Oppa saranghae!!>.< [2 of 2]

Standard

Author : Seorin

Cast :

*) Lee Hyukjae [Super Junior]

*) Han Yoori [OC]

Genre : Romance, =P

Rate : G

Length : 2 shot

Disclaimer : Semua yang maen di ep2 ini bayar saiia pake cintaaaa/plakkk jadi terserah mau saiia apakan*ditabok*.

a/n : Nyaris ga bisa OL blog gegara macem2.. TT_TTSekali lagi ini ep2 entah dari jaman kapan *nyengir*, bagi yang udah pernah baca, ini ff memang pernah aku publish di blog sama akun pribadi fbku^^. Sebenernya oneshot, tapi sengaja aku bagi dua biar ga kepanjangan banget, hehe… Happy reading ajah^^

Part 2

Aku pergi ke atap, tempat favoritku dan Hyukjae-hyung dengan perasaan seperti parajurit yang kalah bahkan sebelum berperang. Kupasang earphone di telinga, kuhidupkan ipod dan menikmati semuanya bersama semilir angin yang damai.

Aisaretai demo aisou to shinai

Sono kurikaeshi no naka o samayotte

Boku ga mitsuketa kotae wa hitotsu kowakutatte kizutsuitatte

Suki na hito ni wa sukitte tsutaerunda

I want to be loved, but you don’t seem to love me

I’m wandering aimlessly within this repetition

And the answer I foundis only one; that even iif I’m scared, even if I’m hurt

I’ll say “I love u” to the person I love

[Aqua Timez-Sen No Yoru Wo Koete]

Aku menutup mataku dan menikmati tiap syair yang ada dalam lagu itu.

Kalau saja aku punya keberanian seperti tokoh utama dalam lagu ini, pasti semuanya akan terasa lebih mudah sekarang.. Aku tidak akan bimbang dan terombang-ambing begini terus..

Aaarrrrgggh! Pernyataan cinta memang benar-benar butuh tenaga ekstra!!

“Ya! Kenapa ke sini tidak ngajak-ngajak?” Tiba-tiba seseorang memukul kepalaku dengan gulungan kertas dan membuatku terpaksa membuka mata.

“Hwaaa!! Siluman monyet!!” teriakku kaget.

“Siapa yang kau panggil siluman monyet ha????!!!” teriak Hyukjae-hyung cepat sambil memukul kepalaku sekuat tenaga dengan kepalan tangannya.

“A..Awww~” Aku menjerit tertahan. Sakiiiiiiiiiiiiittt. Aku mengelus-elus kepalaku yang sepertinya akan benjol dalam waktu kurang 24 jam.

“Ya! Kepalaku ini berharga tahu, hyung!”

“Salah siapa memanggilku siluman monyet.”

“Memang hyung kelihatan seperti monyet, weeeeekkkk!!” Aku menjukurkan lidahku pada Hyukjae-hyung.

“Aish, dasar kau ini..” Hyukjae hyung  segera menempatkan dirinya di sampingku dan mengambil sebelah headsetku begitu saja dan memasangnya di telinganya sendiri. Aku segera menutup mata dan mendengarkan lagi tiap alunan nada yang keluar dari ipodku. Kali ini volumenya kukecilkan sedikit supaya aku tetap bisa mendengar kata-kata hyung.

“Ya..  Hyung nim…” aku memanggilnya pelan.

“Ne?”

“Apa hyung pernah jatuh cinta?”

“Wae yo?”

“Apa jatuh cinta itu menyakitkan?”

“Mwo?”

“Perasaan menyesakkan setiap melihat orang yang kita sukai bersama orang lain.. Perasaan selalu ingin bersama dengan orang itu.. Cinta itu egois ya Hyung?”

“YooRi-ah..”

Aku menarik nafasku dalam-dalam. “Mungkin.. Orang bodoh sepertiku memang tidak seharusnya jatuh cinta ya..”

Tep. Aku merasakan sentuhan hangat di dahiku. Kubuka mataku dengan kaget dan kulihat Hyukjae hyung sudah ada di depanku dengan tangan terjulur di dahiku dan muka yang super serius.

“Emm sepertinya kau tidak demam.. Telingaku juga sepertinya baiik-baik saja.. tapi.. kenapa sepertinya dari tadi aku dengar orang meracau tidak jelas ya??” sahutnya sambil memasang tampang seolah-olah sedang menghadapi masalah yang super berat . Dasar orang ini..~_~”

“Ya! Maksud hyung apa, ha? Aku tidak meracau. Aku ini sadar sepenuhnya tahu~!” Aku menepis tangan Hyukjae hyung dan mengerucutkan bibirku.”Aku kan hanya sedang berpikir untuk menyerah saja..”

“He?”

“Tentang orang yang kusukai itu.. Hyung tahu kan?”

“Maksudmu Siwon?”

“Ya! Harus kukatakan berapa kali kalau itu bukan Siwon??”

“Lalu siapa?”

“Itu…” Aku menatap masuk ke dalam mata Hyukjae hyung dan terdiam cukup lama. Aku ingin mengatakannya.. Aku ingin bisa mengatakan siapa orang itu pada orang yang sudah kuanggap sahabat sekaligus kakakku ini, tapi..

”Errgghh.. sudahlah! Tidak penting lagi sekarang,” sahutku pada akhirnya.”Aku takkan pernah mengungkapkan perasaanku padanya, jadi hyung tahu pun percuma.  Lagipula.. aku ini kan memang sejak dulu tidak pernah beruntung dalam masalah percintaan.”

“Ah, benar juga ya? Dua kali ditolak sebelum sempat menyatakan cinta, kan?”

Sriiiing. Aku melirik tajam kepada orang di sampingku itu. Untuk apa dia mengungkit-ungkit hal ini haaa~ =3=

“Kau tahu YooRi-ah?”

“Apa?” tanyaku dengan nada masih setengah dongkol.

“Kurasa.. kau hanya perlu cara yang lebih berani saja.”

“Mwo?”

“Emm.. Menyatakannya ke seluruh sekolah lewat siaran radio misalnya?”

Gludakk! Aku yakin suara kursi jatuh baru saja melintas di kepalaku.

“Ya! Itu sih namanya cari mati! Lagipula mana ada namja yang mau menerima seorang yeoja yang menyatakan cintanya dengan cara seperti itu?” sergahku cepat.

“Kalau aku sih mau saja.”

“He?”

“Mungkin.. kelihatannya benar-benar memalukan.. Tapi.. untuk melakukan hal seperti itu, seseorang pasti butuh keberanian lebih, kan? Hanya orang bodoh yang akan menolaknya.”

“Kalau begitu.. apa hyung akan menerima siapa saja yang melakukan hal itu?”

“YA! Tentu saja lihat dulu siapa orangnya! Mana bisa asal terima orang sembarangan!” sahut hyung seraya menjitakku. Aissshh.. orang ini senang sekali sih bermain-main dengan kepalaku?

Aku menundukkan kepalaku menatap lantai, masih dengan gerundelan pelan dari mulutku. Semua kata-kata Hyukjae hyung mengalir begitu saja dalam otakku.  Semua yang terjadi padaku selama satu bulan ini berkelebatan satu persatu.. Pernyataan cintaku yang akhirnya sama sekali tak pernah tersampaikan.. Perasaan ini..

“Arasso..” ucapku tiba-tiba.

“Mwo?”

“Nih, kuberikan untuk hyung!” Aku melempar kue buatanku yang dari tadi kusimpan begitu saja dan melompat berdiri.

“Eh?”

“Tadinya sih mau kuberikan pada orang yang kusukai dengan cara yang lebih romantis. Tapi.. untuk hyung saja lah!”ucapku seraya menepuk-nepuk kue itu.

“Gomawo ya hyung!” Aku mengatupkan tanganku dan tersenyum lebar ke arah Hyukjae hyung.”Aku tahu apa yang harus kulakukan sekarang.”

“He?”

Aku hanya nyengir lebar dan segera melangkahkan kakiku mundur.”Hhe.. Aku pergi dulu ya hyung!!” teriakku seraya berlari ke pintu atap.

Ya.. aku tahu yang harus kulakukan sekarang..

Hyukjae-hyung masih terduduk di tempatnya tadi dan tidak beranjak pergi bahkan ketika punggungku sudah menghilang di balik pintu atap.

Ia mendesah pelan dan menutup matanya sendiri dengan sebelah lengannya.

“Hyukjae pabo..”bisiknya pelan.”Apa yang kau pikirkan ha? Menyuruh orang lain menyatakan cintanya sementara kau sendiri tidak berani untuk mengatakannya.. Menyuruh orang yang kau sukai menyatakan cintanya pada orang lain.. pabo.. cheongmal pabo..”

_Hyukjae POV_

Aku  mengetuk-ngetukkan kakiku di lantai, mencoba menghilangkan kegalauan yang tiba-tiba saja tidak mau pergi dari pikiranku sejak tadi. Aku masih menunggu YooRi di depan kelas karena dia menelponku dan menyuruhku menunggu. Dengan gelisah aku berusaha menghilangkan pikiran-pikiran aneh di otakku.

Apa sekarang dia sudah jadian dengan Siwon?? Jangan-jangan mereka malah kencan sekarang?? Tapi bukannya dia bilang kalau yang dia sukai bukan Siwon?? Kalau begitu siapa?? Tapi orang yang ada di belakang taman waktu dia bilang akan menyatakan cinta kan cuma Siwon. Kalau begitu..

Aaarrrgghh! Kenapa aku jadi bingung begini?

Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Tak kusangka kalau aku akan sampai kepikiran seperti ini.

Melihatnya tertawa saat pertama kali ia berkata bahwa ia jatuh cinta pada orang itu.. Melihatnya salah tingkah saat ia berusaha menyembunyikan identitas orang itu.. Melihat keberaniannya saat ia ingin menyatakan perasaannya pada orang itu.. Rasanya setengah sakit dan setengah tak bisa mengelak. Aku tahu aku ingin dia bahagia, tapi.. Apa aku egois jika menginginkan diriku sebagai kebahagiaannya??

Han YooRi.. Apa kau tahu seberapa besar kau telah meracuniku??

Aku menyandarkan diriku ke dinding.. membiarkan ingatanku menelusuri tiap jejak yang entah kenapa membuatku begitu tersiksa dalam perasaan yang tak menentu saat ini.

Aku menyukainya.. Ya, aku menyukai gadis bernama Han YooRi itu.. Menyukainya sejak aku pertama kali melihatnya..

“Kau masih di sini?”

“Eh?” Aku tersadar dari ilusi otakku ketika kudengar sapaan yang begitu kukenal. Siwon.

“Ah.. aku sedang menunggu seseorang,” ucapku agak gugup. Aneh.. kenapa aku harus gugup di saat seperti ini? “Kau sendiri?”

“Ah..” Siwon menggaruk-garuk kepalanya agak canggung.”Aku baru saja bertemu dengan Yoori.”

Entah perasaan apa yang tiba-tiba menelusup dalam rongga dadaku. Bingung.. Sesak.. Siwon baru saja bertemu dengan Yoori? Apa ini berarti memang dia yang disukai oleh Yoori? Tapi.. kenapa Yoori tak mengaku..

“Apa.. apa kalian jadian?” tanyaku dengan nada yang kubuat senormal mungkin. Aku tak tahu bagaimana pertanyaan bodoh itu mau saja terlontar dari mulutku.

“Ya, kau meledekku ya? Dia justru baru saja menolakku,” ucapnya seraya menyandarkan tubuhnya ke dinding.

“Mwo?” ucapku kaget.”K.. kupikir.. kupikir..”

”Kau ingat kejadian saat kau menabrak Yoori di halaman belakang sekolah kan?” tanya Siwon. Aku mengangguk.”Saat itu,sebenarnya aku sedang mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi, sebelum sempat menjawab dia sudah keburu pingsan bersamamu. Lalu saat kutelepon dia bilang dia butuh waktu untuk berpikir. Dia memang sama sekali tidak punya perasaan padaku, tapi dia takut untuk menolakku karena tidak ingin pertemanan diantara kami rusak. Dasar gadis bodoh itu…”

Aku terhenyak mendengar penjelasan barusan. Dia menolak Siwon??? Lalu.. kalau begitu.. siapa.. siapa sebenarnya yang dia sukai???

“Lalu sekarang dia ada di mana?” tanyaku.

“Entahlah, katanya dia mau ke ruang siaran atau apa karena dia bilang namja yang dia sukai ingin dia menyatakan cintanya lewat siaran ke seluruh sekolah.”

“Mwo?” lagi-lagi aku berteriak kaget. Siaran radio?? Bukannya itu saranku? Dia benar-benar mau melakukannya?? Tapi.. Kalau seperti itu, apa mungkin artinya..

“Aish.. gadis bodoh itu..” ucapku seraya segera berlari meninggalkan Siwon dengan cepat, menuju ruang siaran tanpa pikir panjang lagi.

“YA! Kau mau ke mana?” teriak Siwon.

“Tentu saja menghentikan ulah gila YooRi!”

Ya.. aku harus menghentikan ide gila itu sebelum terwujud. Menghentikannya sekaligus memastikan sesuatu.

Tapi.. Mana mungkin namja yang disukai YooRi itu aku kan!?

 

__Now_Ruang Siaran__YooRi POV__

”Saranghae oppa..” ucapku sekali lagi pada sosok namja yang masih sibuk menutup wajahnya yang sudah memerah hebat itu.

“K.. kau memanggilku oppa..” ucapnya lirih. Aku memamerkan senyum jahilku.

“Wae? Apa oppa tidak suka? Atau..”

“Atau apa?”

“Atau oppa terlalu malu untuk mengakui kalau oppa memang menginginkan panggilan itu sejak lama?”

Pesshh. Bisa kulihat kalau semburat merah sudah hampir memenuhi keseluruhan wajahnya saat ini. Dia kembali memalingkan wajahnya ke arah lain, tak berani menatapku sedikitpun. Manis sekali.

“Jadi.. apa jawabanmu.. oppa?” aku menekankan kata-kataku pada panggilan oppa, sesuatu yang bahkan belum pernah kukatakan sejak aku pertama kali bertemu dengannya.

“A.. Aku..” Ia terlihat bingung untuk memulai kata-katanya.”A..”

“YA! Apa yang kalian berdua lakukan ha???!” Belum juga Hyukjae-hyung atau mungkin sebaiknya mulai kupanggil oppa menggenapi ucapannya, sosok yang kami kenali sebagai guru kedisiplinan kami, Park songsaenim, sudah berdiri di depan pintu sambil memegangi tongkat kedisiplinan kesayangannya.

Omo.. habislah aku..

@@@

Setelah mendapat ceramah panjang dari Park Songsaenim dan sorakan tanpa henti dari anak-anak yang masih ada di sekolah, akhirnya aku dan HyukJae oppa diperbolehkan keluar dari kantor guru. Semua orang terus menyoraki kami saat kami keluar dan aku hanya berhasil memberikan cengengesan terindahku pada mereka. Tak berapa lama, kami berdua sudah keluar dari sekolah dengan sepeda dituntun.

“Jadi yang kau sukai itu aku?” tanya HyukJae oppa, masih setengah percaya.

“Kata siapa?” tanyaku santai.

“Mwo? L..Lalu yang tadi itu??”

“Memangnya aku memanggil namamu tadi?”

“Ya! Jangan bercanda,” Hyukjae oppa mendelik lebar ke arahku, terpaku dalam keraguan. Aku menghentikan langkahku dan tersenyum jahil ke arahnya.

“Kau manis kalau bingung seperti itu,” godaku yang berhasil membuat wajahnya kembali dihiasi semburat merah. Rasanya aku ingin tertawa sampai terguling-guling dalam hati kalau melihat ekspresinya saat ini. Dia yang biasanya dengan mudah mengerjaiku tanpa pikir panjang tiba-tiba berubah jadi salah tingkah seperti itu.

“Kalau bukan oppa siapa lagi, ha?” tanyaku setengah menahan tawa.”Atau.. oppa ingin aku menyatakan perasaanku pada orang lain?”

“Ya! Tentu saja tidak.”

“Apa itu artinya oppa menerima perasaanku?”

Hyukjae oppa terdiam, bisu tiba-tiba menyerangnya. Gayanya seolah-olah masih setengah kesal karena dari tadi pertanyaannya tak ada yang kujawab dengan serius, tapi bisa kulihat kalau mukanya masih setengah memerah. Ternyata orang ini bisa ngambeg juga ya.^^

Aku tersenyum tipis dan menuntun sepedaku kembali, mulai berjalan.

“Apa oppa tahu kenapa sejak dulu aku selalu memanggil oppa hyung?” tanyaku saat berada sekitar 1 meteran di depannya.

“Wae?” Ia juga menuntun sepedanya dengan pelan.

“Karena bagiku oppa istimewa,” jawabku singkat.”Aku menikmati memanggil nama oppa dengan panggilan yang berbeda dari orang lain, panggilan yang hanya aku yang melakukannya.”

“Kalau sekarang kau memanggilku oppa apa itu berarti aku tidak istimewa lagi?”

Aku berbalik dan tersenyum ke arahnya. Menatapnya lembut, merengkuh masuk ke dalam bola matanya.

“Bagiku.. bukan karena panggilan itu makanya oppa istimewa. Oppa istimewa karena oppa adalah oppa..”

Lagi-lagi Hyuk oppa menghentikan langkahnya dan buru-buru menutupi separo mukanya yang sepertinya memerah dengan cepat dengan satu tangan. Ia segera mengalihkan pandangannya dari arahku, sama seperti yang dilakukannya saat di ruang siaran tadi. Hal yang selalu dilakukannya saat dia malu.

“Ya, berhentilah mengucapkan hal-hal aneh seperti itu dan membuatku salting.” Hyukjae oppa mengatakan kalimat itu tanpa sedikitpun menengok ke arahku. Aku hanya terkekeh geli.

“Jadi oppa sedang salah tingkah??”

“K..kata siapa?? A.. anniyo..!” Hyukjae oppa mengelak dengan cepat lalu segera maju dengan sepeda yang dituntun, melewatiku dengan kepala menunduk dan muka kepiting rebus. Tapi, aku tahu kalau dia berusaha keras menggigit bibir bawahnya supaya senyum lebarnya tak terkembang begitu saja. Tingkah yang dia lakukan saat ini sudah cukup untuk membuatku tahu isi perasaannya yang sesungguhnya.

“Oppa saranghaeeeee~~~~!!” teriakku keras saat dia sudah berada jauh di depanku. Hal terakhir yang terjadi berikutnya adalah Hyukjae oppa yang langsung menaiki sepedanya dengan kecepatan penuh.

The.End

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s