(Sp) For Our Sexy Guitaris, Happy Birthday

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Choi Jonghoon [FT Island]

*) Duo Pedojumma, masih, tetap dan akan selalu dirahasiakan :p [OC]

*) Unknown [OC]

*) Lee Hongki [FT Island]

*) Lee Jaejin [FT Island]

*) Choi Minhwan [FT Island]

*) Song Seunghyun [FT Island]

*) Song Yoon Ho [FT Island’s Manager]

Genre : GaJelas,

Length : 3090 words

Disclaim : Selain pedojumma dan Song Seunghyun bukan punya kami (pedojumma .red)

a/n : yampuunn~~~ panjang amat ==a, aku ini udah edit sependek mungkin tapi tetep aja panjang ini menurut yg nulis yaa, standar panjang(?) org kadang suka beda.. semoga gak bosen deh baca ff yg panjang ini, ide cuma seadanya, alur’a dibikin cepet pas akhir soal’a gmau lebih panjang dari ini… happy reading ^^

Jonghoon menguap berkali-kali. Matanya sudah terlihat sangat lelah. Dia menatap jam dinding dan waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Akhirnya Jonghoon memutuskan untuk naik ke atas ranjangnya setelah selesai menonton film ‘You’re my Pet’. Dia tersenyum saat mengingat dirinya yang muncul hanya sedikit di dalam film tersebut.

“Kau tampan sekali Choi Jonghoon.” Puji dia pada dirinya sendiri kemudian terlelap tidur.

Jonghoon, Choi Jonghoon, leader yang sangat bahkan terlalu tampan dari sebuah band yang bernama FT Island itu tersenyum lagi dalam tidurnya, dia bermimpi indah. Tidak bisa digambarkan apa yang dia mimpikan.

Jonghoon terbangun begitu alarm berbunyi. Jonghoon bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan menuju kamar mandi. Di depan wastafel dia menatap pantulan dirinya sendiri pada cermin besar. “Kau tampan sekali walaupun belum mencuci mukamu.” Pujinya pada sosok yang berada di hadapannya, dirinya sendiri di dalam cermin.

Jonghoon lantas membasuh wajahnya agar lebih sadar dan segar, dia menggerakkan kepalanya agar rambut depannya yang agak basah, berpindah ke belakang. Menirukan persis seperti di iklan shampo. “Kau benar-benar tampan.” Ucap Jonghoon sebelum keluar dari kamar mandi.

“Hoaaammm~~ kau sudah bangun hyung? Saengil chuk… kae!”

Jaejin berpapasan dengan Jonghoon saat Jonghoon keluar dari kamar mandi. Wajah pemain bass itu tampak acak-acakan khas orang baru bangun tidur, dan selalu, tanpa baju. Dia menggeliat tepat di samping Jonghoon. Dan Jonghoon langsung merasa sedikit pusing akibat bau yang dihasilkan oleh ketiak Jaejin.

“Cepat mandi!” Perintah Jonghoon sambil mendorong Jaejin agar menjauh darinya.

“Uukkhh~~” Jaejin terdorong ke dalam kamar mandi sambil memajukan bibirnya yang aduhai itu.

Mendengar apa yang tadi Jaejin ucapkan padanya, Jonghoon langsung mengecek tanggal di kalender. “Ah, sekarang ulang tahunku!” Ucapnya setengah berteriak. Semangat.

Pikirannya langsung melayang pada sosok dua ahjumma yang muncul pertama kali di hari ulang tahun Minhwan akhir tahun yang lalu. Jonghoon kemudian pergi menuju dapur, berharap ada sesuatu seperti sup rumput laut dan makanan lain sudah tersedia di meja. Berikut hadiah yang akan diterimanya.  Tapi kosong. Tidak ada apapun yang diharapkan oleh leader berkharisma itu. Jonghoon menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Mungkin aku terlalu banyak berharap. Ah, sudahlah. Memang tidak baik kalau aku berharap sesuatu dari orang lain.” Ucap Jonghoon berusaha menghibur dirinya sendiri. “Nanti juga Yoon Ho hyung pasti membawakan kado dari Primadonna untukku.” Tambahnya.

Hari ini semua member FT Island tidak memiliki jadwal dengan pihak manapun, mereka hanya akan pergi ke gedung FnC untuk latihan dan mempersiapkan apa-apa yang akan mereka bawa menuju Los Angeles nanti. Pukul sebelas semua penghuni dorm sudah bersiap untuk pergi latihan. Jonghoon sendiri sudah menenteng salah satu dari gitar kesayangannya, gitar barunya.

Entah kenapa, sosok dua ahjumma yang suka memberikan kejutan di hari ulang tahun para member FT Island itu terbayang di benak Jonghoon saat dia keluar dari dormnya.

“Wae hyung?” Tanya Seunghyun saat melihat Jonghoon berjalan seolah tanpa jiwa.

Jonghoon langsung tersadar. Dia menampar pelan kedua pipinya lalu menggeleng. “Anni. Aku barusan melamun.” Jawab Jonghoon pura-pura seolah tidak ada apa-apa.

Hongki terkekeh kemudian menyampirkan lengannya di pundak Jonghoon. “Kau berharap pedojumma memberikan sesuatu padamu kan? Atau sedang membayangkan hadiah apa yang akan kau dapatkan dari mereka.” Ucapnya setengah berbisik di telinga Jonghoon. Tangan Hongki yang bebas menaik turunkan kacamata barunya, yang dia dapatkan saat ulang tahunnya.

Cibiran tak bersuara dikeluarkan Jonghoon. Dia menurunkan tangan Hongki dari pundaknya. “Aku tidak mengharapkannya! Aku kan sudah bilang, aku ini lebih suka gadis seksi daripada ahjumma tidak jelas itu.” Sanggahnya kemudian masuk ke dalam lift yang terbuka yang mengantarkan semua member FT Island itu menuju lantai dasar.

Song Yoon Ho, manajer anak-anak berbakat itu sudah menunggu di depan gedung apartemen. Dan Jonghon berikut member lain langsung masuk ke dalam mobil. Jonghoon yang biasanya tidak banyak bicara, lebih diam lagi. Dia tidak ikut-ikutan member lain yang sedang asik ber-selca ria.

“Jonghoon-ssi, ada surat tadi pagi dari seorang ahjumma. Dia bilang surat ini sangat penting.” Ucap seorang resepsionis saat Jonghoon berikut rombongan FT Island tiba di gedung FnC.

Jonghoon langsung menghampiri resepsionis dan mengambil suratnya. Dari raut wajahnya dan sikapnya jelas Jonghoon sangat ingin tahu apa yang ada di dalam surat itu. Member FT Island yang lain hanya memperhatikan Jonghoon yang sedang sibuk membuka lalu membaca suratnya.

Ada ekspresi kecewa yang tercetak di wajah Jonghoon. Seperti pada sinetron yang sering ditonton Minhwan, Jonghoon menurunkan tangannya yang memegang surat dengan gerakan lambat. Jonghoon berusaha memperbaiki ekspresinya begitu dia menyadari empat pasang mata tengah memperhatikannya. “Pedojumma.” Ucap Jonghoon.

Hongki langsung mengambil surat di tangan Jonghoon, dan Seunghyun-Minhwan-Jaejin langsung mengelilingi Hongki untuk ikut membaca suratnya.

Jonghoon-a, uri leader yang sangat bahkan terlalu tampan. Maafkan kami, kami tidak bisa merayakan ulang tahunmu. Kim Jaejin eomma harus menemui appa yang sedang sakit, dan Lee Minhwan eomma juga harus menemui haraboji yang juga sakit. Kami sebenarnya sangat ingin memasakkan sup rumput laut untukmu, menyiapkan makanan yang lain juga. Tapi apa daya, appa dan haraboji lebih membutuhkan kami.
Hadiah untukmu sebenarnya sudah ada, tapi rasanya kurang jika tidak kami sendiri yang memberikannya padamu. Makanya, kamu tunggu kami kembali ya… mungkin seminggu lagi kami bisa memberikan hadiahnya, tidak apa kan kalau terlambat?
Uri Jonghoon-a yang tampannya ampun-ampunan, saengil chukkae~ kami menyayangimu… kalau bisa tampanmu itu kurangi sedikit, kasihan banyak Primadonna yang nose bleed setelah melihatmu.

-Kim Jaejin & Lee Minhwan eomma-

“Wah, hyung beruntung! Hyung tidak akan sport jantung juga darah tinggi hari ini karena mereka.” Ucap Minhwan, entah itu untuk menghibur atau apa.

“Hyung kecewa ya mereka tidak ada?” Kali ini Jaejin yang bertanya.

Jonghoon menggeleng kemudian tersenyum, terlalu tampan. “Aku justru senang! Kalian sudah tahu kan kalau aku….”

“Lebih suka gadis seksi daripada mereka.” Potong Hongki. “Tapi kau jujur saja, kau berharap sesuatu kan?” Hongki bertanya sambil mengedipkan matanya genit.

Jonghoon langsung menendang tulang kering Hongki, membuat pria paling terkenal di FT Island itu meringis. “Aku tidak mengharapkan apa-apa!” Jonghoon bicara dengan nada sedikit berang.

-o0o-

“Hyung, aku pergi dulu ya.. ingin membeli minuman di mini market depan.” Ingin Minhwan pada Yoon Ho yang sedang memperhatikan member FT Island latihan.

Yoon Ho mengangguk memperbolehkan.

“Aku titip.” Ujar Seunghyun sambil menghampiri Minhwan.

“Aku juga.”

“Aku juga.”

“Aku juga.”

Member yang lain pun memesan apa yang mereka inginkan pada Minhwan.

“Apa tidak aku saja yang pergi? Kalian latihan saja dulu.” Tawar Yoon Ho.

Minhwan menggeleng. “Biar  aku saja yang pergi hyung. Lagipula aku capek, ingin sedikit menyegarkan diri di luar.” Jawab Minhwan sambil melenggang pergi menuju luar ruang latihan.

Cukup lama setelah Minhwan pergi, ponsel Jonghoon yang sedang dipegang pemiliknya bergetar hebat(?). Jonghoon melihat ada panggilan masuk dari Minhwan. “Minan? Ada apa?” Tanya Jonghoon.

“Hyung, dompetku ketinggalan. Hyung bisa kemari dan ambilkan dompetku?” Tanya Minhwan di seberang telepon.

“Aku sedang ngaso(?) Minan, nanti Yoon Ho hyung saja yang mengantarkan dompetmu.” Kata Jonghoon.

“Ada pelayan baru di mini market dan dia tidak kalah seksi dari Lee Hyori!” Ucap Minhwan yang rupanya kepolosannya semakin pudar karena terlalu lama tinggal bersama dengan orang-orang yang tidak polos.

Tanpa banyak kata, Jonghoon kemudian bangkit dari ngasonya dan mengambil dompet di tas Minhwan. “Aku pergi dulu! Minhwan ketinggalan dompetnya.” Pamit Jonghoon pada member yang lain sambil mengacungkan dompet Minhwan yang dia ambil dari tas. “Hyung akan sampai di sana sebentar lagi.” Kali ini Jonghoon berbicara pada Minhwan. Kemudian Jonghoon menutup sambungan dua arah itu dan berjalan cukup cepat menuju mini market tempat Minhwan berada.

GREEPPP….

Empat buah tangan, dua di masing-masing lengan Jonghoon mencengkram erat lengan leader tampan itu begitu Jonghoon tinggal tiga meter lagi sampai di mini market. Jonghoon terlihat bingung dan berusaha melepaskan diri.

“Ya! Siapa kalian?” Tanya Jonghoon pada dua orang pria yang dilihatnya tidak terlalu kekar tapi punya tenaga yang cukup besar. “Lepaskan aku!” Ucapnya sambil terus berusaha melepaskan diri.

Tapi ucapan Jonghoon sama sekali tidak digubris dua pria itu, keduanya menarik Jonghoon untuk masuk ke dalam mobil yang diparkir tepat di samping mereka. Jonghoon hendak meminta tolong, tapi tubuhnya sudah lebih dulu masuk ke dalam mobil. Dua orang yang menariknya itu duduk mengapit dirinya. Jonghoon melihat ke kursi kemudi, seorang pria yang lain tengah menyetir. Dan seorang gadis yang mungkin seumuran dengan dirinya berada di samping kursi kemudi.

“Siapa kalian?” Tanya Jonghoon berusaha untuk tidak panik.

“Oppa akan tahu sendiri nanti.” Jawab satu-satunya perempuan di mobil itu. “Tidurkan dia!” Ucapnya kemudian.

Baru saja Jonghoon berpikir apa maksud kalimat terakhir yang diucapkan gadis di depannya, sebuah sapu tangan membekap mulut Jonghoon dan membuatnya tidak sadar begitu dia menghirup udara di sela sapu tangan itu.

-o0o-

“Eeenggghhh….” Jonghoon menggeliat kemudian membuka kedua matanya. Dengan kesadaran yang masih belum sepenuhnya dia dapatkan, Jonghoon menoleh ke sekitarnya. Jonghoon langsung sadar sepenuhnya begitu dia melihat dimana dia sekarang.

Terduduk di kursi di dalam sebuah gereja.

Jonghoon menunduk, memperhatikan pakaiannya. Dia sekarang sedang memakai tuxedo berwarna putih yang senada dengan sepatunya. Jonghoon masih terlihat bingung dengan keadaannya. Tapi kemudian dia mengingat sosok gadis yang dia yakin adalah pelaku penculikan dirinya.

“Jangan bilang aku akan menikah.” Ucap Jonghoon. Dia berjengit mendengar kalimat yang terlontar dari mulutnya sendiri.

Jonghoon berjalan menuju pintu luar di dalam gereja tersebut. Tapi, baru empat langkah kaki Jonghoon bergerak, pintu gereja tersebut terbuka. Jonghoon langsung menghentikan langkahnya. Jonghoon tidak menghitung berapa orang masuk ke dalam gereja tersebut, yang pasti orang-orang itu semuanya pria dan membawa entah apa. Pria-pria tersebut terus berjalan menghampiri Jonghoon.

“Oppa!”

Suara di belakang Jonghoon membuat Jonghoon menoleh walaupun dia tidak yakin itu panggilan untuknya. Jonghoon melihat gadis yang dia yakin adalah gadis yang menculiknya.

“Mau kemana? Prosesi pernikahannya sebentar lagi.” Tanya gadis itu sambil menghampiri Jonghoon dan menarik lengan Jonghoon.

“Jadi aku benar-benar akan dipaksa menikah.” Ucap Jonghoon dalam hati. Jonghoon heran melihat gadis yang sedang menarik lengannya hanya menggunakan gaun biasa, bukan gaun pernikahan yang seperti bayangannya. Tanpa sadar, Jonghoon sudah berdiri di depan seorang pendeta yang tengah menatapnya.

“Pasangan pengantin, harap dijajarkan di samping pengantin pria.” Ucap pendeta tersebut.

Pria-pria yang tadi masuk dengan membawa entah apa itu kemudian berjalan menghampiri Jonghoon. Pria-pria yang tidak satupun dikenal Jonghoon itu meletakkan benda, yang saat Jonghoon lihat dekat ternyata adalah gitar, di samping Jonghoon.

Jonghoon membelalakkan matanya saat menyadari semua gitarnya, yang seharusnya tergantung di dinding kamarnya kini berjajar di atas kursi di sampingnya dengan kain putih berbahan sutra membalut sebagian banyak gitarnya itu.

“Choi Jonghoon, apa kau bersedia menikahi gitar-gitarmu yang sudah lama juga baru menjadi kekasihmu ini?”

Belum juga Jonghoon sadar, pendeta di hadapan Jonghoon bertanya hal aneh. “De?” Tanya Jonghoon. Pendeta itu mengangguk. “Anni, maksudku, aku tidak mungkin menikah dengan gitar kan? Maaf, saya harus pergi.” Ucap Jonghoon kemudian berbalik dan kabur menuju pintu.

Sayang, pria-pria yang bertugas membawa calon mempelai itu menghadang langkah Jonghoon. Jonghoon memberontak ingin lepas, tapi dia tidak berdaya. Dengan pakaian yang sudah mulai acak-acakan, Jonghoon dibawa paksa kembali menuju hadapan pendeta.

“Oppa tidak akan bisa pergi sampai oppa menikah.” Ucap gadis, si penculik, yang duduk di kursi terdepan.

“Aku tidak mungkin menikah dengan gitar.” Elak Jonghoon.

“Tapi oppa kan selalu bilang kalau gitar-gitar itu kekasih oppa.” Timpal gadis itu.

Jonghoon bungkam. Kepalanya terasa pening karena kejutan ini. Pikirannya melayang pada dua perempuan paruh baya. “Jangan bilang ini usulan Pedojumma!” Ucap Jonghoon. “Mana mereka? aku tidak ingin menikah. Mana Pedojumma? Antarkan aku pulang sekarang juga!!!” Pinta Jonghoon.

Tidak ada yang menggubris permintaan Jonghoon. Tidak juga muncul dua orang perempuan paruh baya yang Jonghoon yakin otak dibalik pernikahan konyol itu.

“Oppa! Ini semua ideku! Percuma oppa memanggil siapa itu yang tadi oppa bilang? Tidak akan ada orang yang datang. Karena memang aku sendiri yang sudah mempersiapkan ini semua.” Ucap satu-satunya gadis yang ada di sana.

Jonghoon menatap gadis itu tajam. “Siapa kau?” Tanyanya menuntut.

“Aku? Oppa tidak perlu tahu siapa aku. Aku hanya orang yang lebih merestui oppa bersama gitar-gitar oppa selamanya, atau Hongki oppa.” Jawab gadis itu.

“Hongki? Aku dan dia masih normal. Aku yakin kau terlalu sering berfantasi. Aku masih menyukai perempuan.” Jonghoon terlihat kesal.

“Ara ara. Oppa suka gadis seksi, S line. Tapi aku tetap lebih setuju oppa dengan Hongki oppa.”

“Sekarang biarkan aku pulang.” Jonghoon berusaha membujuk, memohon.

Gadis itu menggeleng. “Menikah dulu. Baru pulang.” Ucapnya tegas.

-o0o-

“HYYUNNNGGGG~~~~”

Minhwan langsung berlari dan memeluk Jonghoon saat Jonghoon tiba di dalam dorm. Waktu menunjukkan pukul sembilan malam lewat dan Jonghoon baru tiba setelah tadi pukul empat sore dia dianggap menghilang.

“Hyung, kau kemana saja? Aku menunggumu di mini market tapi hyung tidak juga datang. Hongki hyung bilang kalau hyung sudah pergi ke mini market tapi tetap hyung tidak datang. Kami kemudian memutuskan untuk menunggu hyung di dorm.” Minhwan bicara terus.

“Choi Jonghoon! Kenapa kau pucat? Dan apa-apaan pakaianmu itu? Habis diculik dan dipaksa menikah?” Tanya Hongki tepat sasaran.

Jonghoon tidak banyak bicara. Dia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Lelah mental. Seunghyun datang dari dapur membawa minuman kaleng dingin dan memberikannya pada Jonghoon. “Minum dulu hyung.” Ucapnya.

Jonghoon mengambil minuman yang disodorkan Seunghyun dengan malas.

“Apa yang terjadi hyung?” Kini Jaejin yang angkat bicara. Dia sudah duduk di samping Jonghoon. Ingin tahu apa yang terjadi pada leadernya itu.

“Aku diculik…. Dipaksa menikah.” Ucap Jonghoon. Dia lantas membuka minumannya dan menenggak setengah dari isi dalam kaleng tersebut. Mengacuhkan empat temannya yang kompak membuka mata dan mulut lebar-lebar mendengar kalimat yang diucapkan Jonghoon.

“Siapa orang yang menculik dan memaksamu menikah hyung?” Tanya Minhwan sangat penasaran.

“Gadis aneh, entah siapa, sepertinya dia JongKi shipper. Parahnya dia menyuruhku menikah dengan gitar-gitarku.” Terang Jonghoon membuat mata melebar dan mulut menganga teman-temannya untuk episode dua.

“MWO??? APA KAU BENAR-BENAR MENIKAH???” Hongki langsung berang setelah dia selesai dengan acara kagetnya.

Jonghoon menggeleng. “Tentu saja aku menolak. Walaupun karena itu aku tidak bisa pulang. Tapi akhirnya aku diijinkan pulang dengan syarat aku harus berfoto dengan gitarku satu per satu. Gitarku dihiasi tiara juga kain sutra. Gila gadis itu.” Terang Jonghoon lagi.

“Tapi hyung….”

Ttiiiittt….

Baru juga Seunghyun ingin bicara, bel dorm mereka berbunyi. Hongki yang posisinya paling dekat dengan pintu langsung menatap Seunghyun. Tatapan matanya itu dapat Seunghyun artikan ‘cek siapa yang datang, cepat!’. Dengan malas Seunghyun akhirnya menghampiri pintu.

“Siapa?” Tanya Seunghyun melalui interphone.

“Saya mengirimkan paket untuk Choi Jonghoon-ssi.” Jawab suara pria berumur dari speaker.

Seunghyun kemudian membuka pintu dan mendapati seseorang membungkuk padanya. “Ini benar kediaman Choi Jonghoon-ssi?” Tanya pria itu memastikan. Seunghyun mengangguk. “Bawa masuk semuanya!” Ucap pria itu sambil menoleh.

Seunghyun melongokkan kepalanya keluar, ingin tahu apa yang dimaksud dengan ‘semuanya’ itu. Tapi Seunghyun tidak sempat melihat karena dua orang pria, bukan orang yang tadi bicara pada Seunghyun, kini masuk ke dalam dorm dengan membawa gitar-gitar milik Jonghoon yang sebelumnya dicuri oleh gadis yang memaksa Jonghoon menikah.

Saat terakhir, satu dari dua orang yang memasukkan gitar-gitar Jonghoon ke dalam dorm itu menyerahkan sebuah gulungan yang terdiri dari beberapa lembar kertas pada Seunghyun. Mereka kemudian pergi setelah orang yang jadi juru bicara mendapatkan tanda tangan Seunghyun sebagai bukti serah terima barang.

“AH!” Baru Seunghyun akan membuka gulungan kertas itu, Minhwan berteriak. “Hyung! Pedojumma ada di dapur.” Ucapnya pada Jonghoon.

“Benar, kami lupa. Tadi sewaktu kami pulang, mereka sudah ada di dalam dorm.” Timpal Hongki.

Jonghoon rupanya lebih tertarik pada Duo Pedojumma daripada gitar-gitarnya. Dia lantas beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dapur. Dia melihat dua orang ahjumma tengah bernyanyi dengan nada yang tidak jelas. Jonghoon yakin Duo Pedojumma itu menyanyikan lagu FT Island, tapi dia bingung menentukan judulnya karena selain suaranya yang terdengar aneh, tidak ada satupun nada yang sesuai dengan lagu miliknya.

“Ah, uri Jonghoon-a, kau sudah pulang? Dari mana saja?” Tanya Kim Jaejin eomma begitu dia menoleh dan mendapati Jonghoon berdiri sambil menatapnya.

“Ahjumma, bukannya ahjumma bilang kalau appa ahjumma itu sedang sakit?” Bukannya menjawab, Jonghoon malah balik bertanya.

“Oh, itu, appa bisa menunda sakit dia kok. Dia bilang dia akan sehat dulu hari ini dan melanjutkan sakitnya besok. Jadi kami langsung saja datang kemari.” Jawab Kim Jaejin eomma.

Jonghoon langsung bingung dengan jawaban yang diberikan perempuan paruh baya itu.

“Kau duduk lah. Kami sebentar lagi selesai memasak.” Ucap Lee Minhwan eomma. “Jaejin-a! Tolong ambilkan kue yang tadi ahjumma simpan di dekat televisi!” Lee Minhwan eomma sedikit berteriak meminta tolong pada Jaejin. “Kau juga Seunghyun-a! Bantu Jaejin.” Tambahnya begitu melihat Seunghyun.

Seolah tersihir, semua penghuni dorm begitu menurut semua perintah Duo Pedojumma. Ada sekitar sepuluh menit kemudian, kelima pria tampan imut menggoda itu sudah duduk dengan rapi di depan meja makan. Semua makanan yang mengundang selera makan mereka sudah tersedia. Dan sebuah kue ulang tahun yang cukup besar diletakkan di tengah meja makan.

“Ah! Sudah larut. Kami harus pergi untuk merawat orang sakit. Kalian nikmati saja semua masakannya.” Ucap Lee Minhwan eomma sambil melepaskan celemek yang dia pakai, begitu juga dengan Kim Jaejin eomma.

“Tidak usah buru-buru. Nikmati saja makanannya.” Pesan Kim jaejin eomma. Mereka berdua lantas mengambil tas yang mereka letakkan di dekat lemari pendingin. “Kami pulang.” Ucap Kim Jaejin eomma.

Chu….

Chu….

Dua ciuman mendarat di pipi kiri dan kanan Seunghyun.

“Kyaaa~~~ aku menciumnya >,<” Ucap Lee Minhwan eomma girang sambil berlari menuju pintu luar.

“Aku jugaa >///<” Timpal Kim Jaejin eomma tak kalah girang.

Seunghyun membeku di tempat.

-o0o-

Jonghoon merasa tenaga juga pikirannya terkuras seharian ini langsung menuju kamarnya. Baru juga dia berniat merebahkan diri di atas kasurnya, Jonghoon langsung tercengang dengan apa yang tampak di hadapannya. Tiga per empat dari dua dinding kamarnya kini bukan bercat tapi bercermin. Dinding-dinding itu ditempeli dengan cermin yang cukup membuat Jonghoon pusing. Sebuah kertas ditempel di salah satu dinding cermin.

Uri Jonghoon-a, kau kan pangeran narsis kami… semoga kamu bisa semakin menikmati keindahan dirimu sendiri dengan cermin ini…

-Kim Jaejin & Lee Minhwan eomma-

Baru juga Jonghoon selesai membaca dan mendongak lagi, sesuatu yang berada di sudut kamarnya membuat Jonghoon lagi-lagi tercengang. Sebuah patung dari marmer seukuran aslinya berdiri di sana. Patung yang merupakan replika dari Jonghoon itu memperlihatkan pose yang sangat seksi dan menggoda, dengan pakaian ala Julius Caesar.

“Ya Tuhaaannnnn….” Jonghoon lalu pusing dan terduduk di lantai. “Apa aku dianggap senarsis itu oleh mereka?????”

-o0o-

Epilog…

 

“Jonghoon hyung benar-benar menikah. Hahaha~~” Ucap Jaejin sambil melihat kertas yang sedang dipegangnya.

Kertas itu adalah kertas foto seukuran jumbo poster. Foto-foto yang tercetak di foto itu adalah foto saat Jonghoon dan gitar-gitarnya menikah, tidak menikah sebenarnya, saat di gereja tadi.

“Wah, Jonghoon hyung walaupun terlihat terpaksa, tapi sepertinya dia menyukainya juga.” Komentar Seunghyun yang sudah sedikit sukses melupakan pelecehan yang terjadi pada dirinya tadi.

“Tapi siapa sih sebenarnya gadis itu? Kok dia bisa ya mengambil gitar-gitar milik Jonghoon hyung?” Minhwan bertanya.

“Tadi aku sempat bertanya pada Pedojumma, katanya itu anaknya. Orang yang waktu ulang tahunku memberikan aku gitar. Orang yang mengaku-ngaku noonaku.” Jawab Jaejin.

“Ahh~ kalau waktu Pedojumma menculikku, di pernah bilang kalau ada anaknya yang JongKi shipper. Mungkin itu dia.” Ucap Minhwan.

“KALIANN~~~ Cepat tidur sana!” Hongki menatap tiga adiknya tajam penuh intimidasi. Ketiganya langsung mengkeret dan beranjak dari tempat duduk untuk pergi ke kamar masing-masing. “Aku kan masih suka wanita. Walaupun Jonghoon itu menggoda.” Ucap Hongki sangat pelan sambil berjalan menuju kamarnya.

-end-

Advertisements

2 responses »

  1. Wah senangnya nemu ff yg castnya ft island.. Gomawo eonn bagus ffnya.. Buat jongki couple beneran dunk eon *puppy eyes (*,*)

    • aahhh~~~ aku suka straight u,u
      itu gara2 anak yg identitas’a gak diketahui itu *nunjuk di atas* itu jongki shipper,
      jadi rada2 kepengaruh deh ff’a….
      makasi loh udah bkunjung kesini ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s