[ff] I, my, mask

Standard

Ini ff bukan si?*eh?

Author : Zen

Cast :

*) L/ Kim Myungsoo [infinite]

*) Seorin [OC]

Genre : AU, molla, yang jelas bukan romance

a/n : Errr. . mungkin lebih ke curcol tidak jelas dengan setting dan alur yang tidak kalah tak jelasnya kali ya. Cast asal comot, begitu juga judul, jadi harap maklum kalau gak pas. Buat umma mian belum sempet bikin poster,hhe..

“I’m not a good story writer and i’m not push my self to write a story” [cr:Ity]

“Karena aku sudah bosan,” ucapku cepat saat gadis di depanku itu menanyakan keputusan yang kubuat secara sepihak.

“Jadi kalau kau sudah bosan kau bisa mencampakkan seorang gadis begitu saja?” tanyanya dengan nada yang gemetar. Sebentar lagi gadis ini akan menangis,aku yakin itu. Mungkin aku keterlaluan, tapi sebaiknya memang semuanya kuakhiri saat ini juga.

“Kalau kau tidak pantas dicampakkan,tak ada seorangpun yang akan mencampakkanmu.

“PLAKKKK! Pipiku panas.

“Kau.. adalah pria terbrengsek yang aku kenal!!” teriaknya sambil berbalik dan lari memunggungiku dengan berurai air mata.

Semua gadis sama saja.

Aku mengusap pipiku yang terasa cukup sakit oleh tamparan gadis barusan. Tak ada yang benar-benar mengerti tentang diriku dan tak ada yang benar-benar berusaha untuk mengetahuinya. Sejauh apapun aku memahaminya, percuma saja jika ia tak mengenalku. Lebih baik aku menyakitinya di tempat ini dan saat ini sebelum ia tersakiti lebih suatu saat nanti.

“Kamuflase yang cukup bagus.”

Aku berpaling dengan kaget saat suara lembut seorang perempuan terdengar di belakangku. Gadis itu duduk dengan santainya di atas salah satu ranting pohon besar di belakangku. Kali ini ia sedang tersenyum menatapku. Entah sejak kapan dia ada di sana.

“Kau menguping pembicaraan kami?” tanyaku dingin. Gadis itu memutar-mutar jarinya, tersenyum.

“Bisa dibilang ya… Bisa dibilang tidak. Bukan salahku kan kalau aku sedang menyepi di sini dan kalian datang menyuguhkan tontonan gratis?” ucapnya kemudian.

“Kalau begitu pergilah, tontonanmu sudah selesai kan?”

“Sama sekali belum.” Ia melompat dengan lincah dari atas pohon dan mendarat tepat di depanku dengan senyuman yang tak bisa kuartikan. “Karena tontonan yang ingin kulihat masih ada di sini.” Ia menatap lurus ke dalam bola mataku dan menyentuhkan telunjuknya di thoraxku.

“Aku?” tanyaku retoris.

“Bukan. Tapi sesuatu yang ada di dalam sini..” Telunjuknya masih bersarang di dadaku. “Aku ingin tahu sampai kapan kau bisa menahan rasa sakit itu dan terus berpura-pura jadi yang paling jahat.”

Jantungku seakan dihentikan sesaat. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa seseorang menatap diriku. Diriku yang sebenarnya

…….[].[].[]……

Aku bukan seseorang yang dengan mudah mampu membuka hatiku pada orang lain

Aku bahkan bukan seseorang yang mampu mengatakan apa isi hatiku pada orang lain

Dingin

Itu yang selalu orang bilang tentangku, mereka yang tidak benar-benar mengerti aku..

“Kali ini apa? Kau mau bilang kalau kau cinta padaku? Atau kalau kau terganggu karena aku pernah menguping pembicaraanmu dan kau belum puas sebelum bisa mencampakkanku?”

Aku heran bagaimana gadis itu bisa tersenyum dan mengucapkan semua itu dengan santainya. Ini kedua kalinya aku bertemu dengannya. Dan memang aku yang sengaja mencarinya.

“Aku hanya ingin tahu dasar analisamu. Keberatan?” tanyaku kemudian. Gadis bernama Seorin itu memiringkan kepalanya,memutar bola matanya dan memperlihatkan ekspresi yang aneh saat sedang berpikir. Aku yakin dia tahu apa yang kumaksud saat ini.

“Err.. Entahlah..” ucapnya kemudian. “Mungkin.. Karena kita sama tapi hanya topeng kita yang berbeda?” Pertanyaan retoris itu seolah ditujukan untuk dirinya sendiri. Ia menyusun buku-buku yang ada di depannya dan bangkit dari tempat duduknya di perpustakaan.

“Pelajaran akan dimulai sebentar lagi, sebaiknya kau juga segera pergi dari sini kalau tidak ingin telat, annyeong~.” Lagi-lagi senyum yang tak bisa kuartikan itu tergores dengan begitu halus di bibirnya. Aku tak tahu kenapa,setiap kali aku melihat senyum itu, yang terbayang di kepalaku justru sebuah luka.

……[].[].[]……

Aku hanya bisa memendam segalanya seorang diri

Bersembunyi dalam topeng yang bahkan tak kukenali

Tenggelam dalam kegelapan tak bertepi

Entah sejak kapan aku mulai mengawasi gadis bernama Seorin itu. Tak ada yang aneh dengannya, hanya sesuatu yang mengganjal tiap kali melihat ekspresinya. Ia dengan mudahnya tertawa dan bilang tak ada apa-apa tiap kali bermain dengan dunia yang ditinggalinya. Dia tersenyum, tapi aku tak tahu apa itu senyum yang benar benar tulus darinya. Aneh.. Tapi begitulah cara pandangku padanya.

Bruk. Tubuh mungil gadis di depanku langsung mental dan membuatnya jatuh terduduk saat menubrukku.

“Ah,m..maaf.. Aku tidak melihat ja..”

“Kau menangis?” Aku dan gadis yang tak sengaja menubrukku itu sama-sama kaget,kurasa dia kaget karena melihatku,sementara aku kaget dengan apa yang baru saja kuucapkan. Seorin, menangis?

“Ahaha.. Ketahuan yaa~,” ucapnya dengan tawa yang dipaksakan tapi malah membuat air matanya tambah deras keluar.

“Dasar bodoh! Ayo ikut aku!”

……[].[].[]……

“Jangan tanya aku kenapa dan jangan lihat aku menangis!” ucapnya cepat seakan tahu isi otakku. Aku membawanya ke atap gudang di belakang gedung sekolah, salah satu tempat yang paling jarang dikunjungi orang, tempat favoritku untuk merenung sendirian.

“Kupikir kau hanya bisa tertawa,tak kusangka bisa menangis juga,” sahutku sambil melirik ke arahnya. Kulihat ia menutup matanya dengan sebelah lengannya, mencegah air mata untuk mengalir di pipinya.

“Hha,” Ia tertawa singkat dalam suara sengau akibat terlalu banyak menangis. “Aku bukan boneka yang bahkan tak bisa menunjukkan ekspresinya. Aku bisa tertawa atau menangis sesukaku.”

Rupanya dia masih punya keberanian untuk menyindirku di saat seperti ini. Aku merebahkan punggungku dan membiarkan mataku mengembara menikmati luas dan birunya langit.

“Kalau kau mau, ceritalah padaku,” ucapku kemudian.

Aku sedikit kaget dengan ucapan spontan yang keluar dari bibirku sendiri. Cerita? Aku bahkan tidak mengenalnya dan aku menyuruhnya bercerita padaku? Kurasa aku memang agak gila.

Gadis itu tetap menenggelamkan diri di antara kedua lututnya, tapi rupanya masih punya waktu juga untuk menanggapiku. “Kenapa kau mendadak perhatian?”

“Tidak boleh?”

“Tidak,” jawabnya singkat, jelas dalam ketegasan. Aku masih menatap warna biru yang terbentang di atasku. Aku memang tak mengharapkan jawaban apapun.

“Ara,” jawabku tak kalah singkat.

Hening sesaat. Aku tak begitu tahu bagaimana keheningan itu merayap dan tiba-tiba saja sudah pecah oleh tawanya yang masih bercampur isakan. Ada yang lucu?

“Gomawo,” ucapnya tiba-tiba.

Eh?

“Ucapanmu barusan sudah lebih dari cukup untuk menghiburku.” Seorin menegakkan kepalanya dan menghapus air dari matanya yang sedikit merah dan bengkak. Ia sama sekali tak menoleh ke arahku. Mungkin tak ingin wajah habis menangisnya terlihat olehku.

“Ya,” Ia memulai percakapan. Suaranya sedikit serak sisa tangisan. “Apa kau masih ingat ucapanku dulu?” tanyanya lagi.

Aku menautkan alisku. “Yang mana?”

“Mungkin.. karena kita sama hanya topeng kita yang berbeda?” Ia mengulang rangkaian kata yang pernah diucapkannya. Kalimat retorika yang sempat terendap dalam otakku untuk beberapa lama. Kalimat yang belum kutemukan jawabannya.

“Oh..” aku hanya ber’oh’ pelan.

“Apa kau sudah menemukan artinya?”

Aku mengalihkan pandanganku ke arah siluet tubuhnya.

“Penting ya?”

Menyebalkan! Aku yakin itu arti death glare yang langsung ia tujukan padaku detik itu juga. Aku bingung harus harus tertawa atau ketakutan melihat tatapan tajam yang terbersit di antara kedua kelopak matanya yang saat ini bengkak karena tangisannya.

“Memang tidak penting kok,” ucapnya kemudian, santai. Reaksi yang tak kusangka setelah sebelumnya tatapannya seakan ingin menelanku bulat-bulat.

“Hanya ingin tahu..” Ia ikut merebahkan dirinya di atap. “Apa ada yang mampu melihat ke dalam topengku.”

Kurasakan aroma kesepian dalam nada suaranya. Aroma yang sama yang mencekikku. Aroma luka yang membuat topengku tercipta, mengunci pintu-pintu di dalam hatiku dalam kerapatan yang tak terjamah oleh lainnya.

“Kalau kau memang tak bahagia, jangan memaksakan diri untuk bahagia,” ucapku. “Tersenyumlah saat kau benar-benar bisa tersenyum.”

“Aku tak mau dengar itu dari orang yang bahkan sekalipun jarang tersenyum di hidupnya.”

“Lalu kau ingin dengar dari siapa? Gadis gila. Berhentilah berpura-pura. Saat kau melihatku hari itu.. Jangan bilang kau juga sebenarnya baru menangis seperti hari ini.”

“Err..” Dia memutar bola matanya. “Itu rahasia,” sangkalnya cepat sambil memeletkan lidahnya padaku.

Dasar gadis ini. Sama sekali tidak bisa jujur tentang perasaannya sendiri. Secara tidak langsung ini berarti jawabanku memang benar. Entah kenapa rasa geli merayap tiba-tiba di rongga dadaku, menggoda saraf-saraf di wajahku untuk menyunggingkan senyuman tipis di sana.

“Whoa~ kau tersenyum!” sahutnya kaget.

Aku buru-buru mengembalikan ekspresiku ke mode normal. “Kalau kau boleh menangis kenapa aku tidak boleh tersenyum?”

Ia mengerucutkan bibirnya. “Ya! Kenapa membalikkan kata-kataku? Salah siapa tiap aku melihatmu kau pasang muka dingin terus.”

“Itu artinya kau mengawasiku ya?”

“Mwo? Enak saja! Aku masih punya kesibukan lain tahu, untuk apa mengawasimu yang tak memberi untung padaku. Tsk.”

“Bodoh.”

“YA!”

“Apa??”

Kami saling adu tatapan entah berapa lama. Lagi-lagi ia berusaha menelanku dengan sirat matanya, dan lagi-lagi ia kembali tertawa seperti sebelumnya setelah beberapa lama. Benar-benar gadis yang aneh. Siapa yang sebenarnya gila sekarang? Dia atau aku?

“Haaah…” Seorin menghela nafas panjang setelah puas tertawa. “Aku sungguh terhibur olehmu.”

“Memang ada yang lucu,ya?”

“Anni,” dia menggeleng. “Bisa dibilang.. sense of humorku beda dari orang normal,hhe. Kau mungkin bisa melihatku menangis dan tertawa bersama karena hal yang hanya kumengerti. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya otakku yang sedikit bermasalah sepertinya.”

Aku menatap gadis ini tak percaya. “Gadis aneh.”

“Kau bukan orang pertama yang mengatakan itu.”

Kulayangkan pandang lagi ke gadis itu. Tatapannya melanglang jauh ke angkasa dan senyuman terukir di bibirnya. Kali ini aku tak mau ambil pusing apakah senyum itu nyata dari hatinya. Tapi kuharap, senyum itu adalah penambal luka, bukan kamuflasenya.

“Ya,” Seorin memanggilku pelan. Secepat mungkin kualihkan pandanganku sebelum ia menyadarinya. “Sampai kapan kau akan bersembunyi di balik topeng dinginmu itu?”

Aku memutar bola mataku. “Kau sendiri, sampai kapan akan terus berpura-pura bahagia?”

Ia melirikku.”Entahlah.. Selamanya?” ucapnya pada diri sendiri. “Atau.. Mungkin saat ada seseorang yang menatapku dalam-dalam dan berkata kau sama sekali tidak baik-baik saja lalu memelukku dengan hangat?”

“Bagaimana kalau aku yang mencobanya?”

Ia berdecak.”Aku sudah punya orang yang kusukai. Aku tidak mau asal main dipeluk orang.”

“Aku heran bagaimana bisa ada namja yang menyukaimu.”

“Aku bilang kusukai, bukan menyukaiku.”

“Jadi kau bertepuk sebelah tangan?”

“YAA~~”

Seorin memukul bahuku cukup keras dan kami terkekeh sesaat kemudian.

Begitu kompleks. Kami ingin ada orang yang memahami kami,tapi di sisi lain kami juga tak ingin didekati.

“Satu hal,aku ini 2 tingkat di atasmu,jadi panggil aku noona,ara?”

“Anak kecil sepertimu mana pantas dipanggil noona?”

“YA!”

the end~~

akhir macam apah?? Biarin eh.. mian ya kalau ceritanya flat banget dan gak ada feelnya,heeee…..

Advertisements

12 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s