[Ficlet] And I Fall in Love

Standard

Cast :

*) Song Hye Sang [OC]

*) Lee Jaejin [FT Island]

Genre : AU, OOC, Romance

Length : Ficlet

Rate : Teen Age

Disclaim : Jaejin dan Hye Sang dikontrak tanpa ijin oleh saia :p *kidding* just own, story and cover

a/n : beberapa menit yang lalu, aku nemu piku jeje, terpesona, dan langsung bikin ini.. maaf kalo pendek, soal’a dadakan dan seadanya.. happy reading ^^

Aku memang mengaguminya, sejak pertama kali aku duduk berdampingan dengannya di perpustakaan, aku merasa kalau dia adalah orang yang menarik. Tapi aku tidak pernah menyangka, aku akan begitu terpesona padanya seperti saat ini. Saat melihat senyumannya, aku merasa aku mulai jatuh cinta.

Namaku Song Hye Sang, saat ini aku baru saja menjadi seorang mahasiswi di salah satu universitas di kota Seoul. Aku… sedang jatuh cinta.

Nama pria itu Lee Jaejin. Pertama kali aku melihatnya saat aku kelas dua SMA. Saat itu aku sedang pergi ke perpustakaan kampus dimana Lee Jaejin kuliah. Dia, tiga tahun lebih tua dariku. Pertama kali bertemu dengannya, aku merasa kalau dia orang yang menarik. Aku yang kala itu masih takut dan gugup karena ada beberapa mahasiswa di sana memperhatikan aku. Mungkin karena aku yang menggunakan seragam sekolah. Dan Lee Jaejin, dengan senyuman manisnya membuatku merasa nyaman. Lee Jaejin duduk di sampingku, menggunakan kacamata yang sangat pas dengan bentuk wajahnya, terlihat begitu serius dari samping. Dan… tampan.

Aku beberapa kali datang ke perpustakaan kampusnya karena memang tugas-tugasku memerlukan banyak data yang tidak tersedia di perpustakaan sekolahku, terlebih saat aku menginjak kelas tiga. Beberapa kali aku melihatnya di perpustakaan, di tempat yang sama. Seolah menjelaskan kalau salah satu tempat duduk di perpustakaan itu adalah miliknya.

Salah satunya, karena aku memang merasa tertarik padanya. Alasan yang lain, karena kebetulan itu selalu ada. Selalu saja tempat duduk di samping tempat Lee Jaejin itu kosong, seolah mempersilakan aku untuk menempati tempat duduk itu.

Lee Jaejin tidak banyak bicara, tapi dia selalu memberikan senyuman manisnya padaku saat tidak sengaja dia menoleh padaku.

***

Dan sekarang dia di hadapanku. Menjadi seseorang yang berbeda, yang tidak pernah aku sangka. Bersama empat temannya yang lain dia berada di panggung di depanku. Di hari penutupan acara penyambutan mahasiswa baru. Aku tidak pernah menduga dia akan datang ke kampusku, dengan status salah satu band bintang tamu. Aku tidak pernah menyangka dia bisa begitu sangat mempesona dengan gitar bass di tangannya. Aku terpesona. Perasaan aneh itu muncul dan meletup-letup.

Aku ingin berteriak dan memanggil namanya, pria yang hampir dua tahun aku kenal tapi baru saat tadi aku tahu namanya, Lee Jaejin.

Si pria yang memiliki senyuman sangat manis. Dia yang duduk di kursi setelah bernyanyi bersama keempat rekannya. Dia yang memakai kemeja berwarna merah kotak-kotak. Dia, membuatku jatuh cinta.

“LEE JAEJIIIINNNN…!!!!!!”

Aku tidak bisa menahan diri. Aku berteriak sekencangnya. Memanggil namanya. Tidak peduli kemudian banyak pasang mata melihatku. Oh ya, aku berteriak tepat sesaat setelah tepuk tangan untuk performa band di depanku baru saja berhenti.

Seperti yang aku bilang tadi, aku tidak peduli. Mataku hanya tertuju pada sosok yang terlihat kaget mendengar teriakanku. Dia balas menatapku, si peneriak namanya. Dan entah, otakku sama sekali tidak bisa bekerja dengan baik. Yang bisa tertangkap oleh inderaku adalah Lee Jaejin tersenyum padaku, dia kemudian menyimpan gitar bassnya dan melompat dari panggung.

“Kau yang beberapa bulan kemarin sering datang ke perpustakaan kampusku kan?” Dia bertanya. Tepat di hadapanku, hanya berjarak beberapa sentimeter.

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Berusaha berkonsentrasi dan mengembalikan kinerja otakku. “D… de.” Ucapku kemudian sambil menunduk. Wajahku memanas. Rasa malu yang sebelumnya aku lupakan sekarang menyeruak. Seolah menuntutku untuk pergi sejauh mungkin, membuat lubang yang dalam dan mengubur diriku sendiri.

“Kau sudah tahu namaku, boleh aku tahu siapa namamu?” Dia bertanya lagi.

Demi apapun di dunia ini, aku sama sekali tidak menyangka kalimat itu akan meluncur dari bibir seorang Lee Jaejin, kalimat yang ditujukan padaku.

Aku mendongak, melihat dia yang tengah tersenyum dengan mata seolah menuntut jawaban. “Song Hye Sang.” Ucapku hampir menjadi sebuah bisikan. Tenagaku menghilang entah kemana. Aku ambruk kemudian.

“Hyung, aku urus yeoja ini dulu ya.”

Aku mendengarnya. Suara Lee Jaejin yang setengah berteriak. Belum sempat aku berpikir hal apapun. Sebuah tangan langsung menarik pergelangan tanganku. Aku bangkit dan terpaksa berlari karena tarikan dari tangan di lenganku.

“Hhh.. Hhh…”

Aku terengah, tidak menghitung seberapa jauh aku dipaksa berlari. Yang sekarang aku sadari adalah aku sekarang berada di pinggir jalan. Dengan Lee Jaejin, si penculik.

“Aku tidak terlalu suka dengan suasana ramai tadi.” Terangnya. Aku kembali mendongak, menatap wajahnya yang berkeringat karena perform di panggung tadi ditambah lari. “Sudah cukup lama aku penasaran dengan yeoja berseragam yang sering duduk di sampingku, tapi nyaliku belum cukup untuk bisa membuatku menyapanya secara langsung.” Dia berucap lagi. “Dan tadi, aku sudah mendapatkan kesempatan. Meski nyaliku masih belum cukup, tapi aku  tidak ingin menyia-nyiakannya. Boleh kita berteman?” Tanyanya.

Aku tersenyum. Sisi lain dari seorang Lee Jaejin bisa aku lihat sendiri sekarang. Dia yang menggaruk tengkuknya dan terlihat salah tingkah, dengan telinga berubah warna. Dia lucu sekali.

Aku mengangguk. “Tentu saja! Aku juga ingin berteman.” Ucapku.

Tertawa, itu yang kami lakukan kemudian.

4 Month Later

“Hye jagi!”

Aku membalikkan tubuhku. Melihat sosok pria berkemeja merah kotak-kotak tengah melambaikan tangannya sambil berlari ke arahku. Aku sangat suka saat dia mengenakan kemeja itu. Membuatku mengingat hari perkenalan pertama kami.

“Lama menunggu?” Dia bertanya begitu berdiri tepat di depanku.

Aku menggeleng.

Chu….

Sebuah kecupan di pipiku membuatku sedikit kaget. Dan belum sempat aku bereaksi, tanganku sudah digenggamnya dan ditarik. “Kajja, oppa tidak ingin tiket filmnya kehabisan.”

Kami berjalan menuju bioskop, berkencan seperti yang dilakukan banyak pasangan. Menyenangkan sekali. Dan aku kadang masih berpikir kalau yang terjadi padaku adalah sebuah mimpi, terlalu indah. Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya, dan cinta itu berjalan dengan sangat baik. Seperti mimpi kan?

-end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s