(Oneshot) What? Malaikat Nyata itu…

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Kevin Woo/Woo Sunghyun [U Kiss]

*) Yoo Nayeon [OC]

Genre : AU, OOC, Half Romance,

Length : Oneshot [+1800 words]

Disclaim : cuma punya cerita sama karakter para pemaen

a/n : alur cepet, berantakan, romance’a gak dapet, cuma karena pengen bilang Kevin itu ‘malaikat nyata’ aku bikin ini.. karakter juga gak kuat, info gak banyak.. adoh, ini cela semua ==a, tapi… happy reading ^^

Namanya Woo Sunghyun, tapi dia lebih dikenal sebagai Kevin Woo. Karena dia menghabiskan sebagian banyak hidupnya di negeri paman Sam, sehingga dia lebih terbiasa menggunakan nama baratnya daripada nama lahirnya. Aku menyebut dia malaikat nyata. Wajahnya yang sangat teduh dan ramah sangat sesuai dengan sifatnya yang juga bak malaikat. Sangat dan terlalu baik. Dia murah senyum dan pemaaf. Itu kesan pertama yang terlintas di benakku dan masih bertahan sampai sekarang.

Siapa aku?

Ha, aku adalah asisten dari malaikat nyata itu. namaku Yoo Nayeon. Ada masalah di keluargaku sehingga aku terdampar di kediaman keluarga Woo dan menjadi asisten putra tunggal di keluarga tersebut. Tidak! Tidak! Aku bukan pembantu, meski mungkin pekerjaanku memang bisa dikatakan pembantu. Tapi ayolah, kita pakai saja istilah asisten untuk memperhalusnya. Oke?

Kembali pada Kevin. Aku menjadi asisten dia karena  dia memang belum lama tinggal di Korea. Jadi aku bisa dibilang guide, translator, dan yang lainnya. Pokoknya aku berusaha untuk mengenalkan juga memberi pengetahuan pada Kevin tentang tempat tinggal barunya. Dan tentu saja, melaksanakan perintahnya.

Tapi aku beruntung. Kevin memang orang yang baik. Aku tidak perlu sampai menyiapkan makanan setiap dia ingin makan, aku tidak perlu direpotkan olehnya jika kadang-kadang dia ingin membeli es krim sedangkan kami sedang berada jauh dari toko es terdekat, dia bahkan tidak pernah mengganggu waktu tidurku dengan keinginannya untuk ditemani menonton film tengah malam.

Mungkin Kevin adalah satu-satunya majikan yang menganggap pegawainya adalah tamu yang harus diperlakukan dengan baik. Tapi tetap saja aku digaji oleh keluarganya dan aku merupakan seorang pegawai, jadi aku tetap memanggil Kevin dengan embel-embel tuan.

“Nayeon-ah.”

Panjang umur! Tuanku sudah memanggilku. Dia sedang menuruni tangga pualam berwarna putih. Senada dengan baju dan kulitnya.

“Ya Tuhan, dia benar-benar seperti malaikat.”

Selalu begitu, aku selalu saja merasa terpesona padanya.

Aku menggelengkan kepalaku. Menepis anggapan yang datang ke benakku. Aku harus tetap dalam keadaan sadar. “Mau berangkat sekarang Kevin-ssi?” Tanyaku yang sudah berdiri tepat di depan tangga.

Kevin mengangguk sambil tersenyum.

“Ya Tuhan, senyumannya indah sekali….”

“Nayeon-ah!”

Aku terkesiap. Ups, aku tidak sadar barusan. “Ne, Kevin-ssi?”  Tanyaku.

“Aku menyukai seorang gadis.” Ucap Kevin padaku.

Degg…

Oke, selama hampir setengah tahun aku bekerja untuk seorang Kevin Woo, aku juga sudah menjadi teman curhatnya. Dia sering sekali bercerita banyak hal tentang dirinya, tapi aku sama sekali tidak berpikir akan mendengar kalimat yang baru saja dia ucapkan.

Oh ayolah! Kalian pasti sudah menebak-nebak aku ini menyukai majikanku itu atau tidak. Dari sikapku beberapa waktu yang lalu juga kalian sudah bisa mengambil kesimpulan kan?

Aku patah hati.

“Pada siapa Kevin-ssi?” Aku sama sekali tidak ingin mengajukan pertanyaan ini. Tapi aku sangat yakin Kevin ingin aku bertanya seperti itu.

Kevin tersenyum. “Rahasia.” Ucapnya. “Nanti kau sendiri akan tahu.” Tambahnya kemudian.

“Nugu? Minji? Hara? Soyeon? Jooyeon? Jinri? Dayoung?”

Aku berusaha mencari tahu siapa kandidat yang cocok untuk disukai oleh seorang Kevin Woo. Ucapan majikanku barusan menyiratkan kalau aku sepertinya mengenal gadis itu. Tapi aku sama sekali tidak punya petunjuk dia siapa. Terlalu banyak gadis yang menyukai Kevin dan banyak juga dari mereka yang pantas untuk disukai oleh Kevin. Terlalu banyak.

Andai saja dia itu aku. Tapi TIDAK MUNGKIN.

-o0o-

Aku pulang ke rumahku, setelah hampir setengah tahun sejak aku menginjakkan kakiku di kediaman keluarga Woo aku tidak pernah pulang ke rumahku. Tidak ada satu manusia pun yang menyambut kedatanganku. Aku sudah menduganya. Makanya begitu aku tiba di rumahku, aku langsung pergi menuju kamarku dan merebahkan tubuhku di atas kasurku.

Aku ingat saat tadi pagi Kevin mengatakan padaku kalau dia menyukai seorang gadis. Aku juga masih ingat saat siangnya dia menyuruhku untuk pulang lebih dulu. Dan dia pergi bersama Han Youngra.  Ya, dengan seorang gadis cantik putri salah satu kolega bisnis tuan Woo. Gadis yang bisa dikatakan cocok untuk Kevin. Aku tahu Kevin dan Youngra berteman akrab. Tapi sikapnya tadi siang membuatku berpikir kalau dia lah gadis yang dimaksud oleh Kevin. Terlebih Kevin sempat mengedipkan sebelah matanya padaku setelah menyuruhku pulang lebih dulu. Seolah memberi isyarat padaku.

Aku benar-benar patah hati sekarang.

Aku sadar seorang pembantu sangat sulit untuk disukai majikannya. Hal-hal seperti itu hanya ada di dalam cerita dongeng. Dan rasanya sangat tidak menyenangkan jika mengingat semuanya. Aku sepertinya akan membuat surat pengunduran diri. Tidak peduli nanti appa dan eomma akan mengamuk, menganggapku bukan putri mereka lagi. Aku tidak peduli. Aku sudah tahu konsekwensi dari apa yang aku lakukan sejak aku menginjakkan kaki di kediaman keluarga Woo.

“Nnggghhh~”

Aku menggeliat. Mengerjapkan mataku berkali-kali dan mendapati sekitarku gelap. Sepertinya karena terlalu banyak berpikir aku jadi tertidur. Aku lantas bangkit dari tempat tidurku dan berjalan dengan gontai keluar kamar. Kepalaku masih sedikit pusing, aku masih belum sepenuhnya sadar.

“Yoo Nayeon!”

Mataku yang belum benar-benar terbuka menatap seorang pria paruh baya yang merupakan ayahku sedang menatap tajam ke arahku, di dekatnya ada ibuku yang juga menatapku. Keduanya sedang duduk di ruang makan, dekat dengan dapur. Aku mengabaikan keduanya dan berjalan terus menuju dapur. Aku haus.

“YOO NAYEON!”

Suara ayahku terdengar begitu menggelegar. Tapi aku sudah terbiasa dengan suara beratnya itu walaupun sudah hampir setengah tahun aku tidak mendengarnya. Jadi aku tetap mengacuhkannya dan berjalan mendekati lemari pendingin untuk mengambil minumanku.

“Nayeon-ah.”

Entah sejak kapan eomma sudah berada di sampingku. Dia menahan lenganku yang bersiap hendak minum.

“Aku haus eomma. Kalau eomma dan appa mau mengusirku, tunggu sampai aku selesai minum.” Ucapku sambil perlahan menurunkan tangan eomma dari lenganku.

“Nayeon-ah, calon mertuamu sedang melihatmu. Kau jangan membuat malu.” Bisik eomma.

“MWO? Uhukk….” Aku kaget dan langsung saja tersedak air yang baru dua teguk aku minum. Mataku langsung bergerak menuju tempat appa berada. Aku tidak melihat mereka, aku tidak melihat tiga tubuh manusia yang duduk bersebrangan dengan appa. Aku tidak melihat KELUARGA WOO sebelumnya.

“Ke…. Kevin-ssi.” Mataku terbelalak dan aku terbata menyebutkan nama pria yang sedang menutup mulutnya dengan kepalan tangan, menyembunyikan tawanya.

Aku sadar. Sepenuhnya sadar. Aku menyimpan kembali minumanku ke dalam lemari pendingin dan langsung berusaha merapikan penampilanku sebisanya.

Belum selesai dengan itu semua, eomma sudah menyeretku ke ruang makan, tempat appa dan keluarga Woo berada.

“Kevin-ssi, sedang apa di sini?” Tanyaku begitu aku duduk atas paksaan eomma, tepat di kursi di samping Kevin.

“Melamarmu.” Jawab singkat malaikat nyata di sampingku.

“MWOYA????”

“Nayeon-ah, jangan berteriak!” Suara berat appa terdengar lagi di gendang telingaku.

“Kevin-ssi, tolong jangan bercanda.” Ucapku pada Kevin dan mengacuhkan ucapan appa.

Kevin menggeleng dan dia tersenyum. Senyum yang selalu membuaiku.

Hei, dia tidak bercanda. DIA TIDAK BERCANDA! Bahkan satu set keluarga Woo sudah berada di rumahku sekarang ini. Oh Tuhan, kalau ini mimpi jangan bangunkan aku. Biarkan aku bermimpi sampai menikah dan punya anak dulu.

“Ta… tapi tapi tapi, bagaimana bisa?” Tanyaku dengan tampang bingung. Walaupun seandainya ini hanya mimpi, tetap saja aku ingin tahu alasan mengapa seorang Kevon Woo, sang malaikat nyata, bisa tiba-tiba melamarku.

“Heheh….” Orang yang aku tanya malah tertawa, bukannya menjawab pertanyaanku. “Kau memang sudah jadi tunanganku sejak lama Nayeon-ah. Ingat?” Tanyanya dengan tatapan yang sulit diartikan, tapi jelas dia memintaku untuk berusaha mengingat.

Tanpa memerlukan sebuah cermin pun aku tahu wajahku ini tidak karuan. Mataku membulat, mulutku menganga dan jari telunjukku mengarah ke arah orang yang mengaku tunanganku. “Neo….”

Aku tidak melanjutkan ucapanku saat melihat Kevin mengangguk, seolah tahu apa yang akan aku ucapkan. Kepala dan tubuhku langsung saja berbalik menghadap ke arah kedua orang tuaku. “APPA! EOMMA! KALIANNN….”

“Sudah appa bilang, jangan berteriak!” Perintah appa.

Ya Tuhan, bunuh saja aku kalau begini caranya.

-o0o-

“Kevin-ssi….” Aku memanggil pria yang kini sedang duduk di sampingku. Aku dan dia sudah berpindah tempat dari ruang makan ke taman belakang rumahku. Aku memang butuh bicara berdua dengannya.

“Panggil aku oppa, oke?” Belum sempat aku mengucapkan kalimat yang siap jadi sebuah pertanyaan, ucapanku sudah dipotong.

Wajahku memanas saat mata kami bertemu. Aku tidak pernah berkhayal sekalipun aku mengucapkan panggilan seakrab itu pada pria yang sudah aku sukai lewat empat bulan terakhir itu. “Baiklah, Kevin op…. Aish, Kevin-ssi, aku belum bisa memanggilmu dengan panggilan lain.” Keluhku saat lidahku terasa kaku saat akan mengucapkan kata ‘oppa’ di belakang nama calon mantan majikanku. “Maaf sudah menolak perjodohan kita sebelum aku mengenal siapa calon yang dijodohkan denganku. Tapi bagaimana bisa ini terjadi?” Tanyaku.

Sebelumnya, sebaiknya aku ceritakan dulu kronologisnya bagaimana aku sudah ditunangkan dengan pria yang ternyata Kevin Woo itu. Awalnya aku sama sekali tidak tahu apa-apa. Aku hanya pelajar biasa di sekolah biasa. Aku dari keluarga yang bisa dikatakan setara dengan keluarga Woo. Dididik untuk menjadi penerus perusahaan milik appa nanti, tapi aku sama sekali tidak tertarik dengan bisnis. Aku lebih tertarik dengan ilmu psikologi, dan aku bersikeras akan masuk kuliah dengan jurusan yang aku inginkan daripada mengikuti perintah appa.

Dari sanalah appa memberiku syarat, aku boleh memilih jurusan psikologi tapi aku HARUS menikah dengan pria yang dipilihkan oleh appa. Pria yang memang memiliki latar belakang dunia bisnis, atau sedang menggeluti ilmu bisnis. Entah, aku sama sekali tidak peduli.

Aku tipe pemberontak yang egois. Aku tidak ingin meneruskan bisnis ayahku, juga tidak ingin menikah dengan pria yang dipilihkan ayahku. Akhirnya aku kabur dari rumah dan bertemu dengan keluarga Woo di bandara. Aku rencananya mau kabur ke rumah temanku yang ada di Jepang tapi ternyata bekal tunaiku, non tunai sudah tidak bisa lagi diakses olehku, berpindah tangan ke tangan pencuri. Dan di sanalah aku ditolong oleh keluarga Woo yang baru kembali dari Amerika. Mereka memberiku pekerjaan sebagai asisten Kevin sampai aku tahu kenyataannya sekarang ini.

“Kalian semua mengerjaiku?” Aku bertanya lagi, pertanyaan yang sangat aku tidak ingin sekaligus sangat ingin aku dengar.

Kevin menggeleng. “Aku sama sekali tidak mengenalmu saat pertama kali bertemu. Aku tahu aboji memang berniat menjodohkan aku dengan seseorang, tapi dia bahkan masih belum tahu wajah calon menantunya. Beliau menyuruhku kembali ke Korea untuk mempertemukan kita. Dan kejadian di bandara itu sama sekali tidak dirancang.” Terang Kevin. “Aboji lantas tahu identitasmu, tapi dia sama sekali tidak memberitahuku dan mengatakan kalau yeoja yang akan dijodohkan denganku sedang menghilang sementara. Tiga hari yang lalu aku bicara pada aboji kalau aku menolak pertunangan itu karena aku menyukai yeoja lain. Dan tiga hari yang lalu aku baru tahu kalau kau adalah calon tunanganku sekaligus orang yang aku sukai.”

Butuh waktu cukup cukup cukup lama untuk aku bisa mencerna kalimat terakhir yang diucapkan oleh Kevin.

“MWOYA???” Aku langsung berteriak begitu otakku selesai mencerna kalimat terakhir itu.

Aku melihat Kevin menutup sebelah telinganya, yang posisinya paling dekat denganku. “Kau ternyata hobi sekali berteriak ya? Aku sama sekali tidak menyangka.” Komentar Kevin yang sukses membuatku bungkam dengan penuh rasa malu. “Mungkin kita memang sudah ditakdirkan bersama. Walaupun kau berusaha untuk kabur, pada akhirnya kita tetap bertemu kan?” Ucapnya sambil mengerlingkan matanya.

Aku akui, aku tidak sanggup lagi. Aku sepertinya akan meleleh saking suhu pipiku yang semakin memanas, panasnya bahkan merambat ke bagian tubuhku yang lain. Malaikat nyata di sampingku ini bisa juga ternyata seperti setan kecil. Aku bahkan sulit untuk berpikir dengan benar.

“Jadi, kau mau kan melanjutkan perjodohan yang tertunda ini?” Tanya Kevin dengan serius.

DIA TAMPAN, sangat tampan >,<

Aku menggaruk tengkukku, masih belum bisa mengatur pita suaraku untuk bisa mengeluarkan suara.

-end-

 

Komen penting banget buat aye, tapi gak pernah maksa buat komen kok…

-chii-

Advertisements

3 responses »

  1. biar aku lanjutkan kalimat Nayeon yang terakhir eon,

    “MAU LAAAH! MAU!! KALO PERLU, AYO KITA NIKAH SEKARANG BANG!!” ( ื▿ ืʃƪ) /kemudian ditajong/

    eon ya ampuun, aku kira eon bakalan bikin ff dengan cast kiseop. tapi ternyata… aaa aku maluuu, udah 2x aku dibikinin ff sama eon >< harus dengan cara apa aku membalasnya? ;~; *sedot ingus*
    itu lagiii kondisinya Nayeon kok sama persis kayak aku sekarang sih?? ah onnieee, you know me so well lah pokona mah. tau aja eon si papah meragukan aku buat masuk jurusan psikologi hiks ///<
    aaa komen apa lagi yaa??? terlalu kebawa seneng ini teh XDDD
    ah udahlah pokona mah SUKA SUKA SUKAAA banget sama ff ini ♥
    big thanks deh buat Asty onnie {} (˘⌣˘)ε˘`) *cium kiseop* /eh /duagh

    • dita riweuh *tendang k’kmar dongho
      eh?
      wkwk~ gara2 liat muka kev yg bener2 gak punya tampang jahat.. jadi ueh bikin..
      haha~ cuma pan yg onn tau yg cintaaa sama kepin teh da kamu.. jadi mau gak mau itu teh kamu yg jadi cast cw na /plakk
      tapi aslinya gak sesuai harapan itu teh, pengen’a maa yg bagus.. pengen nyiksa nayeon jadi PEMBANTU dulu sebelom happy end
      tapi pengen cepet beres juga, jadi’a ueh seadanya..
      wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s