선택 – Choice [Jino’s PoV]

Standard

Author : Asuchi

Cast :

*) Cho Jinho [ex SM The Ballad]

*) Kim Jongwoon [Super Junior]

*) Kim Boram [OC]

Other Cast :

*) Cho Kyuhyun [Super Junior]

Genre : AU, OOC, Angst

Rate : G

Disclaim : Semua cast, cerita, dan properti di ff ini adalah milik saia

a/n : akhirnya beres juga ini yg Jino’s PoV, kasian sih sebenernya. Tapi aku pengen bikin pas Jino bilang pengen Boram bahagia #aee maunya :p terakhir? Bisa iya bisa enggak, aku pernah bilang kalo sebenernya ide married lifenya udah ada. Tapi entah dibuat ato enggak 🙂 happy reading ^^

 Choice 3

“Maaf Jino-ya, aku tidak bisa. Aku memang tidak mencintainya, belum. Tapi orang tuaku, kerabat calon suamiku, aku tidak mungkin membuat mereka malu dengan lari dari pernikahan ini. Biarlah, aku akan menjalaninya. Maaf.”

Miris memang, menatapnya berjalan dengan senyum yang entah palsu atau tidak. Yang aku tahu dia masih tidak menginginkannya. Dan aku sudah ditolak dengan tegas di detik terakhir kesempatan yang aku punya.

Aku melihatnya berjalan melewatiku. Manik matanya tidak menemukan sosokku yang jelas-jelas berdiri di deretan bangku paling belakang. Yang sebenarnya bisa langsung dia lihat saat pintu terbuka. Tapi matanya memandang lurus ke depan, mengacuhkan sosokku ini. Aku tidak tahu alasannya.

Aku yang salah. Aku yang terlambat dengan semua. Aku tidak bisa menjadi pria yang terus ditatapnya sepanjang perjalanan, aku bukan Kim Jongwoon.

“Kau akan bisa mencintai yeoja lain lebih dari yang kau rasakan sekarang. Kau akan bahagia nanti.”

Aku menoleh ke sampingku, tempat suara bass berisi kata-kata mutiara berasal. Telapak tangan si pemilik suara bass itu kemudian menepuk punggungku pelan, beberapa kali seolah memberikan ‘semangat’ tak terucap.

“Ara hyung, aku juga tidak mau terus-terusan patah hati.” Ucapku pada pria dengan status kakak sepupuku itu, Cho Kyuhyun. “Tapi aku akan menunggu sampai aku yakin Boram noona bahagia.” Tambahku dalam hati. Jelas aku tidak mungkin bicara begitu pada Kyuhyun hyung.

Aku menghadap ke depan, menatap gadis yang aku cintai sedang mengucapkan ikrar pernikahan dengan pria yang tidak dicintainya. Sakit. Sangat sakit. Tapi lebih baik begini daripada aku meratap di luar. Mungkin, ini cara lain agar aku bisa lebih terbiasa dengan sakit yang nanti juga akan terus ada.

Aku melihatnya. Bibir mereka bertemu, disambut sorak para saksi pernikahan Boram noona. Andai aku yang berada di sana.

Mereka berbalik, menatap kami semua. Memberikan senyuman bahagia mereka, dan kemudian, mata kami bertemu.

Tatapan Boram noona terlihat sendu begitu melihatku. Aku melihat perasaan bersalah di sana. Dengan memaksakan diri, aku memberikan senyuman padanya dan mengangguk. Jarak kami sangat jauh, tapi entah kenapa aku bahkan bisa menatap bulir-bulir air mata yang siap meluncur dari pelupuk matanya.

“Uljima, gwenchana.” Ucapku yang hanya berupa gerakan bibir.

Seulas senyum kemudian terlukis di bibirnya, dan bulir-bulir air itu menghilang entah kemana. Dia masih menatapku. Haruskah aku bahagia karena dia sempat hampir menangis untukku?

Aku tertawa pelan. Kau jangan egois Cho Jinho. Dia sudah menentukan pilihannya. Aku memperingati diriku sendiri.

Biarlah sekarang aku mencintai istri orang lain. Biarlah sementara aku menikmatinya. Sampai waktunya aku bisa menemukan cinta baru, atau setidaknya.. sampai Boram noona bisa tersenyum bahagia sambil berkata, “aku mencintai suamiku.”

 -end-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s