(Sp) My Man & My First Love

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Yoo Nayeon [OC]

*) Kim Kibum / Key [SHINee]

*) Woo Sunghyun / Kevin Woo [U Kiss]

*) Song Han Ji  [OC]

*) Han Young Rae [OC]

Genre : OC, OOC, Smut, bikin ngantuk ==’

Length : 2938 words

Disclaim : Selain cerita silakan boleh ngaku2, eh tapi cerita juga dapet nyontek dikit denk dari komik :p

a/n : gak ada birthday moment walopun ini dibikin buat yg lagi ultah hari ini… ditaaaa~~ met tambah tua yaa 🙂 *pitain kepin* pitain ujong* pitain key* maap piku’a seadanya *padahal biasanya juga seadanya*, ini kelarnya baru jem sembilan terus jem set sepuluh udah meski gak ada di rumah *curcol :p* happy reading ^^

 

“Kau jangan menolak ajakan Kibum oppa! Ingat, ini sudah hampir tiga tahun. Dan sudah saatnya kamu memulai kehidupan baru tanpa bayangan masa lalu. Kau harus bahagia.”

Aku menghembuskan nafas berat. Ucapan temanku, Han Young Rae, terlalu membebaniku. Kenapa dengan masa lalu? Kenapa tidak boleh terus mengingat, mengenang, juga berharap dengan masa lalu? Salahkah? Salahkah aku masih mengharapkan ada kelanjutan cerita dari kisah cintaku di masa lalu?

Seandainya aku tidak berpikir kalau Young Rae mengharapkan kebahagiaan dariku, aku tidak mungkin mau mengiyakan ajakan dari Kibum oppa untuk pergi ke taman bermain. Bahkan hanya berpikir aku akan pergi dengan pria, dan jelas bukan dia, rasanya berat. Meski aku tahu Kibum oppa adalah orang yang sangat sangat baik. Dia orang, satu-satunya pria, yang membantuku untuk bisa kembali tersenyum saat aku merasa patah hati.

Lucu. Mungkin satu kata itu mewakili anggapan orang lain untukku. Tiga tahun yang lalu aku hanyalah anak kecil yang dianggap belum pantas mengenal cinta, cinta yang dalam. Tapi saat itu aku sudah merasakannya, bersama dia. Aku merasa aku benar-benar mencintainya, dalam artian orang dewasa, bukan anak SMP. Lucu karena orang lain tidak akan pernah percaya dengan cinta yang aku rasakan. Kecuali Young Rae, Kibum oppa dan satu lagi temanku, Han Ji.

Sekarang aku di sini. Di taman bermain di daerah Wolmindo. Aku masih enggan untuk datang sebenarnya. Tapi seperti yang sudah aku bilang, Young Rae juga Han Ji sangat berharap bisa bersenang-senang, dan mungkin aku akan senang. Cukup lama juga aku tidak pergi ke taman hiburan seperti ini. Kibum oppa orang yang terlalu baik. Berkali-kali dia mengajakku pergi dengannya, berdua, bisa dibilang itu ajakan kencan, dan berkali-kali itu pula aku menolaknya. Aku tidak ingin mengiyakan ajakannya karena takut Kibum oppa berpikiran aku membuka hati untuknya. Belum. Aku masih belum siap untuk melupakan semua kenangan masa laluku dengannya dan menghiasi kehidupanku dengan kenangan bersama orang lain.

“Lama menunggu?” Suara Kibum oppa membuyarkan lamunanku. Aku menoleh pada pria manis di sampingku yang sedang memperihatkan senyuman yang tidak kalah manis seperti wajahnya.

Aku menggeleng. “Oppa hanya ke toilet selama lima menit.” Jawabku sambil terkekeh.

Kibum oppa ikut terkekeh. “Kita main apa sekarang?” Dia bertanya lagi.

“Terserah oppa” Aku menjawab seadanya.

Kibum oppa mengangguk mengerti. Dia lantas mengajakku untuk naik bianglala.

Menikmati keindahan pantai dari atas, menyenangkan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan sensasi seperti sekarang. Young Rae dan Han Ji benar, aku mungkin bisa menikmati ini semua.

Tanpa sadar aku menyunggingkan sebuah senyuman pada Kibum oppa saat aku menoleh padanya. Dia membalas senyumanku. Terlihat jelas perasaannya padaku yang tulus. Keyakinanku pada keenggananku untuk memulai kenangan baru selain bersamanya mulai goyah melihat ketulusan yang ditunjukkan pria yang duduk di depanku itu.

“Nayeon-a, apa boleh aku menggantikan posisi dia di hatimu? Apa boleh status kita yang hanya sebatas teman ini berganti jadi pacar? Aku mencintaimu Nayeon-a, sama atau bahkan lebih besar darinya.”

Aku masih mengingat ucapan Kibum oppa, pernyataan yang dia lontarkan padaku dua tahun yang lalu. Aku menolaknya. Tentu saja. Tapi kegigihan Kibum oppa sudah bisa aku lihat selama hampir dua tahun kemudian. Dia tidak pernah berhenti memberikan perhatian berlebihnya padaku. Aku masih mendapatkan perlakuan yang sama, bahkan lebih, seperti sebelum pernyataan cinta itu meluncur dari mulutnya. Meski aku pernah menolaknya, Kibum oppa tetap baik padaku. Dia tidak pernah berbuat hal yang membuatku tidak nyaman. Aku selalu merasa nyaman bersamanya. Meski nyaman itu tetap berbeda jika sedang bersamanya.

“Nayeon-a, aku pernah ditolak sekali. Dan itu sudah cukup lama. Apa mungkin aku sekarang sudah memiliki kesempatan?” Kibum oppa bertanya padaku dengan mata yang menatap lekat.

Jika menyangkut soal kepentingannya, Kibum oppa selalu bicara apa adanya. Tidak bertele-tele.

Aku ragu. Bimbang. Entah aku harus menjawab apa. Kebaikan yang selalu ditunjukkan Kibum oppa padaku melintas begitu saja di pikiranku. Aku bahkan melewatkan begitu banyak kebaikannya yang lain. Dia sangat baik. Dan mungkin aku pantas mendapatkan cinta yang lain. Tapi apa aku pantas untuknya?

“Oppa….” Aku balas menatapnya, menghindari tatapannya menurutku sama saja dengan tidak menghargai dia. “Oppa tahu sendiri kalau aku sampai sekarang masih ragu untuk….” Aku menggantungkan ucapanku. Aku tidak ingin membahasnya.

Kibum oppa tersenyum, lembut seperti sebelumnya. “Aku mengerti. Hanya saja, kau tidak bisa tahu apa kau bisa menerima perasaan orang lain atau tidak sebelum kau mencobanya. Dan kau sendiri tahu, aku tidak mungkin menyakitimu seperti dia menyakitimu.” Ucapnya.

Aku menggeleng. Ingin menyanggah ucapannya, tapi dia benar. “Apa tidak masalah? Kalau aku menerima cinta oppa sekarang, itu artinya oppa hanya jadi percobaanku saja. Aku tidak ingin seperti itu, aku ingin membalas perasaan oppa dengan tulus.”

“Tidak masalah. Aku punya keyakinan kalau aku bisa merebut sebagian banyak hati yang sudah kau berikan padannya. Dan lagi, kau sangat manis saat tersenyum. Aku ingin kau bisa lebih sering tersenyum setelah ini.”

Tuhan…. Kau kirimkan manusia sebaik Kibum oppa, dan selama ini aku sudah menyia-nyiakan dia. Aku manusia yang tidak bersyukur.

Aku mengangguk. Menerima tawaran dari Kibum oppa. Dan senyuman hangat mengawali kisah perjalanan cinta kami.

-o0o-

Sudah sebulan sejak pernyataan cinta kedua dari Kibum oppa. Dan hubungan kami, yang kini berstatus pacaran, masih bertahan. Perlahan aku mulai terbiasa dengan status kami. Perlahan aku bisa memberikan hatiku pada Kibum oppa. Tidak sulit untuk mencintai orang sebaik dia setelah aku mencobanya. Dia benar, Young Rae dan Han Ji benar, aku aku bisa bahagia bersamanya. Kibum oppa masih sama seperti sebelum status kami berubah. Hanya saja, ada beberapa hal kecil yang bertambah. Ada panggilan sayang, Kibum oppa sering berada di depan sekolahku saat aku keluar dari sekolah dan dia lebih gamblang mengatakan isi hatinya padaku. Selain itu, semuanya hampir sama. Dia tidak terlalu protektif, sikapnya tetap memprioritaskan kenyamananku. Dan aku menyukai itu.

Aku dan Kibum oppa saling berhadapan. Kami hanya dipisahkan jalanan di bawah sana. Aku belum mengatakannya? Rumahku dan Kibum oppa bersebrangan, sejak dulu, sejak kami belum lahir. Dan kamar kami yang sama-sama berada di lantai dua saling berhadapan. Dan sebulan ini, saling memandang dari masing-masing jendela menjadi kegiatan yang biasa kami lakukan. Walau kadang, tanpa sepengetahuan Kibum oppa, saat dia tidak ada, aku melihat ke jendela kamar rumah yang berada di samping rumah Kibum oppa. Kamarnya, tempat yang dulu  sering aku perhatikan. Tidak seperti sekarang pastinya.

“Malam, belajar yang benar dan jangan terlalu larut.” Ucap Kibum oppa lewat ponsel.

Aku terkekeh sambil menatapnya yang berada di seberang sana. Aku mengangguk tanda ‘iya’. Setelahnya aku masuk menuju kamarku dan menutup jendela juga tirainya. “Malam juga, oppa juga harus belajar, ingat besok oppa ada tes.” Pesanku.

“Ara. Saranghae~”

Aku terkekeh lagi, “na do saranghae oppa.”

Setelah itu aku memutus sambungan dua arah kami dan mulai belajar. Menjalankan rutinitasku yang seperti biasa.

Pagi hari menjelang, cahaya mentari akhir musim dingin menerobos masuk ke dalam kamarku, menghangatkan suhu di dalam. Aku membuka perlahan kedua mataku yang masih enggan terbuka. Hari ini hari Sabtu dan aku belajar terlalu lama semalam, jadi aku masih ingin memperpanjang waktu tidurku. Hanya saja, selain matahari yang menyilaukan di  balik tirai, suara gaduh yang berasal dari bawah memaksaku untuk membuka mata.

Aku membersihkan wajahku seperti biasa, seadanya, sebelum kemudian aku turun ke bawah untuk tahu apa yang terjadi.

“Eomma, kenapa ribut-ribut sepagi i… ini?” Aku sedang merapikan rambutku yang masih acak-acakan saat aku melihat empat orang, selain eomma, menatapku dengan sedikit tawa tertahan. Dan butuh beberapa detik lebih lama untukku mengenali situasi yang ada. “Omoo….” Aku langsung panik dan buru-buru kembali ke atas.

Aku mendengar samar suara tawa, juga pembicaraan yang entah apa. Tapi aku yakin mereka, orang-orang di bawah sana, pasti sedang membicarakan aku. Aku menutup pintu kamarku rapat, dan bersandar di baliknya. Kesadaranku berangsur menghampiriku. “Sunghyun oppa….” Bibirku menyebutkan nama salah satu orang yang menatapku tadi.

Dan tanpa diperintah, otakku langsung memutar kejadian-kejadian yang terjadi di masa lalu. Perasaanku campur aduk. Setelah entah berapa lama aku tidak sanggup menyebutkan namanya, kini dia bahkan datang kembali kemari. Sunghyun oppa, dia….

-o0o-

Kibum oppa diam. Tidak ada pertanyaan yang terlontar dari mulutnya meski aku tahu ada cukup banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin dia ajukan, sama sepertiku. Aku dan Kibum oppa sekarang berada di rumahnya. Rencana menghabiskan akhir pekan dengan berjalan-jalan di Hongdae ditunda sementara sejak kami berdua kedatangan tetangga lama yang sudah tiga tahun menetap di negeri Paman Sam.

Aku melirik Kibum oppa yang duduk di sampingku. Dia sedang melipat kedua tangannya di dada dan mata menatap lurus ke depan. Jelas sekarang dia sedang memikirkan sesuatu. “Oppa….” Panggilku. Kibum oppa bereaksi dengan panggilanku, dia menoleh. “Tidak apa-apa. Aku sekarang sudah bersama oppa. Sunghyun oppa kembali kemari tidak akan mengubah apapun.” Ucapku berusaha meyakinkan dia. Aku yakin, ini yang dia butuhkan saat ini. Penjelasan mengenai perasaanku.

Senyuman lirih, setengah terpaksa mungkin, terhias di bibir Kibum oppa. Dia kemudian mengusap kepalaku pelan. “Maaf sudah membuatmu berpikir kalau aku meragukanmu.” Ucapnya.

Aku mengernyit agak tidak mengerti dengan maksudnya. Tapi kemudian aku mengangguk. Setidaknya tidak akan ada kesalahfahaman di antara kami.

Aku berbohong. Kenangan masa lalu yang pernah aku rangkai dengan Sunghyun oppa terus saja menggelitik pikiranku, memaksa untuk menyeruak keluar. Dia, cinta pertamaku, orang yang pertama kali menggodaku dan berkata kalau dia menyukaiku. Aku selalu beranggapan kalau dia hanya menggodaku saat itu. Aku kelas 2 SMP dan dia 2 SMA. Kupikir aku hanya dijadikan lelucon, tapi tidak. Dia sering membuatku kesal karena tingkahnya tapi entah dengan menggunakan apa dia membuatku merindukannya. Dia yang sering melambaikan tangannya dari jendela kamarnya saat aku berada di balkon kamarku. Dia, yang pada akhirnya membuatku jatuh cinta. Masuk ke dalam perangkap  manisnya. Dia, si pemberi kejutan yang selalu membuatku bahagia. Selama setahun dia selalu membuatku tersenyum. Sampai dia pergi tiga tahun yang lalu.

Aku berpikir, setelah sebulan ini aku menjalani hubungan dengan Kibum oppa, dan ya aku mulai mencintainya, aku benar-benar bisa menghilangkan perasaanku pada Sunghyun oppa. Setidaknya mengurangi cukup banyak perasaan yang ada. Tapi nyatanya tidak.

Rasa rindu itu masih ada dan sekarang sedang memaksa keluar, memintaku untuk menemui Sunghyun oppa, melihatnya lebih lama dan dekat. Jantung yang tidak bisa bekerja dengan normal, menyiksa namun menyenangkan, yang sudah lama tidak aku rasakan kini muncul lagi dengan perlahan saat aku membayangkan wajahnya.

Tapi saat aku menyadari orang yang sedang bersamaku sekarang ini, aku tidak mungkin berkata jujur. Terlalu menyakitkan, untuknya maupun untukku.

Aku berdiri. “Oppa, ayo kita pergi!” Ajakku sambil menoleh pada Kibum oppa. Sebelah alis Kibum oppa tertarik ke atas sesaat setelah aku mengajaknya pergi. “Hongdae.” Ucapku menjelaskan tujuan kami.

Kibum oppa mengangguk. Dia kemudian bangkit dari duduknya. Jari-jarinya dia tautkan ke jari-jariku, dan menarikku untuk pergi dari rumahnya.

“Kalian masih berpacaran ya? Wah, tidak kusangka kalian begitu awet.” Komentar seseorang di belakang kami saat aku dan Kibum oppa berjalan menuju halte bis terdekat.

Kami berdua menoleh dan mendapati Sunghyun oppa tengah memperhatikan kami berdua. Agak aneh sebenarnya saat dia bilang kalau hubungan kami begitu awet, seolah aku dan Kibum oppa sudah menjalin hubungan cukup lama. Sebulan belum bisa dikatakan lama kan?

Aku tersenyum membalas ucapan pria yang jadi cinta pertamaku itu. “Oppa lihat sendiri.” Ucapku. Tidak bermaksud menantang, namun secara tidak langsung ucapanku seperti menantangnya.

“Semoga tidak ada pengkhianatan lagi.” Balas Sunghyun oppa kemudian berbalik pergi.

“A… apa maksud oppa?” Aku bertanya setengah berteriak.

Sunghyun oppa hanya melambaikan tangannya, tidak menjawab.

Aku mendengus, kesal. Sikap Sunghyun oppa memang menyebalkan, aku tahu itu sejak dulu. Tapi tidak semenyebalkan sekarang, dia terlihat sinis. Kelamaan berada di luar negeri membuat kelembutan di balik sifat menyebalkannya itu menghilang.

“Kau kesal?”

Aku menoleh pada orang yang berdiri di sampingku, sesaat aku melupakan keberadaannya. Aku mengangguk, jujur. “Sudah oppa. Ayo kita pergi! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan Sunghyun oppa.” Ucapku kemudian menarik paksa Kibum oppa untuk segera pergi menuju halte bis.

-o0o-

Aku pergi ke café yang letaknya tak jauh dari sekolahku. Tadi jadwalku untuk membersihkan kelas dan Han Ji juga Young Rae enggan menungguku di sekolah. Hari ini Kibum oppa akan pulang larut, jadi dia tidak akan muncul di depan sekolahku. Jadi aku pulang dengan Han Ji juga Young Rae.

Aku bisa melihat dua orang temanku itu sedang berbincang dari balik kaca café, dengan seseorang. Aku tidak bisa menebak siapa orang itu, karena dia memunggungiku. Tapi aku seperti mengenal punggung itu. Tidak ingin larut dengan penasaran, aku masuk ke dalam café dan menghampiri meja tempat teman-temanku berada.

“Sunghyun oppa….” Aku memanggil nama orang yang duduk di hadapan Han Ji dan Young Rae.

Orang yang aku panggil langsung menoleh. Dari pancaran matanya, aku melihat sesuatu yang berbeda. Bukan kesinisan seperti yang ditunjukkannya kemarin. Tapi aku juga tidak bisa maksud pancaran matanya itu.

Sunghyun oppa berdiri kemudian pergi tanpa mengucapkan apapun. Aku memandang kepergiannya. Terus melihatnya sampai mataku tak bisa menangkap sosoknya lagi.

Aku duduk tanpa semangat di tempat yang baru saja diduduki oleh Sunghyun oppa. Tanganku meraba tempat dudukku, hangat. Rasa sakit di dadaku muncul tanpa alasan.

Di depanku, Young Rae dan Han Ji saling menoleh, mereka juga saling menyikut dan berbisik. Entah sedang memperdebatkan apa.

“Nayeon-a….” Han Ji memanggilku.

Aku terkesiap. Sadar dari lamunanku. “Ne?” Han Ji terlihat ingin bicara sesuatu padaku, tapi dia terlihat ragu dan malah berpaling pada Young Rae. “Waeyo?” Aku bertanya lagi.

Young Rae mengambil nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. “Sebenarnya  tadi kami tidak sengaja bertemu dengan Sunghyun oppa. Dan kami… kau tahu, kami kesal padanya saat mengingatmu. Lalu kami mendatanginya dan menghakimi dia. Kau tahu, menyalahkan dia karena sudah membuatmu sedih selama ini.” Terang Young Rae.

Aku mendengarkan mereka dengan seksama.

“Sunghyun oppa terlihat tidak bersalah, akhirnya kami makin mencecarnya. Tapi kemudian….” Han Ji menggantungkan ucapannya dan menoleh pada Young Rae. “Dia mengatakan hal yang berbeda dengan apa yang kita pikir selama ini.” Lanjutnya

Author POV – Flashback…

“Aku tidak mengerti maksud kalian. Bagaimana kalian bisa menyalahkan aku? Seharusnya aku yang sakit hati pada Nayeon, bukan dia!” Sanggah Sunghyun setelah Han Ji dan Young Rae bertubi-tubi melayangkan ucapan yang menyalahkan Sunghyun.

“Ha! Oppa bilang oppa yang sakit hati? Tidak salah huh? Tiga tahun Nayeon tidak pernah mau membuka hatinya. Karena apa? Dia terlalu terbuai dengan masa lalu. Oppa yang menyebabkan dia tidak bisa bangkit! Oppa melukai hati dia dengan ketidakpedulian oppa setelah pindah. Nayeon selalu mengirim email pada oppa, dan tidak pernah satupun dibalas oleh oppa. Nayeon ingin menghubungi oppa, tapi dia bahkan tidak tahu nomor telepon oppa. Dia begitu tersiksa karena oppa!” Young Rae bersungut-sungut membalas sanggahan Sunghyun.

“Ap…. Apa? Aku yang berusaha menghubunginya. Tapi dia bahkan mengganti nomor ponselnya. Dan tidak pernah ada email masuk dari Nayeon.” Sunghyun berargumen lagi.

“Oppa mengelak? Nayeon mengirim emailnya di depan kami. Nayeon sudah memberitahumu kalau dia mengganti nomor ponselnya.” Han Ji kali ini yang bicara.

Sunghyun menggeleng. Dia terlihat tidak mempercayai apa yang di dengarnya.

Author POV – Flashback End

“Sunghyun oppa menjelaskan versinya pada kami tadi. Semua yang terjadi di antara kalian hanya salah faham. Dia bilang beberapa bulan dia tidak sempat membuka emailnya karena sibuk. Dia kemudian menelepon temannya dan setelah itu dia menjelaskan semua. Email darimu semuanya dihapus oleh temannya itu. Sunghyun oppa tidak menjelaskan kenapa temannya menghapus semua email darimu.” Han Ji bercerita.

Aku bingung. Entah harus berpikir bagaimana. Aku hanya diam menunggu kalimat lain yang akan aku dengar.

“Dua tahun yang lalu Sunghyun oppa pulang sendirian kemari. Dia ingin memberimu kejutan tapi ternyata dia melihatmu sedang berpelukan dengan Kibum oppa. Mungkin emosi membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan menganggap kalau kau dan Kibum memiliki hubungan khusus.” Young Rae melanjutkan ceritanya. “Itu saat Kibum oppa menyatakan cintanya padamu kan?” Dnia bertanya

Aku diam, menunduk dengan mata memanas. Aku masih ingat Kibum oppa memang memelukku, menenangkan aku yang menangis karena tidak bisa menerima perasaaannya. Jadi itu alasan ucapan Sunghyun oppa Sabtu lalu? Jadi itu kenapa Sunghyun oppa tidak pernah menghubungiku?

Sakit itu menjalar lagi. Aneh, aku merasa sangat sesak. “Han Ji-ya, Rae-ya, apa aku salah kalau aku masih mencintai dia?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku. Pertanyaan yang ingin sekali aku dapatkan jawabannya.

Han Ji menggeleng. “Selama ini kau tetap membelenggu diri dengan masa lalu. Tidak salah kalau cintamu pada Sunghyun oppa masih ada.”

“Ta… tapi Kibum oppa….”

“Dia mungkin akan mengerti, dia tahu tentang perasaanmu. Aku yakin itu.” Potong Young Rae.

-o0o-

Aku pergi ke akuarium sendirian. Menghampiri puluhan ikan nemo yang sedang berenang dengan senang di dalam akuarium yang tingginya dua kali dari tinggiku. Aku menatapnya. Tapi pikiranku sedang melayang entah kemana. Aku tidak bisa berpikir jernih. Terlalu besar kejutan yang aku terima hari ini.n  padahal lebih baik jika Sunghyun oppa tetap memandangku sinis, setidaknya itu membuatku lebih mudah untuk melupakan perasaanku. Aku tidak ingin menyakiti Kibum oppa, sungguh. Tapi….

“Mereka lucu ya?” Aku menoleh ke sebuah suara yang tepat berada di samping kiriku. “Sudah sangat lama aku tidak melihat ikan-ikan ini. Pasti mereka ikan yang berbeda dengan ikan yang terakhir aku lihat, melihat mereka terlihat tidak bertambah besar.” Tambahnya.

Mataku kembali memanas. Dan aku merasakan tubuhku tak bertenaga hingga akhirnya aku terduduk di lantai.

Dia, Sunghyun oppa, langsung memeluk tubuh ringkihku. “Mianhae. Kupikir selama ini hanya aku yang sakit hati. Kupikir aku yang terluka sendirian. Tapi ternyata kau juga terluka, bahkan mungkin lebih menyakitkan dari yang aku rasakan.” Ucapnya setengah berbisik.

Dia masih memelukku. Dan bilang aku sangat jahat pada Kibum oppa, aku sangat merindukan pelukannya ini. Hangat. Perlahan, entah tanpa sadar atau memang keinginanku, kedua tanganku melingkar di pinggangnya, membalas pelukannya.

“Aku akan meminta ijin pada Kibum untuk merebut hatimu kembali. Aku sudah membuat kesalahan dengan kehilanganmu sekali, dan aku tidak ingin mengulanginya lagi.” Ucap Sunghyun oppa penuh keyakinan.

Aku menggeleng dalam pelukannya. “Aku yang akan meminta ijin.”

Advertisements

2 responses »

  1. onnieeeee ><
    ga kebayanglah aku diperebutin (?) di sini huahahahhaahaha XDDD
    tapi asek, suka deh (y)
    suka eon sukaaaaa sama FFnyaaa XD
    jadi Nayeon berantem sama Kevin itu cuman gara2 salah paham? gara2 temennya ngehapus semua e-mail Nayeon? D:< tidaaaak siapa yg berani melakukannya?! sungguh bejat! DX /duarrr /korbanFF
    tapi aku rada ngenes sama nasibnya Key di sini T.T kalo Nayeon-nya dijadiin sama dua2nya aja boleh ga eon? T,T /plak /maruk
    haaaaa bingung ih mau komen apalagi, kesenengan gara2 baru pertama kali dibikinin FF sama orang hiks hiks X')
    gomawo yaaa eon, jeongmal gomawo~~~ X')
    saranghae deh pokoknya sama Asty onnie muach muach {}

    • nah.. itu emang sengaja ko dibikin kesian itu nasip si key, ya kali entar ada gitu yg mau sembuhin sakit ati dia,
      nayeon dibagi dua? BOLEH BANGET!!!! kan entar jadi’a pada gak dapet semua /plakk
      wkwkwk~
      clue, yg ngehapus itu gender’a cw.. kalo alesan, ya kira2 aja deh.. gak sempet buat diceritain soal’a inget durasi(?)
      makasih loh kalo suka =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s