kim Jaejin eomma dan Lee Minhwan eomma, tepat seperti tebakanmu. Sebenarnya kami ingin memberikan hadiahnya tepat saat hari ulang tahunmu secara langsung, tapi karena beberapa hal mungkin kau menerimanya di hari sebelumnya. Dan karena biaya hidup di Jepang lebih besar dari Korea, kami hanya bisa memberikan hadiah buah tropis yang sangat lezat juga menyehatkan…”

Lagi-lagi Jaejin berhenti membaca. Dia menoleh ke arah empat temannya yang sedang mendengarkan dia dengan khusyuk. “Mereka ada di sini, di Jepang.” Ucap Jaejin dengan raut muka tidak baik mengingat Minhwan saja sampai tidak mau menyentuh ayam selama tiga hari setelah dibawa pergi para Pedojumma itu. “Hyung, selamatkan aku.” Mohon Jaejin pada Hongki dengan muka memelas minta dicium narator /plakk.

“Kau lanjutkan dulu bacanya.” Ucap Jonghoon.

“… Jika kau tidak tahu namanya, buah yang besar berduri itu bernama Durian. Baunya khas dan katanya sangat enak, kami tidak terlalu suka jadi tidak bisa mendeskripsikan rasanya. Sedang bauh yang merah kecil dan berbulu namanya rambutan. Buahnya berwarna putih bening dan rasanya manis, walaupun masam jika belum matang. Lalu buah yang berwarna ungu itu namanya manggis. Kulitnya tebal dan isinya sedikit tapi sangat enak. Warna buahnya putih bersih sangat menggugah selera. Kau bisa tahu berapa isi buah tersebut dari pantat buahnya. Selamat menikmati buah-buahan yang nikmat itu dan sekali lagi… SAENGIL CHUKKAE URI JAEJIN SARANG..!!!”

Jaejin langsung melemparkan kartu ucapan itu begitu dia selesai membacakan isi kartu tersebut.

Mmmmbbeeeee~~~~ mmbbbbeeeee~~~~ mmmmbbbeeee~~~

Lima pasang mata yang berada di dalam apartemen langsung menoleh ke arah suara aneh yang berasal dari ruang tengah. Mereka dengan langkah mengendap-endap mengampiri ruang tengah. Kelimanya tengah berpikiran sama dan berharap sesuatu yang ada di pikiran mereka tidaklah nyata.

Mmmmbbeeeee~~~~ mmbbbbeeeee~~~~ mmmmbbbeeee~~~

“Omoo~~” Minhwan langsung menutup matanya begitu dia melihat beberapa kambing tengah mengembik di dalam layar televisinya.

Layar di televisi itu kemudian berubah dan menampilkan dua orang gadis. Keduanya melambai-lambaikan tangannya. “Jaejin oppa annyeong…. Kami berdua adalah fans yang sangat sangat sangat mencintaimu.” Ucap keduanya kompak.

“Choneun, Kang Rae Woo imnida.”

“Choneun, Song Hye Sang imnida.”

Keduanya mengenalkan diri. “SAENGIL CHUKKAE OPPA!!!” Teriak keduanya yang membuat lima member FT Isand di dalam apartemen terlonjak kaget saking tingginya suara yang dihasilkan pita suara dua gadis itu.

“Kami sebenarnya ingin sekali memberikan kambing sungguhan pada oppa sebagai hadiah ulang tahun. Tapi kami hanya pelajar yang tidak mampu membeli hewan semahal itu.” Ucap Hye Sang dengan muka sedih.

“Jadi, kami membelikan banyak DVD tentang Kambing juga boneka kambing. Semoga oppa menyukainya.” Sambung Rae Woo.

Keduanya tersenyum sangat manis di layar televisi. “OPPA! Sekali lagi SAENGIL CHUKKAHAMNIDAAAAA~~~” Teriak keduanya kemudian tampilan di layar televisi berubah jadi kambing-kambing yang tengah makan rumput.

“Aigoo~ hadiah mereka aneh sekali. Pantas saja akhir-akhir ini mention ke twitterku banyak yang bertemakan kambing. Sudah takdirmu dapat julukan kambing, Jaejin.” Komentar Hongki.

Seunghyun menoleh ke arah Jaejin yang terus diam. Dia melihat wajah Jaejin yang semakin pucat. ”Hyung gwenchana?” Tanyanya khawatir.

“Aku…. Aku sepertinya mendapat firasat buruk.” Ucap Jaejin.

“Eh, ini ada sesuatu di dalam gitar.” Kata Jonghoon yang merogoh lubang di gitar yang dipegangnya dan mendapati sebuah tape recorder. Jonghoon menekan tombol play.

“Jaejinniieeee~~~ Saengil chukkae saengil chukkae saengil chukkae~~~. Lee Jaerin imnida. Kita kembar beda dua hari loh, dan aku noona untukmu.  Ah, andai saja kau tahu, aku sangat sangat sangat ingin memelukmu dan mencium pipimu yang menggoda itu. Lalu mencubit bibirmu yang tipis-tipis seksi. Rrraawww! Aku sengaja membelikanmu gitar biasa dan bukan bass karena aku sangat menyukaimu saat memainkan gitar seperti di FT Triple. Ingat ya nama noonamu ini. Sekali lagi, SAENGIL CHUKKAHAMNIDAAA~~~~”

“Wah, saat ulang tahunku, aku hanya mendapatkan ayam dari Pedojumma dan hadiah lain dari fans yang dititipkan di FnC. Sedangkan Jaejin hyung mendapat banyak sekali hadiah yang langsung ada di dorm.” Komentar Minhwan begitu kelimanya selesai mendengarkan rekaman yang ada di tangan Jonghoon.

“Ngomong-ngomong, kenapa bisa ini semua ada di dalam? Bukannya kita mengunci pintu apartemen kita ya?” Seunghyun bertanya.

Kelimanya saling berpandangan. Dan tanpa diperintah, Jonghoon memberikan gitar di tangannya pada Minhwan dan tape recorder pada Hongki. Dia lantas mengambil ponsel di sakunya dan mencari nomor kontak seseorang. “Yoboseyo, Yeon Ho hyung. Apa hyung mengijinkan lagi Pedojumma masuk ke dorm kami?” Jonghoon bertanya pada manajer FT Island yang di teleponnya.

“…..”

“Mereka yang memberikan kejutan pada Minhwan kemarin.”

“…..”

“Jeongmalyo? Tapi ada banyak hadiah dari mereka di dalam dorm kami. Kalau hyung tidak tahu tentang mereka, bagaimana mereka bisa memasukkan semua hadiahnya?”

“……”

“Baiklah, aku mengerti. Gomawo hyung.” Jonghoon lantas memutuskan sambungan teleponnya dan menoleh pada empat orang yang tengah menatapnya cemas. “Yeon Ho hyung tidak tahu apa-apa soal ini.” Lapornya.

“Jadi…” Semua orang menoleh pada Jaejin. “Mereka membobol apartemen kita? Ya Tuhan, ini benar-benar menakutkan.” Ucapnya sambil bergidik ngeri.

Kelima pria tampan nan mempesona itu kemudian duduk di sofa. Kelimanya diam lebih dari setengah jam. Hanya keheningan yang menemani mereka. Mereka terlalu takut untuk beranjak dari duduk mereka. Terlebih Jaejin, karena dia memang merasa sebagai target yang akan diserang kapan saja.

“Hyung, menurut hyung, apa yang akan mereka lakukan?” Tanya Seunghyun memecah kesunyian pada Jaejin.

Jaejin menggeleng lemas.

“Tapi jika dipikir-pikir, mereka tidak berniat melakukan sesuatu yang buruk.” Ucap Hongki. Semua menoleh pada Hongki, mempertanyakan pernyataan yang baru saja diucapkannya. “Mereka memasakkan makanan yang sangat lezat untuk kita. Dia juga memberi 100kg daging ayam. Walaupun aku sangat bosan harus melihat daging ayam tiap hari yang bahkan sampai sekarang belum habis, tapi karenanya kita bisa memangkas pengeluaran kita untuk ayam. Terlebih Minhwan, pasca trauma dia sangat girang karena selalu makan ayam. Lalu, jika diingat, mereka mungkin tidak tahu kalau Minhwan takut ayam hidup yang super banyak itu. Niat mereka kan ingin memberikan kejutan untuk Minhwan.” Terang Hongki panjang lebar tinggi alas luas volume /plakk.

Jonghoon mengangguk-anggukan kepalanya. “Dan kalau memang mereka berniat jahat, mereka tidak mungkin menghadiahkan buah-buahan mahal dan super banyak itu.” Katanya sambil menunjuk keranjang buah-buahan dengan matanya. “Sulit mendapatkan buah tropis seperti itu  di sini. Buah tersebut pasti di impor dan harganya juga tidak murah.” Tambahnya.

“Meski dengan cara yang tidak wajar.” Minhwan menimpali.

“Tapi tetap saja menakutkan.” Kilah Jaejin. “Bayangkan saja, mereka membobol dorm kita dan memasukkan keranjang yang super besar tanpa menimbulkan keributan di sini. Mereka pasti bukan orang biasa dan itu menakutkan.“

“ANNYEOONNNGGG!!!!!!”

Hongki,  Jonghoon, Minhwan, Jaejin dan Seunghyun menoleh ke arah kamar Hongki dan melihat tujuh orang berdiri di depan mereka. Para member FT Island itu kemudian berdiri dengan tampang kaget takut-takut.

Pppsssssssshhhhhhhhh………

Brukk…. Brukkk…. Brukkk…. Brukkk…. Brukkk….

Kelimanya kembali terduduk di sofa dengan tidak sadar begitu gas tidur disemprotkan ke  wajah mereka oleh gadis yang bernama Jaerin.

“Mereka sudah tidak sadar ahjumma.” Lapor Hye Sang pada Kim Jaejin eomma.

“Bagus.”

“Ahjumma, hadiahku belum ditemukan Jaejin.” Ucap satu gadis dengan wajah sedih.

“Sudahlah Hyorin, nanti juga Jaejin akan menemukannya. Kau simpan hadiah itu di meja makan nanti agar dia tahu.” Ucap Lee Minhwan eomma.

Gadis yang dipanggil Hyorin mengangguk.

“Jino-ya, tolong ambilkan tas eomma di kamar.” Perintah Kim Jaejin eomma pada putranya yang dia ajak ke dorm FT Island.

Bocah sepuluh tahun itu mengangguk kemudian pergi ke kamar dan mengambil tas besar milik ibunya.

“Kalau begitu, kita mulai sekarang?” Tanya Rae Woo.

“Kita pindahkan dulu empat member yang lain. Baru memulai rencana kita.” Ucap Jaerin.

“Oke.”

-o0o-

Jaejin perlahan membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali untuk menyesuaikan pandangannya. Jaejin terlonjak. Dia langsung meraba tubuhnya, memeriksa apakah ada yang bertambah atau berkurang di tubuhnya. Dia menghembuskan nafas lega begitu tahu keadaannya sama persis sebelum saat dia tidak sadar. Lalu kemudian Jaejin menoleh ke kanan dan kiri, mencari orang-orang yang dia lihat sebelum pingsan. Dia hanya mendapati dirinya seorang diri di sofa. Jaejin langsung bangkit dan mencari teman-temannya. “Hyung, eodi…. HUWAAAAA!!!!!!!” Jaejin langsung berteriak begitu dia melihat cermin dirinya di cermin dekat ruang makan. “RAMBUTKUUUU….” Dia memegangi rambutnya yang berubah warna jadi hitam.

“Jangan teriak-teriak begitu.” Ucap Jonghoon sambil menyendok sup di depannya.

Jonghoon, Hongki, Minhwan dan Seunghyun tengah duduk di ruang makan. Di meja makan sudah disediakan makanan yang cukup banyak plus sup rumput laut. Keempat member FT Island itu sudah sadar sebelum Jaejin. Mereka sadar di depan meja makan. Dan langsung menikmati makanan yang tersedia. Saat mereka sadar, tujuh makhluk tidak diundang itu sudah tidak ada. Bahkan sekedar jejaknya pun tak ada sama sekali.

“Wah, kau tampan lagi Jae.” Komentar Hongki saat menoleh pada Jaejin.

“Hyung T_______T” Jaejin terlihat ingin menangis.

“Hyung terlihat lebih keren kok.” Terang Minhwan.

“Oh hyung, ini ada satu kartu lagi. Kami tidak berani membukanya sebelum hyung sadar.” Kata Seunghyun sambil menyodorkan kartu pada Jaejin namun tetap duduk di tempatnya.

Dengan lemas Jaejin menghampiri Seunghyun dan duduk di kursi kosong di samping pria jangkung tersebut.

“Bacakan.” Ucap Hongki dengan nada memerintah.

“Jaejin-a, mianhae kalau kamu tidak suka. Tapi kami semua sangat berharap kamu bisa tampan seperti dulu. Tahukah kamu kalau rambutmu yang sebelum itu membuatmu jadi lebih kumel? Kami mencintaimu, jadi kami ingin kamu terlihat lebih tampan.

“Oppa, jangan marah ya…. Ahjumma benar. Oppa jauh lebih tampan dengan rambut hitam atau cokelat. Lagipula apa oppa tidak peduli pada kami yang selalu berteriak memintamu ganti warna rambut?

“Noona sangat senang saat melihatmu tidur dengan rambut baru itu. Ah, Jaejin yang cute sudah kembali. Kau harus pertahankan warna rambut itu, ara?”

“Hyung, mohon hadiahnya diterima dengan senyuman.

“Dari kami yang mencintaimu, Lee Minhwan eomma, Kim Jaejin eomma, Kim Jino, Kim Hyorin, Song Hye Sang, Kang Rae Woo dan Lee Jaerin.”

Jaejin menjatuhkan tangannya sehingga kartu di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Perasaannya campur aduk, tapi yang pasti, dia merasa tidak punya tenaga sama sekali, bahkan untuk marah. Pikirannya kosong, matanya menerawang tidak jelas.

“Hyung~ Hyung~” Seunghyun mengguncangkan tubuh Jaejin.

“Hmm….” Jawab Jaejin masih setengah bernyawa.

“Gwenchana?” Seunghyun bertanya.

“Hmm….”

“Ini hadiah yang lain hyung.” Ucap Minhwan sambil menyodorkan sebuah kotak pada Jaejin.

Jaejin mengambilnya dengan setengah sadar. Dia lalu membuka tutup kotak berpita itu. Jaejin mengambil sebuah botol yang ada di dalam kotak. Memandang bingung botol berisi cairan bening itu.

“Oppa, aku sedang tidak punya uang, jadi aku belikan pemutih pakaian saja untukmu. Oppa berendam yaa dengan pemutih itu, semoga kulit oppa lebih putih.” Hongki membacakan tulisan yang ada di kartu di dalam kotak tadi.

Jonghoon, Hongki, Minhwan dan Seunghyun menatap Jaejin yang sudah kehilangan kesadarannya lagi.

-end-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s