[J-Line Story] Obsession : 3rd Victim

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Kim Jongwoon [Super Junior]

*) Lee Jinki [SHINee]

Genre : AU, OOC, Thriller, Tragedy

Rate : PG – 16

Dislaim : ide cerita, para pemain, semua milik saia di ff ini (:

a/n : aaa~ Jinkinya Jinkinyaaa.. aku suka deh pas bikin ini, walopun hiks.. Jinki kan salah satu fave aku 😥 kalo pas Jaejoong kemaren feel’a gk terlalu dapet, tapi pas yg ini aku nikmatin banget ^-^ nah ini rate’a aku naikin soal’a scene’a sedikit lebih nantang sih, dan ya.. pendek, jadi naek’a cuma satu taun aja 🙂 sisanya masih banyak eh :p

Previous Chap : 1st Victim – Lee Jonghyun | 2nd Victim – Kim Jaejoong |

 

Brugg…. brakkk….

“Hhhh… Hhhh…”

Nafas Jinki sudah tersengal. Dia sudah tidak sanggup lagi. Banyak rak buku ditabraknya dan banyak pula buku-buku berserakan karena ulahnya. Tapi Jinki masih tetap berusaha. Dia tidak ingin usahanya yang sukses kabur dari pria yang tidak dikenalnya sia-sia. Dengan tenaga yang masih tersisa, dan jalannya yang sempoyongan, Jinki berusaha untuk menemukan tempat persembunyian di dalam perpustakaan kampusnya.

“Lee Jinki~”

Seorang pria memanggil Jinki. Suara terdengar jauh.

Mata Jinki terlihat awas begitu dia mendengar panggilan itu. Baginya, mendengar suara pria itu berarti pilihannya untuk kabur ke ruangan itu adalah pilihan yang salah.

“Ayolah. Kau tidak perlu bersembunyi. Toh pada akhirnya kau akan tetap berada di tanganku. Jangan mengulur waktu! Itu tidak seru.” Ucap pria itu yang suaranya terdengar makin jelas di telinga Jinki.

Jinki menatap sekelilingnya. “Ukh…” Sedari tadi Jinki berusaha untuk tidak bersuara, tapi sakit karena luka di perutnya membuat Jinki mengaduh juga. Dengan kedua tangannya dia berusaha untuk menahan darah yang keluar dari perutnya.

Dddzzziiiinnngg…..

Mata Jinki terlihat takut begitu mendengar suara mesin. Itu adalah suara yang dihasilkan oleh gergaji mesin. Alat yang menciptakan luka di perutnya. Tahu dia tak punya waktu untuk berpikir, Jinki langsung berlari ke sudut ruangan, menemukan celah di antara jajaran rak buku-buku sejarah. Jinki berusaha memasuki celah itu, bersembunyi tepat di sisi gelap tempat itu.

“Kau tahu? Meski kau mematikan lampu di ruangan ini, aku akan bisa menemukanmu. Kebencianku akan menuntunku pada dirimu.” Ucap Jongwoon, pria yang sedang bermain petak umpet dengan Jinki. Di tangannya ada sebuah gergaji mesin yang sedang menyala.

Dzziiinngg….

Hening.

Jongwoon mematikan mesin gergajinya. Dia melihat ke sekitarnya dan tersenyum puas begitu mendapati tempat yang cukup berantakan dengan darah berceceran di lantai. “Oke! Permainan akan segera berakhir.” Ucap Jongwoon lagi sambil kembali menyalakan mesin gergajinya.

Dengan hanya diterangi sinar bulan dari luar ruangan, dan beberapa lampu yang tidak sempat dimatikan Jinki, Jongwoon berjalan menyusuri jejak darah yang dia yakini adalah darah dari calon korbannya.

Nafas Jinki makin tidak teratur. Ditambah kesadarannya yang juga mulai menipis karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Tapi jantung Jinki berdegup kencang, semakin kencang ketika mendengar suara mesin gergaji yang semakin jelas.

Dzzziiinnngggggg….

Jinki berusaha untuk tidak membuat suara sama sekali, bahkan untuk nafasnya yang berat. Suara bising dari gergaji mesin itu sebenarnya bisa menyamarkan suaranya, tapi Jinki tidak ingin mengambil resiko. Dia yakin dia tidak terlihat sama sekali. Tidak ada cahaya yang menerpa tubuhnya, tidak ada bayangan dirinya yang bisa dilihat oleh Jongwoon.

Dzing.. Brakkk.. Bruuakkk….

Kepala Jinki langsung menoleh. Tak jauh darinya dia bisa melihat rak yang terbuat dari kayu berjatuhan karena dipotong oleh gergaji mesin yang dipegang oleh Jongwoon. Perasaannya makin kalut dan takut.

Masih sambil tetap berusaha menahan laju darah di perutnya, Jinki bergerak perlahan. Mencoba mendapatkan posisinya yang lebih aman.

Dugg…

Jinki tidak sengaja menyenggol ujung rak dan menimbulkan suara kecil. Mata Jinki langsung awas, jantungnya hampir saja berhenti berfungsi karena kaget. Tak ada reaksi yang menunjukkan kalau Jongwoon mendengar suara yang ditimbulkan Jinki tadi. Jinki pun bernafas lega di sela sengalan nafasnya.

Dzziiingggg….

Suara desingan dari mesin gergaji itu membuat Jinki melotot kaget. Makin lama suara itu makin jelas.

“Waktu bermain sudah habis, saatnya eksekusi.” Sesaat setelah mengatakan hal itu, Jongwoon langsung mengarahkan gergaji mesinnya ke tempat gelap yang dia yakini adalah tempat persembunyian Jinki.

“Arrgghh…” Jinki mengerang saat merasakan sakit di sikunya. Dia tidak bisa menahan sakit karena luka barunya.

Darah mengucur deras dari sikunya itu karena mesin gergaji itu bahkan melukai sampai ke tulang pria malang itu. Jinki ambruk di lantai yang gelap.

“Benar kan kau di sana? Sudah aku bilang, kebencianku akan mengantarkan aku ke tempatmu. Sekarang, nikmati saja perjalananmu menuju dunia lain.”

“Hkkk….”

Sesaat setelah berkata seperti itu Jongwoon langsung menggerakkan gergaji mesinnya sembarang di tempat gelap itu. Jongwoon tidak suka sebenarnya dengan posisi dia dan Jinki sekarang, dia tidak bisa memandang Jinki yang hendak menemui ajalnya. Tapi itu juga bisa dibilang menarik.

Perlahan Jongwoon berjalan ke arah yang dia yakini adalah tempat dimana Jinki berada. Gergaji mesinnya masih dia gerakkan ke sembarang arah, mengarah ke bawah pastinya karena Jongwoon tahu kalau Jinki sudah tersungkur di lantai.

Jongwoon tidak bisa melihat dengan jelas, tapi dia merasakan cipratan sesuatu yang basah ke tubuhnya. Senyuman terkembang di bibirnya. Dia yakin cipratan itu berasal dari darah Jinki.

Ddzziiinnng…. drrrtt… ddzzziingg…

Senyuman Jongwoon makin melebar kala dia tahu kalau beberapa tulang tubuh Jinki sudah tidak bersatu karena gergaji mesinnya. “Selamat tinggal.” Ucap Jongwoon setengah berbisik.

-end-

Advertisements

6 responses »

  1. Gak bisa ngomong apa apa lagi soal ini. Dibanding yg Jonghyun, sarap abis. A lot scarier, krn terlihat lebih menikmati ngebunuhnya. Ini juga balik lagi ke awalnya- ambience gelap, setelah di JJ g gitu 🙂

    • berarti pkiran kita sama, ini emang lebih asik sih daripada yg 2 sebelum :p
      cuma ini plagiat eh, maksud’a.. cara bunuh’a itu inspirasi dari film gt, gk murni ide dari aku ^-^
      aku pernah rekomen film’a ke kamu, inget gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s