(Sp) Sweet Gift

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Nam Woohyun [Infinite]

*) Kim Myungsoo [Infinite]

Genre : AU, Thriller(?) dikit

Rate : Teenage and above :p

Disclaim : Own of plot, story and the victim /plakk

a/n : bday gift uri Woohyunnie ^^ yg mau baca mending baca ff aku yg ‘Revenge’, nyambung dikit (alesan member laen gda) dan maaf kalau tidak menyenangkan 🙂 efek seharian nonton film pembunuhan semua ==a Happy reading ^^

 

 

“Eengghhh….”

Nam Woohyun membuka kedua matanya. Kesadarannya masih cukup minim. Tapi dengan cepat kesadarannya pulih karena dia merasa benda yang entah apa menahan kedua tangannya sehingga tidak mampu untuk digerakkan. Saat benar-benar sadar, dia menyadari bahwa kini dia tengah berada di atas kursi dengan lengan, kaki dan tubuh terikat kuat pada kursi tersebut. Woohyun sama sekali tidak bisa mengenali sekitarnya karena cahaya yang ada tidak cukup terang, bahkan dia hanya mengandalkan intuisinya untuk mengetahui keadaannya sendiri. Rasa sesak mulai dirasakannya saat dia sadar kalau dia berada di tempat yang salah. Penyakit claustro phobia yang dimilikinya membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Tubuhnya sedikit merinding dan Woohyun merasakan bahwa tangan dan kakinya sedikit bergetar, takut.

“Halo….” Woohyun mengeluarkan suara keduanya setelah sadar. Dan hanya kesunyian juga sedikit gema dari suaranya yang ada di sekitar dia. “Siapa saja, tolong aku.” Ucapnya lagi.

Percuma.

Blashh….

Cahaya terang menyeruak di dalam ruangan itu. Dan tak ada satupun dari sudut ruangan itu yang tidak terjangkau cahaya.

Woohyun mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya dengan cahaya terang. Woohyun tak mengenali ruangan 2 X 2 meter dengan tanpa apapun kecuali dirinya yang berada di atas kursi. Sebenarnya ada 20 X 150 sentimeter ventilasi udara di atas sana juga pintu, tapi itu tidak bisa dikatakan sesuatu. Woohyun semakin tidak nyaman dengan keadaannya. Terkurung di tempat tertutup yang tidak cukup luas.

“Siapa saja…. Tolong aku.”

Lagi. Hanya sedikit gema yang timbul sebagai jawaban.

“Saengil chukkahamnida Nam Woohyun.” Suara pria terdengar oleh telinga Woohyun sesaat setelah satu-satunya pintu yang ada di sana terbuka.

Mata Woohyun langsung terfokus pada orang itu. “Kim Myungsoo.” Dia memanggil nama pria yang kini berjalan perlahan ke arahnya.

“Ya, ini aku.” Ucap Myungsoo dengan senyuman manis di bibirnya.

“Lepaskan aku Myungsoo-ya.” Pinta Woohyun.

Myungsoo menggeleng. “Anni. Sebelum aku memberikan hadiahku padamu, aku tidak akan melepaskanmu hyung.” Jawabnya tetap dengan simpul senyum di bibirnya, tapi terlihat aneh. “Hyung tunggu di sini. Aku ambilkan hadiahnya dulu.”

Usai mengucapkan kalimat terakhirnya, Myungsoo kembali menghilang di balik pintu yang dibiarkan terbuka.

Hanya beberapa saat setelah Myungsoo pergi, terdengar suara roda digeser dari arah luar sana. Dan Woohyun mendengar semakin jelas suara tersebut.

“Tadaaaa~~ hadiahnya sudah siap hyung.” Ucap Myungsoo yang sudah kembali ke dalam ruangan tersebut dengan sebuah troli makanan tiga tingkat di depannya. Myungsoo membuka sebuah tutup yang ada di troli paling atas. Sebuah kue ulang tahun.

Myungsoo mengambil kuenya dan membawanya ke hadapan Woohyun. “Mianhae hyung, tak ada lilinnya.” Ucapnya dengan wajah terlihat sedih.

Logikanya Woohyun akan merasa senang bisa mendapatkan sebuah kue di ulang tahunnya. Tapi ekspresi yang ditunjukkan pria yang satu tahun lebih muda darinya itu membuat rasa senang itu menguap.

Bahkan Woohyun merasa sedikit takut. Takut dengan sesuatu yang buruk yang bisa saja dilakukan oleh Myungsoo.

“Ya sudah. Kita langsung saja ke acara potong kue.” Ucap Myungsoo.

Dia mengambil sebuah pisau, bukan pisau kue tapi pisau dapur yang sedang, meletakkan nampan kue di atas paha Woohyun dan mulai memotong kue yang berbentuk persegi itu.

Ada suara aneh timbul saat kue tersebut terpotong.

“Ayo makan hyung.” Ucap Myungsoo sambil menyodorkan potongan kue di tangannya ke depan mulut Woohyun.

Woohyun memalingkan wajahnya, menjauhi potongan kue itu.

“Ayolah hyung. Aku terluka loh kalau hyung tidak mau memakannya.” Ujar Myungsoo dengan nada memohon tapi juga sedikit misterius.

Namun Woohyun tetap bergeming.

Kesal, Myungsoo memaksakan kue di tangannya untuk masuk ke dalam mulut Woohyun. Dan karena mulut Woohyun yang tetap bungkam, kue itu berlumuran di wajah bawah Woohyun.

Entah perasaan atau memang benar, Woohyun merasa seperti ada benda tajam menggores kulit sekitar mulutnya saat kue yang diberikan Myungsoo menyentuh kulitnya. Sekilas, Woohyun melihat ada darah di tangan Myungsoo.

Belum sempat Woohyun mencoba membaca situasi, rambutnya sudah dijambak oleh tangan kiri Myungsoo hingga kepalanya menengadah agak ke atas. Kemudian tangan kanan Myungsoo mengambil lagi potongan kue yang ada di paha Woohyun dan memaksa lagi Woohyun untuk mau membuka mulutnya. Namun Woohyun tetap bungkam, dan lagi, kue yang Myungsoo berikan berlumuran di sekitar mulut Woohyun.

Perih yang dirasa Woohyun bukan khayalan. Dia benar-benar merasakan ada sesuatu yang tajam menggores kulitnya. Tapi dia tidak berani untuk membuka mulut. Tidak yakin Myungsoo tidak akan menyiakan kesempatan itu untuk menjejalkan kue itu ke dalam mulutnya.

“Sial!” Umpat Myungsoo dan melepaskan jambakan di rambut Woohyun. Dia mengambil sebuah lap sebuah botol putih yang diletakkannya di troli bagian bawah.

Dari bau saat Myungsoo membuka tutup botol itu, Woohyun yakin itu alkohol atau sejenis antiseptik lainnya. Dia melihat Myungsoo menyiramkan cairan bening di dalam botol itu ke tangannya dan melihat ada beberapa potongan beling menancap di telapak tangan Myungsoo yang sedang berusaha dicabutnya, berikut darah. Setelah melihatnya, perih yang dirasa Woohyun di sekitar mulutnya makin terasa. Dia mencoba melihatnya dan melihat ada darah di antara kue juga krim yang masih tertinggal.

“Myungsoo-ya, apa yang… hhfff….”

Sekian detik setelah Woohyun berkata Myungsoo langsung mengambil potongan kue dan menjejalkannya ke mulut Woohyun. Woohyun berusaha untuk memuntahkan kue itu. Tapi tangan Myungsoo menahan agar mulut Woohyun tetap tertutup.

“Hhfff… hhhfff… hff….” Woohyun berusaha untuk membiarkan potongan kue itu utuh di dalam mulutnya.

Tapi Myungsoo juga berusaha agar Woohyun mau mengunyah atau menelan kue itu. “Kue itu harusnya dimakan hyung. Ayolah, tidak mudah membuat kue yang penuh dengan beling seperti itu. Apalagi aku membuatnya penuh cinta.” Ucap Myungsoo dengan tatapan penuh harap pada Woohyun.

Dan Woohyun pun tak mampu untuk terus mempertahankan posisi mulutnya. Lambat laun perih di dalam mulutnya mulai terasa. Berikut rasa amis yang dirasakan lidahnya yang berasal dari darahnya sendiri.

“Hyung yang pintar.” Ucap Myungsoo memuji. Dia lalu mengambil lagi potongan kue yang lain dan berusaha untuk menjejalkannya ke dalam mulut Woohyun meski dia tahu mulut Woohyun masih penuh. “Dimakan sampai habis ya hyung. Karena itu kue ulang tahun khusus untukmu. Satu-satunya di dunia.” Ucapnya dengan semangat, senang.

Cairan merah berbau amis mulai keluar di pinggiran mulut Woohyun dan semakin lama semakin banyak. Myungsoo makin bersemangat menjejalkan potongan kue ke mulut Woohyun. Nafas Woohyun tertahan karena mulutnya yang penuh dan kesulitan bernafas lewat hidungnya. Dia dengan amat sangat terpaksa menelan sebagian kue di mulutnya. Erangan tertahan Woohyun yang terdengar Myungsoo membuatnya terlihat sangat senang.

“Hyung! Bagaimana? Enak sekali kan kuenya? HAHAHA….” Tawa senang Myungsoo menggema di ruangan itu.

Sedang Woohyun terus merasakan sakit yang teramat sangat karena luka yang timbul oleh pecahan beling yang jumlahnya tidak sedikit. Darah semakin banyak keluar meski rongga mulutnya penuh oleh potongan kue. Bahkan kini Woohyun merasa sakit di tenggorokan juga dadanya.

“Rrrrgghhhhh…….” Erang Woohyun tertahan. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya.

“Wah hyung! Kau menangis bahagia ya?” Tanya Myungsoo sambil tertawa. Dia kemudian berbalik, mengambil sebuah gelas yang disimpannya di bawah troli, di samping alkohol tadi. Gelas itu berisi kopi berikut paku payung.

“Sepertinya hyung haus. Sekarang waktunya minum.” Ujarnya.

yungsoo menepuk pundak Woohyun agar kue yang ada di mulut Woohyun dimuntahkan.

“Uhukk….” Woohyun terbatuk, dan darah segar mengalir saat dia terbatuk.

Belum sempat dia mengatur nafas juga memuntahkan semua yang ada di mulutnya, Myungsoo langsung menjambak rambut Woohyun sampai kepala Woohyun menengadah ke atas dan matanya terpejam karena silau cahaya lampu. Tepat setelah itu, Myungsoo menjejalkan setengah isi gelas di tangannya yang lain.

Woohyun tidak sempat mengatupkan mulutnya. Dan kopi berikut paku payung tersebut meluncur masuk dengan mulus ke mulut Woohyun bahkan ada beberapa yang langsung masuk ke tenggorokannya.

Perih yang dirasa Woohyun makin menjadi. Mulutnya sudah sobek, apalagi dinding mulut dalamnya.

Myungsoo tersenyum puas. “Saengil chukkahamnida Nam Woohyun.” Ucap Myungsoo lagi di atas kepala Woohyun. Myungsoo senang melihat air mata Woohyun yang mulai mengalir ke belakang kepalanya. Dan dengan gerakan cepat juga kasar, Myungsoo mendorong dagu Woohyun, oleh tangan yang dia gunakan untuk menjambak sebelumnya, agar paku payung itu semakin melukai mulut Woohyun. Myungsoo terus memaksa agar paku payung itu terkunyah. Dan tampang puasnya terlihat jelas saat darah segar semakin mengalir deras dari mulut Woohyun.

Kesadaran Woohyun makin melemah. Bahkan dia sudah tidak bisa memandang dengan jelas. Sampai akhirnya dia tak sadarkan diri.

“Ah, hyung payah.” Keluh Myungsoo saat menyadari Woohyun tak lagi sadar. “Padahal dulu hyung begitu semangat saat menceritakan bagaimana menyiksa Yeolie. Padahal kita bersenang-senang bersama saat menghabisi nyawa Sungjongie. Tapi hanya makan beling dan minum paku payung saja hyung sudah kewalahan begini. Aku belum memberikan desertnya hyung.” Tambahnya sambil memajukan bibirnya kesal.

Myungsoo kembali menoleh ke trolinya dan mengambil sebuah piring kecil berisi dua buah bola-bola cokelat yang dia campur dengan racun tikus yang ada di tengah troli itu.

“Hyung, ireona. Ppali!” Ucap Myungsoo sambil mengguncangkan tubuh Woohyun yang tetap tidak bereaksi. “Hyung, aku bisa mendengar deru nafasmu, aku bisa mendengar detak jantungmu. Kau belum mati, jangan berakting seperti orang mati.” Tambahnya dengan tampang kesal. “Aish, jinjja!” Myungsoo lalu mengambil satu bola-bola cokelat. Membuka mulut Woohyun yang tak lama langsung keluar paku payung yang tidak menancap di mulutnya, dan menjejalkan dengan paksa bola-bola cokelat itu agar masuk ke dalam tenggorokan Woohyun. Myungsoo menggunakan pisau, yang dia pakai untuk memotong kue sebelumnya, untuk mendorong bola-bola cokelat agar masuk ke tenggorokan Woohyun. Tidak peduli darah mengucur semakin deras karena mulut Woohyun sobek semakin lebar akibat pisau tersebut.

“Ah! Pekerjaanku selesai.” Ucap Myungsoo begitu tidak melihat bola-bola cokelat tersebut di mulut Woohyun. “Hyung pasti senang mendapat kejutan ulang tahun seperti ini. Sekali lagi, Saengil chukkahamnida Nam Woohyun.”

 

-End-

Advertisements

4 responses »

  1. =A=
    ampun thor, saya gabakal bilang kurang sadis lagi!
    Jadi ragu nyenengin myung jadi bias, sadis gitu ,_,
    hikss ngerii ,_,
    ampun thor ampuun, ini terlampau sadis ,_,
    tapi mau tanya deh thor..
    itu myungsoo sama woohyun, apa yang mendasari mereka terus bunuh” orang?
    dijawab yah thor 😀
    anyeong~ *ngilang

    • yampun… jangan sampe gasuka el cuma gara2 ff TT
      ini salah aku malah nawarin cerita yg kaya gini..
      mian
      el asli baik ko
      beneran deh,

      psikopat emang suka punya alesan kenapa dia lakuin sesuatu yg kejem
      tapi kadang mereka gak punya alesan yg kuat
      pengen denger teriakan derita org laen juga bisa jadi alesan ko, tergantung si psikopat’a aja

  2. pengen’a si ada.. soalnya tanggung satu lagi yg idup *lirik genit sama el-gun*
    tapi otak psikopat’a kudu disimpen dulu, temen2 pada takut nih =D
    makasih yaa udah baca sama komen 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s