[Oneshot] Mr Cold Heart

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Eli/Kim Kyoung Jae [U Kiss]

*) Han In Young [OC]

Other Cast :

*) Lee Kiseop [U Kiss]

Genre : AU, Angst(?), OOC

Length : – 2000 words

a/n : Yak! Bingung ini Eli yg baik jadi kaya gini, ah entah lah.. tapi aku mikir dia cocok juga buat dapet peran kaya gini, lalala~ ah iya! Ini aku bikin tamat, tapi mungkin bisa dilanjut, tergantung beberapa hal, xoxo..  happy reading^^

 “Kim Kyoung Jae..!!!”

Pria yang bernama Kim Kyoung Jae, yang sedang berjalan di koridor sekolah kemudian menoleh. Ekspresinya terlihat mengejek melihat siapa perempuan yang memanggil namanya. Dan detik berikutnya dia kembali melanjutkan perjalanannya.

“Kyoung Jae, bisakah kau berhenti?” Tanya suara di belakang Kyoung Jae.

Kyoung Jae kemudian menghentikan langkahnya, hanya sebentar. Dia tidak punya waktu untuk melayani gadis yang dia tahu sebagai teman satu angkatan di kelas 3 SMA itu, tapi Kyoung Jae tidak tahu nama gadis itu. Tepatnya dia tidak berniat untuk tahu juga mengingatnya.

Kim Kyoung Jae, pria tampan yang merupakan satu dari sedikit pria idola di sekolah. Dia merupakan putra tunggal di keluarganya dan sangat dimanja sejak kecil. Ayahnya salah satu dari sepuluh pemilik saham terbesar di salah satu perusahaan elektronik terbesar di Korea Selatan, juga salah satu penyumbang dana di sekolahnya sekarang. Kyoung Jae juga cerdas, selalu berada di lima besar siswa terbaik di sekolah.

Tampan, selalu diperlakukan bak pangeran, pintar dan kaya membuat Kyoung Jae menjadi seorang yang agak menyebalkan. Dia sulit berteman dengan orang lain. Terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Terkadang tidak bisa menghargai orang lain, terlebih yang tidak satu derajat dengan dirinya. Dan dia tidak suka pada orang yang sok akrab.

Dan Kyoung Jae menganggap gadis yang berada di belakangnya adalah parasit. Orang yang selalu mengganggunya, menghampiri dan juga mengajaknya bicara sejak kelas satu. Padahal jelas-jelas Kyoung Jae menolak kehadiran gadis itu.

“Eli, apa tidak masalah? Dia itu sepertinya cintaaaaa sekali padamu.” Tanya Lee Kiseop, salah satu teman ‘sekelas’ Kyoung Jae. Dia tak sengaja berpapasan dengan Kyoung Jae dan kemudian berjalan beriringan.

Gadis yang menjadi objek pembicaraan Kiseop itu tengah menatap punggung Kyoung Jae tanpa berniat mengikuti pria itu.

Elison Kim, nama barat yang dipakai oleh Kyoung Jae. Dan Kyoung Jae lebih menyukai nama itu daripada nama Koreanya. Karenanya, hanya sedikit orang yang memanggilnya dengan nama Koreanya. Bahkan beberapa guru memanggilnya dengan Eli bukan Kyoung Jae.

“Tskk.. kalau kau mau dia, ambil saja. Aku bahkan tidak tahu nama gadis tidak jelas itu.” Jawab Kyoung Jae sinis.

“Aigoo~ kau ini tidak bisa lebih lembut sedikit apa? Aku memang menyukai dia. Dia terlihat cantik dan tubuhnya juga tidak jelek. Tapi cukup tahu diri untuk tidak menggoda cucu dari pemilik sekolah ini.” Ucap Kiseop.

“Mwo?”Kyoung Jae terlihat kaget mendengar status dari gadis parasitnya. “Cucu pemilik sekolah ini? Kau bercanda.” Ucapnya sambil setengah tertawa seolah yang diucapkan Kiseop adalah lelucon. Tapi melihat Kiseop mengangguk mantap, Kyoung Jae pun berhenti tertawa. “Aku tidak pernah melihat gadis itu di setiap pertemuan keluarga petinggi sekolah ini.” Lanjutnya.

Kiseop balik memperlihatkan tampang kaget. “Kau tidak tahu? Sudah dua tahun dia mengejarmu dan kau tidak tahu apapun tentang dia?” Kiseop balik bertanya.

“Sudah kubilang bahkan aku tidak tahu siapa namanya.” Jawab Kyoung Jae.

Kali ini Kiseop tersenyum. “Aigoo~ tidak pernahkah kau ingin tahu siapa saja orang yang selalu bersaing denganmu untuk mendapatkan peringkat atas di sekolah? Gadis itu salah satunya.” Ucap Kiseop.

Kali ini giliran Kyoung Jae yang tersenyum. “Aku tidak pernah peduli. Menjadi yang terbaik bukan segalanya bagiku.” Ucapnya terdengar sombong.

“Kuberi tahu ya, namanya Han In Young. Dia cucu yang baru diakui oleh Shin-nim, itu alasan kenapa dia tidak pernah kau lihat di pertemuan keluarga petinggi sekolah. Pernikahan orang tuanya tidak mendapat restu dari Shin-nim. Tapi saat ibu In Young meninggal, Shin-nim mulai memperhatikan In Young karena dia sangat mirip dengan putrinya. Sayangnya, In Young menolak untuk tinggal bersama kakeknya walaupun sudah dipaksa. Dan sebagai kompensasi karena tidak ingin tinggal serumah, dia harus sekolah di sini.” Cerita Kiseop panjang lebar.

“Ha. Untuk apa kau cerita semua padaku? Sudah kubilang aku tidak peduli pada gadis itu, sama sekali.” Tanya Kyoung Jae dengan tampang angkuhnya.

“Mungkin saja kau nanti tertarik.” Jawab Kiseop pendek. Kiseop kemudian mengalihkan pandangannya ke depan. “Aku pergi.” Pamitnya pada Kyoung Jae kemudian berjalan mendahului Kyoung Jae dan memanggil seseorang. “Jin Ae..!”

Kyoung Jae memikirkan ucapan Kiseop sepanjang perjalanannya menuju parkiran, tempat supir pribadinya menunggu untuk membawanya pulang. Tapi kemudian Kyoung Jae menggeleng. “Untuk apa aku memikirkan gadis itu.” Ucapnya sendiri.

Supir pribadi Kyoung Jae langsung membukakan pintu belakang mobilnya begitu melihat Kyoung Jae mendekat. Dia berdiri menunduk di depan pintu yang terbuka, menunggu sang majikan untuk masuk ke dalam mobil.

“Aku akan menyetir sendiri. Kau langsung pulang saja.” Ucap Kyoung Jae tanpa menatap supirnya. Dia kemudian duduk di kursi kemudi, setelah melihat pintu belakang -yang tadi dibuka sang supir- sudah tertutup, dia pun melajukan mobilnya menuju jalanan. Ada sekitar sepuluh meter dari tempatnya parkir, Kyoung Jae melihat lewat kaca spion supirnya tengah mengejarnya. Mata Kyoung Jae kemudian terarah pada sebuah dompet yang tergeletak di dashboard mobil. Kyoung Jae membuka sedikit jendela mobilnya, mengambil dompet itu, lalu melemparkan dompet itu ke jalan dan tanpa menghentikan laju mobilnya. Dari spion, Kyoung Jae melihat sang supir memungut dompetnya itu.

Saat mata Kyoung Jae kembali melihat ke depan, dalam hitungan detik dia langsung menginjak pedal rem mobilnya penuh. Kyoung Jae membuka lebar jendela mobilnya. “YA! KAU MAU MATI HUH..??” Teriak Kyoung Jae sambil melongokkan kepalanya keluar pada seseorang yang tengah tersungkur di depan mulut mobil. “Cepat menyingkir!” Perintahnya sambil menekan klakson berkali-kali.

Melihat sama sekali tak ada reaksi dari seseorang di depan mobilnya, Kyoung Jae kemudian keluar dari mobilnya dan menghampiri orang itu. “Kau… Han In Young ternyata.” Ucapnya Kyoung Jae sinis saat melihat wajah orang yang hampir tertabrak olehnya. “Ya, ireona! Aku mau pulang sekarang.” Perintahnya. Tapi In Young tetap diam di tempat. Kyoung Jae menghampiri In Young dan menarik lengannya agar bangun. “Kubilang kau bang.. un….”

Bicara Kyoung Jae tertahan begitu melihat ada darah di lutut In Young saat gadis itu sudah berdiri. Ternyata Kyoung Jae tidak hampir menabrak, tapi memang menabrak gadis itu. Tak lama kemudian Kyoung Jae mengambil dompet di dalam sakunya, mengambil beberapa lembar uang, cukup banyak, dan menyodorkannya pada In Young. “Kau, pergi ke klinik sendiri.” Ucapnya dingin.

In Young diam, tidak menerima uang yang disodorkan Kyoung Jae. Dia menunduk, dan Kyoung Jae melihat ada aliran air di pipi mulus In Young.

“Ya! Aku menabrakmu pelan. Kau tidak perlu menangis seperti itu!” Ucap Kyoung Jae kesal.

“Aku menyukaimu Kim Kyoung Jae.” Ucap In Young lirih di sela tangisnya. Dia kemudian mendongak. “Aku mencintaimu. Aku mencintai orang yang congkak, tidak punya perasaan, dan jahat sepertimu. Berulang kali aku berusaha untuk berhenti menyukaimu, tapi aku tidak bisa.” In Young terisak makin hebat. “Aku harus bagaimana Kim Kyoung Jae? Aku harus bagaimana?” Tanyanya sambil menatap ke manik mata Kyoung Jae.

Kyoung Jae kemudian mendekati In Young, meniadakan jarak di antara keduanya. Dia kemudian menunduk, wajahnya mendekat ke wajah In Young, membuat gadis itu membeku bahkan berhenti menangis. “Enyah dari hadapanku, selamanya.” Bisik Kyoung Jae dingin tepat di telinga In Young.

Tubuh In Young bergetar, tapi Kyoung Jae mengacuhkannya. Dia melemparkan uang yang dipegangnya kemudian berbalik menuju mobilnya. Kyoung Jae memundurkan mobilnya, kemudian kembali melajukan mobilnya. Melewati In Young yang masih berdiri di tempat tadi.

“Kau dengar? Han In Young kelas 3-B meninggal dunia kemarin?”

“Jeongmal? Wae?”

“Katanya kecelakaan. Dia meninggal di depan mata ayahnya sendiri.”

“Eh, bagaimana bisa?”

“Katanya dia tertimpa beton yang jatuh di tempat kerja ayahnya setelah pulang sekolah.”

“Mengerikan, kasihan sekali dia. Padahal baru dua tahun setengah ini dia diakui cucu oleh pemilik sekolah ini.”

“Ah iya, nanti kita dibebaskan dari pelajaran pertama. Semuanya berkumpul di aula untuk berdoa untuknya.”

Kyoung Jae langsung menghentikan langkahnya setelah cukup lama mencuri dengar dari dua orang gadis yang sedang berjalan di depannya. Berusaha mencerna setiap kalimat yang tadi didengarnya. Han In Young, gadis yang selalu dia anggap parasit di sekolah itu sudah meninggal. Dia memaksakan diri untuk tersenyum, walaupun senyumannya terlihat aneh.

“Enyah dari hadapanku, selamanya.”

Kalimat pertama setelah Kyoung Jae tahu nama gadis itu, langsung jadi kenyataan.

“Eh, itu Eli! Aku melihat kemarin dia menabrak In Young. Dan dia melemparkan uang pada In Young sebelum meninggalkannya.”

“Bukannya sejak In Young pindah ke sekolah ini saat kelas satu dia selalu mengejar Kyoung Jae?”

“Wah.. malang sekali si In Young itu. Mati setelah direndahkan oleh anak sombong seperti Kyoung Jae.”

Kyoung Jae menoleh pada dua gadis dan satu pria yang sedang membicarakan dia sambil menatapnya. Ketiga orang yang juga satu angkatan dengan Kyoung Jae itu tidak berusaha untuk mengecilkan suaranya, ketiganya malah sengaja membesarkan suara mereka agar Kyoung Jae mendengarnya dengan jelas.

Kyoung Jae menatap tiga orang itu dengan sinis, dia kemudian berjalan lagi menuju kelasnya.

Saat melewati kelas 3-B, suara isakan terdengar oleh telinga Kyoung Jae. Tidak hanya dari satu sumber, tapi cukup banyak suara tangis, walau semuanya terdengar dari perempuan. Mata Kyoung Jae melirik ke dalam kelas. Sebuah vas bunga diletakkan di atas salah satu meja kedua dari depan, meja In Young.

Beberapa murid kelas 3-B yang melihat Kyoung Jae, yang tidak sedang menangis, langsung saling berbisik.

Merasa risih, Kyoung Jae pun melanjutkan langkahnya menuju kelas 3-A, kelasnya.

“Ya, bagaimana perasaanmu?”

Kiseop langsung menghampiri bangku Kyoung Jae begitu temannya itu duduk.

Kyoung Jae menyampirkan tasnya di samping meja. “Bagaimana apanya?” Tanya Kyoung Jae acuh.

“Kau sudah dengar kan kalau In Young meninggal?” Tanya Kiseop dengan tampang seriusnya.

“Lantas?” Kyoung Jae balik bertanya tetap dengan acuhnya.

“Aish, kau ini benar-benar tidak berperasaan. Masa dia tidak memiliki nilai lebih di matamu setelah kau tahu dia itu siapa?”

Kyoung Jae menggeleng. “Dia tetap saja parasit bagiku, walaupun dia adalah cucu pemilik sekolah ini.” Jawabnya dingin.

Kiseop menggeleng heran dengan temannya yang satu itu. Dia mengenal Kyoung Jae sejak SMP, dan dia tahu sifat Kyoung Jae itu bisa dibilang buruk. Tapi dia tidak pernah menganggap Kyoung Jae seburuk itu. Kiseop menganggap sifat Kyoung Jae tercipta karena lingkungannya, dan yakin temannya itu masih punya sisi baik, meski tertutup sifat buruknya. “Apa kau belum pernah merasa kehilangan? Walaupun dia memang parasit menurutmu, tapi apa kau tidak merasa sedikitpun kasihan padanya?” Tanyanya, ada nada mengintimidasi di kalimatnya. Dia merasa kesal dengan reaksi Kyoung Jae.

“Kenapa kau jadi seperti kebanyakan orang? Seolah aku ini penyebab kematian In Young itu.” Kyoung Jae menatap Kiseop. Dingin. Tak berekspresi.

Kiseop bangkit dari tempat duduknya. “Aku kecewa. Nanti, saat kau merasakan kehilangan, kau akan menyesal dan merasa bersalah pada In Young.” Ucapnya kemudian pergi. Kiseop berbalik setelah beberapa langkah. “Kau tidak perlu ke aula. Aku rasa, ada dan tidak ada kau sama saja. Bahkan lebih bagus bagi In Young tidak didatangi orang sepertimu.” Ucapnya.

Kyoung Jae tersenyum mengejek. “Bagus. Aku juga tidak berniat untuk pergi.” Ucapnya.

Kiseop terlihat makin kesal pada temannya itu dan buru-buru pergi.

Kyoung Jae hanya diam di bangkunya saat semua penghuni sekolah berkumpul di aula untuk memberikan doanya. Dia benar-benar tidak merasa tertarik.

“Kehilangan? Aku tidak pernah mau lagi merasakan hal seperti itu.” Ucapnya pada dirinya sendiri saat mengingat ucapan Kiseop sebelumnya.

Cukup lama hanya berdiam, Kyoung Jae mulai merasa bosan. Dia mengambil PSPnya, tapi baru saja menyalakannya, Kyoung Jae mematikannya lagi. Dia malas bermain game. Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari kelasnya, sekedar jalan-jalan.

Saat melewati kelas 3-B yang kosong, Kyoung Jae masuk ke dalam kelas itu. Dia mendekati bangku In Young. Berbeda dengan tadi pagi yang hanya ada satu vas bunga, bangku itu kini penuh dengan buket bunga. Ada beberapa surat juga di kolong mejanya. Saat melihat papan tulis, Kyoung Jae melihat kata-kata yang ditulis oleh teman sekelas In Young. Banyak kata ‘kami mencintaimu’, ‘kami menyayangimu’ dan ‘terima kasih’ di sana.

Sejenak Kyoung Jae berpikir seperti apa gadis yang sering membuntutinya itu, hingga bisa mendapat cinta yang besar dari teman-temannya. Tapi Kyoung Jae buru-buru mengusir pikiran itu. Dan langsung pergi dari kelas.

“Akhirnya kau benar-benar pergi dari kehidupanku. Satu parasit menghilang.” Ucap Kyoung Jae pelan ketika melihat bangku In Young dari luar kelas untuk terakhir kalinya.

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s