(Ficlet) ———–

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Song Seunghyun [FT Island]

*) Suzuki Sachiko [OC]

*) Choi Jonghoon [FT Island]

Genre : Angst, AU, OOC

Length : Ficlet [686 words]

a/n : err~  gak lagi galau ato apa sebenernya, tapi yaa.. karena seneeeeeennnnggg banget sama piku’a seungie yg itu *nunjuk piku*, ekspresi’a beneran gak nguatin >,<… berkalikali bikin ff sambil liat itu piku, yg jadi akhir’a kaya gini ==a curhat’a segitu deh, happy reading ^^

Seoul, 20-04-2012 3.47 PM

Awan kelabu menghias langit, memberi sedikit celah pada matahari untuk menerangi bumi. Di salah satu tempat, dimana tidak ada seorangpun yang terlihat selain satu orang. Seorang gadis. Gadis itu berdiri sambil menatap ke bawah dekat kakinya, dimana sebuah pusara berada, tempat orang yang sangat disayanginya beristirahat untuk selamanya.

“Gomen.” Ucap gadis itu lirih.

Cukup lama dia berdiri di tempatnya, sejak banyak orang berlalu lalang di sekitar area pemakaman hingga menyisakan dia sendirian.

Di balik kacamata hitam yang dia kenakan, tidak tampak bulir air mata yang sebenarnya ingin dia keluarkan. Rasa sakit yang teramat sangat karena kehilangan membuatnya tidak bisa mengeluarkan air matanya. Tapi dia bersyukur, setidaknya dia tidak menangis di depan orang yang selalu memintanya untuk tegar.

“Chi….”

Gadis itu menengadahkan kepalanya ke langit. Samar sebelumnya dia mendengar suara dari atas sana. suara yang sangat dia kenal. Suara orang yang seharusnya terbaring di bawah tanah di hadapannya.

“Chi….”

Kali ini panggilan itu tidak lagi samar, tapi sangat jelas di telinganya. Hanya saja suara yang didengar oleh gadis itu berbeda dengan sebelumnya. Gadis itu kemudian berbalik ke belakang.

Seorang pria tinggi dengan senyuman manis tersenyum padanya.

“Seunghyun.” Ucap gadis itu menyebutkan nama orang di depannya.

Seunghyun menggeleng, dia kemudian melangkah mendekati gadis itu. “Sachiko, jangan begini. Seunghyun sudah tiada. Dan bukan salahmu karena kau tidak bisa bersamanya di saat terakhirnya.” Ucapnya.

Sachi mengerjapkan kedua matanya, dan dia lantas menyadari sosok sebenarnya dari orang yang berada di hadapannya. “Jonghoon-san?” Sachi bertanya untuk meyakinkan dirinya.

Jonghoon mengangguk. “Ayo pergi. Kau belum istirahat sama sekali. Perjalanan dari Sapporo ke sini pasti sangat melelahkan.” Ajaknya.

“Iya. Aku masih ingin berada di sini. Aku masih merindukan Seunghyun.” Jawab Sachi sambil menggeleng.

Jonghoon menghela nafas. “Seunghyun akan marah jika melihatmu seperti ini.” Ucap Jonghoon.

Sachi lama menatap Jonghoon sebelum akhirnya menyambut tangan yang diulurkan oleh Jonghoon. Dia menoleh ke belakang, tempat Seunghyun bersemayam.

“Aishiteru~” Bisiknya.

Sapporo, 20-06-2010

“Suzuki Sachiko!” Seunghyun memanggil Sachiko dan membuat gadis yang sedang berjalan di depannya menghentikan langkahnya kemudian menoleh.

“Seung-chan.” Ucap Sachi, panggilan akrab Sachiko, dengan antusias.

“Berhenti memanggilku Seung-chan, panggil aku Seunghyun.” Kata Seunghyun dengan tampang dibuat  kesal.

Sachi tertawa. “Kapan kembali dari Seoul?” Tanyanya tanpa menghiraukan ucapan Seunghyun sebelumnya.

“Kemarin. Engg~ Sachi-ah, aku tidak bisa kembali lagi ke sini. Aku harus tinggal di Seoul setelah ini. Appa, maksudku, otoo-san menyuruhku mempelajari pekerjaan di perusahaannya. Dia memberiku waktu tiga hari untuk membereskan semua yang ada di sini.” Terang Seunghyun.

Seunghyun dapat melihat perubahan ekspresi gadis  Jepang di depannya.

“Gomen.” Ucap Sachi kemudian. Dan saat berikutnya Sachi pergi dari hadapan Seunghyun dengan berlari.

Seunghyun tidak mengejarnya, hanya memperhatikan punggung gadis yang diam-diam dia sukai itu.

 

Seoul, 20-04-2012

Jonghoon masih memperhatikan gadis di hadapannya. Ekspresi Sachi masih sama seperti saat dia menemui gadis itu di pemakaman. Terlihat tersiksa karena kehilangan Seunghyun. Jonghoon tahu gadis yang pernah sekali bertemu dengannya saat mengunjungi Seunghyun di Jepang itu memendam perasaan yang sama seperti yang Seunghyun rasakan semasa hidupnya. Tapi keduanya sama-sama tidak ingin saling menyakiti dengan mengikat diri mereka ke dalam sebuah hubungan yang sulit.

Jonghoon kemudian meninggalkan Sachi sendiri di sofa kediamannya. Dia pergi ke dapur untuk membuatkan cokelat panas untuk tamunya itu.

Tukk….

Sachi mendongak, menatap orang yang meletakkan secangkir cokelat panas di meja di depannya. “Seunghyun bilang kalau kau sangat menyukai cokelat panas.” Ucap Jonghoon sambil tersenyum.

Perlahan tapi pasti, air mata Sachi mulai merebak dan membasahi kedua kelopak matanya.  Dia kembali mengingat sosok Seunghyun di masa lalu. Saat mereka berdua sama-sama tinggal di Sapporo.

Sachi terisak hebat, dan Jonghoon memilih untuk diam-diam menjauh dari gadis itu. memberikan kesempatan pada sachi untuk menumpahkan semua kesedihan dan penyessalannya.

“Gomen ne… gomen… gomen Seunghyun… gomen….” Ucap Sachi di sela isak tangisnya.

Sapporo, same time…

Sebuah buku harian yang teronggok begitu saja di atas meja tertiup angin yang berasal dari ventilasi udara. Lembaran kertas dari buku yang sejak semula sudah terbuka itu kemudian memperlihatkan sebuah halaman yang sudah cukup lama ditulis pemiliknya.

… begitulah, sangat mudah untuk menyukai pria yang memiliki senyum manis seperti dia. Aku sangat menyukai ekspresinya itu. Semoga suatu saat nanti aku bisa mengatakan padanya kalau aku menyukai dia.

Aishiteru, Song Seunghyun saranghae…

14-06-10

 

-end-

Alasan kematian Seungie aku cerita kalo misal sempet bikin, beneran susah nemu waktu sekarang2 ini…. Itu juga kalo ada yg minta :p

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s