[LeeSongLee] Finding Her

Standard

Autho : Asuchi

Cast :

*) Lee Junki [Aktor]

*)  Song Joongki [Aktor]

*) Lee Jinki [SHINee]

*) a Woman [OC]

Genre : Ditentuin entar /plakk

Disclaim : LeeSongLee punya aku *ditempeleng* cerita punya aku, bikinan aku yang bahkan aku gak tau mau dibikin kaya gimana entar =___=” ada beberapa scene yg mirip sama di film tapi itu murni buat kepentingan ini ff :p

a/n : oke! Setelah sekian lama pengen ngebet bikin LeeSongLee story, udah dirombak banyak kali. Udah dipikir sampe ngebul tetep aja gak kesampean. Mungkin cerita gk bakal dilanjut aka ngegantung kaya gini aja, terserah akuh /plakk… tapi sedikit plot udah nyangkut di otak sih :p jadi aku sendiri pengen berdoa aku nemu cara buat bisa lanjutin ini cerita, haha.. happy reading ^^

 

Lee Junki [31]

Sembilan tahun hidupnya dia habiskan untuk menjadi agen rahasia FBI. Tapi dalam satu kasus dia dianggap telah meninggal dunia. Junki tidak pernah memberi tahu kalau dia masih hidup. Dia lantas membeli identitas dari seseorang yang memiliki nama yang sama dengannya. Dan dia hidup sebagai Lee Junki yang lain. Tabungan miliknya cukup untuk membangun sebuah bisnis di dunia hiburan malam. Dia menjadi seorang pemilik bar yang cukup sukses selama setengah tahun terakhir.

Song Joongki [26]

Pria tampan, kaya dan nyaris sempurna di mata wanita. Dia merupakan pegawai swasta biasa di perusahaan telekomunikasi. Tapi sejatinya dia adalah pewaris tunggal keluarga Song yang memiliki usaha di bidang kuliner sejak lima generasi yang lalu. Siang dia bisa menjadi seorang pegawai yang sangat baik. Tapi jika malam tiba, dia bertranformasi menjadi pria yang hobi berlalu lalang di klub malam. Sifatnya narsis dan sangat menyukai perempuan berambut hitam panjang. Terkesan seperti seorang stalker jika sudah menentukan targetnya.

Lee Jinki [22]

Pria tampan manis yang sangat pintar. Dia memiliki prestasi yang bisa dia banggakan. IQ yang dia miliki dapat dikatakan mendekati jenius. Pria yang menghidupi dirinya dari kerja paruh waktu dan menjalani kuliah dengan modal beasiswa. Terkesan polos namun kadang pikirannya itu terlalu picik.

Finding Her

“Katakan dimana dia!”

Suara keras dari seorang perempuan itu mampu mengalahkan dentuman keras dari musik di bawah sana. Perempuan berambut hitam panjang itu sedang berada di ruangan dimana Junki berada, di ruangan pribadinya. Perempuan itu menatap Junki, ada amarah di sana. Tapi juga ada emosi lain yang terpancar di mata cokelat perempuan itu. keputusasaan. Dan keputusasaan itu makin terlihat jelas saat Junki tetap diam, sama sekali tidak menjawab pertanyaan perempuan itu.

Brukkk….

Perempuan itu terduduk di tempatnya berdiri. Perlahan tapi pasti air mata keluar dari mata perempuan itu, makin menjelaskan keputusasaan yang dirasakannya. “Jebal, katakan dimana dia sekarang.” Kali ini dia bicara dengan nada memohon.

Junki menarik nafas panjang kemudian berdiri dari tempat duduk nyamannya. Dia berjongkok di depan perempuan itu sambil mengulurkan tangannya. “Aku bukan Lee Junki yang kau cari. Aku tidak kenal pria yang bernama Kim Heechul itu.” Terang Junki masih mengulurkan tangannya. Menunggu perempuan di depannya itu mau menerima uluran tangannya dan berdiri.

Kepala perempuan itu bergerak, menatap Junki yang kini berada di jarak yang cukup dekat dengannya. “Bagaimana bisa kau mengatakan tidak mengenal Kim Heechul? Hanya ada satu Lee Junki yang berhubungan dengannya, dan itu kau.” Katanya.

“Agasshi, sudah kubilang aku bukanlah Junki yang kau maksud. Mengertilah, sekarang  ayo berdiri. Aku akan mengantarmu pulang.” Kata Junki sambil menarik lengan perempuan itu.

Perempuan itu menepis tangan Junki di tangannya dan berdiri sendiri. “Aku akan datang lagi sampai kau mengatakan dimana dia.” Ucap perempuan itu dengan amarah yang kembali terlihat. Setelah mengucapkan kalimat itu, perempuan itu pergi dari ruangan Junki.

Suara keras dari musik di sekitarnya tidak membuat perasaan perempuan itu membaik. Dia bahkan menulikan telinganya dari suara bising itu. Hanya berusaha untuk keluar dari tempat itu secepatnya.

Dukk…

Secara tidak sengaja pundak perempuan itu menabrak seseorang.

“YA! KAU! Berhenti!” Teriak seorang perempuan lain yang tidak lain adalah orang yang tidak sengaja ditabrak perempuan itu.

Tapi perempuan itu mengacuhkan teriakan itu, dia tetap berjalan menuju pintu keluar bar tempatnya berada.

“Akh.” Erang perempuan itu saat tiba-tiba seseorang menarik rambutnya dari belakang. Dia berusaha menahan tarikan di rambutnya tapi tetap saja terasa sakit.

“Aku sudah bilang untuk berhenti. Kau tuli huh?” Tanya suara tinggi di belakang perempuan itu.

Perempuan itu sama sekali tidak mengindahkan ucapan perempuan di belakangnya. Dia hanya berusaha melepaskan tarikan di rambutnya.

“Ya ya ya. Ada apa ini?” Tanya suara berat di belakang perempuan itu.

Seketika, tarikan di rambut perempuan itu terlepas. “Oppa, dia menabrakku dan pergi bahkan tanpa mengucapkan maaf.” Suara tinggi sebelumnya di belakang perempuan itu berubah menjadi nada imut yang dibuat-buat.

Mengacuhkan percakapan di belakangnya, perempuan itu kembali melanjutkan perjalanannya keluar. Dan tak lama kemudian dia berhasil merangsek keluar dari klub malam itu.

Grepp….

Sebuah tangan menahan laju perempuan itu saat hendak masuk ke dalam lift. Perempuan itu kemudian menoleh, melihat siapa lagi yang menghalangi langkahnya, Song Joongki.

“Waeyo?’ Tanya pria manis yang menahan lengan perempuan itu. Wajahnya terlihat polos dan bingung saat menerima tatapan tidak suka dari perempuan itu. “Kau sudah menabrak orang di dalam dan kabur, itu kan tidak sopan agasshi.” Ucap Joongki.

Tak ada kata yang keluar dari mulut perempuan itu, dia hanya menepis tangan di lengannya dan masuk ke dalam lift lalu menekan angka satu di lift itu. tepat sebelum lift tertutup, Joongki ikut masuk ke dalam lift.

“Boleh kita berkenalan? Aku tampan, dan kau mungkiin tertarik padaku.” Ucap Joongki dengan penuh percaya diri. Dia menatap perempuan yang hanya diam itu. “Baru kali ini aku bertemu dengan perempuan dan mengacuhkan aku.” Kata Joongki kemudian. “Aish, aku harusnya tidak usah mempedulikan yeoja bisu sepertimu. Hanya karena kau punya rambut panjang dan terlihat seperti tipeku aku mengikutimu kesini, tapi kau malah membuatku kesal begini.” Kata Joongki lagi dengan wajah kesal. Dai tidak suka ditolak. Tidak karena pesonanya yang biasanya tidak bisa ditolak orang lain.

Dukk… brukkk….

“YA! Agasshi.” Ucap Joongki panik begitu melihat perempuan di sampingnya terjatuh di lantai dan tidak sadarkan diri. Joongki berjongkok dan menepuk pipi perempuan itu. “Agasshi, ireona.” Ucapnya sedikit panik.

Tak ada reaksi.

Tingg…

Suara dentingan terdengar dan pintu lift kemudian terbuka. Joongki menggaruk tengkuknya bingung. “Aish, sial!” Umpatnya kemudian mengangkat tubuh perempuan itu setelah dia menekan tombol lift yang mengantarkannya menuju basement dimana mobilnya terparkir.

Joongki mendudukkan tubuh perempuan itu ke samping kursi kemudi dan mencari sesuatu di tas perempuan itu setelah dia sendiri duduk di kursi kemudi. “Aish, tidak ada identitas sama sekali.” Katanya kesal. “Ya! Kau ini siapa huh? Kita baru bertemu tadi dan kau malah pingsan di depanku. Sekarang aku tidak tahu harus membawamu kemana.” Katanya lagi sambil menatap perempuan tak sadarkan diri itu. joongki lantas menyalakan mesin mobilnya. “Aku namja baik. Aku tidak mungkin meninggalkanmu sendiri. Tapi jangan salahkan aku karena aku akan membaawamu ke tempatku.” Ucapnya sebelum kemudian melajukan mobilnya.

-o0o-

Someone PoV

Aku membuka kedua mataku dan mendapati cahaya silau menghalangi pandanganku. Sejak kapan kamarku mengarah ke matahari terbit? Sadar aku tidak berada di tempat yang seharusnya, aku langsung bangun dan melihat sekitar.

“Oh, kau sudah bangun?”

Sebuah pertanyaan dari suara pria membuatku mencari sumber suara itu. Seorang pria dengan kemeja putih tengah duduk di kursi sambil menatapku. Dia pria yang bertemu denganku tadi malam. Pria penggoda.

Aku berusaha menganalisa situasi yang terjadi padaku dan berakhir pada satu kesimpulan. Buru-buru aku bangkit dari tempat tidur, mengambil tas tangan milikku yang tersimpan di atas meja di samping pria yang sama sekali tidak aku kenal itu. Dan pergi setelah memberikan tamparan yang cukup keras di pipi pria berkemeja putih itu.

“YA! Neo michesseo?” Teriak pria itu di belakangku.

Dia mengejarku? Oh tidak. Sudah cukup aku perbuatannya padaku semalam yang bahkan aku tidak ingat. Aku langsung pergi menuju lift, setengah berlari karena ingin segera pergi dari tempatnya.

“Apa yang dilakukannya semalam? Kenapa aku bisa berada di tempatnya?” Tanyaku sendiri. Aku sama sekali tidak ingat. Yang aku ingat dia pria yang menggodaku di dalam lift setelah aku pergi dari bar milik Lee Junki itu.

“Heechul oppa…” Pikiranku melayang pada sesosok pria yang sedang aku cari.

Aku meraba pakaianku dan mendapati sesuatu. Aku masih memakai pakaian yang sama. Aku tidak merasakan hal aneh di tubuhku kecuali lelah dan lapar. Apa aku baik-baik saja? Apa aku sudah salah paham?

Aku menggeleng. Mengacuhkan berbagai pertanyaan di benakku. Sekarang aku hanya ingin segera sampai ke rumahku.

End of Someone PoV

-o0o-

Jinki keluar dari apartemennya. Dia menoleh ke arah pintu di sampingnya. Semalam dia tidak mendengar pintu itu terbuka. Pikirannya melayang pada si penghuni apartemen di samping apartemennya itu. Jinki melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen itu, tangannya sudah bersiap untuk menekan bel. Tapi kemudian dia mengurungkan niatnya. Jinki berjalan menuju lift yang bersebrangan dengan dengan pintu apartemen yang barusan dihampirinya. Baru beberapa langkah berjalan, Jinki menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Berharap si penghuni apartemen itu membuka pintunya.

“Ah, Jinki-ya!”

Sebuah panggilan membuat Jinki langsung berbalik. “Noona.”

Jinki melihat si penghuni apartemen itu sedang berdiri di hadapannya dengan tatapan bingung. “Waeyo? Ada yang aneh denganku?” Tanya perempuan itu sambil menunduk, melihat penampilannya. Mencari sesuatu yang tidak seharusnya.

“Noona, dari mana? Pagi-pagi sudah ada pergi.” Jinki bertanya untuk mengalihkan perhatian.

Yang ditanya hanya tersenyum simpul. “Molla. Semalam aku nyasar.” Jawabnya.

Jinki mengernyitkan dahinya tidak mengerti.

“Sudahlah. Aku masuk dulu ya.” Ucap perempuan itu kemudian. Dia berjalan melewati Jinki untuk masuk ke dalam apartemen miliknya.

Jinki menoleh, memperhatikan sosok yang tak lama kemudian berlalu di balik pintu.

-o0o-

Tokk.. tokk… tokk….

Jinki sudah mengetuk pintu berkali-kali. Sudah cukup lama juga dia berdiri di depan pintu apartemen perempuan yang bertemu dengannya tadi pagi. Jinki hafal benar jadwal perempuan itu. Dia seharusnya berada di dalam apartemen itu. Ponsel di tangan kiri Jinki masih dia gunakan untuk menghubungi perempuan itu. Tapi Jinki bahkan tidak mendengar suara deringan ponsel di dalam sana.

Rasa cemas menyeruak di pikiran Jinki. Dia tidak cukup pintar untuk mengendalikan emosinya jika menyangkut perempuan yang sudah jadi tetangganya lima tahun terakhir.

“Noona, kau di dalam?”

Jinki bertanya setengah berteriak sambil tetap mengetuk bahkan hampir menggedor pintu di depannya.

Waktu terus berlalu, Jinki tertidur di depan pintu yang sama sekali tidak terbuka itu. Sampai hari berganti.

Jinki meregangkan otot-ototnya yang terasa sakit karena posisi tidurnya yang tidak normal. Tapi begitu kesadarannya datang, Jinki langsung bangkit dari duduknya dan mencoba mengetuk pintu yang jadi sandaran tidurnya tadi.

“Noona, tolong buka pintunya.” Mohon Jinki setengah panik.

Frustasi tidak mendapatkan jawaban. Jinki tanpa sadar mendobrak pintu apartemen perempuan itu.

“Noona?”

Jinki masuk ke dalam apartemen setelah dia berhasil mendobrak pintu. Tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Jinki memperhatikan sekitar dengan jantung yang berdegup kencang. Rasa cemas itu datang semakin menjadi. Perempuan yang dikenalnya itu bukanlah tipe perempuan yang bisa berada di luar sana saat malam. Dan dia sudah merasa aneh saat sehari sebelumnya perempuan itu pulang di pagi hari tanpa alasan jelas.

Jinki menghampiri meja kerja perempuan itu dan menemukan sebuah kertas dengan tulisan berwarna merah. Ada sedikit bau anyir tercium oleh indera penciuman Jinki saat dia memegang kertas itu. Jinki sangat yakin itu darah.

“Kim Heechul tidak akan kembali. Bagaimanapun kau berusaha mencarinya.”

Dua kalimat itu tertulis di atas kertas itu. Jinki sedikit mendapat keterangan kenapa perempuan itu terlihat aneh tadi pagi. Tapi pesan itu bukan sebuah pesan biasa. Jinki harus menemukan perempuan itu secepatnya, karena rasa cemas itu tak bisa lagi diredam olehnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s