[Ficlet] The life you live..

Standard

[Ficlet] The life you live..

Author : Ma’ippo/Seorin

Cast :

*) Lee Sungjong [Infinite]

*) Han Yoonji [OC]

Genre : Friendship????

Rate : G

Length : Ficlet

Disclaimer : Semua yang maen di ep2 ini bayar saiia pake cintaaaa/plakkk jadi terserah mau saiia apakan*ditabok*.

a/n : ff infinite pertama saiia.. Obsesi buat bunuh Sungjong tercapai~*diceburin jurang*.Ga tau kenapa langsung ada ide untuk bikin ff ini habis denger kabar temen SMA meninggal. TT^TT. Asli, cuma minjem nama ma muka Sungjong aja, hha. Karakternya bukan Sungjong banget/plak. Happy reading ajah^^

 

“Yaa~~ palli-a, pallii!!” bocah laki-laki di depanku itu menarik-narik tanganku dengan semangatnya yang menggebu seperti biasanya.

“Ya, tidak usah buru-buru,” sahutku santai,tapi mencoba untuk menyamai langkahnya yang begitu cepat. Heran bagaimana bocah sekurus dia seolah tak pernah kehabisan tenaga untuk melakukan semua kegiatannya.

“Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan yang lain~.”

Aku hanya menghela nafas panjang. Seperti inilah Lee Sungjong tiap kali anak-anak SMA kami mengadakan reuni kecil. Bersemangat,tapi juga begitu merepotkan.

Seperti biasa, begitu sampai di tempat itu, ia segera menyapa teman-teman yang lain dengan ceria sementara aku hanya ber’oi’ pelan sambil melambai tangan santai.

“Ayo foto, mana kamera kalian?” ucapnya kemudian. Kata-kata yang sudah kuduga. Salah satu keanehan lain dari sahabatku ini, ketika biasanya orang lain ingin berfoto dengan yang lainnya, ia justru ingin memotret mereka, tidak begitu peduli apakah dirinya tertangkap kamera atau tidak.

“Ya, Yoonji-ah, merapatlah sedikit lagi,” perintahnya padaku ketika kami semua sudah menata diri di depan kamera.

“Kimchiii~~.”

CKREK! Bunyi lensa kamera terdengar dan pose ‘OK’ dibentuk oleh jari-jari tangan Sungjong. Sesi pemotretan pertama usai, sesi kedua, ketiga dan seterusnya menyusul seiring kamera-kamera dan hape yang beterbangan ke arahnya.

“Ya,kau tidak capek memotret terus?” tanyaku saat ia masih asik dengan kamera hapenya sendiri. Salah satu cara paling gampang untuk membuatnya tak banyak bicara, kamera.

“Anni,” jawabnya singkat. Tangannya sibuk memencet tombol kamera,entah foto apa atau siapa yang diambilnya.

Ia memeriksanya hasil jepretannya dan tersenyum puas. “Aku hanya ingin membuat memori sebanyak mungkin selama aku masih bisa,hhe..” tambahnya seraya tersenyum lebar padaku, senyum yang selalu berhasil menghipnotisku untuk mengambil kameraku dan langsung mengabadikan ekspresinya.

“Yaa~!”

Aku hanya menjulurkan lidahku dan tertawa jahil saat ia berusaha mengejarku untuk merebut hasil foto dirinya.

Saat itu, aku bahkan tidak benar-benar memikirkan apa arti kata-kata itu untuknya. Ya, aku tak pernah berpikir, kalau kata-kata itu juga akan meninggalkan segores luka yang tak mungkin diputar ulang oleh sang waktu untukku.

. . . . . . . . . . . . . .

“Sungjong meninggal..”

Otakku nyaris tak bisa mencerna satu katapun. Bahkan saat ummanya mengucap kata-kata itu dalam balutan isakan yang masih tersisa jelas.”Sungjong sudah meninggal Yoonji-ah..”

Gagang telepon rumahku nyaris meluncur ke lantai karena tanganku tak mampu untuk menggenggamnya. Aku gemetar. Kakiku lemas. Tapi aku tidak bisa menangis. Hampa. Rasanya hampa sekali..

. . . . . . . . . . . . . .

Kutatap jenazah Sungjong yang terbujur kaku di hadapanku. Tidak ada yang berbeda darinya. Hanya dia tak mau bergerak ataupun beranjak dari sana. Tak ada ekspesi lagi di wajah cantiknya. Tak ada senyum. Tak ada canda. Tak ada tawa. Dia bahkan tak mampu lagi menangis untuk menutupi kesedihannya.

Kecelakaan. Ummanya bilang ia meninggal setelah tertabrak mobil dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Ia pergi meninggalkanku begitu saja, tanpa pamit atau sekedar mengucap kepergiannya. Bagaimana bisa aku percaya kau sudah pergi sementara sementara kita masih berjanji akan bertemu lagi??

“Tara~~” Sungjong menyodorkan hasil foto yang baru dicetaknya padaku.

“Ige mwoya?” tanyaku sok polos. Tumben dia ke rumahku dan memberiku foto-foto yang baru jadi, biasanya dia yang merengek menyuruhku ke rumahnya untuk memamerkan hasil kameranya.

“Aku ingin Yoonji yang menyusun foto-foto ini.”

“He?”

“Kau selalu menggodaku karena hobi anehku ini,kan? Karena itu sekarang kau harus mencobanya sendiri.”

“Mwo?”

“Aku akan melihat hasilnya nanti,jadi pastikan kau bikin yang bagus ya?” Sungjong mengambil tas ranselnya dan bangkit dari tempat tidurku.

“Kau mau pergi sekarang?”

“Hmm. Aku sudah tidak punya waktu lagi. Yoonji-ah jaga diri baik-baik ya?” ucapnya sambil menepuk-nepuk kepalaku.

“Bodoh,harusnya aku yang bilang begitu,”sahutku,menepis tangannya. Ia hanya tersenyum lalu keluar dari kamarku.

Sungjong-ah.. Kali ini air mataku mengalir begitu saja. Kenapa kau begitu egois?? Kenapa kau tak bilang kalau kau pergi dan tak pernah kembali lagi??

“Jahat.. Kau benar-benar jahat Sungjong-ah..”

. . . . . . . . . . . . . . .

Aku masuk ke dalam kamar Sungjong. Kamar bocah bodoh itu masih berantakan seperti biasanya, seolah ia hanya pergi sebentar dan akan membereskannya begitu pulang nanti. Tapi dia sudah pulang ke tempat lain. Aku takkan bisa melihatnya memasang muka malasnya saat kutendang untuk bangun tidur. Tak ada lagi aegyo darinya. Tak ada lagi rangkulan erat bocah yang kadang sudah kuanggap adik sendiri itu.

Album fotonya tergeletak dalam keadaan terbuka di tempat tidurnya. Foto-foto hasil jepretannya tertempel dengan indah di sana. Beberapa ada yang masih belum ditata.

“Kalau aku jadi fotografer terkenal,akan kupastikan kalau semua foto ini masuk ke pameran.” Sungjong memain-mainkan kakinya di atas kasur sementara tangannya sibuk membuka-buka album di hadapannya.

“Pastikan dulu kau lulus ujian minggu depan. Belajar sana.” Kulemparkan buku materi kuliah kami dan gantian aku yang membolak-balik albumnya.”Kau senang sekali berkumpul dengan anak-anak,” komentarku begitu melihat isi fotonya.

“Habis,tidak ada yang tau apa yang akan terjadi pada kita sekarang atau nanti,kan. Karena itu,aku ingin bertemu dengan mereka yang berharga untukku dan membuat kenangan yang indah sebelum aku pergi,” sahutnya santai.

“Ya,jangan bicara seolah kau akan pergi jauh begitu.”

“Tapi kita memang tidak tahu kapan kita mati,kan?”

Sungjong mengambil foto-foto ini dengan begitu hidup. Ia mampu menggambarkan dengan sempurna ekspresi kebahagiaan kami semua saat kami berkumpul bersama. Sebagian diambil tanpa ijin kami, tapi fotonya sendiri malah nyaris tak ada.

“Bodoh… Kau memasang foto orang lain begitu banyak. Tapi kenapa kau tidak memasang fotomu sendiri??” Aku menghapus air mata yang mengalir di pipiku. Dia selalu berpikir untuk mengenang orang lain, tapi apa dia tahu kalau kenangannya juga berharga untuk orang lain?

Satu foto menarik perhatianku, selca yang kulakukan dengan Sungjong saat terakhir kali kami bertemu. Dia yang memaksaku melakukannya. Waktu itu aku menangis karena hasil ujianku sakit keras sementara dia tertawa penuh kemenangan karena hasilnya sempurna.

Aku dan Yoonji. Dia benar-benar jelek kalau menangis, kan?

Aku membenamkan mukaku dalam tangkupan kedua tanganku sendiri. Kali ini aku menangis karenamu, bodoh. Harusnya kau yang bertanggung jawab!

Aku memeluk album buatannya dan membiarkan diriku larut dalam isakan sementara. Salah satu bagian hatiku terluka saat ini. Dia sudah pergi, dan takkan kembali meski aku menghabiskan seumur hidupku dalam tangisan ini. Aku akan tersenyum lagi… Tapi bukan saat ini… Boleh kan hari ini saja aku menangis Sungjong-ah?

Angin musim semi berhembus lembut menyapaku dari jendela kamar Sungjong yang terbuka. Aroma yang disukainya.

…..End…..

Author merasa amat sangat amatir sekali dalam nulis ff,hha.. any comment?? Cara nulis?? Segi cerita?? Atau ada yang mau kasih uang?/plakk

Advertisements

4 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s