(Ficlet) The Twin’s Story : Our First Love

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Choi Minjoo [OC]

*) Choi Minhwan [FT Island]

*) Song Seunghyun [FT Island]

*) Lee Taeri [OC]

*) Lee Taemin [SHINee]

*) Jung Nayoung [OC]

*) Choi Jonghoon [FT Island]

Genre : AU, OOC, Angst

Length :  Ficlet  [1743 words]

Disclaim : yang tersebut di atas di ff saia yang ini adalah milik SAYA /plakk berikut cerita juga editan gambar yg gagal /plakplakk

a/n : err~ diajakin bikin ff galau sama emak’a minan, tapi aku gak yakin ini cukup buat dibilang galau, haha~ lagi gak galau soalnya.. kalo penasaran, baca aja, happy reading ^^


“Ya! Song Seunghyun!” Aku memanggilnya. Dia, orang yang menyita waktuku sejak dua tahun terakhir. Seunghyun menoleh. “I love you.” Ucapku begitu dia melihatku. Terserah jika ucapan itu dianggap bercanda olehnya, aku tidak peduli. Aku hanya ingin mengatakan apa yang aku rasakan.

Seunghyun tersenyum setengah tertawa, tangan kanannya terangkat, membuat gerakan yang artinya ‘kemarilah’. Aku ikut tersenyum melihat senyuman manisnya, dan sedikit berlari menghampirinya. Seunghyun menyampirkan lengan yang tadi dia pakai untuk memanggilku di pundakku yang pendek, hingga terasa sedikit berat. Kami lantas berjalan beriringan.

“Kau ini….” Seunghyun mencubit pipi kiriku dengan tangan kirinya. Langsung saja aku menggembungkan kedua pipiku, kesal. “Sudah aku bilang jangan bercanda seperti itu, tidak lucu.” Lanjutnya setelah mencubit pipiku.

“Memangnya aku terlihat bercanda ya? Salahku sendiri sih.” Ucapku dalam hati.

Aku, Choi Minjoo, tetangga dari orang yang tengah merangkul pundakku, Song Seunghyun. Kami teman sejak kecil, dan sudah seperti saudara. Itu anggapan Seunghyun. Sejak dua tahun yang lalu, aku tidak pernah menganggapnya saudara. Tidak sejak pertemuan kami dengan seorang gadis yang bernama Lee Taeri.

Aku tidak akan pernah sadar aku menyukai Seunghyun kalau Taeri tidak masuk ke dalam kehidupan kami. Taeri, tetangga baru yang dua tahun lalu langsung menarik perhatian Seunghyun sejak kepindahannya kemari. Minhwan, saudara kembarku lah yang mengatakan kalau aku menyukai Seunghyun sebagai seorang gadis kepada lawan jenisnya, bukan sebagai saudara. Tapi Seunghyun tidak pernah mau tahu, walaupun aku mengatakannya dengan jelas, dia tidak pernah menganggap ucapanku itu benar sungguh. Entahlah, aku juga tidak menuntut Seunghyun untuk benar-benar mengerti apa maksudku. Karena aku sendiri tahu dengan jelas siapa yang Seunghyun sukai, Lee Taeri.

“Jam dua aku tunggu di depan kelas Aritmatika. Kau tidak boleh bolos kali ini.” Ucapku pada pria yang jauh lebih tinggi di sampingku.

Aku menoleh, melihat ekspresi wajah Seunghyun yang lucu. Tampangnya terlihat frustasi sekali. “Kenapa harus ada Aritmatika di dunia ini? Aku benci matematika dan anak cucunya.” Keluhnya.

Aku langsung menyikut perut Seunghyun setelah dia selesai mengeluh.. “Apa susahnya sih? Kau hanya masuk ke kelas, bertatap muka dengan dosen. Tugas-tugasmu kan selalu aku yang mengerjakannya. Kalau aku bisa membelah diri jadi dua, aku akan menggantikanmu.”

Seunghyun menunduk, menatapku. “Heish, kau ini kan memang sudah ada dua. Tuh….” Kepala Seunghyun menunjukkan seseorang yang tengah menatap kami dari halte bis. “Kau dan Minhwan kan sama.” Tambahnya.

Tskk…. Entah apa yang membuatku bisa menyukai pria tinggi di sampingku ini. Dia itu bodoh di mata kuliah eksak. Walaupun dia bilang pada dunia kalau dia menyukai bahasa inggris, tapi dia tidak menguasai bahasa itu. Yang paling menonjol darinya hanya tinggi badan dan permainan musiknya. Juga senyum, ya.. setelah dua tahun berlalu, aku baru sadar kalau Seunghyun punya senyum yang manis. Manis sekali.

“Turunkan lenganmu dari Minjoo.” Aku mendengar Minhwan bicara setelah kami –aku dan Seunghyun- sudah berada di halte bersama Minhwan. Raut wajah Minhwan terlihat serius, kenapa dengan adik tujuh menitku itu?

“Waeyo? Ada yang salah?” Tanya Seunghyun dengan tampang tak berdosanya.

Minhwan menarik lenganku kuat, hingga aku hampir jatuh karena tubuhku ikut tertarik. “Gara-gara kau selalu merangkul Minjoo, dia tidak bisa tinggi.” Ucap Minhwan sambil menatap Seunghyun.

Mau tidak mau aku dan Seunghyun tertawa mendengar ucapan saudaraku itu. “Ya ampun Minhwan, aku kira apa.” Ucap Seunghyun masih tertawa bersamaku.

“Aku juga pendek  gara-gara kau selalu menumpang di punggungku saat kecil!” Kata Minhwan lagi.

Aku dan Seunghyun tertawa semakin kencang mendengar Minhwan yang mendadak mempermasalahkan tinggi badannya itu. Tapi saat aku melihat raut wajah Minhwan yang tetap serius, malah terlihat kesal, aku menghentikan tawaku.

Mengacuhkan Seunghyun yang masih tertawa, aku berbisik pada Minhwan. “Kau harus cerita nanti. Pasti ada masalah.”

Minhwan menoleh padaku, dia menatapku tajam dan aku berbalik menatapnya tajam. Dia kemudian mendesah pelan. Aku tersenyum, menepuk pundaknya pelan. Aku dan Minhwan sama, tidak bisa menyembunyikan apa yang kami rasakan. Walaupun orang lain kadang malah tidak bisa mengerti apa yang terjadi pada kami. Menganggap semua kalimat serius yang kami ucapkan sebagai kalimat bercanda. Miris kadang.

Seperti saat ini, saat melihat wajah serius Minhwan soal tinggi badan, aku sangat yakin pasti ada masalah yang melibatkan tinggi badannya. Padahal sebenarnya saudara kembarku itu bisa dibilang tinggi. Makanya aku merasa sedikit aneh.

“Ah, Taeri-ah!” Aku yang masih menatap Minhwan langsung menoleh saat mendengar Seunghyun mengucapkan nama Taeri. Aku melihat Taeri dan saudara kembarnya, Taemin sedang berjalan ke arah kami.

“Annyeong oppaduel, annyeong eonni.” Sapa Taeri sambil sedikit membungkuk bersama Taemin.

“Ann.. yeong.” Ucapku terpotong saat melihat Seunghyun langsung berusaha menarik perhatian Taeri.

Selalu begini, sejak Seunghyun benar-benar menyukai Taeri, kadang aku dianggap tidak ada olehnya. Sebuah tepukan di pundakku menyadarkan aku, aku menoleh pada Minhwan dan tersenyum lalu mengangguk. Mengatakan aku baik-baik saja tanpa kata.

Pukul empat aku dan Minhwan tidak ada kelas, tapi Seunghyun meminta kami untuk menunggunya. Jadi aku dan Minhwan memutuskan untuk pergi ke café dekat kampus. Sekalian juga aku ingin mengintrogasi saudara kembarku itu. Walaupun kami berdua tumbuh bersama, aku tidak bisa tahu semua yang dirasakan Minhwan. Kami tidak memiliki ikatan yang kuat seperti orang kembar kebanyakan, jadi aku bisa tahu jika Minhwan bercerita, begitu sebaliknya.

“Katakan.” Kataku dengan nada memerintah pada Minhwan setelah sepotong cake dan coke masing-masing berada di depan kami.

“Jung Nayoung….” Minhwan menyebut nama salah satu teman sekelasnya. Orang yang selama satu setengah tahun ini disukai oleh kembaranku itu.

Aku mengangguk. “Kenapa dengan dia? Apa dia menolakmu?” Tanyaku.

Minhwan menggeleng. Aku agak kaget, kupikir tebakanku itu benar. “Tapi secara tidak langsung dia memang menolakku.” Ucapnya.

Aku malah tidak mengerti sekarang dengan apa yang dikatakan Minhwan.

“Dia bilang dia menyukai pria yang tinggi. Yah, dia memang tergila-gila pada pemain basket yang rata-rata tinggi. Dan dia bilang, minimal tinggi pria yang bisa menjadi pacarnya itu seperti Jonghoon hyung. Dan Jonghoon hyung itu tipe pria yang diinginkan Nayoung.” Ceritanya.

Ya ampun, adik tujuh menitku ini…. “Ya! Choi Minhwan! Kau itu belum menyatakan cintamu padanya. Kau tidak bisa menjadikan tinggi badanmu itu sebagai acuan. Kau tunjukkan padanya kalau perasaanmu itu tulus. Jangan menyerah di awal! Aku yakin sekali dia akan mengabaikan tinggi badanmu kalau dia sudah tersentuh oleh hatimu. Lagipula, kau tidak kalah tampan dari Jonghoon sunbae. Kau tenang saja, kau itu masuk ke kriteria Nayoung.” Ucapku memberikan semangat dan nasehat pada Minhwan.

Aku tersenyum saat melihat Minhwan mengangguk. Saudaraku itu tipe orang yang kurang percaya diri jika tidak ada yang menyemangatinya. Dia bisa berubah menjadi seorang yang optimis jika didorong seperti sekarang.

Minhwan tersenyum, tapi kemudian aku melihat senyumannya itu memudar. Matanya melihat ke arah pintu. Aku membalikkan tubuhku, ingin tahu apa yang dilihatnya. Aku menutup mulutku yang menganga. Aku melihat objek pembicaraan aku dan Minhwan beberapa saat yang lalu tengah berjalan bersama. Nayoung dan Jonghoon sunbae.

Bukan hanya kami yang memandang kedua orang itu, ada beberapa orang di dalam café yang juga memperhatikan mereka. “Ku dengar tadi pagi Jonghoon sunbae menyatakan cinta pada Nayoung dan langsung diterima.” Ucap salah satu suara yang terdengar olehku. Berasal dari meja di sampingku.

“Beruntungnya Nayoung, Jonghoon sunbae kan tipe pria idaman.” Ucap suara yang lain.

Aku kembali berbalik menoleh pada Minhwan dan mendapati dia masih memandang mengikuti Nayoung dan Jonghoon sunbae. Aku bangkit dari tempat dudukku dan dengan susah payah menyeret Minhwan untuk keluar dari café.

“Terlambat.” Ucap Minhwan sambil menunduk dan tanpa ekspresi.

Aku mengajaknya duduk di halte bis, menepuk pelan pundak saudara kembarku itu. “Sudah lah. Ini bukan salahmu. Mungkin dia bukan jodohmu, tapi mereka kan hanya pacaran. Masih ada waktu untuk membuatnya menyukaimu walaupun itu tidak baik. Jangan terlalu bersedih.” Aku berusaha menghibur Minhwan. Tapi aku memang bukan tipe penghibur yang baik. Ucapanku bisa saja membuat Minhwan merasa lebih buruk.

“Ya! Aku mencari kalian ke café tapi ternyata kalian sudah ada di sini.” Ucap Seunghyun sambil menepuk pundakku.

Aku menoleh sedang Minhwan yang masih terlihat sedih sepertinya tidak menyadari keberadaan Seunghyun. Mataku sedikit menyipit begitu melihat siapa gadis yang berada di samping Seunghyun. Dan mataku berubah membulat begitu jari-jari tangan Seunghyun yang kiri bertautan dengan jari gadis di sampingnya, Lee Taeri.

“Seunghyun-a, Taeri-ya, kalian….” Aku tidak sanggup melanjutkan ucapanku saat melihat senyum bahagia diperlihatkan Taeri juga Seunghyun.

“Aku tadi menjemput Taeri ke kelasnya dan langsung menyatakan cinta padanya begitu dia keluar kelas.” Terang Seunghyun dengan wajah berseri-seri. Dia mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Taeri, bermaksud pamer.

Entah senyum, entah seringai, entah ekspresi apa yang terlihat di wajahku saat mendengarnya. “Chukkae.” Ucapku pelan bahkan hampir tidak terdengar. “Seunghyun-a, kau pulang duluan saja dengan Taeri. Aku tidak mau mengganggu kalian. Aku dan Minhwan ada urusan dulu.” Ucapku cepat begitu aku sadar kalau aku sudah tidak sanggup berada di posisiku sekarang.

Dengan tenaga yang entah berasal dari mana, aku sukses menarik Minhwan menjauh dari halte. Mengacuhkan panggilan Seunghyun dan Taeri. Yang aku lakukan hanya berlari dan berlari. Membawa saudaraku menjauh dari kampus kami.

Aku menoleh ke belakangku, melihat Minhwan yang sudah berekspresi sekarang. Kami berdua sedang terengah sekarang. Aku tidak tahu ternyata aku dan Minhwan berlari cukup jauh tadi. Kami saling pandang begitu nafas kami mulai normal.

Kami berdua kemudian tertawa tanpa ada yang memulai lebih dulu, seperti sudah direncanakan. Kami mengacuhkan beberapa pejalan kaki yang memperhatikan kami berdua. Tidak, aku sama sekali tidak melihat mereka. Aku hanya sibuk tertawa, sama seperti saudara kembar di hadapanku.

Kami pun menghentikan tawa kami setelah puas.

“Kita kembar ya?” Tanya Minhwan.

Aku mengangguk. “Padahal kita kan jarang sekali senasib. Biasanya kalau aku beruntung, kau pasti sial.” Ucapku.

“Tapi sekarang kita sama. Patah hati di hari yang sama.” Komentar Minhwan.

Aku menggeleng. “Aku lebih sial. Aku sudah menyukai Seunghyun sejak lama, aku bahkan sudah menduga kalau pada akhirnya aku akan kalah. Tapi ternyata aku tidak sanggup melihat mereka. Bahkan aku sampai membawamu kabur.” Ucapku masih bersikap sok tegar. Aku merasa sesak di dadaku, mengingat senyuman Seunghyun tadi. Senyum bahagia karena gadis lain.

Minhwan langsung meniadakan jarak di antara kami, dia merengkuhku dalam pelukannya. “Menangislah yang puas Minjoo-ya. Kau belum pernah menangis kan gara-gara mereka? pasti akan lebih sakit kalau kau menahannya lebih lama.” Bisik Minhwan.

Aku terisak. Menangis di dada Minhwan. Aku menggeleng. Tidak ingin mengeluarkan air mataku tapi nyatanya aku sama sekali tidak bisa berhenti menangis. Rasanya sangat sakit. Dan aku tahu Minhwan juga merasakan hal yang sama karena Nayoung. Maka sakit yang aku rasa terasa berkali lipat. Aku ingin sekali bicara, tapi hanya isakan yang keluar dari mulutku. Aku benci saat aku menangis. Tapi saat aku merasakan sesuatu yang basah dan hangat menyentuk atas kepalaku, aku merasa aku bukan seorang yang payah walau menangis. Walaupun aku tidak tahu Minhwan menangis karena aku atau Nayoung, tapi tetap saja dia menangis. Aku ingin tertawa, tapi justru isakanku malah makin tidak terkendali.

Akhirnya, aku patah hati karena cinta pertamaku, begitu juga Minhwan. Tragis ya?

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s