[Ficlet] 선택 – Choice

Standard

Author : Aschi

Cast :

*) Kim Boram [OC]

*) Jino / Cho Jinho {SM The Ballad]

*) Kim Jongwoon [Super Junior] <- penting tapi numpang nama doank ==a

Other Cast :

*) Lee Hyena [OC]

Genre : *mikir lama* –

Disclaimer : own plot and casts /plakk :p becanda, selain OC’s Boram sama cerita dan editan piku yg sederhana, itu bukan punya aku J

a/n : kyaa~ tutup mata, Jinonya Jinonya >///< gk berani pasang di tempat lain, kek biasa.. takut u,u gak tau eh kenapa bikin ff gajelas kaya gini, haha~ ini gantung, sengaja! Emang gak pengen milih maka’a aku  stop sampe sana walopun aku udah ada jalan cerita’a sampe tamat /plakk .. happy reading ^^

Menikah? Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak pernah memikirkannya. Baiklah, kadang aku memikirkannya. Bagaimana rasanya jadi seseorang yang sudah memiliki suami. Tapi aku tidak pernah berharap. Setidaknya sampai saat ini. Aku menikmati kesendirianku. Aku menikmati waktu untuk memanjakan diri sendiri. Tapi jika aku diminta menikah, haruskah?

Aku duduk di atas kasurku. Memikirkan kata-kata yang diucapkan appa padaku. Dia memintaku untuk menikah. Dia tahu aku tidak punya seseorang yang bisa aku bawa dan perkenalkan padanya sebagai calon suamiku. Dia memintaku untuk menikah dengan pria yang dia pilihkan.

“Kau sudah cukup matang untuk menikah. Jangan menundanya lagi. Appa tidak ingin kau terus seperti ini. Jangan terlalu mengekang diri dengan masa lalu, karena kau tidak bisa melihat luasnya dunia jika kau hanya melihat satu sisi.”

Ucapan appa agak menyinggungku. Jujur aku tidak memikirkan pernikahan bukan karena masa laluku yang membuatku sulit menyukai namja. Hanya saja, aku suka dengan diriku yang tidak terkekang status bersama orang lain. Itu saja.

“Kau bertemulah dengan namja itu. Appa sudah menghubungi dia dan meminta waktunya. Keputusan ada padamu, walaupun appa sangat berharap kau dan dia bisa bersama.”

Mataku bergerak ke tanganku yang sedang memegang sebuah memo. Isinya adalah nomor kursi di salah satu restoran dengan tanggal dan waktu di bawahnya.

Kim Jong Woon. Nama pria yang lusa akan aku temui. Aku sama sekali tidak punya bayangan tentangnya. Appa menceritakan bagaimana perawakan dia secara umum. Tapi otakku tidak mau bekerja untuk sekedar membayangkan sosoknya dari belakang. Tidak. Aku biarkan saja mataku melihat langsung sosoknya itu nanti.

-o0o-

“Kau gila huh?”

Aku hanya tertawa renyah begitu melihat Hyena memutar kedua bola matanya kemudian menatapku tajam.

“YA! Kim Boram! Bagaimana bisa kau setuju menikah dengan namja yang baru sekali kau temui?” Tanya Hyena. “Tsk, aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu itu.” Komentarnya. “Aku tahu kau sama tidak tertarik dengan namja manapun kecuali artis yang bernama Wonbin itu. Tapi tidak begini juga kan? Kau mau menikah dengan pria tanpa rasa cinta? Yang benar saja.” Hyena melanjutkan ocehannya.

Lagi-lagi aku hanya tertawa renyah mendengar dia.

“MWO? Noo… noona, kau akan menikah?”

Suara di belakangku sontak membuat aku dan Hyena, yang masih mengoceh, langsung melihat si pemilik suara. Cho Jinho, rekan kerjaku dua tahun terakhir itu langsung duduk di kursi di sampingku sambil menyimpan nampan makan siangnya. Hyena sedikit risih dengan sikap Jinho, atau Jino dia dipanggil, yang kadang memang sedikit suka ikut campur. Tapi aku sudah terbiasa.

“Noona, benarkah kau akan menikah?” Jino mengulang pertanyaannya. Matanya menatap lurus ke arah mataku sambil menunggu jawaban dariku.

Aku mengangguk.

“Waeyo? Aku dengar Hyena noona bilang kalau noona akan menikah tanpa cinta.”

Aku terkekeh melihat Hyena yang menggerakkan bibirnya kesal. Seolah bukti protes kalau dia tidak suka orang yang suka menguping, walaupun dalam kasus ini tidak sengaja mendengar.

“Aku.. mungkin bisa mencintai dia nanti, pelan-pelan, setelah kami bersama.” Argumenku.

Dua orang di sampingku langsung menatapku tidak suka. Aku yakin mereka masih sulit menerima keputusanku. Aku sendiri bahkan tidak percaya aku bisa menyetujui permintaan ayahku itu.

-o0o-

Aku menatap diriku di cermin. Menatap diriku yang memperlihatkan senyumannya. Kini aku sedang berbalut gaun pengantin dan hanya menunggu waktu untuk appa menjemputku dan mengantarku ke altar.

Kim Jong Woon pria yang baik. Sebulan sejak aku berkenalan dengannya, itulah kesan yang aku dapatkan. Aku tidak ragu, meski aku tahu dia mungkin belum memperlihatkan sisi buruknya. Aku sudah menerima lamarannya, aku sudah memutuskan untuk berada di sini saat ini. Menunggu untuk mengikat janji suci pernikahan dengannya. Meski sampai saat ini, aku masih belum menemukan benih cinta untuknya.

Krriieett….

Aku menatap pintu yang terbuka dari pantulan cermin. Bukan appa, bukan juga eomma atau Hyena.

Aku berbalik dan menatap orang yang baru saja masuk ke ruangan tungguku. “Jino-ya?”

“Kalau noona mau menikah dengan siapa saja, meski dengan namja yang tidak noona cintai, apa noona akan mempertimbangkan aku?” Dia bertanya.

Aku melihat seorang Cho Jinho yang lain di hadapanku. Aku tidak pernah melihat dia yang seperti ini. Tatapannya begitu tajam, membelenggu mataku sendiri. Wajah serius yang jarang sekali diperlihatkannya kini terpampang jelas.

“Waeyo? Kenapa bertanya hal aneh seperti itu?” Aku balik bertanya tanpa menjawab pertanyaannya.

“Karena aku menyukai noona. Aku mengenal noona lebih lama. Aku bisa memberikan cinta yang mungkin namja itu belum bisa berikan.” Jawab Jino masih dengan tatapan yang sama.

Aku terkekeh mendengarnya. Alasan kenapa dia selalu berada di sekitarku itu akhirnya bisa dia ungkapkan. Aku menghampirinya, mengurangi jarak kami berdua. “Aku juga menyukaimu. Aku pernah bepikir aku mungkin bisa jatuh cinta padamu, karena kau sangat baik.” Ucapku. “Tapi semuanya sudah terlambat Jino-ya. Aku sudah akan menikah, aku tidak bisa mempertimbangkan namja lain. Mianhae.”

“Tidak ada kata terlambat noona. Noona masih ada di sini. Noona belum menjadi istrinya. Noona masih punya pilihan.” Kata Jino. “Aku memang bodoh karena terus mengulur waktu. Tapi aku tidak ingin menyesal noona. Aku ingin menjadi namja yang menjadi alasan untuk noona tersenyum. Aku ingin menjadi namja yang menemani tidur noona. Aku ingin menjadi namja yang bersama dengan noona sampai tua nanti. Aku ingin menjadi namja yang membuat noona merasakan cinta lagi.”

“Jino-ya….”

Aku tidak tahu kenapa ada air mata di pipiku. Aku tidak tahu kenapa mataku terasa begitu panas. Aku tidak tahu…. Kenapa kini aku ragu.

Jino melangkahkan kakinya mendekatiku, masih mengikat mataku. Dia menarik lenganku dan menggenggam kedua tanganku begitu jarak kami sangat dekat. “Apa noona bisa mempertimbangkan aku?”

-END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s