(Sp) One Day Special

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Cho Jinho/Jino [ex. SM The Ballad]

*) Kim Boram [OC]

Genre : OOC, One Side Love(?)

Length :  Ficlet [1221 words]

Disclaim : cerita punya SAYA… Jino punya SAYA!!! OC’a juga punya SAYA… eh kalo Jino punya saa di ff ini aja denk, gak sanggup bayar sewa kalo beneran jadi punya saya :p

a/n : Saengil Chukkae uri Jino-ya *chu* taun kemaren aku bikin yg versi tgl 17, sekarang yg versi tgl 14.. lol, gara2 tiap nyari profil ini anak ulang tahun’a antara itu dua tanggal mulu, .. as usual aku ngerasa rada boring kalo bikin yg agak mepet ke romance, tapi semoga berkenan 🙂 nyari piku Jino yg paling apdet susah’a minta maaf walopun nyari di naver ==a jadi pake piku yg ada dengan editan seadanya.. maklum aku gak bakat seni/plakk..  happy reading ^^

Mencintai orang yang sudah mencintai juga memiliki orang lain bukan suatu kesalahan kan?

Kim Boram, nama orang yang aku maksudkan. Dia bilang dia fansku. Pertemuan pertama kami saat di sebuah acara musik televisi dimana dia memang sengaja datang untuk melihatku. Dia menyukaiku? Iya. Dia mengagumiku? Iya. Dia mengidolakan aku? Iya. Sayangnya, lama waktu berjalan aku mulai tahu bahwa perasaanya padaku hanya sebatas itu. Dia sudah memiliki seseorang yang lebih spesial dibanding aku.

Hey, tapi dia tidak tahu kalau dia sudah menarik perhatianku. Membuat aku menyukai dia melebihi apapun. Ya, aku mulai mencintai dia. Tapi yah, kekasihnya adalah sunbaeku sendiri. Dia satu grup juga dengan mantan rekan grupku. Dan aku bukan tipikal orang yang mau merebut milik orang lain.

“Jino-ya!”

Sebuah panggilan sontak membuatku mencari arah panggilan itu. Aku tersenyum saat melihat Boram noona, oh… dia lebih tua dua tahun dariku, jadi aku memanggilnya noona. Aku tersenyum saat melihat Boram noona melambaikan tangannya begitu aku masuk ke dalam sebuah café yang jaraknya cukup dekat dengan gedung SMEnt.

Aku sekarang hanya mau makan siang. Dan aku harus kembali lagi ke gedung SM begitu selesai dengan makan siangku. Yah, walaupun aku tidak lagi malang melintang di dunia hiburan, ralat, belum kembali malang melintang dia dunia hiburan, tapi aku tetap harus menjalani latihan sebelum debutku nanti.

“Aaah~ uri Jino tetap tampan ya.” Ucap Boram noona begitu aku duduk di kursi di hadapannya.

Bukan suatu kebetulan aku bertemu dengan Boram noona di café ini, tidak… sangat sulit untuk mendapatkan sebuah kebetulan sekarang ini. Aku memang sudah janjian dengannya untuk bertemu di sini. Karena hari ini ulang tahunku.

Boram noona mengambil sebuah kantong kertas yang cukup besar yang berada di sampingnya, dia kemudian meletakkan kantong kertas itu di atas meja dan menggesernya agar lebih dekat denganku. “Hadiahmu.” Ucap Boram noona sambil tersenyum.

Senyuman Boram noona tidak semanis senyuman Sulli sunbae, tapi aku sangat menyukai senyumannya.

Aku melihat ke arah Boram noona yang tengah memperhatikanku. Salah satu hal yang aku sukai dari Boram noona adalah cara dia memandangku. Dia pasti memandangku dalam, dan aku bisa melihat binar kekaguman di matanya. Itu sukses membuatku tersipu malu, pastinya.

Entah apa yang membuat Boram noona menyukaiku seperti itu. Aku bahkan sekarang kembali menjadi traineer setelah proyek SM The Ballad selesai tahun lalu.

“Noona, boleh aku meminta hadiah lain?” Aku bertanya dengan nada serius. Aku sudah memikirkan ini dengan sangat lama. Tapi aku tidak yakin akan mendapatkan kesempatan seperti ini di lain waktu. Jadi aku berusaha mengungkapkan keinginanku saat ini. Saat yang menurutku tepat.

“Hm?”

“Aku…. Bisakah noona menemaniku hari ini? Seharian? Anggap saja kita berkencan.”

Ups, aku langsung membungkam mulutku dengan tangan kananku. Aku yakin aku salah memilih kata. Melihat ekspresi Boram noona yang langsung berubah. Seharusnya aku tidak menyebutkan kata ‘berkencan’ padanya.

Hal lain dari sosok seorang Boram noona, jika dia menyukai seseorang, tapi orang itu bukan Yesung sunbae… yaya, dia kekasih dari Yesung sunbae. Jika orang itu bukan Yesung sunbae, dapat dipastikan itu hanya perasaan suka, kagum atau sayang terhadap saudara. Dia tipikal orang yang hanya melihat satu orang saja. Dan permintaan kencan selain dari Yesung sunbae atau keluarganya pasti ditolak.

“Jino-ya, mianhae.” Ucap Boram noona dengan raut bersalahnya.

Aku menggeleng. “Anniyo. Aku yang salah noona. Aku yang seharusnya minta maaf. Aku sudah meminta yang bukan-bukan.” Ralatku cepat.

Suasana yang ada setelah salah pemilihan kata itu menjadi tidak mengenakkan. Kami berusaha untuk senormal mungkin. Tapi baik aku maupun Boram noona tetap saja memikirkan ucapanku tadi. Sampai akhirnya kami berpisah tanpa banyak kata.

Ulang tahunku sebenarnya cukup menyenangkan. Ada banyak ucapan selamat dari sunbae-sunbae yang tahu ulang tahunku saat aku di gedung SM. Jonghyun hyung bahkan memberi aku kue sebagai hadiah. Ada juga beberapa hadiah yang dititipkan dari para fansku. Aku tidak menyangka aku masih memiliki fans padahal aku tidak punya lagi kegiatan di dunia entertaiment.

Harapanku, semoga aku bisa cepat debut kembali agar aku bisa membahagiakan orang-orang yang sudah mendukungku. Dan yah… egois memang, aku berharap bisa mendapat nilai lebih dari Boram noona.

Pukul tujuh malam aku keluar meninggalkan gedung SM untuk kembali ke tempat tinggalku. Tapi saat aku keluar gedung, aku melihat sosok yang sangat aku kenal tengah berdiri sambil menatapku.

“Noona?” Aku berjalan setengah berlari menghampiri Boram noona.

“Sudah selesai latihan? Ayo ikut.”

Belum sempat aku bertindak, Boram noona sudah menarik lenganku dan membawaku berjalan menuju  halte bis terdekat.

“Noona, kita mau kemana?” Tanyaku.

Bukannya jawaban, aku malah sebuah senyuman dari bibir Boram noona. Aku ingin bertanya lagi, menginterogasinya, tapi kemudian sebuah bis datang dan Boram noona langsung menarikku untuk masuk ke dalam. Kami berdua duduk di kursi di seberang pintu belakang bis. Tempat yang aku tahu sebagai tempat favorit Boram noona.

Saat aku bertanya lagi kemana tujuan kami, aku lagi-lagi mendapatkan senyuman sebagai jawaban. Akhirnya aku menyerah untuk bertanya dan diam saja menunggu tempat tujuan kami yang entah dimana itu.

Tempat dudukku memang tidak berdekatan dengan jendela, jadi aku tidak bisa melihat jelas jalanan. Tapi rasanya aku mengenal jalanan itu. Iya, meski sudah cukup lama, tapi aku samar ingat kalau ini jalanan menuju apartemen Boram noona. Dia mengajakku ke apartemennya kah?

Boram noona menyuruh kami untuk turun di sebuah halte. Dan dari sana aku bisa melihat gedung apartemen tempat Boram noona tinggal. Ternyata benar dia mengajakku ke apartemennya.

“Kajja!” Boram noona lagi-lagi menarik pergelangan tanganku. Dia berjalan cukup cepat dan membuatku mau tidak mau berusaha untuk mengimbangi jalannya.

Begitu semakin dekat dengan gedung apartemennya, aku tersenyum. Tapi rupanya dugaanku salah. Boram noona berjalan berbelok, bukan menuju gedung apartemennya, tapi malah menuju sebuah taman kecil yang berada di balik gedung apartemen.

“Noona, kita mau ke… mana…”

Mataku membulat begitu menangkap sebuah objek yang cukup membuatku kaget di depan sana. di salah satu sudut taman kecil yang agak gelap itu, tepanya di antara dua buah pohon,  aku bisa melihat tulisan “Saengil Chukkae Cho Jinho”.

Aku mendekati tempat itu dan mendapati sebuah kain yang sudah ditulisi dengan cat yang bisa menyala dalam gelap tergantung di antara pohon itu.

“Noona….” Aku berbalik hendak memanggil Boram noona, tapi dia sudah tidak ada di tempatnya. Aku mengedarkan pandanganku mencari sosoknya. Tapi tidak menemukannya. Aku lantas menjauh dari tempatku berdiri dan mendapati nyala terang di sisi lain taman. Aku mendekati cahaya itu dan melihat beberapa buah lilin sedang menyala, lilin itu didirikan sedemikian rupa hingga membentuk kata “I Love U my Idol”.

Aku setengah tertawa. Ya, Boram noona memang fansku. Jadi dia mengekspresikan kecintaannya padaku hanya sebagai fans. Seharusnya aku sedih, tapi aku senang mendapati ini semua. Aku istimewa bagi Boram noona, meski dalam pengertian yang berbeda dengan apa yang aku inginkan.

“Jino-ya!”

Aku mencari sumber suara dan melihat Boram noona melambaikan tangannya di bawah lampu taman.

“Noona. Ini semua noona yang menyiapkan?” Tanyaku begitu aku sudah di dekatnya.

Boram noona mengangguk.

Bukan karena aku cinta, tapi karena bahagia aku lantas memeluk Boram noona. Aku bisa merasakan keraguan sebelum kemudian Boram noona membalas pelukanku.

Yah, aku memang tidak bisa mendapatkan cinta dari Boram noona. Tapi aku istimewa baginya. Sepertinya itu cukup. Sebelum nanti aku menemukan gadis lain, aku ingin menikmati kebersamaanku dengan Boram noona.

“Kita masuk ke apartemen noona. Noona sudah siapkan makan malam khusus untukmu.” Ucap Boram noona setelah kami selesai berpelukan.

Aku mengangguk.

Aku tidak sakit hati karena aku tidak mendapatkan cinta dari Boram noona. Karena aku tahu bagaimana dia mencintai, tidak pernah berusaha menyakiti.

Aku idola, dan dia fansku. Biasanya fans yang selalu berharap menjadi kekasih dari idolanya, tapi aku kebalikannya. Walaupun kenyataannya aku gagal mendapatkan cintanya, tapi aku tetap bahagia.

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s